> DARREN TIDAK DATANG <

1658 Words
Darren baru saja sampai di Apartemennya, ia lepaskan dasi yang melingkar pada kerah kemejanya, lalu Darren buka jam yang melingkar ditangannya karena dia ingin mandi, tapi saat dia melepaskan jam itu, ia jadi menatap punggung tangannya yang tadi sempat Bunga tempelkan dikening. Tanpa disadari, Darren kembali tersenyum mengingatnya. “ Aku tidak mengerti kenapa gadis sepolos dan bersikap kekana- kanakan sepertinya bisa kerja di Bar. “ Darren meletakkan jam tangannya di atas meja, lalu dia menggelengkan kepalanya. “ Ah, sudahlah! Ngapain juga aku harus mikirin dia.“ Ketika Darren ingin melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, tiba – tiba saja ponselnya berdering. “ Siapa, sih? “ Darren tatap layar ponselnya ternyata ada panggilan masuk yang bertuliskan ‘ UNKNOWN NUMBER IS CALLING ‘ Darren angkat panggilan tidak dikenal itu dan dia tempelkan ponselnya ditelinga. “ Hallo? “ ‘ Darren… jangan lupa ya nanti malam datang ke Bar.‘ Ucap seorang perempuan yang bicara sedikit berteriak. Tentu saja suara perempuan itu langsung dapat Darren kenali yaitu Bunga. “ Gak bisa. “ Jawabnya. ‘ APA! ‘ Darren menjauhkan ponselnya dari terlinga ketika mendengar Bunga menjerit kencang saat dirinya bilang tidak bisa datang ke Bar. ‘ Darren kamu jahat banget, sih? pokoknya, aku gak mau tau ya kamu harus datang. TITIK! ‘ Darren mengernyitkan keningnya. “ Kamu tidak punya hak untuk memaksaku.“ Balas Darren karena Bunga terkesan memerintahnya dengan keharusan. “ Aku mau istirahat, tolong jangan ganggu. “ Darren langsung memutuskan panggilan tersebut, ia letakkan ponselnya di atas meja, kemudian Darren berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dapat Darren dengan bahwa ponselnya terus saja berdering karena Bunga tak henti – henti meneleponnya, tapi Darren tak perduli. Dia melakukan saja apa aktivitas yang ingin dia kerjakan. Disisi lain, saat ini Bunga nampak murung karena Darren telah membohonginya dan bahkan tidak mengangkat teleponnya lagi. “ Semua laki – laki sama aja! “ kesal dengan Daren, ia buang asal ponselnya ke atas kasur. “ Ya emang semua laki – laki sama aja. “ Cika menghampiri Bunga sambil bertelak pinggang. “ Sama – sama punya pisang. “ Cetusnya. “ Bukan itu yang gue maksud, bodoh! “ seru Bunga, ia mendadak lemas tak bertenaga, lalu dengan kasar Bunga membanting tubuhnya ke atas kasur. “ Jadi, apa yang lo maksud? “ Cika duduk disebelah Bunga yang saat ini dalam keadaan berbaring. “ Kenapa laki - laki itu suka banget nyakitin perempuan? “ kepala Bunga menoleh ke arah Cika. “ Kenapa? lo bisa jelasin gak? “ Cika tertawa sambil menepuk paha Bunga.“ Emang lo merasa tersakitin sama siapa, sih? Darren? “ “ Iya. “ Bunga mengangguk lemas. “ Sebenernya, bukan Darren yang nyakitin lo, tapi ekspetasi lo terhadap dia yang buat lo ngerasa sakit karena tidak sesuai harapan.“ Cika bangkit dari duduknya, ia menarik kedua tangan Bunga sehingga tubuh gadis itu mendadak jadi berdiri tegap berhadapan dengan Cika. “ Nih, gue kasih tau aja ya sama lo, Bunga! hidup kita ini udah susah, jadi jangan lo tambah – tambah lagi dengan beban pikiran karena cinta – cintaan yang gak jelas. “ Tutur Cika. Bunga mengerucutkan bibirnya sambil mengerjapkan matanya lamban. “ Tugas kita di tempat kerja itu cuma nemenin tamu dan setelah itu selesai. Lo gak perlu menaruh rasa suka atau apapun terhadap tamu kita karena mereka datang hanya minta kita laayani dan dipuaaskan, terlepas dari itu kita tidak berarti apa – apa lagi dimata mereka. “ Ungkap Cika yang kalo Bunga fikir – fikir lagi memang ada benarnya juga. Cika menepuk pundak Bunga. “ Lebih baik lo jangan berharap lebih sama Darren. Mungkin aja waktu itu dia emang cuma niat nolong doang karena lo lagi mabuk, tapi setelah itu dia merasa semuanya udah selesai dan gak ada lagi hubungan antara kalian berdua!“ Jelas Cika sangat menohok bagi Bunga dan memang ada benarnya juga karena Darren pernah bilang hal serupa bahwa hubungan mereka berdua hanyalah sebatas orang asing. “ Cika? “ panggil Bunga dengan nada merengek. Cika mendongakan dagunya seraya bertanya.“ Kenapa? “ “ Tumben pinter. “ Cetus Bunga dengan mata agak sendu. “ Kurang asem! “ Cika toyor dahi Bunga. “ Setidaknya lo puji gue dong, karena udah kasih nasihat bijak. “ “ Iya – iya, makasih Cika. “ Bunga memeluk Cika. “ Udah sana mandi, bentar lagi kita berangkat kerja. “ Cika melepaskan pelukan Bunga.“ Inget ya, gak ada galau – galauan lagi karena cari duit lebih penting! “ seru Cika memperingati agar Bunga kembali semangat bekerja seperti sebelum bertemu Darren. ** Suara alunan musik menggelegar memenuhi Bar, wangi minuman alkohol berseliweran, suara – suara tawa bercampur obrolan diantara wajah para pengunjung yang penuh kepalsuan. Ada yang tertawa keras, padahal sebenarnya mereka sedang menyimpan luka dan ada juga yang benar – benar bahagia karena hidupnya hanya untuk senang – senang, semua itu berkumpul ditempat hiburan malam ini. Bunga sudah beberapa kali mondar – mandir menemani tamu minum, uang tips yang dia dapat juga malam ini lumayan banyak karena tamunya pada royal sekali. Gadis itu meneguk minuman alkohol berkali – kali, beberapa tamu yang dia temani saat ini ada yang usil mengusap – usap pahanya, bahkan ada juga yang sengaja meletakkan uang tips langsung ke bagian d@da Bunga. Sebagai perempuan, terkadang Bunga merasa malu dan jijik karena dirinya disentuh – sentuh bebas oleh banyak pria. Ya, meskipun tidak sampai yang terlalu parah, namun tetap saja bagi Bunga semua itu sangat menyedihkan. “ Bunga, kamu mau gak jadi simpanan om? “ tanya tamu pria sudah berumur dengan kumis tebal. “ Tidak, om. “ Bunga menggeleng dengan senyuman yang harus dia tampilkan supaya tamu menganggapnya ramah. “ Kenapa gak mau? nanti tiap bulan om transfer uang, tapi kamu harus temenin saya tidur. “ Ucap pria itu terdengar memaksa sambil mengelus – elus punggung Bunga. “ Saya cuma melaayani tamu di Bar aja, om. Tidak untuk nemenin tidur. “ Balas Bunga berusaha tidak emosi, padahal dia ingin sekali memukul kepala pria itu menggunakan botol Beer. “ Ah, kamu sok jual mahal! w************n seperti kamu itu harusnya jangan belagu karena saya yakin kamu itu butuh uang. “ Hina pria itu sangat menohok hati Bunga. Dalam keadaan gundah dan gelisah, Bunga tetap menemani tamu itu meski sudah dihina – hina. Semakin lama, kepala Bunga mulai berat karena sejak tadi dia minum cukup banyak tetapi dia masih mencoba untuk ha - ha hi - hi bersama tamunya, walau tubuh sudah letih. Gadis itu selalu terlihat ceria, Padahal di dalam hati Bunga saat ini sedang galau merana perkara Darren benar – benar tidak datang kemari. Tak lama, dari arah pintu masuk terlihat sosok yang Bunga kenal, seketika senyum Bunga melebar sempurna. “ Sebentar ya, om. “ Bunga berdiri dan berjalan menghampiri lelaki yang sudah duduk di salah satu bangku. “ Bima? “ sapa Bunga ketika sudah berada di depan lelaki yang tak lain temannya Darren. “ Eh, Bunga mawar merah satu tanda cinta. “ Ucap Bima sambil bernyanyi. Bunga memandang sekelilingnya. “ Darren mana? “ tanya Bunga. “ Oh… Duren. “ Bima manggut – manggut. “ Ada, kok. “ “ Dimana? “ tanya Bunga bersemangat akhirnya Darren datang juga. “ Di rumahnya, lah. “ Bima tertawa kecil. “ Ck, sialan lo! “ Bunga mendengus kesal, ternyata Darren benar – benar tidak menepati janjinya. “ Cika mana? “ tanya Bima. “ Ada. “ “ Dimana? “ mata Bima menyoroti sekitarnya, barang kali ketemu Cika. Bunga menarik hidungnya ke atas, lalu berkata.“ Nih, disini. “ Dia memberi unjuk lobang hidungnya ke arah Bima. “ Sialan lo! “ kini giliran Bima yang mendengus kesal. “ Panggilin Cika, dong. Gue mau ditemenin dia. “ Perintahnya. “ Oke. “ Bunga segera pergi mencari Cika. Setelah ketemu, dia pun memberitahu Cika bahwa Bima mencarinya. Cika segera menghampiri Bima, ia menemani lelaki itu minum Beer sambil ngobrol. “ Bim, si Darren itu emang orangnya cuek atau punya kelainan? “ tanya Cika ingin tahu. Bima tertawa geli. “ Kelainan? “ “ Iya, habisnya dia kayak orang gak tertarik dengan apapun. “ Balas Cika. “ Dia emang kayak gitu orangnya, cik. Tapi, aslinya dia baik, kok. “ “ Iya aku lihat sih, kayaknya dia orang baik. “ Cika setuju soal itu berdasarkan apa yang suda Bunga ceritakan bahwa lelaki itu tidak macam- macam padanya dan ditambah lagi tadi sore lelaki itu mengantarkan Bunga untuk membawa galon. Kalau saja dia bukan orang baik, ngapain juga Darren repot – repot urusin Bunga. “ Kayaknya, Bunga udah mulai suka ya sama Darren. “ Celetuk Bima. “ Bukan mulai suka, tapi emang udah suka banget. “ Cika nampak antusias membahas soal Bunga. “ Kamu tau gak? Bunga itu jadi sering galau karena temen kamu itu, padahal si Darren cuek – ceuk aja. “ Bima tertawa kecil. “ Darren emang gitu, tapi Bunga suruh terus aja pepet Darren siapa tau beruntung. “ “ Janganlah, kasihan Bunga kalau seandainya dia udah capek – capek ngejar, eh ujung – ujungnya di tolak. “ Cika menuangkan minuman ke dalam gelas kecil, lalu dia berikan kepada Bima. “ Thank you. “ Ucap Bima. “ Tapi, emang Darren gak punya pacar ya? “ tanya Cika lagi. “ Gak punya, kok. “ Bima hanya menjawab sekilas saja, ia tidak menjelaskan bahwa temannya itu seorang DUDA. “ Masa, sih? padahal dia ganteng dan kalau dilihat dari pekerjaannya pasti dia banyak uang juga, kan. Terus kenapa gak punya pacar? “ Cika merasa ragu, pasalnya cowok sekeren Darren agak aneh jika menjomblo. “ Ya, gimana dia mau punya pacar kalau dia aja cuek sama cewek. “ Balas Bima. “ Oh, iya juga. “ Kini Cika mengangguk percaya apalagi setelah melihat sendiri bahwa Darren benar – benar dingin dan bahkan bisa menjadi patung ketika bersama seorang perempuan. “ Tuh, liat si Bunga. “ Cika menunjuk ke arah Bunga yang lagi melamun dekat bartender. “ Mikirin apa dia sampai melamun kayak gitu? “ tanya Bima. “ Siapa lagi kalau bukan mikirin Darren. “ Cetus Cika disambut tawa oleh Bima. “ Kasihan Bunga, semoga dia cepat mendapatkan respon dari Darren. “ Tutur Bima. “ Aminin aja, deh. “ Sahut Cika meski dia tidak yakin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD