> MANTAN ISTRI <

2377 Words
Darren baru saja sampai di kantor, ia berjalan menuju lift. “ Duren! Duren! “ teriak seseorang membuat Darren menghela nafas panjang karena dia tahu pemilik suara itu, siapa lagi kalau bukan Bima si biang kerok. Darren menghentikan langkahnya tepat didepan lift, ia menoleh ke arah Bima yang baru saja tiba disebelahnya. “ Udah berapa kali gue bilang, bim? “ Darren menatap Bima malas karena masih pagi saja dia sudah cari perkara. “ Jangan panggil gue dengan sebutan itu. “ Terangnya. Bima terkekeh sambil menepuk pundak Darren. “ Yaelah bercanda aja itu. Lagian, Duren sama Darren beda tipis, kok. “ “ Terserah. “ Darren terlalu malas untuk berdebat panjang, kebetulan pintu lift terbuka dan akhirnya dia pun langsung masuk saja. “ Ngambek dah, ngambek! “ cerocos Bima ikut masuk ke dalam lift. “ Tumben jam segini baru dateng? Bukannya lo udah berangkat dari tadi ya? emang lo kemana dulu? “ Bima melontarkan pertanyaan bertubi – tubi. Darren diam saja tidak menjawab, Bima pun melirik kantong plastik yang berada di tangan Darren. “ Oh, abis belanja ya? “ tebaknya. “ Hm. “ Darren mengangguk saja supaya percakapan cepat selesai. “ Belanja apa? “ ternyata Bima masih terus bicara sepanjang lift menuju lantai 28. Darren menarik nafas dalam – dalam, plastik yang berada ditangannya Darren serahkan kepada Bima. “ Liat aja sendiri. “ Katanya. Bima melongok isi plastik belanjaan yang kini sudah berada di tangannya, Bima geleng – geleng kepala. “ Kasihan banget si Duda, sarapannya roti kemasan sama air mineral doang. “ Ucap Bima dilanjuti tawa. “ Biarin. “ Singkat Darren. TING. Lift pun tiba di lantai 28, ketika mereka berdua beranjak keluar tak sengaja berpapasan dengan Riri dan Ajay yang ingin masuk ke dalam lift. “ Pagi pak. “ Sapa Darren dan Bima secara bersamaan. “ Pagi. “ Balas Ajay sedangkan Riri hanya diam saja meski tadi sempat melirik Darren. Setelah mereka berdua keluar lift, Riri dan Ajay pun masuk ke dalam. Ajay menekan tombol lantai 30 karena memang ruangan Ajay dan Riri berada disana. “ Dia habis ngapain di lantai 28? “ tanya Bima. Darren hanya mengangkat bahunya saja menjawab pertanyaan Bima. Padahal, Bima tahu kalau Darren sejak tadi berduaan dengannya dan sama – sama baru tiba di lantai 28, jadi harusnya Bima faham bahwa Darren juga tidak tahu kenapa Ajay dan Riri berada di lantai 28. “ Cie…Cie… yang abis ketemu mantan istri dan selingkuhan mantan istri. “ Ledek Bima, ia suka sekali menggoda Darren yang selalu meresponnya hanya dengan menghela nafas berat seperti sudah lelah menghadapi Bima. “ Untung aja dia direktur kita, coba kalau bukan? Pasti udah gue pukul kepala plotosnya itu sampe bunyi BUG! “ cibir Bima bernada kesal, ia sangat membenci Ajay karena Direkturnya itu diam – diam berselingkuh dengan Riri yang pada saat itu masih berstatus istri Darren, sahabatnya. Memang terkadang hidup tidak dapat di tebak, hal – hal mengejutkan akan terus terjadi tanpa permisi. Siapapun tidak akan menduga kalau ternyata Riri yang bekerja sebagai asisten direktur memutuskan untuk berselingkuh dengan sang direktur, padahal saat itu statusnya masih menjadi istri sah Darren dan status Ajay pun masih menjadi suami orang. Kalau dilihat secara sepintas, Darren itu tampan dan aslinya dia punya pribadi yang hangat serta lelaki itu juga sangat setia pada Riri tetapi dengan mudahnya Riri berkhianat. Kenapa Riri berkhianat dan lebih memilih bersama Ajay? Apakah karena Ajay memiliki posisi lebih tinggi dari Darren? Jika memang benar karena itu yang membuat Riri berpaling hati, sungguh sempit sekali pola pikir Riri. Padahal, kalau di fikir – fikir, posisi Darren di kantor juga sudah cukup tinggi yaitu sebagai manajer keuangan. Dari situ kita dapat lihat bahwa memang benar kalau manusia tidak pernah ada puasnya. Kalau ditanya apakah Darren marah pada Ajay? Ya, tentu saja. Namun, dia tidak bisa berbuat banyak karena Riri pun memang menginginkan hubungan itu, alhasil Darren mencoba untuk menerima semua ini. Apakah Darren tidak berniat menghajar Ajay? Tentu saja waktu itu Darren yang sangat emosi pernah berfikiran untuk memberikan Ajay pelajaran dengan cara kekerasan antar lelaki. Namun, setelah Darren pertimbangkan lagi secara matang, untuk apa dia melakukan itu semua karena pada kenyataanya jika dia meluapkan emosi dengan cara kekerasan tidak akan mengembalikan keadaan menjadi lebih baik, justru akan tambah memburuk segalanya dan salah satu akibatnya jika Darren melakukan kekerasan pasti dia akan dikeluarkan dari pekerjaannya. Darren sudah kehilangan cinta dan istrinya, oleh karena itu dia tidak ingin kehilangan pekerjaan yang sangat memengaruhi hidupnya. Sekarang, Darren hanya fokus pada pekerjaan dan anaknya saja, selebihnya kalau urusan soal cinta dia biarkan mengalir dengan sendirinya. Hanya saja dalam waktu dekat ini hati Darren sedang dalam keadaan membeku, jadi tak mudah dicairkan. ** Darren berjalan menuju lantai 30 karena dia dipanggil oleh sang direktur yaitu Ajay. Ketika Darren ingin mengetuk pintu ternyata ruangan Ajay agak sedikit terbuka dan dapat Darren lihat bahwa saat ini Riri sedang b******u mesra dengan Ajay. Melihat hal tersebut membuat Darren bergidik geli, ia tidak menduga jika Riri serendah itu mau saja bermesraan dengan suami orang. Jika saja Ajay tidak punya istri masih bisa di maklumi walau tetap salah, tapi pada kenyataannya pria yang lebih tua darinya itu masih menyandang status suami orang dan punya banyak anak. Tok…Tok… “ Permisi? “ Darren mengetuk pintu ruangan Ajay, seketika Riri dan Ajay langsung jaga jarak. “ Masuk. “ Sahut Ajay. Darren masuk ke dalam ruangan Ajay, ditangannya membawa map berisi dokumen. Riri memperhatikan Darren tetapi lelaki itu tidak mau meliriknya. Selalu ada rasa sakit yang timbul tiap kali melihat Riri. “ Ini laporan terkait keuangan kantor selama tiga bulan terakhir yang pak Ajay minta. “ Darren meletakkan map itu di atas meja Ajay. “ Terima kasih. “ Balas Ajay. “ Nanti setelah di cek, bapak langsung tanda tangan saja. “ Terang Darren. “ Kamu gak mau duduk dulu? “ tanya Ajay karena sejak tadi Darren hanya berdiri di hadapannya. “ Tidak, pak. Saya mau langsung pergi. “ Darren pun segera keluar ruangan karena tak tahan berada dalam satu tempat dengan mantan istri dan selingkuhannya. Itu sangat menyakitkan. Riri memandang kepergian Darren sambil tersenyum tipis, kemudian dia duduk dihadapan Ajay. “ Kamu lihat? Sepertinya dia belum bisa move on dariku, makannya setiap kali ada kita berdua dia ingin buru – buru pergi karena cemburu. “ Ucap Riri kepedean. Ajay tertawa saja. “ Apa dia sudah mencari penggantimu? “ “ Sepertinya belum. Dia mana bisa cari penggantiku dengan cepat karena dia sangat mencintaiku. “ Riri mengerucutkan bibirnya. “ Makannya, kamu cepet ceraikan istrimu dan nikah denganku sebelum nanti Darren maksa – maksa aku untuk kembali jadi istrinya. “ Ungkap Riri dengan nada manja. “ Iya, sayang. Nanti akau akan menceraikan istriku secepatnya dan kemudian menikahimu. “ Ajay mengelus – elus tangan Riri yang berada di atas meja. “ Baiklah, aku percaya kepadamu. “ Riri berdiri, ia berjalan mendekati Ajay hanya untuk mencium kening pria yang lebih tua darinya itu. “ Terima kasih sudah percaya.“ Kata Ajay. “ Aku ke toilet dulu ya. “ Riri pun pergi menuju toilet, tepat saat dia ingin masuk ternyata terlihat Darren keluar dari toilet pria. “ Darren? “ panggil Riri. “ Kenapa? “ Darren menatap Riri tanpa ekspresi. “ Apa kamu cemburu? “ tanya Riri seraya berjalan mendekati Darren. “ Cemburu untuk apa ? “ Darren meresponnya dengan santai. “ Cemburu melihatku bersama Ajay bermesraan seperti tadi. “ Ucap Riri. “ Aku bukan cemburu, tapi jijik. “ Balas Darren membuat Riri kesal mendengarnya. “ Sembarangan kamu kalau bicara! “ Riri terlihat jengkel. “ Sebaiknya kamu jaga etikamu di kantor dan jangan bermesraan seperti itu di tempat umum. “ Ucap Darren memberitahu. Riri melipatkan kedua tangannya di depan perut. “ Kenapa? jujur saja kalau sebenarnya kamu itu masih mencintaiku sehingga tak tahan dan cemburu jika melihatku bermesraan sama pak Ajay. “ Riri tersenyum puas. “ Aku tidak punya perasaan lagi kepadamu, Riri. “ Darren memberikan tatapan serius.“ Aku memperingatimu seperti itu karena kita punya anak perempuan. Seharusnya, sebagai seorang ibu kamu mencontohkan agar menjadi wanita baik – baik dan tahu malu. “ Darren membalikkan badannya untuk pergi, tapi kemudian dia kembali menghadap Riri lagi untuk mengatakan. “ Satu lagi, aku tidak pernah cemburu. Silahkan saja kalau kamu mau menikah dengan pak Ajay atau pria manapun. Sumpah aku tidak perduli.“ Kini Darren benar – benar pergi meninggalkan Riri. “ Arghh! “ Riri menghentakkan kakinya penuh emosi. “ Darren kurang ajar! Kenapa dia jadi menasihatiku! “ Darren berjalan masuk ke dalam ruangannya dengan wajah kesal, ia menjatuhkan tubuhnya kasar duduk dibangku. “ Memalukan! “ “ Siapa yang memalukan? “ tanya Bima yang ternyata sudah duduk dihadapan Darren. Bima sudah sejak tadi berada diruangan itu menunggu Darren kembali dari lantai 30. “ Tadi gue lihat Riri sama Ajay lagi ciuman! Tidak waras! “ Darren meletakkan tangannya kasar di atas meja. “ Bisa – bisanya Riri berbuat seperti itu di kantor. Masih untung gue yang melihatnya, bagaimana jika orang lain! “ serunya dengan nada kesal. “ Sabar, Darren. Ambil aja hikmahnya. “ Tutur Bima semakin menambah Darren jengkel “ Hikmah apa yang bisa gue ambil ? “ tanyanya sewot. “ Seharusnya, Riri jangan kayak gitu. Dia seperti tidak punya harga diri saja! “ “ Lo kenapa sampai marah banget kayak gini? lo masih sayang sama Riri, ya? “ tanya Bima. “ Bukan gitu, bim. Biar bagaimanapun dia adalah ibu dari anak gue. Harusnya dia menjadi ibu yang baik, eh ini malah berbuat m***m seperti itu! menjijikan! “ Darren menghela nafas kasar, ia masih ingat betul tadi saat Riri dan Ajay b******u mesra. “ Iya, sih. Emang kacau si Riri!“ Bima mengangguk setuju bahwa seharusnya Riri bisa menjaga imagenya, apa lagi dia punya anaknya perempuan. “ Lagian, dia kenapa gak minta dinikahin aja sama Ajay biar cepet keluar dari rumah lo? “ “ Gak tau. “ Darren mengangkat bahunya. “ Sudah – sudah, gak usah bahas dia lagi. “ Kata Darren. “ Lah, yang dari tadi bahas Riri kan, lo duluan. “ Balas Bima. Darren diam. “ Makannya, lebih baik lo cari istri lagi. “ Cetus Bima. “ Belum kepikiran dan belum nemu juga cewek yang tepat. “ Sahut Darren yang mulai kembali fokus pada komputernya. “ Itu si Bunga. “ Celetuk Bima. “ Ck, lo jangan ngaco. Udah sana pergi gua mau kerja. “ Usir Darren karena kehadiran Bima tidak dapat mereda emosi dan malah membuatnya semakin suntuk. ** Bunga lagi menikmati Pop Mie yang masih hangat itu dengan lahap. Entah sudah berapa kali dia makan mie dalam seminggu tetapi itu adalah salah satu cara menghemat uang karena status Bunga anak kos – kosan, ditambah lagi pekerjaannya yang tidak muluk – muluk mendapat banyak uang. “ Lama – lama gue usus buntu dah, nih. “ Celetuk Bunga, tapi dia tetap melanjutkan menyantap Pop Mie rasa soto itu. Cika terkekeh sambil mendekati Bunga dengan membawa centong yang di atasnya terdapat nasi. Tanpa aba – aba, Cika tuangkan saja nasi itu ke dalam mie Bunga. “ Cikaaaa! “ Bunga berhenti melahap makanannya ketika nasi menumpuk di atasnya.“ Bener – bener lo ya, gue lagi enak – enak makan ditaruh nasi! “ protes Bunga tak terima. “ Biar kenyang, oon! “ seru Cika, dengan santainya dia pergi ke arah meja untuk menaruh centong nasi yang tadi dia bawa – bawa. Bunga mengerucutkan bibirnya. “ Gue gak suka makan mie pake nasi, Cika setaaan! “ Bunga yang kesal meletakkan saja cup Pop Mie itu dilantai karena dia sudah tidak bernaafsu. “ Hemm… diperhatiin malah ngambek. “ Cika melengos, ia asik saja pada kegiatannya yang saat ini main ponsel di atas kasur. Bunga bangun untuk mengambil minum tetapi air di galon habis. “ Ck, Cika… kenapa gak bilang kalau galon habis? “ Bunga menghela nafas kasar, padahal tenggorokannya lagi seret tetapi tidak ada air. “ Lupa.“ Singkat Cika membuat Bunga semakin jengkel. “ Beli sono di warung depan.“ Perintah Cika dengan mata fokus ke layar ponsel. “ Males banget gue ke warung depan jalan. Jauh… “ Keluhnya karena memang di area kos – kosan sama sekali tidak ada warung, jadi kalau mau beli apa – apa harus ke depan jalan raya atau ke minimarket yang tadi pagi Bunga datangi. “ Males banget lo, dari kemaren juga gue terus yang beli. Sanah gantian. “ Cetus Cika agak kesal. Untung saja Bunga sepupunya karena kalau bukan, sudah dia usir supaya tidak satu kos – kosan dengannya. “ Iya – iya. “ Dengan terpaksa, Bunga pun pergi untuk membeli galon. “ Pinjem trolinya sana sama Tuti biar lo gak perlu angkat galon. “ Teriak Cika. “ Iya – iya. “ Sahut Bunga lagi, ia berjalan ke kamar kos sebelahnya yang tak lain tempat Tuti. “ TUT…TUT…TUT…“ Panggil Bunga dengan menggunakan nada lagu ‘ naik kereta api ‘ dibagian tut-tut-tut. Sang pemilik rumah pun keluar meski namanya dipanggil dengan sebutan aneh. “ Eh—Bunga bangke. “ Celetuk Tuti mendapat toyoran dari Bunga. “ Sembarangan lo ngatain gue Bunga bangke. “ Protesnya tak terima, padahal dia juga suka asal – asalan kalau manggil nama orang. “ Lo juga tadi panggil gue tut…tut…tut. “ Balas Tuti sedangkan Bunga hanya cengar – cengir. “ Ngapain lo panggil gue? “ Tuti menyandarkan tubuhnya di pintu. “ Pinjem troli galon, dong. “ “ Minjem mulu, beli dong. “ Keluh Tuti, namun dia tetap mengambilkan troli dan meminjamkannya kepada Bunga. “ Kalo udah langsung balikin, jangan taro depan pintu, nanti diambil orang. “ “ Iya, Tuti. “ Bunga mengambil troli itu dari tangan Tuti. “ Sayang, cepetan sini. “ Panggil laki – laki dari dalam kamar Tuti. Bunga melongok ke arah dalam. “ Siapa, tuh? “ “ Biasa, cowok gue. “ Jawab Tuti. Tak lama cowok itu keluar. “ Eh, Bunga. “ Sapanya. Bunga nampak ketus melihat pria yang seluruh tubuhnya dipenuhi tato, lalu hidungnya di tindik serta matanya nampak sayu seperti orang habis mabuk dan rambutnya bergaya spike mirip dengan kulit durian. “ Itu rambut apa kulit durian tajem ke atas. “ Gumam Bunga. “ Bunga makin hari tambah cantik aja. “ Pria itu mencolek dagu Bunga. “ Heh! Jangan pegang – pegang. “ Omel Bunga sedangkan Tuti dan pacarnya tertawa saja. “ Maklumin aja, dia masih perawan jadi agak malu – malu kalo di colek cowok. “ Ledek Tuti. Bunga menghela nafas kasar, ia tarik troli itu dan berjalan keluar kos – kosan untuk menuju warung yang berada di jalan raya. Jaraknya lumayan jauh, makannya Bunga males sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD