“I ... i ... itu gue lagi chat sama Gavin, lagi serius ngobrol. Ah loe bikin gue kaget aja, untung handphone gue jatuh ke atas sofa, coba kalau jatuh ke atas lantai, yassalam.” Jessica sedikit mengomel kepada Valerie sembari mengambil kembali handphonenya dan langsung menekan tombol on pada sisi kiri handphonenya.
“Cieeeee, yang lagi chat pribadi sama Gavin uwuuu,” ejek Owen sambil tersenyum jahil.
“Playboy dumay loh dia, Jess. Memang sech dia ramah dan baik banget yah, gak heran dia punya banyak fans,” sahut Calista sambil memandang Jessica.
“Apaan sech kalian? Gue cuma ngobrol biasa ma dia, gak ada apa-apa kok. Dia duluan yang kirim pesan pribadi. Dia tahu batasannya antara dunia maya dengan dunia nyata. Mungkin dia cuma berusaha mengenal lebih dekat aja.” Jessica kembali memeriksa pesan masuk di dalam Whatsappnya.
“Ya, kita semua tahu dan kita cuma ngingetin loe aja. Andaipun semisal loe jadian sama Gavin pun, kita semua mendukung loe kok. Asalkan dia jomblo dan loe masih jomblo,” ucap Valerie yang berpindah tempat duduk mendekati Jessica yang sedang asik memeriksa pesan masuk dalam Whatsappnya.
“Makasih gaes, kalian semua selalu mendukung gue,” jawab Jessica sembari memeluk Valerie yang berada di sebelahnya. Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam w******p Jessica, ternyata pesan tersebut berasal dari sang mama.
Sang mama hanya bertanya jam berapa Jessica akan pulang ke rumah dan menyampaikan kepadanya jika besok sore setelah Jessica pulang kerja, sang mama akan mengajaknya menghadiri pesta pernikahan.
“Gaes, besok gue diajak ke pesta pernikahan anak teman mama gue. Alhasil bisa ceramah malam mama gue. Gimana ini?” Jessica menggerutu dan menghela napas panjang.
“Namanya juga ortu, Jess. Dah gini aja, nanti malam gue minta tolong kakak gue buat kenalin cowo ke loe. Siapa tahu cocok, yang penting berteman dulu. Oke?” usul Valerie yang diikuti anggukan kepala kedua temannya yang lain.
“Oke, Val. Ngomong-ngomong dah jam berapa ini?” tanya Jessica sambil melirik jam di layar handphonenya.
“Dah jam lima sore ini. Val, anter kita balik yuk. Gue ada kerjaan kantor, belum selesai,” pinta Owen memelas.
Ketika ketiga temannya sibuk membersihkan sisa makanan yang tergeletak di atas meja di ruang keluarga, Jessica mengirim pesan singkat kepada Gavin.
(Isi percakapan pribadi antara Gavin dan Jessica)
Jessica : Vin, maaf aku baru balas. Tadi ada sedikit urusan, ini aku mau pulang ke rumah dulu. Kita sambung lagi setelah sampai di rumah yah.
Gavin : Ya, Jess gak apa-apa kok. Hati-hati di jalan, langsung chat aku setelah sampai di rumah.
Jessica : Ya, Vin. Aku jalan dulu yah. Bye.
Gavin : Bye.
(Dan percakapan singkat sore itu pun berakhir)
Valerie lantas mengambil kunci mobilnya, sementara Calista dan Owen mematikan TV dan AC. Lalu, keempatnya membawa barang bawaan mereka dan berjalan menuju garasi. Setelah mengunci rumah dan menutup pintu gerbang, keempatnya lantas masuk ke dalam mobil.
Di perjalanan, hanya Owen yang berbicara tanpa henti. dia bercerita banyak hal, sementara ketiga temannya yang lain hanya mendengarkan celotehannya. Pikiran Jessica tertuju pada Gavin dan ia ingin cepat sampai di rumah dan kembali berbincang dengannya.
Akhirnya Jessica sampai di depan rumahnya, setelah turun dari mobil, ia melambaikan tangan ke arah Valerie. Jessica memang diantar terakhir setelah Owen dan Calista, karena letak rumahnya yang lebih jauh jika dibandingkan dengan kedua temannya yang lain.
“Val, makasih yah. Hati-hati di jalan. Kabari gue kalau loe dah sampai rumah,” pinta Jessica seraya melambaikan tangan ke arah Valerie yang mulai melajukan mobilnya.
“Oke, Jess. Dah sana loe masuk ke dalam. Bye.” Valerie membalas lambaian tangan Jessica dan mobilnya mulai berjalan menjauh.
Dengan langkah semangat, Jessica berjalan ke teras depan dan mengetuk pintu depan rumahnya. Tidak beberapa lama kemudian, sang mama membukakan pintu untuknya. Setelah memeluk dan mencium kening sang mama, Jessica lantas berjalan menaiki tangga.
Tetapi sebelum sempat menaiki tangga, sang mama kembali mengingatkan Jessica mengenai acara besok sore.
“Jess, besok jangan lupa setelah pulang kerja langsung pulang ke rumah, kita mau menghadiri pesta pernikahan anak teman mom. Oke?” tanya sang mama sambil menatap wajah Jessica.
“Oke, mom. Aku ingat kok. Besok aku langsung pulang ke rumah. Aku masuk kamar dulu yah mom,” jawab Jessica yang diikuti anggukan kepala sang mama.
Sesampainya di dalam kamar, Jessica langsung melepaskan sepatunya, menaruh tasnya ke atas meja belajarnya, lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah. Dan yang terakhir dia membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur sambil menggenggam handphone dalam tangannya.
Dia segera menyalakan handphonenya dan membuka aplikasi Whatsappnya, lalu mengetik pesan kepada Gavin.
(Isi percakapan pribadi antara Gavin dan Jessica)
Jessica : Vin, aku dah sampai di rumah.
Sepuluh menit kemudian, Gavin membalas pesan Jessica.
Gavin : Maaf, Jess. Aku baru buka handphone. Lagi apa kamu?
Jessica : Lagi santai di atas tempat tidur, sambil mikir alur buat novelku. Ternyata judul dan sampul depan novelku sudah disetujui Platform A, malam ini aku harus update bab pertama.
Gavin : Selamat yah, Jess. Semoga novelmu laris dan apa yang kamu cita-citakan berhasil.
Jessica : Makasih yah, Vin. Kamu sendiri lagi apa?
Gavin : Aku tadi lagi masukin baju ke dalam mesin cuci. Sekarang lagi di depan laptop, pegang handphone sambil makan malam. Kamu sudah makan?
Jessica : Belom, aku ambil makanan dulu yah. Tunggu oke?
Gavin : Oke.
Jessica turun ke lantai satu, mengambil serta membawa makan malamnya ke dalam kamar.
Jessica : Vin?
Gavin : Iya, makan dulu sana, jangan main handphone. Aku di sini kok, gak kemana-mana.
Jessica : Aku bisa ketik pesan sambil makan, lagipula aku gak ada kesibukan yang lainnya. Oia Vin, kamu sudah punya pacar?
Gavin : Belum, kenapa? Kalau kamu sudah punya pacar?
Jessica : Aku masing single, dan status jomblo ini sedikit menyiksa. Mamaku minta aku cepet punya pasangan. Aku merasa tertekan kalau sudah seperti itu.
Gavin : Jangan merasa tertekan, semua ortu akan bersikap seperti itu kalau umur anaknya dianggap sudah dewasa. Ortuku pun seperti itu, jadi kamu gak sendirian.
Jessica : Oh, ternyata banyak yang sama seperti aku rupanya. Terus kamu jawab apa saat ortumu minta kamu cepat-cepat membawa pasangan?
Gavin : Hmm ... aku biasanya jawab kalau aku gak mau dipaksa untuk memulai sebuah hubungan, jika saatnya sudah tiba, aku akan membawa dia ke hadapan orang tuaku tanpa perlu mereka paksa.
Jessica : Wah so sweet, kalau boleh tahu tipe wanita seperti apa yang kamu sukai?
Gavin : Hmm ... coba tebak?
Jessica : Aku gak pandai menebak, ayolah kasih tahu, aku pandai menjaga rahasia kok.
Gavin : Ha ... ha ... ha ... aku suka wanita yang pemikirannya dewasa, tidak terlalu banyak menuntut, aku akan mudah tertarik kepada wanita seperti itu.
Jessica : Seperti Monica?
Gavin : Monica kuanggap adikku sendiri, meski aku sedikit tertarik padanya dulu. Tetapi entahlah, siapa yang tahu ke depannya akan menjadi seperti apa? Lagipula ini hanya dumay, dan sejujurnya aku tidak berniat mencari cinta di dumay.
Jessica : Oh, begitu yah. Jika ternyata kamu menemukan cinta itu di dumay, apa yang akan kamu lakukan?
Gavin : Tidak ada namanya cinta di dumay. Itu hanya dumay, bukan real life. Real life lebih mengasyikkan, Jess.
Jessica : Aku tahu, tetapi entah kenapa aku gak sependapat sama kamu. Maaf yah.
Gavin : Kamu gak perlu meminta maaf padaku, semua orang bebas berpendapat. Mungkin saja kamu punya contoh pasangan yang bertemu di dumay lalu menjalin kasih. tapi sejauh ini, aku belum melihat hal semacam itu terjadi di hadapanku.
Jessica : Aku sudah melihatnya, hanya saja itu terjadi pada teman kantorku yang secara tidak sengaja bertemu lewat group w******p sesama penjual dalam Platform Jual Beli Online.
Gavin : Benarkah? Ternyata ada juga yang seperti itu? Lalu bagaimana kelanjutannya?
Jessica : Mereka saling bertemu, lalu setelah sekian lama mereka akhirnya menjalin kasih.
Gavin : Semoga hubungan mereka langgeng. Oia sudah malam, kamu tidak tidur?
Jessica : Aku mau membaca komik dulu, baru setelah itu tidur.
Gavin : Jangan begadang! Gak baik. Sudah sana tidur. Aku off dulu yah, sudah mengantuk. Kamu juga tidurlah.
Jessica : Oke, aku tidur sekarang. Bye.
Gavin : Bye. Good night.
(Dan percakapan mereka pun berakhir malam itu)
Keesokan harinya setelah jam kerja selesai, Jessica bergegas memesan ojek online sambil terus melirik jam tangannya. Pesta pernikahan itu mulai berlangsung jam delapan belas, dan sekarang waktu menunjukkan pukul enam belas lewat lima belas menit.
Akhirnya abang ojek yang dinanti pun tiba juga, Jessica langsung naik ke atas motornya dan memberi arahan alamat kepada abang ojek tersebut. Dengan tergesa sang driver ojek langsung tancap gas agar sang penumpang tiba tepat waktu di rumahnya.
Setelah sampai di depan rumah, Jessica langsung berlari ke depan pintu, mengetuk pintu dengan kencang sembari memanggil sang mama.
“Mom, bukain pintunya, ini aku,” teriak Jessica tergesa-gesa.
“Ya, ya sabar.” Sang mama langsung membukakan pintu untuk Jessica.
“Mom, aku siap-siap dulu yah.” Jessica segera berlari menaiki tangga menuju ke kamar tidurnya.
“Cepat, Jess. Mom gak mau terlambat, jangan sampai kita melewatkan setiap detik acaranya,” ucap sang mama yang rupanya telah siap dalam balutan gaun pesta berwarna peach, dan riasan wajah yang tidak terlalu tebal, rambut pendeknya yang dibiarkan terurai serta sepasang sepatu high heels yang berwarna senada dengan gaun pestanya.
“Siap, komandan!” teriak Jessica dari dalam kamar tidurnya.
Setengah jam kemudian, Jessica keluar dari kamar tidurnya lalu berjalan menuruni tangga. Sesampainya di hadapan sang mama, ia lantas mendapat pujian dan acungan jempol dari ibundanya.
Jessica memakai gaun pesta berwarna senada dengan sang mama, hanya saja potongan leher gaun pesta miliknya lebih rendah jika dibandingkan dengan gaun pesta mamanya. Lalu riasan wajah tipis dengan lipstick berwarna merah muda, rambut panjangnya yang dibiarkan terurai dan hanya diberi tambahan jepit rambut sebagai hiasan, tas tangan serta sepatu high heels yang juga berwarna senada.
Untuk menghemat waktu, keduanya lantas bergegas pergi dengan mengendarai mobil sang mama. Jessica duduk di kursi penumpang depan sembari meminta ibundanya agar menyetir dengan berhati-hati.
Tujuh belas menit kemudian, keduanya sampai di gedung pernikahan. Setelah memarkirkan mobilnya, Jessica dan sang mama lantas memasuki gedung yang telah didekor dengan amat indah dari sejak pintu depan hingga ruangan dalam. Warna biru tua mendominasi hampir seluruh dekorasi gedung. Bucket bunga mawar putih tersebar sepanjang jalan masuk hingga ke panggung pengantin.
Tidak berapa lama kemudian, acara pun dimulai. Lalu, kedua mempelai memasuki gedung dan berjalan perlahan menuju ke panggung sembari tersenyum dan melambaikan tangan kepada para tamu undangan. Mereka tampak mempesona.
Jessica dan sang mama berdiri di deretan depan dekat dengan panggung. Saat kedua mempelai naik ke atas panggung, secara tak sengaja Jessica bertatap muka dengan seorang pria yang hanya berjarak sekitar satu setengah meter darinya. Pria tersebut tampaknya sedang memperhatikan dirinya.
‘Ya Tuhan, dia sungguh tampan! Tampaknya dia sedang memperhatikanku,’ batin Jessica yang tersipu malu.
Tetapi tiba-tiba sebuah suara dari belakang Jessica memanggil nama sang pria sambil melambaikan tangan ke arahnya, “Jack, aku di sini.”