45

1619 Words
Sand tersenyum, kemudian menjelaskan, “Di pertarungan tadi, kecepatannya jauh di atasku. Sehingga serangan apa pun yang kukerahkan tidak bisa mengenainya. Saat itu aku terpikir untuk mengeluarkan serangan lain untuk mengelabuinya, padahal tujuanku adalah melemparkan serpihan-serpihan untuk menghancurkan mekanik yang mengeluarkan ikatan di tubuhmu.” “Siasat bagus Sand. Orang jelek itu tidak bisa menduga tujuan yang se—” Rose tidak sampai menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya terhuyung ke depan. “Kamu tidak apa-apa Rose?” tanya Sand cemas, sambil memegangi kedua pundak Rose. Rose menggelengkan kepalanya lemah. “Tidak apa-apa Sand. Sekarang yang paling penting, kita kuburkan Tulip dengan layak.” “Baiklah,” ucap Sand sambil memapah Rose untuk duduk. Kemudian Sand membawa jasad Tulip keluar rumah tua dan menguburkannya di sebuah lahan kosong. Air mata tak henti-hentinya membasahi kedua pipi Rose. Bagi Rose, Tulip sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Sejak kecil keduanya selalu bersama, berlatih bersama, menjalankan tugas bersama. Keduanya saling mengisi kekurangan, dan memperkuat kelebihan sahabatnya. Kini Tulip sudah tiada, seakan separuh dari diri Rose turut hilang. Namun, Rose tahu, cepat atau lambat perpisahan akan terjadi pada siapa pun. Sekarang yang terbaik adalah mendoakan Tulip dan tetap tegar dalam menjalani kehidupan. “Meski aku baru mengenal Tulip, tapi aku tahu Tulip adalah seorang gadis yaang baik dan berbudi luhur. Sayang, ia tewas dengan cara mengenaskan,” tukas Sand sambil menatap nisan di hadapannya dengan tatapan sedih. “Iya Sand. Seumur hidupnya, ia selalu memikirkan dan membantu orang lain. Kepentingan orang lain lebih ia utamakan dibanding kepentingannya sendiri.” Sand mengangguk, kemudian menoleh pada Rose. “Kalau begitu, ayo kita kembali ke penginap—Rose! Rose!” Dilihatnya Rose jatuh tidak sadarkan diri. Wajahnya kehijauan, bibirnya pucat, dan tubuhnya berkeringat dingin. Racun yang diberikan Big Hammer sudah menyebar pada bagian-bagian inti tubuh gadis ayu tersebut. Digendongnya tubuh Rose, lalu melesat menuju penginapan. Setelah merebahkan tubuh Rose di atas ranjang, Sand mencari seorang Dokter lalu membawanya ke penginapan. “Bagaimana keadaannya?” tanya Sand cemas. Dokter tersebut menggelengkan kepala. “Racunnya sangat mematikan dan sudah menyebar ke seluruh inti tubuh. Kuperkirakan umurnya hanya tinggal dua hari. Mengobati keadaannya ini di luar kesanggupanku. Maaf aku tidak bisa membantunya. Tapi ada seseorang yang sanggup mengobatinya. Orang-orang menyebutnya Dokter Spirit. Sayang sekali Dokter Spirit hanya legenda yang belum tentu benar adanya, karena aku belum pernah mendengar ada yang pernah bertemu dengannya.” “Di manakah Dokter Spirit berada?” tanya Sand merasa ada secercah harapan. “Menurut cerita dari mulut ke mulut, ia ada di Marais Fantome. Letaknya di sebelah utara desa ini. Tapi berhati-hatilah, Marais Fantome adalah tempat yang angker.” “Terima kasih. Sekecil apa pun peluangnya, aku harus mencoba!” tukas Sand. Setelah berkemas-kemas, Sand melesat cepat, dan keluar dari Desa Erquelinnes. Sand memang orang yang penuh asih. Siapa saja yang memerlukan bantuan, ia akan berusaha menolongnya. Apalagi seseorang tersebut adalah orang yang sudah dianggap sebagai seorang sahabat, seperti Rose. Selain itu, perasaan bersalah karena tidak mampu mencegah perbuatan Big Hammer turut membebaninya. Karenanya, segala upaya akan ia lakukan untuk menyelamatkan Rose. *** Sementara itu, Sand melesat cepat menerobos pepohonan hutan yang rimbun. Alisnya yang tebal mengerut serius, mencemaskan keadaan Rose. Matanya yang lebar, menyelisik sekilas jalanan yang dilalui. Tiba-tiba Sand berhenti mendadak. Rupanya Sand melihat seorang kakek berjalan di hadapannya sambil melantunkan sebuah puisi, “Jangan bersembunyi bak bidadari. Kurang ajar kamu sungguh laknat, tiada khianat. Dua Durjana memadu kasih, meniti asa hingga kamu ada. Tebus durhaka wahai asa bersahaja, sampai kamu tiada.” Sand dibuat penasaran oleh kakek misterius tersebut, lantas ia mengikutinya sambil menggendong Rose. Kakek misterius berjalan sambil melantunkan puisi yang sama berulang-ulang. Makin jauh berjalan, dilihatnya tubuh dan suara kakek misterius berubah perlahan-lahan. Tubuhnya yang pendek perlahan bertambah tinggi, hingga mencapai tinggi perempuan rata-rata. Rambutnya yang beruban dan pendek perlahan memanjang sampai sepunggung dan berubah warna menjadi hitam. Sosok kakek misterius telah berubah menjadi sesosok perempuan yang elok. Namun, Sand tidak dapat melihat wajah perempuan tersebut karena memunggungi Sand. Perempuan itu menghentikan lantunan dan langkahnya ketika sampai di sebuah rawa ungu gelap. Kemudian air rawa menyebar dan merambati pepohonan di sekitarnya hingga perlahan mengubahnya menjadi dinding, jendela, pintu, atap, dan perabotan. Kini Sand berada di dalam sebuah ruangan yang mewah. Kemudian pintu ruangan terbuka, dan dilihatnya seorang laki-laki gemuk menghampiri perempuan itu, lalu memukulinya. Setelah selesai, ruangan tersebut berganti menjadi ruangan lain tetapi sama mewahnya. Kejadian yang sama terjadi, seorang laki-laki datang, dan memukuli perempuan tersebut. Sekali lagi ruangan berganti, dan kejadian yang sama berulang. Pada kejadian terakhir, laki-laki tersebut bertanya. “Untuk apa kamu melakukan ini semua?” tanya pria itu sambil memberikan sekantung emas pada perempuan itu. Perempuan tersebut diam beberapa saat, kemudian berkata dengan suara tercekat dan bergetar, “Bersenang-senang.” Setelah itu, ruangan kembali berubah. Kali ini menjadi sebuah ruangan kotor dan tidak terawat. Tiba-tiba pintu rumah terbanting, lalu muncul seorang pria berbadan tinggi besar, berambut hitam sepunggung dan acak-acakan, wajahnya mirip dengan Sand tetapi dengan kumis dan jenggot lebat tidak terurus. Laki-laki tersebut berjalan sempoyongan sambil menenggak botol minuman, menghampiri perempuan tadi. “Ayah!” seru Sand terkejut melihat sosok laki-laki itu, tetapi lelaki tersebut tidak mendengar suara Sand. Setibanya di hadapan perempuan itu, ayah Sand membanting botol ke lantai hingga pecah, kemudian tangannya menampar perempuan tersebut berulang kali sambil berteriak marah “Dasar krang ajar! Untuk apa kamu membuang minuman-minumanku!” Perempuan tersebut tersungkur, lalu dengan susah payah mengangkat tubuhnya. Hati Sand terasa perih melihat wajah perempuan itu adalah ibunya. Serta merta ia menghampiri, tapi ruangan kembali berubah menjadi ruangan di dalam sebuah nightclub. Sosok ibunya perlahan berubah menjadi sosok sang ayah. Sang ayah tengkurap di lantai sambil muntah-muntah. Dari tubuhnya tercium bau minuman keras yang sangat menyengat. Di sekelilingnya muncul orang-orang yang sedang menertawakannya. “Sudah habis hartamu, masih mau berjudi!” “Hutang minuman keras saja segunung!” Orang-orang itu mencemoohnya, tetapi ayah Sand tetap diam. Kemudian salah seorang di antara mereka kembali mengejek. “Istrimu benar-benar bodoh mau dengan laki-laki tidak berguna seperti kamu!” Mendengar hinaan pada sang istri, ayah Sand berdiri lalu memukul orang-orang yang menghina istrinya. Akhirnya ayah Sand dikeroyok beramai-ramai, sampai sekujur tubuhnya lebam-lebam. Kemudian mereka meludahinya, lantas keluar dari nightclub. Selang beberapa saat kemudian, seorang perempuan cantik memapah sang ayah duduk di sebuah kursi. “Tidak usah diladeni. Mereka memang begitu,” ucap perempuan cantik seraya mengusap luka memar di pipi sang ayah, kemudian berkata kembali, “Jangan sedih. Kalau kamu mau, aku bisa menghiburmu, tapi tinggalkan istrimu.” “Seburuk apa pun yang dikatakan orang-orang tentangnya, tidak akan mengubah cintaku padanya,” tukas ayah Sand, kemudian berjalan keluar dari nightclub. Perempuan cantik bernama itu merasa terpukul oleh kata-kata ayah Sand, lalu menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Makin lama suara tangisannya berubah menjadi suara tertawa yang membuat bulu kuduk berdiri, lantas ditarik kedua tangannya, sehingga memperlihatkan wajah menyeramkan yang telah mengganti wajah cantik itu. Wajahnya berwarna ungu gelap dan memiliki mata sipit berwarna merah, hidungnya bengkok ke bawah, bibir lebar, dan dagu runcing. Melihat penampilannya, ia lebih tepat disebut Setan Ungu. “Satu kata apakah aku?” tanyanya seraya berdiri, lalu menerjang Sand. Melihat serangan datang, Sand merebahkan Rose di lantai, kemudian menyambut Setan Ungu dengan energinya yang kuat. Tinjunya mengayun cepat dan terlihat bagai ratusan, menerjang Setan Ungu. Kecepatan Sand berada di atas Setan Ungu, sehingga tinjunya menghantam bertubi-tubi. Kecepatan Setan Ungu tidaklah cepat tetapi sangat kuat, sehingga tinju-tinju Sand tidak terasa baginya. Tiba-tiba Setan Ungu mengayunkan lengannya, hingga menghempaskan Sand sejauh tiga meter. “Setan Ungu benar-benar kuat. Tinjuku tidak ada yang melukainya. Tapi pasti ia punya kelemahan. Biar aku coba lagi.” Sand kembali menerjang. Serangannya mengibas kaki Setan Ungu, tetapi Setan Ungu tetap tegak berdiri, kemudian mengayunkan tangannya dari atas menuju kepala Sand. Sand berkelit, seraya merangsek secepat kilat menghantam perut dan d**a Setan Ungu berkali-kali, sekali lagi ia tetap bergeming. Lantas kepalan Setan Ungu menerjang Sand yang masih sanggup menangkis dengan kedua tangannya, tetapi kekuatan Setan Ungu mendorong Sand hingga lima meter. “Cih!” geram Sand yang melanting ke atas lalu menukik sambil mengeluarkan serangan dengan energi yang lebih kuat lagi dari sebelumnya. Tinju-tinju Sand berputar hebat seperti sebuah ombak yang bergulung-gulung menerjang ke arah Setan Ungu. Setan Ungu tidak dapat berkelit, tetapi ditangkisnya serangan Sand. Sand tidak berhenti, segera tinjunya menyambar kepala Setan Ungu dari samping. Serangan Sand kembali dihadang tangan Setan Ungu dan langsung menyerang balik hingga membuat d**a Sand dihantam kepalan tangan Setan Ungu. Kali ini dari sela-sela bibir Sand mengalir darah segar. Setan Ungu tidak ingin memberi Sand kesempatan bernapas, dan menerjang Sand kembali. Kepalan Setan Ungu menerjang ke arah kepala Sand, tetapi dengan cepat Sand berkelit ke belakang. Setan Ungu merangsek terus menerus tanpa henti. Meski Sand dapat berkelit, tetapi serangan tanpa henti Setan Ungu membuatnya kewalahan. “Kenapa Setan Ungu menyerang membabi buta? Jangan-jangan …,” gumam Sand seraya memperhatikan Setan Ungu dengan saksama. Saat matanya menyisir kepala Setan Ungu, tiba-tiba Sand tersenyum. “Aku tahu kelemahannya! Rupanya serangan terakhirku tadi tidak dapat ditangkis dengan sempurna hingga membuat sebelah tanduknya retak. Itulah yang membuatnya marah. Pantas setiap kali aku menyerang kepalanya, ia selalu berusaha menangkis, tidak seperti ketika aku menyerang bagian tubuhnya yang lain.” Sand kembali menerjang dengan serangan cepat menuju kepala Setan Ungu. Tetapi Setan Ungu sudah lebih waspada, sehingga semua serangan Sand dapat dimentahkannya. Kemudian Setan Ungu mengayunkan kedua kepalannya. “Baiklah, kalau begini terpaksa.” Sand melihat serangan datang. Brak! Kepalan tangan Setan Ungu kembali bersarang di d**a Sand, tetapi itulah yang sebenarnya Sand nantikan. Dengan cepat digenggamnya kedua tanduk Setan Ungu, lalu dipatahkan. Setan Ungu tersungkur, badannya menggelepar-gelepar sambil menatap marah pada Sand. Sesaat kemudian, tubuhnya berubah menjadi asap dan menghilang dari pandangan. “Hoooek!” Sand memuntahkan darah segar dari mulutnya karena dihantam Setan Ungu dengan keras. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD