Bunga melangkahkan kakinya menelusuri jalanan sambil dorong – dorong troli, sesekali ia memandangi ruang luas yang membentang di atas bumi sudah mulai menunjukkan warna jingganya. Merasa iseng, Bunga bersiul - siul senang, kadang dia berhenti dulu saat melihat kucing hanya untuk dia ledekin saja.
" Ck...ck...ck puss....empuss, sini. " Bunga memanggil kucing sambil memetik jarinya dan anehnya kucing itu mendekatinya. " Mau ngapain kamu kemari? aku gak ada ikan. " Kata Bunga, kemudian dia usir lagi kucing itu agar pergi. " Hus...Hus... " Bunga melakukan kegiatan itu tanpa alasan dan memang tidak jelas.
Kepala Bunga mendongak mengamati langit sore.“ Darren itu bagai senja, dia datang dan pergi sesukai hatinya tanpa permisi tetapi meski begitu kehadirannya selalu dinanti. “ Ungkap Bunga sok puitis, tapi sedetik kemudian dia tertawa geli. “ Asik! Keren juga gue kalau jadi seorang penyair. “ Bunga memuji dirinya sendiri.
Ketika dia lagi santai berjalan menikmati udara sore, tiba – tiba saja sendalnya jepit yang dia pakai putus karena tersandung batu akibat sejak tadi jalan kebanyakan melihat ke atas.
“ Aduh! “ Bunga jatu tersungkur di atas aspal.“ Sendal Cikaaa… “ Bunga terperangah saat melihat sendal jepit milik Cika yang dia pinjam putus sebelah. “ Cika sendalnya gembeeel banget, sih! kesandung batu aja langsung copot!“ cibirnya.
Tanpa merasa bersalah, Bunga buang saja kedua sendal itu ke arah selokan di tepi jalan dan membiarkannya terbawa arus air.“ Udahlah, gue nyeker aja kayak ayam. “ Bunga buru – buru berdiri sebelum ada orang yang lihat dia terkapar di aspal.
“ Nasib…Nasib…” Bunga jalan tanpa menggunakan alas kaki menuju warung membuat beberapa orang yang berlalu – lalang menatapnya dengan aneh, kok ada gadis cantik dorong – dorong troli tanpa menggunakan sendal.
Bunga hanya bisa menunduk saja sepanjang perjalanan karena menahan malu.
Akhirnya, setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan, Bunga tiba juga di warung besar yang berada diperempatan jalan, Bunga masuk ke dalam warung yang cukup besar itu dengan terburu – buru karena saat ini diperempatan jalan sedang lampu merah dan dia malu jika dilihatin orang – orang karena saat ini lagi nyeker.
“ Mas galon satu ya, ini uangnya. “ Bunga meletakkan duit pas seharga galon di atas etalase.
“ Ambil aja sendiri ya di depan. “ Sahut si mas - mas yang jaga warung lagi melaayaani pembeli lainnya.
“ Ck, bukannya bantuin. “ Cibir Bunga.
Dengan terpaksa Bunga pun mengambil sendiri galon air di bagian depan warung, setelah itu Bunga mencoba untuk mengangkatnya, padahal seharusnya dia tinggal menggeser saja galon tersebut ke atas troli, tapi memang dasarnya Bunga agak – agak oneng, dia malah mencoba untuk mengangkatnya. “ Aduh… berat banget. “ Keluh Bunga yang tidak terbiasa angkat galon karena keseringan Cika yang mengurus hal – hal seperti ini.
Dengan sekuat tenaga, Bunga berniat angkat galon itu ke atas troli, tapi sialnya tangan Bunga yang licin karena keringatan tak sengaja melepaskankan galon tersebut.
BEG.
Posisi warung yang berada dipinggir perempatan jalan pun membuat galon yang baru saja terlepas dari tangan Bunga akhirnya menggelinding ke tengah – tengah jalan raya yang agak menurun dikit. Tanpa banyak berfikir lagi, sontak Bunga bergerak cepat mengejar galon tersebut dan melupakan bahwa saat ini dia tidak pakai sendal.
“ Galon gue… Galon gue! “ Teriaknya mengejar galon tersebut, untungnya saat ini lampu lalu lintas sedang menunjukkan warna merah sehingga Bunga bisa menyebrang jalan dengan mudah.
“ GALON!! “ Bunga berlari melewati barisan depan mobil yang sedang menunggu lampu hijau. Semua pengemudi mobil yang melihat kejadian itu tertawa terbahak – bahak karena lucu menyaksikan seorang gadis tanpa alas kaki berlarian mengejar galon air.
Tidak ada yang berniat membantunya karena males turun dari mobil, sedangkan yang ada dipinggir jalan sibuk menonton bahkan ada yang iseng – iseng merekam kejadian tersebut.
Lamunan Darren mendadak buyar ketika melihat orang yang tak asing baginya itu lagi lari – larian di tengah jalan sedang mengejar galon tanpa ada orang yang membantunya. “ Bunga? “ Darren tertegun selama beberapa detik. “ Ya ampun! gadis itu… “ Darren melirik waktu lampu merah masih 65 detik lagi, ia pun buru – buru turun dari mobil untuk membantu Bunga.
Darren ikut berlari mengejar galon tersebut, lalu dengan sigap dia hadang ke depan dan dengan cepat Darren tahan galon tersebut agar berhenti melaju.
Bunga berhenti berlari saat galon itu sudah ditahan oleh seseorang yang belum sempat Bunga lihat wajahnya.“ Galon gue seharga lima ribu. “ Ucap Bunga, ia berjongkok sambil mengelus – elus galon tersebut penuh kasih sayang. “ Akhirnya kamu berhenti berlari juga setelah aku kejar – kejar dan perjuangkan.“ Ucap Bunga berlebihan, ia mendongakan kepalanya ke arah lelaki yang sejak tadi berdiri dihadapannya.
“ Loh, Darren? “ Bunga baru menyadari kalau yang sudah membantunya adalah sosok pria yang dia idam – idamkan.
TIN…TIN…
Mereka berdua terkejut saat semua mobil menyalahkan klakson ke arahnya karena ternyata lampu sudah berubah hijau dan saat ini mereka berdua berada di tengah jalan raya .
“ Ikut aku. “ Darren segera memanggul galon tersebut dan berjalan cepat ke arah mobilnya yang berada di barisan kedua dari depan, Bunga pun membuntuti saja lelaki itu.
Darren berlari ke arah belakang mobil, ia buka pintu bagasi mobilnya untuk menaruh galon tersebut secara terburu – buru, tanpa di duga ketika Darren ingin menutup pintu, tiba – tiba saja Bunga ikut masuk ke dalam bagasi dan duduk disebelah galon sambil menekuk kedua kakinya.
“ Kamu ngapain duduk disini? “ tanya Darren terheran – heran.
“ Tadi katanya suruh ikut kamu? Yaudah aku ikut ke belakang dan masuk ke dalam bagasi. “ Jawabnya santai tanpa dosa.
TIN…TIN…
“ Ck, merepotkan! “ Berhubung sudah kepepet karena kendaraan dibelakangnya mulai tak sabar ingin melaju tetapi terhalang oleh mobil Darren, akhirnya dia tutup saja pintu bagasi dan membiarkan Bunga disana.
Darren segera melajukan mobilnya cepat karena sudah membuat kemacetan ditengah jalan raya dan penyebabnya adalah Bunga beserta galon airnya.
Huh! Bagi Darren hari ini benar – benar sangat melelahkan. Niat hati Darren ingin sampai Apartemen lebih cepat agar bisa berleha – leha, eh dia malah direpotkan oleh Bunga.
Darren menggeleng – gelengkan kepalanya, ia tidak pernah melihat hal konyol seperti tadi yaitu menyaksikan orang mengejar air galon ditengah jalan raya. Darren tak habis fikir kenapa bisa – bisanya Bunga lalai sampai kehilangan kendali seperti itu, untung saja tadi tidak membahayakan pengguna jalan yang lainnya.
“ Darrren! “ teriak Bunga yang berada di belakang.
“ Ya ampun! “ Darren hampir saja melupakan bahwa ada gadis itu masih ada di dekatnya alias di belakang.Dia pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan, lalu berjalan menuju bagasi mobil.
“ Keluar! “ perintah Darren ketika pintu bagasi sudah di buka, sedangkan Bunga nampak senang – senang saja, padahal dia baru saja dibiarkan duduk ditempat yang agak sempit dan biasa dugunakan untuk menyimpan barang.
“ Emang kenapa aku disuruh keluar? “ Bunga kebingungan.
“ Kamu duduk di depan, bukan disini sama galon. “ Darren menarik tangan Bunga agar segera bangun, lalu dia tutup kembali pintu bagasi.
“ Masuk! “ perintah Darren dan Bunga pun mengikuti instruksi lelaki itu.
Darren kembali melajukan kendaraan beroda empat miliknya menuju kos – kosan Bunga.
“ Maaf ya.“ Ucap Bunga melihat raut wajah Darren agak muram.
“ Kamu pasti marah sama aku ya? “ celetuk Bunga lagi.
Darren diam saja karena fokus mengemudi.
“ Aku tau kamu pasti kecewa. “ Ucapan Bunga kali ini membuat Darren menoleh.
“ Kecewa? “ Darren bertanya dengan heran. Pasalnya, tidak ada hal yang perlu dia kecewakan.
“ Iya. “ Bunga manggut – manggut. “ Kamu kecewa karena aku lebih pilih kejar – kejar galon dari pada kamu. “ Ungkap Bunga membuat Darren melongo.
Darren cuma bisa tarik nafas dalam – dalam, lalu menghelanya secara perhalan. Dia kelimpungan dengan gadis yang sangat kepedean tingkat nasional seperti Bunga, padahal dia tidak berkata atau menunjukkan perasaannya tetapi dengan percaya diri dia menebak bahwa Darren kecewa.
“ Aku tidak kecewa, Bunga. “ Jawab Darren tanpa menoleh.
“ Itu wajah kamu kelihatan kayak muram.“ Bunga memajukan badannya ke arah Darren untuk melongok wajah lelaki itu dari jarak yang agak dekat, hal tersebut sontak membuat Darren kaget langsung memundurkan wajahnya dan bodohnya Bunga malah ikut – ikutan kaget.
“ Kaget aku. “ Bunga mengusap – usap dadanya.
Darren melirik Bunga agak sinis, tapi kemudian dia kembali memandang ke depan.
“ Muka kamu kenapa kayak gitu ekspresinya? Keliatannya kayak orang kecewa gitu. Ah, ini beneran pasti kamu marah gara – gara tadi aku kejar galon. Udah jujur aja, Darren. Kamu cemburu, kan?“ Oceh Bunga tak henti – hentinya.
Bagaimana bisa Bunga berfikiran kalau Darren cemburu pada benda mati. Tentu saja itu tidak masuk akal dan terdengar gilaa!
“ Raut wajahku seperti ini karena kelelahan, Bunga. Bukan karena kecewa sama kamu.“ Darren mencoba untuk menjelaskan karena sepertinya kalau bicara pada Bunga harus secara rinci dan dijabarkan begitu detail baru gadis itu faham.
“ Kenapa lelah? Gara – gara galon, kan? “ celetuk Bunga lagi membuat kepala Darren migran sebelah.
Darren menengok ke arah Bunga. “ Aku lelah karena baru pulang kerja. Stop tanya – tanya lagi, oke? “
“ Oke, deh. “ Bunga manggut – manggut dan memilih untuk diam sesuai yang lelaki itu inginkan. Namun, lama – lama dia mulai bete karena keadaan mendadak hening, Bunga pun menoleh ke arah jendela, kemudian melihat ke arah atap mobil tanpa alasan, lalu dengan isengnya kaki Bunga menghentak – hentak menimbulkan bunyi bising.
Melihat apa yang Bunga lakukan saat ini membuat Darren bertanya - tanya dalam hatinya kenapa tuhan mempertemukannya dengan perempuan sejenis Bunga yang menurutnya agak aneh karena selama ini dia selalu dikelilingi cewek – cewek berwibawa serta terlihat normal, tapi Bunga sangat berbeda dari yang biasanya.
Awalnya, Darren diam saja mendengar Bunga terus menghentak – hentak kakinya tetapi lama – lama dia terganggu juga. Mata Darren melirik ke arah kaki Bunga dan niatnya ingin marah justru berubah jadi terkaget - kaget.
“ Loh, Bunga? sendal kamu kemana? “ Darren kebingungan melihat Bunga tidak menggunakan alas kaki dan dia baru menyadari itu.
Bunga terkekeh. “ Sendalku tadi copot di jalan, karena udah gak bisa dipake yaudah aku buang aja ke got dan akhirnya aku jadi nyeker. “ Jelasnya masih bisa cengar – cengir sedangkan Darren dibuat terkesima mendengar keterangan gadis itu.
‘ Dia ini perempuan macam apa, sih? sendal aja sampai copot dipakainya, terus galon sampai gelinding dibuatnya dan—dan—ya tuhan! Kaki dia kotor sekali membuat mobilku ternodai.‘ Batin Darren menahan kesal melihat kaki Bunga nampak kumuh, ia ingin sekali marah – marah tetapi mencoba untuk ditahan.
Bunga melihat kakinya sendiri. “ Wah, kotor sekali kaki aku. “ Ucapnya dengan enteng.
Darren membelalakan matanya mendengar ucapan Bunga. Dari tadi dia kemana saja? kenapa baru sadar sekarang kalau kakinya kotor.
“ Maaf ya, Darren. Mobil kamu jadi kotor.“ Ucap Bunga seraya menunduk untuk membuka gelang yang melingkar pada pergelangan kakinya agar tidak terkena noda, kemudian Bunga letakkan gelang kakinya di atas dashboard.
Bunga melihat ada tissue di dashboard lalu dengan pedenya dia ambil dan digunakan untuk membersihkan kakinya membuat debu – debu yang runtuh jatuh ke area alas kaki mobil Darren.
“ Bunga, jangan bersihin di dalam! Nanti mobilku jadi tambah kotor! “ protes Darren tidak tinggal diam melihat apa yang Bunga lakukan.
“ Ma—maaf. “ Bunga tidak jadi melanjutkan kegiatannya itu, bahkan saking takutnya dia pun memasukkan tissue yang sudah agak kotor itu ke dalam saku celananya. “ Nanti aku bersihin deh, mobil kamu. “ Ucapnya tak enak hati.
“ Gak usah. “ Balas Darren ketus.“ Aku bisa membersihkannya ke cuci steam mobil. “
“ Kalo pergi ke cuci steam mobil kan, perlu biaya. Kalau sama aku gratis biar nanti aku sapu terus gosok pake sikat. “ Terang Bunga dan Darren menggeleng cepat. “ Udah gak usah malu – malu, Darren. Santai aja sama aku, udah kayak ama siapa aja, deh. “ Bunga menepuk pundak Darren berlagak sok akrab.
Darren cukup terkejut mendapati perlakuan yang kurang sopan itu dari Bunga karena sejauh ini tidak pernah ada perempuan yang baru kenal dengannya terus tiba - tiba bicara sambil memukul - mukulnya.
' Gadis ini benar - benar menyebalkan! ' batin Darren, ia pun mempercepat laju kendaraannya agar segera sampai di kos – kosan Bunga karena dia sudah tidak tahan bersama gadis itu.