Kejadian beberapa jam lalu benar-benar menguras emosi, sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju rumahku bersama Seruni. "Untuk sementara waktu tinggallah di rumahku, aku akan tinggal di rumah orang tuaku," aku memecah keheningan yang sedari tadi melingkupi aku dan Seruni. "Tapi..." "Aku mohon tidak ada tapi-tapian, aku tidak mau calon istriku terlantar di jalanan," selaku tegas kepada Seruni. Bibirnya merengut mendengar perkataanku, jilbab berwarna orange yang dikenakannya menambah kecantikan Seruni berkali-kali lipat. Walaupun matanya terlihat membengkak, karena tangisan akibat kejadian tadi. Mengingat beberapa waktu lalu rasa sesak menyerang dadaku begitu saja, rasa sakit melingkupi relungku. "Aku kira pernikahan ini batal..." Perkataan lirih yang di ucapkan Seruni tetap tertangk

