Owen dan Calista yang melihat Jessica menangis terisak hanya terbengong keheranan dan tidak membuka suara, hanya Valerie yang aktif bertanya dengan suara pelan, sehingga tidak mengganggu penonton lainnya.
“Sedih banget, Val filmya. Gue tersentuh dan gue rasanya mengerti apa yang pemeran cewenya rasain,” jawab Jessica sambil menyeka air matanya berulang kali menggunakan tissue pemberian Valerie.
Agar tidak mengganggu suasana melankolis yang dirasakan oleh Jessica, akhirnya ketiga temannya meneruskan menonton dan membiarkan Jessica hanyut dalam suasana haru dan sedih yang diceritakan dalam film yang mereka tonton.
Akhirnya film selesai, lampu di dalam ruang sinema tiga kembali dinyalakan. Jessica dan ketiga temannya bergegas bangkit dari tempat duduk mereka dan berjalan keluar.
Sesampainya di pintu luar sinema tiga, keempatnya berhenti dan Jessica masih menyeka air matanya. Lalu, Valerie kembali bertanya, “Astaga, Jess. Emang filmnya sedih banget gitu? Kok gue merasa biasa aja, gak kayak loe yang dari tadi nangis gak berhenti.”
“Ha ... ha ... ha ... gue juga merasa biasa aja, gak sampai menangis. Bagus memang filmnya, kan itu diadaptasi dari cerita novel. Lupa gue siapa nama pengarang novelnya,” ujar Calista sambil mencoba mengingat-ingat nama pengarang n******e Before You.
“Jojo Moyes nama penulisnya. Keren banget semua karya dia. Dia penulis novel romance yang gue kagumi. Loe juga mengagumi Jojo Moyes khan, Jess?” tanya Velerie penasaran dengan jawaban yang akan diberikan oleh Jessica.
“Pastinya donk, gue gak sabar nunggu dua film lanjutannya keluar. After You dan Still Me. Semua adegan dalam filmnya masih teringat dengan jelas dalam pikiran gue. Ditambah ost lagunya yang mendayu-dayu, oh ... Tuhan, berikanlah aku kekasih idaman yang seperti tokoh pria dalam film tadi kalau hambamu ini boleh meminta,” jawab Jessica santai sambil tertawa terkekeh.
Ketiga temannya ikut tertawa melihat tingkah Jessica yang lucu, dan mereka bertiga akhirnya ikut tertawa. Lalu, Valerie melirik jam tangannya, dan waktu menunjukkan pukul lima belas. Siang tadi, film dimulai pukul dua belas lewat empat puluh lima menit, dan film berlangsung selama dua jam.
Karena hari masih belum terlalu sore, lalu Valerie berinisiatif mengajak teman-temannya mampir ke rumahnya untuk sekedar bersantai dan menghabiskan waktu untuk berbincang.
“Gaes, mampir ke rumah gue yuk. Kita makan ice cream sambil bersantai aja di rumah gue, gimana? Kebetulan ortu gue lagi pergi, di rumah lagi gak ada orang,” ajak Valerie penuh harap sambil mengira-ngira jawaban apa yang akan diberikan oleh teman-temannya.
“Oke, gue mau,” jawab Jessica tanpa berpikir panjang.
“Ya, gue juga,” jawab Calista sambil melirik ke arah Owen.
“Oke, gue sech ngikut aja asal loe sediain buat gue ice cream dan roti tawar, Marimar,” jawab Owen sambil memandang wajah Valerie.
“Apa yang gak buat loe, Ferguso,” sahut Valerie yang diikuti gelak tawa oleh Jessica dan Calista.
Lalu, keempatnya segera pergi meninggalkan area bioskop dan berjalan keluar menuju tempat parkir di basement mall. Setelah masuk ke dalam mobil, Valerie segera mengendarai mobilnya keluar dari area parkir mall yang semakin padat menjelang sore.
Selama dalam perjalanan menuju rumah Valerie, semuanya terdiam dan hanya menikmati pemandangan jalan raya di sekeliling mereka. Untuk memecah keheningan, Valerie bertanya, “Gaes, untuk makam malam nanti gue pesenin lewat onlen aja, oke?”
“Iya, Val. Kita ngikut aja dech. Loe kan tahu kita-kita ga pemilih soal makanan,” ucap Calista. Sementara Jessica dan Owen hanya terdiam melihat pemandangan jalan raya di sekitar mereka yang padat merayap.,
“Sabar yah Gaes, bentar lagi kita sampai di rumah gue. Kalau sore gini memang jalanan padat merayap mirip mudik pas Lebaran,” ujar Valerie yang berkeluh kesah.
Jessica yang mendengar keluh kesah Valerie, lantas menanggapi, “Padat dan panas lagi, Val. Rasanya pingin cepet-cepet berendam dalam bathtub berisi air dingin. Ya gak, Val?”
“Bener banget, kalau lagi di jalan raya seperti gini, ususnya harus panjang,” jawab Valerie singkat.
“Hah?! Artinya apa, Val?” tanya Owen penasaran dengan pernyataan Valerie barusan.
“Yang mana? Usus panjang? Artinya harus ekstra sabar. Understand bro?” jawab Valerie sambil terkekeh.
Owen yang merasa jengkel dengan candaan Valerie lantas melemparkan bantal boneka ke arah Valerie yang membuatnya mengomel sepanjang jalan karena tindakan Owen dianggap membahayakan keselamatan mereka berempat.
Akhirnya sampailah mereka berempat di rumah Valerie, setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, keempatnya lantas masuk ke daalm rumah melalui pintu samping di sebelah garasi. Lalu, Jessica, Owen dan Calista duduk di ruang keluarga dan langsung menyalakan AC.
“Ahh .. segarnya. Val, buruan keluarin ice cream dan roti tawarnya, sekalian semua cemilan yang loe punya,” pinta Owen yang sudah tidak sabar ingin segera menyantap ice cream.
“Sabar donk Ferguso, loe kira tangan gue sepuluh? Ini gue lagi sibuk nyiapin mangkuk buat ice creamnya,” jawab Valerie yang masih berkutat di dapur rumahnya menyiapkan mangkuk, sendok makan, gelas dan yang lainnya.
“Iya, iya Marimar maaf gitu aja sewot he ... he ... he ...” tawa Owen yang diikuti gelak tawa kedua temannya yang lain.
Saat Jessica, Calista dan Owen sedang menonton acara TV datanglah Valerie membawa satu bucket ice cream, satu pack roti tawar, mangkuk ukuran sedang, sendok makan, gelas, satu botol air mineral dan berbagai cemilan lainnya.
Ketiga temannya lantas bersorak gembira, mereka langsung menyantap ice cream dan roti tawar yang telah terhidang di atas meja. Saat sedang menyuap makanan ke dalam mulut, terdengar suara pesan masuk ke dalam w******p Jessica.
Jessica dengan tergesa memasukkan semua sisa roti tawar dalam genggaman tangannya ke dalam mulut, lalu membersihkan tangannya menggunakan tissue yang diberikan oleh Valerie kepadanya. Dan bergegas mengambil handphone dalam tasnya, menyalakannya dan membuka aplikasi Whatsappnya.
Ternyata pesan masuk itu berasal dari Gavin. Hati Jessica bertanya-tanya untuk apa Gavin mengiriminya pesan pribadi? Untuk memuaskan rasa penasarannya, Jessica langsung membuka pesan pribadi dari Gavin.
(Isi percakapan antara Gavin dengan Jessica)
Gavin : Hi, Jess. Ini aku Gavin. Maaf mengganggu waktu kamu. Lagi sibuk gak yah?
Jessica : Hi, Vin. Gak ganggu kok, tumben kirim pesan pribadi, ada apa yah?
Gavin : Gak apa-apa, pingin ngobrol aja sama kamu, boleh?
Jessica : Boleh.
Gavin : Jess, apa kamu baru pertama kali menulis novel?
Jessica : Iya, sebelumnya hanya berkhayal ha ... ha ... ha ... menulis nulis hobiku, aku melakukannya saat senggang setelah pulang kerja. Oia Vin, sudah berapa lama kamu menjadi penerjemah di Platform A?
Gavin : Baru satu tahun, aku juga hanya mengisi waktu senggang. Aku punya pekerjaan lainnya di real life. Good luck buat novelmu, aku mendukungmu Author.
Jessica : Yeay, terima kasih. Anda pendukung keeempatku setelah teman-temanku.
Gavin : Sama-sama. Lagi apa, Jess?
Jessica : Aku lagi di rumah Valerie, lagi santai aja. Tadi kami berempat habis nge-mall. Kamu sendiri lagi apa?
Gavin : Aku lagi santai aja, sendirian di dalam kamar tidur.
Jessica : Oia Vin, aku lihat sepertinya kamu dekat dengan Monica. Kalian tinggal berdekatan atau teman di real life atau gimana?
Gavin : Ha ... ha ... ha ... penasaran yah? Mau tahu apa mau tahu banget?
Jessica : Mau tahu, itupun kalau kamu mau kasih tahu. Maaf kalau aku banyak tanya.
Gavin : Gak apa-apa kok. Aku dan Monica ketemu di dumay (dunia maya), sama sepertimu, awalnya kami ketemu di group w******p itu. Kami sama-sama penerjemah dan sejak itu, ya lumayan dekat. Kami hanya teman dalam dunia maya.
Jessica : Oh, sepertinya kalian dekat sekali. Kukira kalian tinggal di kota yang sama atau rumah kalian berdekatan.
Gavin : Jangan kamu percayai seratus persen apa yang kamu lihat di dunia maya, apa yang kamu lihat dan dengar belum tentu benar. Bagiku dunia maya tetaplah dunia maya, aku hanya berusaha professional sebagai seorang penerjemah. Itu aja sech. Dan aku suka berteman serta berusaha ramah dengan semua orang.
Jessica : Oh, aku baru tahu. Terima kasih nasihatnya, Vin. Sebelumnya aku tidak pernah berkirim pesan dengan orang yang tidak aku tahu secara personal atau tidak pernah bertemu secara langsung, jadi ini adalah pengalaman pertamaku bertemu teman-teman dalam dunia maya tanpa pernah bertemu secara langsung.
Gavin : Karena ini adalah pengalaman pertamamu, kamu harus berhati-hati. Dan kamu pun harus berhati-hati denganku juga.
Jessica : Oh, tapi aku merasa nyaman dengan kamu. Untuk apa aku harus berhati-hati dengan kamu? Menurutku kamu orang yang baik.
Gavin : Jess, kamu terlalu polos dan naïf. Kita baru berkirim pesan beberapa kali, kamu tidak tahu diriku yang sebenarnya. Bagaimana kamu yakin jika aku adalah orang yang baik? Kita belum pernah bertemu dan kamu tidak tahu wajahku.
Jessica : Ya, kamu benar. Tapi aku tidak pernah berburuk sangka kepada siapapun. Mungkin ini memang kelemahanku, aku selalu menganggap semua orang baik, meski kenyataannya tidak seperti itu. Maka dari itu, aku pernah beberapa kali tersakiti.
Gavin : Seperti yang kubilang, kamu harus berhati-hati, terutama dengan orang asing yang baru pertama kali kamu temui. Dalamnya hati dan pikiran manusia tidak ada yang dapat menyelami. Hampir setiap orang memakai topeng di wajah mereka, penuh kemunafikan dan kepura-puraan. Itulah manusia, Jess.
Jessica : Ya, Vin. Mungkin aku harus belajar lebih hati-hati. Aku suka berteman dengan semua orang dan aku tulus berteman dengan mereka. Aku hanya berharap ketulusan yang sama, tidak pernah meminta lebih. Tapi, ada saja yang menyakiti dan mengkhianati.
Gavin : Ya itulah manusia, Jess. Banyak orang yang hanya mau memanfaatkan orang lain dan ketulusan tidak ada dalam hati mereka. Dari pembicaraan singkat kita, aku sudah dapat menilai dirimu sedikit.
Jessica : Oh ya? Apa?
Gavin : Kamu polos, naïf, jujur dan tidak dapat menyembunyikan perasaanmu. Aku saja dapat membaca watak dirimu hanya lewat kata-katamu, apalagi orang lain. Aku benar khan?
Jessica : Ya, kamu benar. Aku tidak suka menyembunyikan perasaanku. Suka kukatakan suka, jika tidak suka, aku akan berkata tidak suka.
Tiba-tiba Jessica dikejutkan oleh suara seseorang yang memperhatikannya sejak tadi.
“Jess, loe chat sama siapa? Serius amat,” tanyanya.
Jessica yang sebelumnya sedang fokus berbincang dengan Gavin, merasa terkejut mendengar pertanyaan temannya dan menjadi sedikit kebingungan, hingga handphonenya terlepas dari genggamannya.
“Jess, loe kenapa sech?”