44

1611 Words
Big Hammer terkekeh sambil berjalan memasuki sebuah bangunan rusak tak berpenghuni. Setibanya di dalam, digeletakkan bungkusan itu, lalu dibuka. Di dalam bungkusan tersebut berisi seorang perempuan cantik yang memiliki rambut hitam lurus dan panjang tergerai. Wajahnya berbentuk oval membingkai sepasang mata sayu, bulu mata lentik, alis tidak terlalu tebal, hidung mancung, bibir tebal dan berbentuk indah, serta dagu belah. Ia mengenakan pakaian ungu. Ia memiliki tinggi badan di atas rata-rata perempuan pada umumnya. “Tulip, kalau bukan karenamu aku tidak bertemu dengan guruku. Kalau bukan karenamu, aku tidak memiliki energi seperti sekarang. Kalau bukan karenamu Big Hammer tidak akan lahir. Sekaranglah waktu yang tepat untuk berterimakasih,” ucap Big Hammer mendesis. Tulip yang dalam keadaan terikat, melotot pada Big Hammer. Bukan hanya karena marah, melainkan juga karena mual menghirup bau busuk dari tubuh laki-laki tersebut. Big Hammer tidak perduli. Ia menembak kepala Tulip sampai kepalanya berlubang. Perempuan nahas itu pun tewas seketika. Tiga hari berselang, Sand yang menuju Paris, singgah di Desa Erquelinnes. Sambil berjalan, ia melihat-lihat sekelilingnya. “Desa ini besar juga. Sepertinya banyak yang mengunjungi desa ini. Aku lapar, sebaiknya aku makan dulu sebelum mencari mereka kembali,” gumam Sand sambil berjalan melewati jalanan, lalu masuk ke sebuah rumah makan yang ramai. Setelah makanan yang dipesannya datang, Sand segera menyantapnya dengan lahap “Pantas ramai. Makanan di sini enak sekali, apalagi daging makanan yang kupesan ini.” “Apakah Paman melihat gadis ini?” Sand mendengar suara seorang perempuan tak jauh dari tempatnya. Suara perempuan itu tidak asing di telinganya, lantas matanya menelisik. Ternyata benar, ia melihat seorang gadis cantik tengah bertanya pada setiap pengunjung yang berada di sana. “Rose!” seru Sand memanggil gadis itu sambil melambaikan tangan. Rose menoleh, lalu menghampiri Sand. Wajahnya terlihat cemas seperti ada yang mengganjal dalam pikirannya. “Kamu cari siapa? Lho mana Tulip?” tanya Sand seraya menarik bangku agar Rose duduk. “Justru itu, Sand. Aku sedang mencari Tulip,” ucap Rose. “Coba ceritakan lebih jelas, mungkin aku bisa membantumu.” “Baiklah. Jadi begini Sand. Ketika kami memaksa Big Hammer, ia mengatakan kalau benda yang kami cari ada di dekat sini. Lantas kami ke sini. Tiga hari yang lalu, kami singgah di desa ini untuk melepas lelah. Saat di penginapan, Tulip mau mencari kabar mengenai Demon de Fer karena mendengar penduduk melihat Green Iron di sini. Tadinya aku memaksa untuk ikut, tapi Tulip bersikeras agar aku beristirahat, karena aku sangat letih. Tulip mengatakan supaya aku jangan khawatir, dan jika menemukan Green Iron, ia akan memberitahuku untuk bersama-sama menghadapinya. Tapi sampai sekarang Tulip tak juga kembali. Aku sudah mencarinya ke mana-mana, tetapi tidak ada seorang pun yang pernah melihat gadis seperti yang ada dalam foto ini.” Rose menunjukkan foto Tulip pada Sand. “Kalau memang ada yang melihat, mestinya sudah ada yang memberitahumu,” tukas Sand sambil mengembalikan foto tersebut. “Mungkinkah dia kembali ke markas kalian tanpa memberitahumu?” Rose menggelengkan. “Tidak mungkin Sand. Ketua kami orang yang sangat tegas. Ia tidak mengizinkan kami kembali ke Markas sampai kami berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan. Tulip tidak akan berani kembali ke sana,” jelas Rose, “ada yang membuat kekhawatiranku bertambah. Entahlah ini hanya perasaanku atau tidak, tapi sepertinya pelaku sudah tahu kedatangan kami, karena aku merasa sudah dibuntuti sebelum tiba di desa ini. Selain itu, pada hari yang sama dengan hilangnya Tulip, mayat Green Iron ditemukan dalam keadaan terkena racun.” “Apakah ada anggota Demon de Fer lain yang datang mencari Green Iron?” tanya Sand “Sepertinya tidak ada Sand. Kalau ada, pasti aku sudah mengenali mereka,” terang Rose, lantas bertanya, “Jadi kamu pikir anggota Demon de Fer lain adalah pelakunya?” “Bukan, ketiganya tidak memiliki jurus racun. Pendekar yang memiliki racun mematikan selain Green Iron adalah Cazu Marzu,” gumam Sand. Mendengar nama Cazu Marzu disebut, pucatlah wajah Rose. Sand tidak ingin makin membebani pikirannya, apalagi belum tentu Tulip menghilang karena Cazu Marzu. “Jangan berburuk sangka dulu. Belum tentu Tulip hilang karena Cazu Marzu. Lagi pula kemampuan Cazu Marzu sangat tinggi, ia tidak perlu diam-diam menculik Tulip maupun membunuh Green Iron. Lebih baik kita segera mencarinya daripada banyak menduga-duga,” kata Sand sembari berdiri lalu berjalan keluar dari rumah makan bersama Rose. Keduanya menanyakan pada setiap orang yang mereka temui. Hingga larut malam, mereka tetap tidak mendapatkan hasil. “Semua orang sudah kita tanyai, semua tempat sudah kita cari tapi kita tidak juga menemukan Tulip. Mungkin benar dugaanku kalau Tulip kembali ke markas,” tukas Sand. “Aku masih tidak yakin kalau Tulip kembali ke sana. Kita belum mencari di bagian lain di desa ini. Besok aku akan mencarinya lagi,” timpal Rose, “Oh iya, setelah ini kamu mau ke mana?” “Aku akan mencari penginapan,” jawab Sand. “Menginaplah di tempatku menginap, sepertinya tidak terlalu ramai. Mungkin masih ada kamar kosong. Kebetulan itu tempatku menginap,” ucap Rose seraya menunjuk penginapan di sebelah kanan mereka. “Baiklah, coba aku tanya di penginapanmu,” kata Sand, sembari berjalan bersama Rose ke dalam penginapan. Setibanya di dalam, Sand memesan kamar pada petugas penginapan. Sedangkan Rose yang merasa lelah, langsung bergegas ke kamarnya. “Saya antarkan Monsieur ke kamar. Silakan Monsieur,” kata Petugas Penginapan seraya mempersilakan Sand mengikutinya. Ketika Sand berjalanan menelusuri lorong penginapan tercium bau tidak busuk. Makin jauh berjalan baunya makin menyengat. “Baunya sangat tidak wajar. Bau ini seperti..” gumamnya dalam hati. Tiba-tiba terlintas sesuatu dalam pikiran Sand, lantas bertanya pada petugas penginapan, “Anda tahu di mana kamar temanku?” “Gadis cantik berpakaian biru dan berambut cokelat?” tanya penjaga penginapan. “Iya benar sekali.” “Kamarnya ada di ujung lorong ini Monsieur.” “Maaf saya ada urusan mendadak,” tukas Sand, lalu melesat ke kamar Rose. Setibanya di depan kamar Rose, tercium bau busuk yang sangat menyengat. Tanpa pikir panjang didobraknya kamar tersebut. Sand terkejut melihat seorang pria pendek dan buncit tengah berjongkok di jendela sambil memanggul Rose yang terkulai lemah. Melihat kedatangan Sand, orang itu melesat bak kilat keluar dari jendela. “Kurang ajar!” seru Sand, dan langsung melesat. “Siapa orang itu? Kecepatannya sangat luar biasa. Pasti ia bukan orang sembarangan.” Orang itu tidak lain ialah Big Hammer. Kecepatannya memang di atas rata-rata orang lain. Mengetahui dirinya tidak mampu dikejar, membuatnya terkekeh. “Sand saja tidak bisa mengejarku.” Big Hammer melesat masuk ke dalam bangunan tua dan rusak. Diletakkan Rose di dekat mayat Tulip. Kendati dalam keadaan terikat Rose dapat melihat tubuh saudara seperguruannya itu tinggal raga tanpa nyawa. Andai saja ia tidak terikat, mungkin sudah meluapkan amarahnya. Big Hammer membekap hidung dan mulut Rose dengan kain gombal yang sangat menjijikkan. “Kali ini giliranmu mati di tanganku!” Brak! Pintu rumah berantakan; kabut debu menyebar di dalam ruangan. Dari balik kepulan debu, Sand muncul dan menatap tajam Big Hammer. “Sand kamu selalu usil!” kata Big Hammer dengan berang. Sand memperhatikan tangan dan kaki kaleng Big Hammer. “Rupanya kamu Big Hammer.” “Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Big Hammer. “Mudah. Wajah burukmu masih terekam jelas dalam ingatanku.” “Kamu memang pintar Sand. Tapi aku bukanlah Big Hammer, sekarang aku Grenouille Pourrie! Aku belajar energi dari Cazu Marzu hanya tiga bulan, tentunya energiku tidak bisa dibandingkan denganmu. Tapi aku lebih cepat!” Usai berkata demikian, Big Hammer melesat bak kilat menerjang Sand. Sand tidak tinggal diam, ia menyambut serangan Big Hammer. “Dosamu sangat besar Big Hammer! Kuhabisi kamu hari ini!” Tangan Sand mengibas cepat bak kepakan sayap burung menerjang ke arah Big Hammer. Tinjunya menyabet ke arah perut, tetapi Big Hammer melanting ke belakang. Sand mengejar cepat dan mengayunkan tinjunya ke kepala Big Hammer. Big Hammer menghindar ke bawah, dan disambut lutut Sand, tetapi dengan cepat Big Hammer berkelebat ke samping seraya menghantamkan tangannya yang berasap ke arah Sand. Cepat sekali, sehingga Sand hanya bisa menangkis. Kemudian diayunkan tangan kaleng menerjang kepala Sand, tetapi sekali lagi Sand menangkis dengan lengannya. Bertubi-tubi serangan Big Hammer menghantam Sand yang hanya bisa menangkis, sehingga menjadi bulan-bulanan Big Hammer. Big Hammer berseru senang “Lambat! Kura-kura saja lebih cepat darimu!” Kesombongan Big Hammer membuatnya lengah. Segera saja Sand menerjang dengan kecepatan yang luar biasa. Sayang, kecepatan Big Hammer bagai kilat, tiba-tiba ia berada di belakang Sand. Brak! Sand terhempas keras menabrak lantai. Belum sempat Sand berdiri, Big Hammer kembali menghunjamkan tangan kalengnya ke punggung Sand, hingga Sand muntah darah. Big Hammer tidak berhenti, tangannya terus menghajar Sand yang tidak sanggup berbuat apa-apa. Kalau tidak memiliki energi hebat, mungkin lukanya lebih parah daripada sekarang. Akan tetapi bukan Sand jika menyerah. Tiba-tiba ia mengentakkan tinjunya ke lantai hingga mendorong tubuhnya menabrak Big Hammer. Big Hammer tidak menyangka tindakan Sand, sehingga membuatnya terpelanting di udara sejauh dua meter. Melihat kesempatan itu, Sand mengeragkan serangan yang lebih kuat dari sebelumnya. Tinju Sand berputar bak gulungan ombak dan menyedot serpihan-serpihan reruntuhan, lalu dientakkan ke arah Big Hammer. Big Hammer berkelit ke atas, lalu menukik ke bawah bak kilat. “Bodoh! Berapa kali kamu coba hasilnya akan sama! Terimalah ajalmu Sand!” Perut Big Hammer menggelembung; dari mulutnya keluar asap hijau pekat; tangannya diselimuti kepulan asap. Secepat kilat tangannya mengayun ke arah kerongkongan Sand. Aneh, bukannya terkejut, Sand justru tersenyum. “Sambut kehidupan barumu di neraka.” Cras! Kepala Big Hammer terjatuh dan menggelinding di lantai. Hampir saja Sand menemui ajal, kalau saja Big Hammer berhasil menghunjam kerongkongannya. Namun, pertolongan datang, tepat pada saat kritis. Sand melanting turun di hadapan Rose yang tengah berdiri dengan pedang lasernya yang berlumuran darah. “Terima kasih Sand sudah membebaskanku dari ikatan. Tapi bagaimana kamu bisa terpikir cara seperti itu.?” tanya Rose yang wajahnya terlihat pucat. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD