Aku kembali kepada rutinitas perkuliahanku, begitu juga dengan Pak Aji yang melanjutkan perkerjaannya sembari mencari info mengenai kedua orangtuaku. Walaupun aku merasa keadaan ini begitu berat untukku, aku tetap berusaha untuk tetap tersenyum. Bagiku kehidupan akan terus berjalan dan ini sudah takdir dari yang Maha Pencipta. "Kenapa Ru tuh muka?" tanya Ike. Aku dan Ike memang tidak sengaja bertemu di perpustakaan kampus. "Gak papa kok," sakutku pelan. "Kayaknya beban hidup situ berat banget," modus Ike berusaha mengorek informasi tentangku. "Kepo banget sih Ke!" sungutku tetap dengan volume suara kecil, mengingat dimana kami berada. "Waduh galak amat Mak," Ike bangkit dari tempatnya duduk dan mengalah untuk pergi meninggalkanku sendirian. "Induk singa ternyata nyeremin banget," ge

