> MINIMARKET <

2805 Words
Darren mampir ke minimarket untuk belanja beberapa cemilan dan air mineral karena hari ini dia malas membuat sarapan sendiri di Apartemennya sehingga Darren memilih membeli yang simple saja untuk mengganjal perutnya. “ Selamat datang di Ceria Market. “ Sapa seorang pria yang menjaga kasir menyambut kedatangan Darren. Suasana minimarket pagi ini cukup sepi, terlihat beberapa pembeli baru saja keluar karena sudah selesai belanja. Darren berjalan menuju rak yang terpajang banyak roti kemasan, ia mengambil roti rasa keju -cokelat beberapa bungkus, setelah itu dia beralih ke arah lemari es untuk mengambil air mineral. Awalnya semua berjalan normal saja tak ada yang aneh, sampai akhirnya timbul kerusuhan. “ SAYA MAUNYA KEMBALI LIMA RIBU! “ Teriak seorang perempuan membuat kehebohan. Darren mencoba untuk tidak memperdulikan kebisingan itu, ia berjalan santai ke kasir untuk membayar apa yang baru saja dia beli tetapi harus antri dulu karena di depannya ada pembeli yang masih berdebat dengan bagian kasir. “ Harusnya kembalian mbak itu 10rb bukan 5rb. “ Terang pria si penjaga kasir. “ Pokoknya, saya mau kembalinya 5rb bukan 10rb! “ tegas perempuan itu sambil menggebrak meja kasir. “ Mbak mabuk ya? jangan buat keributan disini, dong. “ Omel pria itu sambil mendorong pundak perempuan itu karena merasa kesal telah rusuh di pagi hari. “ Eh—mas, gak usah dorong – dorong juga kali! “ protesnya tak terima. Melihat situasi sudah mulai tidak kondusif, Darren pun maju ke depan mendekati wanita itu karena sejujurnya dia merasa tidak asing dengan postur tubuh serta suara gadis itu. Darren menepuk pundak gadis itu beberapa kali. Gadis itu menoleh kebelakang untuk mengomel pada Darren. “ Ini ngapain sih, colek – col—“dia menahan omelannya ketika mengetahui siapa yang baru saja menepuk pundaknya. “ Darren? “ Mata gadis itu melebar, ia langsung cengar – cengir tidak jelas. “ Ka—kamu ngapain ada disini? “ tanya gadis cerewet itu yang tak lain adalah Bunga. Darren memutar kedua bola matanya malas. Memangnya orang kalau ke minimarket mau ngapain lagi kalau bukan untuk membeli makanan atau kebutuhan pokok? Makannya Darren tidak merespon pertanyaan Bunga yang terkesan tidak penting itu. “ Ada apa bang? “ Darren langsung bertanya kepada si pria penjaga kasir untuk mengetahui permasalahan yang terjadi. “ Ini perempuan kayaknya mabuk, mas. “ “ Kenapa emang? “ Darren bertanya lagi. “ Dia beli 3 buah pop mie seharga 15rb tetapi karena kita sedang ada diskon, jadi 3 pop mie harganya cuma 10rb. “ Terangnya. “ Nah, perempuan ini membayar dengan uang sebesar 20rb dan saya mengembalikkannya sebesar 10rb tetapi dia maunya uang dia kembali 5rb. “ Terang si pria itu panjang lebar. Darren mencoba untuk tenang, ia menoleh ke arah Bunga. “ Harusnya kamu itu seneng dapat diskon dan kembalinya lebih banyak. “ Ucap Darren. Bunga menggeleng. “ Kemarin temen aku beli 3 pop mie harganya 15rb, Darren! Masa giliran aku beli jadi 10rb! “ protes Bunga, ia menunjuk ke arah kasir dan bicara dengan sewot. “ Pasti mas – mas ini anggap aku kere jadi harganya dimurahin! “ “ Dih, mbak jangan asal nuduh ya! “ pria itu geleng – geleng. “ Kayaknya ini cewek emang beneran mabuk. “ Cibirnya. Dimana – mana orang sangat menginginkan diskon, lah ini si Bunga kenapa malah merasa tersinggung saat mendapatkan potongan harga. Sungguh aneh tapi Bunga. “ Bunga… hari ini lagi ada diskon, jadi harganya memang lebih murah. Bukan ke kamu doang, tapi ke semua pembeli. “ Darren sampai harus menjelaskan lebih detail. “ Gak! pasti dia bohong, Darren! Aku tidak mau dianggap miskin dan dikasihani. Emangnya dia fikir aku gak punya uang buat bayar 3 pop mie tanpa diskon? “ Bunga tetap bersikeras pada pendapatnya. “ Nih, liat ya uangku ada banyak!“ Bunga memasukkan tangannya ke dalam baju dari bagian atas, lalu dia merogoh Bra yang dia pakai untuk mengambil uang miliknya yang disimpan disana. Darren dan penjaga kasir tercengang ketika melihat Bunga merogoh semakin dalam membuat bagian area buah mahkotanya sedikit nampak karena Bunga menggunakan pakaian kekurangan bahan dan sangat ketat. “ Tuh, hari ini aku lagi dapet banyak uang bayaran dari tamu. “ Pertama, Bunga mengeluarkan uang lima puluh ribu, kemudian disusul dengan beberapa lembar seratus ribu, lalu dia letakkan uang itu di atas meja kasir. Pokoknya, berkali – kali Bunga merogoh Branya sendiri hanya untuk menunjukkan bahwa saat ini dia punya uang. Sebelumnya, Darren memang sempat melongo karena terkesima atas apa yang baru saja dia lihat, sampai akhirnya dia mulai tersadar. Darren pun tidak tinggal diam, ia langsung memegang pundak Bunga dan memutar tubuh gadis itu agar membelakangi pria penjaga kasir yang masih terus menyaksikan Bunga merogoh uang dari pakaian dalamnya. Lagian Bunga ini ada – ada saja, masa menyimpan duit di dalam Bra, sudah seperti orang dulu saja. “ Hentikan, Bunga! “ Darren menahan tangan Bunga yang ingin dimasukkan ke dalam Bra lagi. “ Kenapa? biarin aja, supaya dia tau aku banyak duit! “ Bunga bicara dengan nada tinggi, saat itu juga Darren langsung bisa mencium nafas Bunga yang memang bau minuman alkohol. ‘ Dia memang sedang dalam keadaan mabuk. ‘ Batin Darren, pantas saja Bunga agak ngaco. “ Sepertinya kamu mabuk berat. “ Kata Darren seraya merapihkan uang milik Bunga yang tadi gadis itu keluarkan “ Aku memang mabuk, tapi tidak sampai teler karena aku masih dalam keadaan sadar, Darren. “ Terang Bunga. “ Hmmmm. “ Darren hanya berdehem saja, ia segera memberikan uang itu kepada Bunga. “ Simpan duitmu dengan benar. “ Bunga mengambil uang miliknya itu dan ingin dia taruh lagi di tempat semula tetapi Darren melarangnya. “ Jangan simpan uang di dalam Bra mu lagi, Bunga. “ Bunga menguap dulu sebentar, sebelum akhirnya bertanya.“ Kenapa? “ “ Itu tidak baik dan bisa jadi sumber penyakit karena kamu sendiri gak tau, kan? apakah uang yang kamu simpan itu bersih atau banyak kuman. “ Terang Darren. “ Lebih baik kamu simpan saja di kantong. “ Perintahnya dan Bunga pun menurut. “ Tapi, kamu percaya kan, kalau saat ini aku masih dalam keadaan sadar? “ tanya Bunga lagi. Darren mengiyakan saja ucapan Bunga, tapi pada intinya gadis itu sedang berada dibawah pengaruh minuman beralkohol, apalagi ketika Darren perhatikan lagi ternyata gadis itu juga masih memakai baju yang semalam dia lihat pada saat di Bar. Nampaknya, Bunga baru saja pulang bekerja. Memang sangat aneh, disaat orang – orang ingin berangkat kerja, gadis yang bekerja pada malam hari itu baru saja pulang. Bunga menoleh ke arah kasir yang tengah memandangnya. “ Apa lo liat – liat! “ “ Sudah – sudah. “ Darren mengedipkan kedua matanya ke arah pria penjaga kasir untuk memberikan isyarat supaya pria itu mengalah saja dengan perempuan. “ Jadi, ini total belanjaan pop mienya 15rb, kan? “ tanya Darren. Setelah mengerti isyarat dari Darren pun si pria kasir itu mengangguk saja daripada urusan tambah panjang. “ Yaudah kembalikan uang dia 5rb. “ Kata Darren dan si kasir menurut saja. Lagian pria kasir itu juga agak ngeyel, sudah tahu kalau saat ini Bunga dalam keadaan mabuk, tapi masih saja di ajak berdebat. Harusnya dia mengiyakan saja jika memang Bunga ingin membeli dengan harga normal. Entah pria itu terlalu jujur dalam bekerja atau memang dia tidak memahami seorang wanita. Bunga pun mengambil pop mie yang sudah dibungkus plastik dan tak lupa mengantongi kembaliannya. Sekarang, giliran Darren yang bertransaksi untuk membayar belanjaan miliknya. Untung saja saat ini minimarket dalam keadaan sepi, jadi tidak menimbulkan antrian panjang karena mereka berdua cukup lama berada di kasir. “ Makasih, mas. “ Ucap Darren. “ Sama – sama. “ Pria itu melirik Bunga. “ Dasar murahan! “ cibir pria itu membuat Bunga dan Darren yang ingin melangkah sampai tidak jadi. “ Ngomong apa kamu? “ tanya Bunga sewot tetapi tidak di ladenin oleh pria itu. Bunga ingin memukul pria itu tetapi ditarik oleh Darren. “ Bunga! “ Darren menahan gadis itu. “ Tunggu aku diluar. “ Kata Darren seraya menyerahkan plastik belanjaanya. “ Tolong bawakan punyaku. “ Ucap Darren, ia melihat mata Bunga nampak berkaca – kaca menatap pria yang sudah mengatakan sesuatu begitu menyakitkan baginya, meski apa yang pria itu ucapkan mungkin ada benarnya juga karena dia bekerja sebagai perempuan malam. “ Bunga… “ Ucap Darren lagi, akhirnya Bunga pun menurut saja untuk pergi keluar minimarket dalam keadaan sesak. Darren mendekati pria itu, ia melemparkan tatapan tajam selama beberapa saat sebelum akhirnya tangan Darren menarik kerah baju pria itu. “ Jangan pernah mengejek perempuan dengan kata – kata hina seperti itu! apa kamu mengerti? “ tangan Darren beralih mencekik leher pria itu sangat kuat. “ Me—mengerti! Sa—saya min—minta ma—maf. “ Pria itu sampai terbata – bata ketika bicara, bahkan saat ini dia buat kesulitan bernafas karena cengkraman kuat tangan Darren. Darren berhenti mencekik leher pria itu, ia mengatur kadar nafasnya agar lebih rileks. Melihat pria itu merasa menyesal dan ketakutan membuat Darren tak mau memperpanjang lagi masalah ini. “ Satu hal lagi yang perlu kamu ingat! “ Darren bicara sambil menunjuk wajah pria itu menggunakan jari telunjuknya. “ Jangan pernah mendorong perempuan seperti apa yang sudah kamu lakukan tadi! “ tegas Darren karena tadi dia menyaksikan sendiri bahwa pria itu sempat mendorong Bunga ketika mereka sedang berdebat. “ I—iya, maaf. “ Pria itu menunduk takut, jantungnya hampir saja copot menghadapi Darren yang nyaris membuat dirinya berhenti bernafas. Darren bergegas pergi keluar minimarket dengan perasaan masih sedikit emosi, kalau saja dia tidak ingin berangkat kerja, sudah pasti Darren akan menghajar lelaki itu. Namun, Darren tidak mau melakukannya karena takut merusak suasana hatinya dan menyebabkan dirinya tidak konsentrasi dalam bekerja. Sampainya diluar, Darren mencari – cari keberadaan Bunga yang ternyata gadis itu sedang duduk di bangku kayu yang tak jauh dari tempat dia parkir mobil. “ Bunga? “ Darren melihat perempuan itu lagi menangis sesegukan. Bunga hanya diam saja sambil terus melanjutkan kegiatan buang – buang air matanya. Darren melirik jam yang melingkar ditangannya, ia memperkirakan masih ada waktu sekitar 25 menit lagi menuju jam masuk kerja. “ Bunga, rumah kamu jauh gak dari sini? “ tanya Darren. Bunga geleng – geleng. “ Kira – kira berapa menit? “ “ Ti—tiga puluh menit. “ Jawab Bunga sambil tersedu – sedu. Darren melongo. “ Itu jauh, Bunga. “ “ Ta—tapi, bohong. “ Balas Bunga, dalam keadaan menangis saja dia masih bisa – bisanya bercanda. “ Kos – Kos’an aku deket dari sini kok, gak sampai lima menit. “ Terang Bunga. “ Aku antar. “ Jawab Darren, lelaki itu berjalan lebih dulu ke arah mobil. “ Darren mau antar aku? “ Bunga langsung berdiri. “ Yes! “ dalam keadaan masih menangis, gadis itu berlari ke arah mobil. Melihat Darren sudah masuk ke dalam mobilnya, Bunga pun ikut masuk dan duduk disebelah lelaki itu. Darren pikir Bunga akan berhenti menangis, tapi gadis itu kembali terisak sambil memeluk belanjaan yang berada dipangkuannya. Darren memberikan tatapan iba ke arah Bunga. “ Sabar. “ Hanya satu kata yang keluar dari mulut Darren. “ Itu cowok ngeselin! Kenapa dia jahat banget ngatain aku kayak tadi? “ Bunga menangis lagi. “ Sabar. “ Jawab Darren seadanya. “ Ya, aku sadar memang resiko bekerja di Bar pada malam hari pasti akan dianggap sebelah mata oleh banyak orang, tapi aku itu bukan wanita yang bisa dengan mudah di ajak tidur sana – sini oleh para cowok! “ Bunga sesegukan sambil menyeka air matanya. “ Tugasku cuma nemenin mereka minum sambil ngobrol dan aku akan menolak jika mereka mengajakku untuk berhubungan badan! “ jelas Bunga panjang lebar kali ini menarik perhatian Darren. “ Yakin? “ Alis Darren terangkat satu ketika memberikan pertanyaan yang ada unsur meragukan penjelasan Bunga. “ Maksud kamu apa? jadi, kamu berfikiran sama seperti kasir kaampret itu bahwa aku perempuan murahan? “ Bunga berdecak sebal. “ Aku itu emang gak pernah gitu – gituan sama cowok! aku masih perawan ting – ting! “ tegas Bunga sontak membuat Darren mengerem mobilnya secara mendadak karena terkejut. NGIK… Untung saja mereka berdua mengenakan SeatBelt sehingga tubuhnya tidak terhempas ke depan saat Darren rem mendadak. “ Darren… “ Bunga mengelus dadanya karena terkaget – kaget. “ Kamu ini kenapa, sih? “ Darren tertegun selama beberapa detik, sebelum akhirnya dia kembali melajukan mobilnya setelah merasa sudah agak tenang. “ Gak apa – apa. “ Jawab Darren sedikit gugup. Keadaan mendadak hening, tapi kemudian Darren bersuara.“ Bagus. “ Celetuk Darren tiba – tiba membingungkan Bunga. “ Apanya yang bagus? “ Bunga bertanya – tanya. “ Emm…“ Darren menggaruk – garuk pelipisnya. “ Bagus kalau kamu masih menjaga keperawananmu. “ Tambah Darren kali ini membuat Bunga tersenyum. “ Tapi, kalau kamu yang ngajak tidur aku mau, kok. “ Jawab Bunga seraya menghapus air mata yang sejak tadi membasahi pipinya, kini dia sudah dapat berhenti menangis. Darren agak salah tingkah atas ucapan konyol Bunga tadi, tapi dia mencoba untuk tetap terlihat tenang. “ Ini lurus terus atau belok? “ tanya Darren mengalihkan pembicaraan. “ Nanti pas di depan ada pertigaan kamu belok kanan ya, habis itu lurus aja terus sampai ada palang ‘ Rumah Kos ‘ langsung berhenti, deh. “ Terang Bunga memberitahu. “ Ok. “ “ Kantor kamu tinggal belok kiri, kan? “ celetuk Bunga yang memang dia sudah tahu tempat kerja Darren karena kemarin dia kesana. “ Hm. “ “ Jujur, aku sakit hati banget sama ucapan pria sialan itu. “ Bunga masih saja terus menggerutu. “ Sabar. “ Darren berkata seperti itu lagi. “ Jadi orang sabar itu gak enak, selalu disepelehin. “ Ujar Bunga, ia menoleh ke arah Darren. “ Gimana caranya supaya kita kuat menghadapi orang – orang yang jahat sama kita? “ tanya Bunga. Darren menoleh sambil menjawab. “ Bersabar. “ Ucapnya memberi solusi yang menurut Bunga bukanlah jawaban yang tepat dan tidak membantu. “ Arghh! “ Bunga menghela nafas kasar. “ Sabar… sabar… kalo sabar bikin kaya raya sih, gak apa – apa! ini bikin tekanan batin! “ keluhnya. Darren fokus mengemudi saja tak memperdulikan Bunga yang terus ngedumel. Bunga melirik Darren yang nampak acuh.“ Nasib oh nasib! Kenapa hidupku sangat menyedihkan ya tuhan. “ Bunga memasang wajah memelas. “ Udah tiap hari makan pop mie mulu jadi bikin usus keriting, terus aku sering banget mendapat hinaan dari banyak orang perkara kerja di Bar, eh sekarang ditambah lagi dengan siksaan batin karena menyukai orang yang cuek. “ Sindir Bunga menoleh ke arah Darren karena memang orang yang dia sukai saat ini adalah lelaki yang sedang fokus mengemudikan mobil. Darren diam saja karena dia tidak merasa tersindir. “ Turun. “ Perintah Darren saat mobilnya sudah berhenti di depan sebuah bangunan yang terdapat palang ‘ RUMAH KOST ‘ “ Kenapa kamu suruh aku turun? Apa aku buat salah? “ Bunga menatap Darren sendu. Darren membelalakan matanya. “ Bunga kamu gak buat salah. “ “ Terus apa? jujur aja, Darren. “ Bunga mengerucutkan bibirnya. “ Aku sudah siap mendengar kata – kata menyakitkan yang akan kamu ucapkan. “ Tuturnya memasang wajah sok sedih. “ Ini sudah sampai, Bunga. “ Jawab Darren terlihat malas meladeni Bunga yang selalu saja banyak Drama. Bunga melongok ke arah luar jendela, lalu dia terkekeh ketika sadar bahwa saat ini memang sudah sampai di tempat tinggalnya. “ Oh, iya. “ Dia cengar – cengir sambil melepaskan sabuk pengaman yang sejak tadi melekat pada tubuhnya. “ Makasih ya, maaf udah nyusahin kamu. Semoga aja besok – besok kamu selalu bersedia aku repotin. “ Tutur Bunga terdengar membosankan bagi Darren. “ Hm. “ Darren berdehem sambil memijit pelipisnya. Bunga memajukan wajahnya ke arah Darren, ia ingin memberikan ciuman pada pipi lelaki itu tetapi dengan cepat Darren menghindar. “ Bunga, kamu harus tau batasan! “ tegas Darren. “ Jangan lakukan itu lagi! “ omelnya, wajah Darren terlihat sedikit merengut pertanda dia tak suka. “ So—sorry. “ Bunga bergerak mundur, ia segera keluar dari mobil dengan perasaan tak enak. “ Bunga? “ panggil Darren. Bunga menahan senyum ketika lelaki itu menghentikannya. Bunga berfikir bahwa saat ini Darren telah menyesal karena tadi menolak ciumannya dan kini lelaki itu memanggilnya kembali karena ingin meminta dicium, maka dari itu dengan penuh semangat Bunga membalikkan badannya. “ Ada apa, Darren? “ tanyanya berlagak ketus, ia menunggu instruksi dari Darren untuk segera memberikan kecupan. “ Plastik belanjaanku. “ Darren menunjuk plastik yang berada di tangan Bunga. Seketika harapan Bunga runtuh karena ternyata Darren memanggil dirinya hanya untuk meminta belanjaannya.“ O—oh iya, aku lupa. “ Bunga segera memberikan plastik itu kepada Darren. “ Aduh, aku jadi malu. “ Kata Bunga memasang wajah memelas, ia merasa tak enak hati ingin membawa pergi makanan punya Darren. “ Ternyata kamu punya malu juga. “ Balas Darren, sebelum Bunga menyahut, Darren langsung berkata. “ Tutup pintunya. “ Alhasil, Bunga tidak jadi bicara dan langsung menutup pintu mobil Darren. Lelaki itu pun segera pergi melajukan mobilnya menuju kantor sebelum dia terlambat. “ Darren… Darren… kamu itu selalu buat rahimku bergetar. “ Ucap Bunga berlebihan, sepertinya dia sangat terobsesi pada Darren sejak pertama kali bertemu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD