> KOS - KOSAN <

2349 Words
Sampainya di tempat tujuan, mereka berdua turun dari mobil. Darren mengambilkan galon yang berada di bagasi dan Bunga pun mengikuti Darren ke belakang. Ketika pintu bagasi telah dibuka, Darren berkata. “ Tuh, ambil. “ Dia menunjuk galon tersebut menyuruh Bunga untuk mengangkatnya sendiri. “ Aku gak bisa, Darren. Aku gak tahan untum mengangkat beban seberat itu karena aku—“ Belum selesai Bunga bicara, tiba – tiba saja Darren menutup bibir gadis itu dengan tangannya. Bunga pun tertegun mendapati bibirnya disekap, alih – alih marah justru dia malah senang karena Darren menyentuhnya. “ Kamu terlalu cerewet. “ Ucap Darren, ia singkirkan tangannya dari bibir Bunga, lalu dengan baik hati Darren bantu angkat galon itu. “ Dimana kamar kos kamu? “ Bunga senyam – senyum sambil memegangi bibirnya, matanya memandang Darren tak berkedip. “ Bunga? “ “ Eh—iya, maaf. “ Bunga nyengir kuda. “ Ayo ikut aku. “ Ajak Bunga, ia jalan duluan untuk memberikan arahan kepada Darren yang kini mengikutinya sambil mengangkat galon. “ Itu mobilku gak apa – apa parkir di depan? “ tanya Darren saat di perjalanan menuju pintu masuk ke dalam area kos – kosan. “ Harusnya kamu parkir di dalam aja, eh tapi sepertinya di dalam gak bisa masuk mobil karena cuma muat motor, deh. Jadi, kayaknya gak apa – apa kalau mobil kamu parkir di depan.“ Terang Bunga membingungkan Darren. “ Bilang aja gak muat, kenapa harus bertele – tele. “ Balas Darren terdengar menahan kesal karena Bunga selalu ngalor – ngidul kalau bicara sehingga terkesan berputar – putar bikin orang yang mendengarnya jadi pusing. “ Maklumin aja ya tempat ini gak menyediakan parkiran mobil karena disini yang tinggal kebanyakan cewek pekerja Bar semua. Jadi, gak ada yang punya mobil.“ Terang Bunga, ia berjalan menelusuri koridor kos – kosan dan menghentikan langkahnya ketika sudah berada di depan kamar yang tak lain adalah tempat tinggalnya. “ Ini dia istanaku. “ Bunga menunjuk kamar kosnya dengan jari telunjuknya. Darren segera menurunkan galon air yang sejak tadi dia angkat, kedua tangannya terasa pegal - pegal. “ Aku langsung pulang. “ Saat Darren ingin membalikkan badannya, tiba – tiba saja Bunga menarik tangannya. “ Tunggu dulu. “ “ Kenapa lagi? “ Darren menatapnya malas. “ Kamu gak mau mampir dulu? “ tanya Bunga dengan penuh harapan, ia menatap lekat wajah Darren.“ Nanti biar aku sediain kamu minuman… “ Bunga menerka – nerka minuman apa yang ingin dia sajikan untuk Darren sedangkan di kos – kosannya saat ini tidak ada dan bahkan tidak pernah menyediakan stok minuman apapun. Darren menaikkan satu alisnya menunggu kelanjutan ucapan Bunga. “ Aku akan sediain kamu minuman ini. “ Bunga menunjuk galon yang berada di antara mereka berdua. Darren membuang nafasnya kasar. “ Dirumahku juga ada air galon. “ “ Ayo dong, mampir sebentar aja. “ Rengek Bunga sambil mengantupkan kedua tangannya. Darren mengamati sekeliling area kos – kosan Bunga sangat tidak ramah lingkungan. Ada beberapa perempuan lagi merokok di depan pintu hanya menggunakan tank top dan celana pendek saja, lalu ada yang duduk memanjang kebelakang sambil cari kutu dan juga terdapat beberapa perempuan lagi ngobrol dengan suara keras serta melontarkan kata – kata jorok, bahkan lebih konyolnya lagi ada yang lagi cukur bulu ketek di depan kos – kosan. Segalanya yang Darren lihat saat ini sungguh memuakkan, benar – benar cewek disini amburadul semua. Sekarang, Darren mengerti mengapa Bunga sangat aneh dan urak – urakan karena dia berada dilingkungan yang salah dan bekerja ditempat yang menyimpang. “ Kamu mau kan, mampir dulu? “ tanya Bunga lagi. “ Gak! “ Tolak Darren karena dia tidak nyaman berada dilingkunan ini, apa lagi saat ini semua mata cewek – cewek itu mengarah kepadanya dengan tatapan genit. “ Aku langsung pulang saja. “ Darren ingin kembali melangkah tetapi sekali lagi gadis itu menarik tangannya. “ Tunggu dulu, Darren! “ ucap Bunga agak berteriak membuat Cika yang berada di dalam segera keluar.. “ Ada apa si—“ Cika melotot ketika melihat ada Darren. “ Loh, kamu kenapa bisa ada disini? “ tanya Cika tertuju pada Darren. “ Bantuin dia bawa galon. “ Jawab Darren tanpa ekspresi. Darren semakin dibuat terkejut ketika melihat tetangga sebelah Bunga baru saja keluar bersama seorang pria lalu b******u mesra sebentar. “ Aku pulang dulu ya, Tuti sayang. “ Pria dengan rambut ala – ala anak punk itu mencium lagi bibir perempuan dihadapannya yang dapat Darren yakini pasti mereka berdua berpacaran. “ Iya, Rio sayang. “ Tuti memberikan KissBye untuk Rio, pacarnya itu. Dengan langkah agak gontai, Rio berjalan melewati Bunga dan tanpa rasa malu Rio melingkarkan tangannya di pinggul Bunga sambil berkata sesuatu ditelinga gadis itu. “ Kapan – kapan aku tidur di kamar kamu ya kalau lagi sepi.“ Ucap Rio langsung di dorong oleh Bunga. “ Gilaa lo! “ caci Bunga sedangkan Tuti hanya tertawa saja dan menganggap apa yang pacarnya lakukan itu hanyalah lelucon. Darren memandang Rio tak suka karena sebagai pria terdengar tidak sopan mengatakan seperti itu. Melihat Darren memperhatikannya agak sinis, Rio pun menghampirinya. “ Hey, bro! kemeja lo bagus, pasti mahal ya? “ tanya Rio sambil menepuk pundak Darren, mulut lelaki itu sangat bau alkohol. Darren diam saja tetapi sorot matanya memberikan tatapan tak suka. “ Santai aja, bro! gak usah nyolot gitu liatnya.“ Rio pun memilih melanjutkan langkahnya karena memperhatikan Darren yang kini menatapnya tajam. Darren memejamkan matanya sebentar untuk menenangkan diri dalam menghadapi orang – orang abnormal disekelilingnya saat ini. “ Sstt…sst… “ Mendengar suara berdesis, Darren pun membuka kedua bola matanya cepat dan menoleh ke arah sumber suara yang tak lain berasal dari Tuti. “ Cowok… godain aku, dong. “ Ledek Tuti sambil mengedipkan sebelah matanya, kemudian dia tertawa sendiri, padahal yang di goda hanya terdiam. “ Tempat ini sangat aneh. “ Darren yang sudah tidak tahan pun memilih untuk segera pergi tanpa ada niatan mampir sedikitpun. “ Tuti! Lo rese banget, sih! “ Omel Bunga kepada Tuti yang hanya tertawa saja.“ Anak orang jadi sawan tuh, lo godain! “ cibir Bunga. “ Baru sawan, belum kesurupan. “ Celetuk Tuti. “ Arggh!! “ Bunga menggeram kesal.“ Darren! “ teriaknya seraya mengejar lelaki yang kini sudah berjalan cepat keluar kos – kosan. “ Siapa tuh, cik? “ tanya Tuti kepada Cika. “ Ganteng bener, gue aja liatnya langsung suka. Gue di jadiin simpenan dia juga mau, dah. “ Ungkap Tuti kepedean. “ Iya, tapi dianya yang gak bakal mau punya simpenan kayak lo! “ Cika membungkukan tubuhnya untuk mengangkat galon dan membawanya masuk ke dalam. “ Hm, iya juga. Dia mana mau sama gua.“ Tuti tertawa kecil, ia memandangi sekelilingnya. “ Eh, ngomong – ngomong kemana troli galon gue?“ Tuti ikut masuk ke dalam kos’an Cika. “ Iya juga, ya? coba nanti tanya Bunga. “ Balas Cika yang memang tidak tahu – menahu. Sementara itu, Bunga menghadang Darren yang ingin masuk ke dalam mobil. “ Minggir! “ perintah Darren tetapi Bunga geleng – geleng. “ Mau kamu apa? “ tanya Darren santai, ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. “ Nanti malam, kamu datang ke Bar ya. Please! “ Bunga mengantupkan kedua tangannya dan memasang wajah memohon. “ Ok. “ Tanpa banyak berfikir Darren langsung mengangguk. “ YES! “ Bunga melompat – lompat bahagia seperti anak kecil habis dibelikan mainan. “ Makasih, Darren. “ Dengan polosnya, Bunga main nyosor saja ingin mencium pipi Darren tetapi lelaki itu dengan cepat melangkah mundur, alhasil membuat Bunga jadi jatuh karena tersandung. “ Aduh.“ Bunga menepuk – nepuk tangannya yang terkena noda tanah. “ Sudah berapa kali aku bilang, jangan menciumku. “ Kata Darren seraya mengulurkan tangannya untuk membantu Bunga berdiri. “ Iya – iya, maaf. “ Bunga mendongakan kepalanya, ia memberikan pandangan takjub ke arah tangan Darren yang mengadah untuk membantunya. “ Ayo bangun. “ Ucap Darren membuyarkan lamunan Bunga. Perlahan, Bunga menggerakkan tangannya untuk memegang tangan Darren. Dia sangat senang karena bisa menyentuh lelaki itu, sampai - sampai karena terlalu bahagia jari – jemari tangan Bunga jadi gemetar. “ Kelamaan. “ Melihat Bunga bergerak lamban, Darren pun langsung menggengam tangan Bunga dan menariknya pelan agar segera berdiri. Bunga melotot menyaksikan tangannya sudah bertautan dengan Darren karena ini untuk pertama kalinya dia digenggam oleh lelaki itu, bahkan kini dengan polosnya Bunga menempelkan punggung tangan Darren di keningnya alias gadis itu malah salim. “ Eh—“ Darren kaget, tapi entah kenapa kali ini Darren jadi ingin tertawa melihat tingkah Bunga. “ Ngapain kamu salim? “ Darren menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Bunga. Bunga tertawa kecil. “ Gak apa – apa. Anggap aja itu lagi latihan salim sama calon suami. “ Katanya dilanjuti tawa. Darren memandang wajah Bunga yang nampak begitu sumringah sekali saat berada didekatnya. “ Bunga? “ “ Iya? “ Darren menoleh ke belakang atau lebih tepatnya melihat ke arah bangunan agak tua alias kos – kosan yang Bunga tempati. “ Kenapa kamu memilih tinggal disini? “ Darren bertanya. “ Emang kenapa? “ “ Lingkungan ini tidak layak dan rawan. “ Balas Darren karena baginya tempat ini tidak aman, apa lagi tadi setelah Darren lihat bahwa ada laki – laki yang keluar dari dalam rumah tetangganya Bunga dan itu membuktikan bahwa kos – kosan ini membiarkan laki – laki masuk dengan bebas tanpa ada larangan. Darren kasihan saja pada Bunga, ia khawatir kalau lelaki itu atau mungkin pria lainnya yang datang sewaktu – waktu berbuat asusila pada Bunga, maka tidak ada pihak keamanan yang langsung menolong. Tentu saja Darren khawatir begitu bukan karena suka tetapi dia perduli terhadap keselamatan seorang wanita, sebab dia juga punya anak perempuan. “ Ya, mau gimana lagi. “ Bunga mengangkat bahunya. “ Cuma disini kos – kosan yang murah meriah dan bisa nunggak tanpa takut diusir karena pemiliknya pikun. “ Terang Bunga. Darren diam mendengarkan gadis itu. Kini Bunga memberikan tatapan agak mendalam ke arah Darren. “ Aku juga gak mau tinggal disini, Darren. Aku mau punya tempat tinggal yang lebih layak, tapi aku ini apa? “ Bunga merentangkan kedua tangannya.“ Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi! Udah dapat pekerjaan di Bar aja aku sudah bersyukur karena setidaknya ada penghasilan untuk ganjel perut dan nyicil bayar kos – kosan.“ Imbuhnya. Darren tetap diam. “ Sudah lupakan saja. Maaf aku jadi curhat. “ Bunga kembali menampilkan senyumnya.“ Makannya, nanti malam kamu datang ke Bar ya, biar aku temenin dan kamu bayar ke aku supaya ada pemasukan buat nabung. Ya siapa tau kalau duitnya udah banyak, nanti aku bisa cari kos – kosan yang lebih layak. “ Ucap Bunga panjang lebar. Darren tidak membalas ucapan Bunga, ia hanya tatap saja wajah gadis itu sebentar sebelum akhirnya dia segera masuk ke dalam mobilnya, lalu bergegas pergi dari sana. “ Bye…Bye… Darren! sampai bertemu nanti malam di Bar! “ tangan Bunga melambai – lambai ke arah mobil Darren yang sudah menjauh. Darren melirik dari kaca spionnya dan terpampang jelas gadis itu masih berada disana melambaikan tangannya. Darren dapat bernafas lega karena saat ini dia bisa terbebas dari gadis itu meski tadi harus berbohong dengan mengiyakan permintaan Bunga untuk datang ke Bar nanti malam, padahal itu hanyalah alasan saja supaya Darren tidak dihalangi Bunga dan bisa cepat pulang. Namun, tiba – tiba saja Darren jadi senyam – senyum sendiri saat mengingat tadi Bunga salim kepadanya seperti seorang anak yang ingin pamit pergi kepada orang tuanya.“ Dia memang aneh dan konyol. “ Ungkap Darren. Bunga kembali masuk ke dalam kos – kosan sambil bersenandung karena suasana hatinya sedang baik. Ketika dia ingin masuk ke dalam rumah, tiba – tiba saja sudah di cegat oleh Tuti. “ Astagfirullah, Tut…tut….tut! lo ngagetin gue aja, sih! “ Bunga mengelus d@danya karena terkejut lihat Tuti bertelak pinggang sambil menatapnya sinis. “ DIMANA TROLI GALON GUE? “ tanya Tuti memberikan tatapan tajam setajam silet, bahkan kedua bola matanya ingin lompat dari cangkangnya. “ Oh iya! “ Bunga menepuk jidatnya kencang. “ Sorry, Tuti. “ Wajah Bunga sok di melas – melasin. “ Trolinya ketinggalan di warung. “ Tanpa rasa bersalah dia masih bisa cengar – cengir. “ Bunga, lo bener – bener ya! “ Tuti ingin menarik rambut Bunga tetapi dihalangi oleh Cika. “ Eh—jangan aniaya sepupu gue. “ Cika berdiri di tengah – tengah antara Bunga dan Tuti. “ Sepupu lo ngeselin banget, Cika! gue gak mau tau ya, pokoknya sekarang lo ambil troli gue! “ omel Tuti tak terima. “ Iya – iya. “ Bunga mengangguk pasrah menerima kenyatan bahwa dia harus pergi ke depan jalan raya lagi. Kalau tau begini, lebih baik tadi Bunga nebeng bareng Darren. “ Ayo gue temenin. “ Kata Cika kasihan melihat Bunga. Mereka bertiga pun keluar dari rumah. Sebelum pergi, Bunga memakai sendalnya lebih dulu, sedangkan Cika kini terlihat kebingungan mencari dimana sendal miliknya. “ Sendal gue kemana ya? “ tanya Cika seketika Bunga teringat sesuatu. “ Ya ampun, gue lupa! “ Bunga kembali menepuk jidatnya membuat Cika dan Tuti menatapnya penuh pertanyaan. “ Tadi gue ke warung pakai sendal Cika, terus pas dijalan sendalnya putus dan langsung gue buang. “ Jelas Bunga kemudian dia memasang wajah memelas lagi. “ BU…NGA!! “ teriak Cika kesal, ia melirik Tuti. “ Kalo begini ceritanya, kita siksa dia aja.“ Cika mendorong Bunga masuk ke dalam rumah, lalu dia kelitiki gadis itu bersama dengan Tuti untuk memberikannya hukuman. “ Emang bener – bener lo ya jadi anak! Ada aja ulahnya! “ omel Cika karena dalam sekali jalan, gadis itu membuat sendal Cika putus dan meninggalkan troli Tuti seenak jidat. Bunga memang benar – benar tidak ada akhlak! “ HA HA HA. “ Bunga tertawa geli karena pinggul dan kakinya terus saja dikelitiki sampai dia tidak tahan dan minta ampun. “ Udah cukup! Ampun woi! Gue udah gak bisa nahan! “ “ Bodo amat! “ mereka berdua tetap asik menggelitiki Bunga sampai akhirnya terdengar bunyi seperti kucuran air. SERRR… Tuti dan Cika seketika diam dan saling bertatapan, sebelum akhirnya menoleh ke arah celana Bunga. “ BUNGA!! JOROK BANGET SIH, LO! “ dalam sekejap, Tuti dan Cika menjauh dari Bunga karena gadis itu sampai terkencing – kencing akibat dikelitikin. Bunga tertawa keras, lagian mereka berdua sudah diberitahu untuk berhenti tetapi masih saja dilanjutkan, alhasil Bunga jadi kebelet pipis dibuatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD