47

1685 Words
Teh hangat dalam genggaman Cloud mulai dingin, namun ia masih menyeruputnya nikmat, membayangkan saat-saat akhir membahagiakan itu hadir, masihkah ia hidup di dunia ini? “Oh, aku teringat sesuatu.” Pria tua masih duduk takzim di tempatnya. “Teringat bahwa kau perlu menghubungi teman-temanmu?” Cloud mengangguk, tapi bukan hanya itu. “Terlalu banyak pertanyaan rumit hingga kita lupa perihal sederhana tentang nama.” Penolong Cloud tersebut tertawa kecil. Anak muda ini benar, bisa-bisanya mereka melupakan hal sesederhana itu, hari ini sama seperti hari lainnya yang penuh kejutan. “Kau bisa memanggilku Cloud.” “Baiklah, Cloud, cukup panggil aku Charge saja.” Satu lagi kejutan tiba tanpa aba-aba. Cloud terkejut mendengar nama orang yang menolongnya ini. Ia tidak salah dengar, kan? “Ada apa?” Matanya terbelalak. “Mantan perdana menteri Perancis?” Si Charge ini pun kaget ternyata Cloud mengetahui masa lalunya. Beberapa tahun silam ia memang seorang perdana menteri Perancis, namun sekarang tentunya tidak. Perdana menteri mana yang tinggal di daerah terpencil dengan barang-barang primitif di rumahnya? *** Mantan perdana menteri Prancis, Charge, terkekeh pelan atas ungkapan Cloud tadi. “Aku tidak akan heran laki-laki yang terlihat cerdas sepertimu bisa menebak masa laluku dari sebuah nama.” Meskipun awalnya kaget juga, tapi Charge mengerti, mendengar banyak cerita Cloud membuatnya paham bahwa laki-laki ini berbeda dari orang biasa kebanyakan. Orang yang mengetahui perkembangan dunia lebih banyak. “Awalnya kukira hanya terlihat mirip, tanpa nama mustahil aku bisa menyimpulkannya dengan berani.” Cloud jujur, sedikit ingatannya tentang Charge masih membekas di memori hasil dari membaca berita terkini, tidak sengaja mendengar obrolan orang lain, pemberitaan di media-media dan lainnya. Charge mempunya kesan yang baik untuk Cloud, seorang politisi yang dihormati. “Yah, perubahan begitu cepat tidak bisa dihentikan, dulu aku hadir paling depan saat orang-orang membutuhkan, tapi sayangnya banyak yang menghalangi kehadiranku dan sekarang di sinilah aku.” Ada kegetiran di balik kalimatnya. Cloud tahu, ia sangat mengerti itu. “Apa yang terjadi pada tahun-tahun kemunduranmu?” Seperti halnya laki-laki cerdas ini menceritakan masalahnya padanya dengan lapang, Charge juga akan menceritakan sedikit kehidupannya, tentang kekuasaan dan ambisi gila. “Semua orang bermimpi agar bisa mengubah dunia, menyelamatkannya. Mimpi-mimpi masa kecil yang murni lahir dari hati ketika sering kali menjumpai banyak peristiwa menyimpang. Misalnya, saat sumpah dokter didengungkan, dalam hati mereka, itu adalah sebuah janji yang benar-benar sakral. Menolong, mengobati, menyembuhkan, sebuah mimpi murni dari masa kecil. Lalu keadaan perlahan berubah, mimpi-mimpi itu seolah terpendam dalam tanpa ingin keluar karena alasan-alasan perihal sulitnya hidup. Mimpi beberapa orang dokter pun berubah, tidak lagi melibatkan orang lain, melainkan mimpi untuk dirinya sendiri yang terfokus hanya padanya, lalu lahirlah malpraktek, melalaikan pasien miskin dan sebagainya. Di semua jenis profesi ada saja orang-orang seperti itu, manusia memang makhluk tak terduga, termasuk dalam pemerintahan.” Cloud mendengarkan tanpa sedikit pun berniat menyela. Charge berhenti sejenak, menelisik mata khas Eropa milik Cloud. “Saat-saat mimpi mereka masih murni dalam bangku perguruan tinggi, diskusi tentang hukum negara, mengeritik pemerintah secara objektif, mereka bermimpi menciptakan hukum yang adil, lingkungan tanpa kejahatan, sehingga semua orang merasa aman. Dan lagi-lagi keadaan perlahan berubah, Cloud, pemerintah seolah berhenti memihak warga, kekuasaan membuat mereka seolah kebal hukum hingga merasa leluasa menindas kaum lemah. Hanya orang paling kuat yang mampu mempertahankan mimpi murni mereka. Aku tidak ingin berakhir seperti mereka, penguasa tirani, diktator berengsek.” “Itu sebabnya kau memilih mundur? Karena tidak ingin berubah seperti mereka?” “Aku tidak bisa menjalankan pekerjaan baik sendirian dan dalam kesendirianku bersama mimpi-mimpi murni, mereka enggan mendekat, aku seolah dipaksa berdiri sendiri dan itu sungguh sulit.” Charge memberi jawaban berbeda meskipun pertanyaan Cloud juga termasuk alasannya mundur. “Kenapa mereka berubah? Maksudnya, aku mengerti awal-awal mimpi murni mereka, tapi, aku tidak mengerti ada orang yang se-esktrem itu membuang kemurnian di dalam hatinya. Perubahan itu tidakkah mereka menyadarinya sebagai hal yang buruk?” Orang tua itu tersenyum simpul mendengarnya. “Walaupun buruk, dunia masih membutuhkan orang-orang itu untuk menjaga keseimbangannya. Entah apa kau mengerti atau tidak, baik dan buruk ada di satu garis lurus yang sama tidak terpisahkan, beriringan membentuk masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dan beruntunglah orang-orang yang berpegang teguh pada kemurnian mimpinya, mereka istimewa, pemenang sejati.” Semilir angin berembus dari jendela yang terbuka di kamar itu, tirai jendela bergerak-gerak bebas ditabrak angin, menyapa para penghuni kamar begitu ramah. Cloud suka suasana ini, satu dari sekian hari tenang yang menyenangkan. Charger bagaikan Pak Tua bijak di dalam buku-buku dongeng yang pernah dibacanya sewaktu kecil. Sepertinya adalah sebuah keberuntungan bagi Cloud terjatuh dari tebing. Jika, tidak, ia tidak akan bertemu Charge sekarang, mengobrol hangat ditemani segelas teh yang sudah dingin. “Kau pasti mengantuk mendengar ucapan orang tua ini. Kalau begitu aku akan meninggalkanmu agar kau leluasa beristirahat. Panggil aku segera jika butuh sesuatu.” Charge berdiri hendak pergi. “Tidak, aku tidak mengantuk. Bisakah kita membahas lebih banyak hal lagi. Misalnya seperti ... Apa yang kau lakukan selama di sini sendirian?” Menilik beberapa ladang perkebunan di luar sana, ia tahu Charge mengurusi ladang itu, mungkin hanya sebagai hobi di waktu senggang. Charge tak menghiraukan, ia melanjutkan langkah, keluar dar kamar. Cloud tampak kecewa dibuatnya. Ya sudahlah, mungkin orang tua itu juga ingin beristirahat. Suara ringkih khas orang tua mengalun ke telinga Cloud. “Biar kuambilkan beberapa camilan, tidak baik orang sakit perutnya kosong. Ya, sebenarnya, perut kosong tidak baik untuk semua orang dalam segala keadaan.” “Akan kuterima dengan senang hati,” katanya senang. Di sini bersama Charge, jauh dari keramaian mana pun, berselimut sunyi dan ketenangan, Cloud sejenak melupakan hiruk pikuk pertarungannya melawan pemerintah Prancis, menikmati sebentar suasana yang asing baginya ini. Hanya sebentar. Akan lebih menyenangkan lagi jika Sodda bersamanya sekarang, ikut menimpali percakapannya dengan Charge, berceloteh tentang kehidupan dan hal-hal remeh. Ia merindukan Sodda. Charge kembali dengan semangkuk besar camilan di dalamnya. “Terima kasih banyak, Charge.” Rasanya seolah ucapan terima kasih sebanyak apa pun tidak akan cukup baginya untuk mengungkapkan rasa syukur. “Bukan masalah.” Camilan di dalam mangkuk mulai dicomot satu per satu oleh dua orang itu. Mereka mulai membicarakan beberapa hal, lalu tiba saat Charge menyinggung soal alasan perubahan sikap pemerintah Prancis pada tahun-tahun kemundurannya. “Bukannya karena mereka termakan kekuasaan, menikmati posisi teratas tanpa batas.” Cloud berkomentar. Sepertinya topik ini akan cukup serius. “Ada hal lain yang mereka sembunyikan, Cloud. Itu pula alasanku memilih tempat ini untuk ditinggali.” Adrenalin Cloud berpacu cepat, hal baru yang akan ia ketahui ini bisa menjadi senjatanya untuk melawan mereka, atau harga yang bisa ditawarkan jika seandainya Gold menolak kerja sama dengannya. “Apa itu?” Rasa ingin tahunya sudah berada di puncak. “Sebuah batu.” Cloud kebingungan, membuat kerutan di kening. “Batu?” Charge yakin laki-laki setengah besi ini membayang batu yang ada di jalan-jalan perbukitan. Mungkin efek jatuh dari tebing, kepalnya seolah menurunkan tingkat kecerdasan dalam otaknya. “Dengarkan baik-baik,” titah Charge. Cloud tanpa disuruh pun langsung memasang kuping lebar-lebar. “Kau tahu kemajuan teknologi dunia sudah segila apa, sepertinya satu-satunya manusia yang mempunyai gerobak kayu di dunia ini hanya aku. Jadi itu tidak mungkin batu biasa, Cloud.” Charge memperbaiki posisi duduknya. “Saat itu aku jelas mendengar mereka soal penemuan hebat, sebuah batu luar angkasa yang memiliki energi besar.” Di dunia super cepat ini di mana teknologi canggih hampir setara sihir, itu bukanlah hal mustahil, dan segala sesuatu dari luar angkasa selalu punya sesuatu lain yang menarik. “Kau bilang itu juga alasan keberadaanmu di sini. Apakah batu itu juga ada di sini?” Antusiasme mengetahui hal baru dari orang yang baru pertama kali ditemuinya seperti mengingatkannya untuk lebih optimis, ia bisa memenangkan pertarungan panjang ini. “Aku bertahun-tahun menyelidiki lokasi jatuh benda luar angkasa itu. Dan, ya, lokasinya memang di sini. Tapi, Cloud, tidak dengan batunya, pemerintah Prancis sudah mengamankannya.” “Di mana lokasi persisinya?” tanya Cloud lagi. Matanya berbinar penuh keingintahuan. Charge memalingkan wajahnya, menerawang dalam pada pemandangan jendela kamar. Gunung-gunung bertebing tinggi terlihat gagah. Cloud mengikuti arah pandangan Charge. Lokasi jatuhnya ada di sana? “Jurang yang hampir merenggut nyawamu itu adalah lokasi persisnya, jurang luas itu terbentuk karena tumbukkan dahsyat ketika batunya jatuh. Bisa kau bayangkan bagaimana kekuatan besarnya meruntuhkan batu-batu lain di sekitarnya dalam sekali hantam? Jika batu itu jatuh di sebuah kota, maka bisa dipastikan kota itu hancur tak bersisa.” Mengerikan dan mengagumkan, sekaligus mematikan. Apa yang akan pemerintah Prancis lakukan pada batu itu? Cloud rasanya bisa membayangkan rencana-rencana jahat kaum diktator itu, namun ia tidak tahu persis bagaimana batu itu kan mereka gunakan. Dengan tekad bulat Cloud meminta sesuatu yang sulit Charge kabulkan. “Antarkan aku ke sana!” nada bicaranya tegas, namun Charge tetap menggeleng. “Tidak saat keadaanmu begini buruknya.” Alasan bagus Charge berikan. “Aku sudah baik-baik saja sekarang.” Cloud tetap memaksa. “Kita bisa ke sana saat keadaanmu lebih baik.” “Aku tidak punya banyak waktu, Charge!” “Kubilang tidak!” “Aku bisa saja pergi sendiri, tapi jurang itu luas sekali, akan butuh lebih banyak waktu lagi untuk menemukannya. Kumohon, Charge ....” Air mukanya dengan tulus memohon. Orang tua itu menghembuskan napas lelah. Dasar anak muda, selalu terburu-buru, seolah tiada lagi hari esok. “Bahkan aura bekas batu itu bisa menarik hewan buas, kau ingin mati dimakan hewan-hewan itu hah?” ia membeberkan alasan terbesarnya tidak mengizinkan Cloud pergi sekarang. “Hewan buas yang tidak bisa terbang, kan?” Cloud berniat memberi cara lain. “Bodoh, mesinmu rusak menghantam keras jerami-jeramiku.” Astaga, sepertinya Cloud benar-benar menjadi bodoh karena jatuh dari atas tebing itu. Ia membatu. Otaknya berpikir cepat, namun ia tidak menemukan satu pun ide. “Terlalu berbahaya membawamu sekarang sementara tubuhmu belum sepenuhnya pulih.” Orang tua satu ini kukuh sekali mengatakan tidak. Kaki besi milik Cloud ia turunkan dari atas ranjang, Charge melihatnya tak habis pikir. Anak itu Charge larang juga untuk kebaikannya, susah sekali menurut. “Lihat, kan, aku bisa berdiri, sekarang jauh lebih baik.” Perlu orang tua itu akui kecepatan pulih seorang Cloud memang luar biasa, namun ia jatuh dari tebing ratusan meter, jangan lupakan itu, banyak dari tubuhnya yang pasti belum pulih. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD