Belgia telah tertinggal ribuan kilometer jauhnya di belakang mereka—Cloud dan kawan-kawannya terbang melintasi daratan luas berbekal tekad dan semangat juang—daratan Perancis membentang indah di bawah sana, mereka perlu menempuh setengah perjalanan lagi untuk tiba di Paris, bertemu Gold, mencari bahan material untuk membangkitkan Sodda, dan—jika semuanya berjalan lancar—membahas kerja sama untuk menggulingkan para penguasa tirani di pemerintahan Perancis.
Deretan pegunungan terhampar indah jika dilihat dari kejauhan, apalagi dilihat langsung dari atas, menyalurkan kesejukan begitu damai, rasanya seolah-olah beban mereka berkurang sedikit. Energi alam memang menarik.
Cloud melayang turun, menggapai pinggiran tebing di sisi gunung-gunung yang hampir berdempetan. Teman-temannya membuntuti Cloud.
“Kita berhenti sebentar di sini,” ujar Cloud pada yang lain. Cloud memindai sekitar melalui mata tajamnya, kemudian menemukan sebuah ceruk seratus meter di depan—seperti gua kecil yang melubangi badan gunung—ia memimpin jalan menuju ceruk itu. Jalur berkelok khas pegunungan, lebarnya kurang dari dua meter, menempel tepat di tebing, di bawahnya jurang ratusan meter menganga lebar, memperingati mereka untuk tetap fokus dan hati-hati.
“Tapi Cloud, kenapa kita harus berhenti? Bukankah kita harus bergegas?” Salah satu teman Cloud yang berjalan tepat di belakangnya bertanya resah. Matanya tidak henti-hentinya melongok ke bawah, mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak jatuh karena mustahil ia bisa selamat.
“Kita perlu menyimpan tenaga. Tenaga mesin, juga tenaga kalian sendiri.” Kaki besi Cloud melangkah susah payah, jalur ini lebih licin dari dugaannya. Tangannya terus-menerus mencengkeram bebatuan tebing demi menjaga keseimbangan, kawan-kawan lain pun terus melangkah dengan hati.
Suhu rendah khas pegunungan masih sempat menerpa kulit mereka yang dilapisi pakaian memadai, membuat mereka memeluk tubuh sendiri berharap bisa menetralkan sedikit dingin. Cloud pun sama, tangannya tidak lagi menggapai sisi tebang, melainkan merengkuh dadanya, mengusap-usap kedua telapak tangan—di saat seperti ini ia bersyukur bagian bawah tubuhnya terbuat dari besi hingga tidak merasakan kebas akibat dinginnya udara. Ceruk yang menjadi tujuan mereka masih beberapa puluh meter lagi di depan. Kaki besi Cloud menapaki batu-batu rapuh yang rawan jeblos saat diinjak.
Cloud berteriak mengingatkan menoleh. “Hati-hati semuanya! Jangan terlalu berjalan di pinggir!”
“Kami akan hati-hati, kau sendiri perhatikan langkahmu.” Orang yang berdiri rapat di belakang Cloud memperhatikan setiap langkah Cloud. Kaki besi itu mungkin memang tidak merasakan suhu dingin, tapi jelas ia lebih kesulitan berjalan di jalan yang licin.
“Aku juga akan berhati-hati. Kita bisa menyimpan tenaga dengan tenang di dalam sana,” balas Cloud. Kaki besi Cloud tidak bisa berbohong, ia tidak diuntungkan di jalur selicin ini. Lumut hijau mulai terlihat subur, di sisi-sisi tebing berbagai jenis jamur dapat ditemui dengan mudah, terasa lembap di jalur yang ia pijaki.
Pada langkah yang kesekian, saat mereka hampir tiba di dalam ceruk, saat itulah tanah bebatuan seolah begitu tipis, tidak kuat menahan beban tubuh Cloud barang sedetik. Cloud terjerembap kaget membuatnya tidak sempat menekan tombol terbang, terjun bebas, saat tiba ia jatuh di bawah sana punggung itu mungkin akan retak, atau tengkorak kepalanya retak lebih dulu. efek gerak lambat pada layar komputer, Cloud melihat dan mendengar teman-temannya berteriak histeris memanggil namanya, mereka terduduk tak kalah kaget, refleks mengulurkan tangan ke bawah seolah mampu menggapai tubuh setengah besi itu. Terlambat. Cloud sudah dimakan kegelapan jurang, mereka tidak akan mampu membawanya naik bahkan dengan mesin terbang itu. Di bawah sana gelap gulita, kalaupun mereka menemukan tubuh Cloud, mungkin tubuh itu telah kaku tak bernyawa.
“Bagaimana ini?” Mereka bertanya pada sesamanya. Air mata tak sanggup disembunyikan lebih lama. Perjalanan menuju Paris ini hanya akan berakhir di sini? Saat kematian salah satu pejuang kehidupan direnggut oleh alam. Bagaimana dengan teman-teman lain yang nantinya mendengar kabar ini? Adakah perjuangan itu terus hidup?
Dari tebing jurang ini kesedihan itu terus mengucur. Teman-teman seperjuangan Cloud tak henti-hentinya bertanya satu sama lain. Apa yang akan terjadi selanjutkan? Bagaimana mereka harus mengabaikan duka ini pada yang lain? Cloud jatuh ke jurang tanpa pertolongan sedikit pun.
Namun mereka lupa satu hal, mereka lupa mempertanyakan siapa itu Cloud? Bukankah Cloud merupakan pria tangguh yang tidak mudah menyerah? Ia adalah pria dengan ambisi hebat, tekad untuk menyelamatkan orang-orang terdekatnya, dihujani ratusan tembakan ia tidak tumbang, hidup dengan separuh tubuh rongsokan pun ia masih berani melawan, tidakkah lucu jika ia begitu mudah dikalahkan karena jatuh dari tebing? Sekali lagi, Cloud adalah pria tangguh.
Di dalam jurang itu tidak ada yang tahu sebuah tumpukan jerami menangkap tubuh Cloud dengan sempurna. Ia selamat secara ajaib, mungkin menjadi segelintir orang beruntung yang masih hidup setelah jatuh dari ketinggian ratusan meter. Di sana cahaya matahari berusaha mengintip dari berbagai celah, kegelapan dan suhu dingin mengungkung hebat.
Ada sebuah suara menderu di sekitar sana. Seperti bunyi gerobak yang didorong dan ban-ban gerobak itu bergesekan dengan batu. Di dunia yang serba canggih ini ternyata masih ada hal-hal seperti gerobak.
Seorang pria tua datang bersama gerobak itu, terkejut melihat ada orang yang ia kira tertidur di sana. “Hei, kau siapa? Kenapa tidur di atas jeramiku?”
Pria itu menggerak-gerakkan tubuh Cloud berusaha membangunkannya, tapi Cloud kunjung membuka mata. Detik kemudian ia mengambil kesimpulan bahwa pria ini pingsan total, lalu memutuskan membawanya dari sana.
Rumah terpencil di kaki gunung menjadi kediaman pria yang membawa Cloud bersamanya. Kesan sejuk nan asri terpancar indah di sekelilingnya, jauh dari keramaian, dikelilingi bukit-bukit, ladang pertanian kecil terhampar serasi. Di rumah pria itu banyak benda-benda primitif di samping teknologi canggihnya. Berbagai macam hal manual dapat dijumpai di sana.
Aroma teh hangat menguar di udara, seketika ketenangan menyentuh pori-pori kulit orang di dalam sana. Perlahan Cloud membuka mata, mengerjap pelan, menerima sedikit demi sedikit cahaya yang masuk ke retina mata. Badannya rasanya sakit semua—tentunya tidak termasuk bagian bawah—tulang-tulangnya seolah remuk tak dapat digerakkan. Ia butuh waktu untuk bisa bangkit.
“Kenapa kau tidur di jeramiku?” Alih-alih menanyakan apakah orang yang dibawanya ini baik-baik saja, Pria tua ini malah bertanya hal terdengar tidak penting. Dan, jelas-jelas dia tahu Cloud bukan sengaja tidur di atas jeraminya.
“Aku terjatuh di atas jerami?” Begitu Cloud menangkap informasi dari pria tua itu. “Itu sebabnya aku masih bisa membuka mata sekarang, meskipun rasanya seluruh kulitku mengelupas perih.”
“Suatu keberuntungan gila kau masih bisa selamat setelah jatuh dari ketinggian itu,” Si Pria tua menghampiri ranjang Cloud, membawa segelas teh hangat di tangannya.
“Yah, sepertinya dunia masih membutuhkanku. Ngomong-ngomong, kenapa bisa ada jerami di sana?”
Dikarenakan Cloud belum bisa bangkit sendiri, Pria itu membantunya untuk duduk bersandar di ranjang, teh hangat ia berikan setelahnya. “Terima kasih,” kata Cloud tulus.
“Aku yang taruh di sana.”
“Kenapa menaruhnya di sana?”
“Tempat pembuangan,” jawab Pria itu tersenyum simpul. Tidak ada respon berarti dari Cloud hanya gerakan kepala ke bawah tanda mengerti.
“Aku harus segera pergi.” Cloud teringat teman-teman lain di atas tebing.
Pria tua itu menimpali, “Aku tidak akan melarang.”
Jika tubuhnya tidak sakit Cloud pasti sudah berpamitan sekarang juga, kepalanya apalagi, terasa pusing dan nyeri, pasangannya masih pun masih kabur karena kepalanya pening.
Derit tarikan kursi kayu terdengar melengking di telinga keduanya. Pria tua itu menarik kursi kayu tersebut mendekatkannya pada ranjang. Nah, jadi, ia akan mulai mengorek informasi dari korban jatuh ini, bukan untuk maksud apa-apa, hanya ingin tahu saja cerita pemuda yang kelihatannya pemberani ini.
“Kenapa kau bisa terjatuh dari atas sana?” tanya si pria tua memulai pembicaraan seriusnya.
“Jalurnya tidak sekuat yang kukira, mungkin karena terkikis oleh waktu, dan kesialanku menginjak bagian-bagian tipis pada jalur itu.”
Si pria tua menaikkan satu alis, bukan itu yang mau ia dengar. Cloud terpaku tidak mengerti.
“Tidak, tidak, aku tidak peduli bagaimana caramu jatuh. Jadi, katakan saja kenapa kau harus ada di atas sana,” tukasnya lebih jelas.
“Aku hendak ke Paris, kurasa kami sudah terlalu lama terbang, jadi aku memutuskan untuk berhenti sebentar, beristirahat dan menyimpan energi kami, dan berjalan menuju ceruk kecil di salah satu tebing curam itu. Begitulah, nasib sial jalur itu malah anjlok.”
“Jadi kau tidak sendirian.”
“Ya.”
Cloud tidak sendirian, saat ini pun, teman-temannya telah terbang meluncur ke dasar jurang itu untuk menemukan tubuh Cloud, terlalu banyak menangis membuat mereka terlambat beberapa saat. Si Pak Tua itu telah membawa Cloud ke rumahnya, membaringkannya di tempat tidur nyaman, menunggunya hingga sadar, menjamunya dengan teh hangat, kemudian saling berbincang seperti sekarang.
Di dasar jurang wajah-wajah kesedihan masih menggantung di sana.
“Ketemu?” tanya seseorang dari mereka pada yang lainnya.
“Tidak ada di sebelah sana.” Sisi kiri jurang telah selesai ditelusuri.
“Kita sudah lama mencari, tapi jasadnya tidak ditemukan di mana pun.”
Segala penjuru area tidak luput dari pengawasan mereka, di balik batu besar, di tempat-tempat bersudut, jejak darah atau potongan dari kaki besi Cloud pun tidak ada. Gelagat frustrasi mulai menyerang lebih dalam. Sial. Rombongan itu mungkin akan segera menyerah mencari tubuh Cloud, entah diseret hewan buas atau hilang begitu saja, mereka akhirnya tetap pergi tanpa Cloud, mengabarkan berita duka tersebut.
Kembali ke rumah pria tua, orang itu mendengarkan dengan saksama kata per kata yang keluar dari mulut Cloud, lalu manggut-manggut tanda mengerti. Cloud bercerita banyak padanya, orang asing ini entah kenapa membuatnya nyaman mengeluarkan segala keresahannya. Tentang kebijakan daur ulang android, tentang Sodda, tentang teman-teman yang membantunya, tentang musuh-musuhnya, tentang pemerintahan yang diktator. Kata beberapa orang, menceritakan masalah yang mengganggu kepada orang asing kadang menyenangkan karena mereka tidak akan bertemu lagi di masa depan. Leluasa tanpa malu dan lebih lega.
“Kau jauh-jauh dari Belgia ke Paris untuk menemui seseorang yang penting?” tanyanya lagi.
“Ya. Aku ingin membangkitkan temanku, teman berharga yang kupunya.” Cloud tersenyum getir saat memikirkan Sodda yang telah banyak membantunya. Banyak hal sudah mereka lewati bersama, ia tak akan pasrah begitu saja dengan keadaan Sodda saat ini.
“Aku mengerti sekali keadaanmu,” ujar pria tua, Cloud memandang matanya dalam. Orang ini bersimpati padanya secara tulus, seperti orang ini dekat sekali dengan apa yang Cloud bicarakan.
“Begitulah. Aku ingin semua ini segera berakhir, menemukan akhir membanggakan dana senyum kebahagiaan.”
Bersambung