Soda mengernyit sambil memegang bahunya. "Pelurunya hanya menyerempet."
"Kurasa percuma kita menghindar," ujar Milk yang melayang mendekat.
"Dia memang kuat. Tapi kalau kita menyerang bersamaan, kita berpeluang besar mengalahkannya." Orreo menimpali.
Sodda mengangguk, seraya menatap tajam ke arah Cola. "Kita coba."
"Tapi kondisimu tidak memungkinkan, Sodda," tukas Cloud, cemas.
"Aku masih bisa menghadapinya. Harusnya kamu tahu kalau aku bukan android biasa, 'kan?!" Sodda mengerling pada Milk dan Orreo. "Siap?"
"Tunggu!" Tali Orreo menjulur, dan meletakkan Summer di pangkuan Cloud.
"Seharusnya kamu buang saja perempuan itu," gerutu Sodda, melirik Summer.
Milk menekan tombol di tangan dan membuatnya berpendar kuning. "Sudahlah, jangan buang waktu! Ayo!"
Ketiganya menghambur ke arah Cola. Melihat ketiga lawannya datang, Cola menyeringai. Ia segera melesatkan peluru-peluru dari jari-jarinya. Peluru-peluru itu kecil, tetapi jauh lebih cepat daripada peluru besar yang menerjang Sodda. Namun, Sodda, Milk, dan Orreo sudah siap. Mereka berkelit dan berhasil menghindari semua serangan itu. Ketiganya menyerang Cloud dari tiga arah. Cola berkelebat menghindari serangan Milk dan Orreo, tetapi serangan Sodda datang dari atas dan tak bisa dihindari. Refleks, Cola menangkis serangan itu. Sedetik saja terlambat, tengkuknya dihantam Sodda dengan keras.
Cloud yang berada di kejauhan, diam-diam memperhatikan. Di antara bagian lain, android itu paling melindungi tengkuknya. Pasti pusat kendalinya ada di situ!
"Serang tengkuknya!"
Teriakan Cloud membuat Cola tersentak. Kesempatan itu tidak disia-siakan Sodda yang langsung mencengkeram leher Cola.
"Selamat tinggal, Android Bodoh!"
Sodda menembakkan energi putih, tetapi Cola tidak tinggal diam. Tangan pistol menyalak dan menembus perut Sodda. Kerusakan itu membuat listrik menyengat Sodda. Sambil menahan sengatan listrik, Sodda menembak leher Cola sekali lagi. Serangan kali ini membuat Cola berhenti bergerak; pusat kendalinya rusak. Sayang, keadaan Sodda tidak lebih baik. Meskipun tidak sampai merusak pusat kendali, aliran listrik di bagian yang rusak mengendurkan seluruh energinya. Akibatnya Sodda dan Cola terjun bebas. Beruntung, Orreo segera melilitkan tali besi, dan menahan Sodda.
"Sodda!"
Cloud dan Milk melayang, menghampiri Sodda yang terayun-ayun. Mereka menyelisik perut Sodda yang berlubang. Mesin dan kabelnya terlihat rusak dan berasap. Melihat itu, Cloud dan Milk menjadi cemas.
Milk menggeleng-geleng. "Kerusakannya benar-benar parah. Cola memang android yang mengerikan."
"Kita harus segera kembali, dan memperbaikinya!" seru Cloud.
"Tapi...." Milk tak melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa?" tanya Cloud, penasaran.
Milk tercenung sesaat. "Ya. Kita tidak pernah tahu kalau belum mencobanya."
"Apa maksudmu?"
"Sudahlah. Lagi pula kita tidak bisa berlama-lama di sini. Bisa jadi pertempuran tadi sudah diketahui pemerintah dan mengirimkan pasukan untuk menangkap kita," tukas Milk, kemudian melesat pergi diikuti Orreo dan Cloud dari belakang.
***
Setibanya di kediaman Milk, Sodda dimasukkan ke dalam tabung. Tabung itu adalah alat untuk memberi energi pada semua android. Namun, sayangnya tabung itu tidak bisa memperbaiki kerusakan, sehingga hanya digunakan sebagain penopang kehidupan Sodda untuk sementara.
"Milk, apakah kamu punya elektroid megana?" tanya Cloud sambil memperhatikan Sodda dengan cemas.
Milk menggeleng samar. "Sejak peraturan pendaur ulangan iru berlaku, pemerintah melarang produsen untuk memproduksinya. Selain itu mereka menariknya dari pasaran. Kita tahu 'kan kalau elektroid megana hanya ada di dalam android-android lama?!"
Cloud menunduk dalam-dalam. Dia merasa sedih lantaran tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan Sodda. Tak lama kemudian air mata mengalir di wajahnya.
"Jadi bagaimana? Apakah kita hanya diam saja melihat Sodda seperti ini?" Cloud berkata lirih dengan suara tercekat.
Summer yang memperhatikan itu tiba-tiba berkata, "Kenapa tidak mencoba mencarinya? Pemerintah belum menghancurkan semua elektroda megana karena penarikan elektroda megana di seluruh dunia belum tuntas. Aku yakin masih ada elektroda megana di pasar."
"Apakah kamu tahu toko yang masih menjual elektroda megana?" tanya Milk.
Summer mencerna pikiran sejenak. "Setahuku pemerintah belum menarik semua komponen itu di Lyon. Tapi kalau tidak segera, aku khawatir terlambat."
Milk mengangguk. "Biarkan aku dan Orreo yang ke sana. Mudah-mudahan aku dapat menemukannya."
"Terima kasih, Kawan. Maaf kalau aku ikut justru akan merepotkan kalian," ujar Cloud.
Kedua sudut bibir Milk terangkat. "Jangan khawatir. Tunggulah di sini. Aku akan segera kembali kalau sudah mendapatkannya."
Cloud mengangguk. "Berhati-hatilah. Mereka pasti meningkatkan jumlah personil untuk mencari kita di seluruh Perancis."
"Tentu saja." Milk mengerling ke arah Orreo. "Ayo kita berangkat."
Keduanya ke luar dari dalam ruangan, meninggalkan Summer dan Cloud di sana.
Jam demi jam berlalu, tetapi sampai larut malam Milk dan Orreo belum kembali. Bahkan mereka tidak bisa dihubungi. Cloud makin resah lantaran keadaan Sodda makin lemah. Beberapa bagian tubuhnya sudah tidak berfungsi. Makin lama komponen itu disematkan ke badan Sodda, makin banyak kerusakan yang akan dialaminya.
"Summer tunggulah di sini, aku akan menyusul mereka," tukas Cloud, membawa kursinya melayang ke arah pintu.
Summer mendesah. "Jangan pergi, Cloud. Kamu harus tetap di sini."
Cloud menoleh. "Kenapa?"
Sebelah bibir Summer terpantik, memberi setengah seringai. "Karena sebentar lagi ada yang menjemput."
"Apa mak—"
Belum sempat Cloud menuntaskan kalimatnya, tiba-tiba pintu ruangan hancur berkeping-keping, disusul kemunculan beberapa orang polisi.
Polisi-polisi itu menodongkan pistol ke arah Cloud.
"Menyerahlah, Profesor Reufille," tukas pemimpin polisi.
"Summer ..., apakah ini ulahmu?" Cloud memandang Summer dengan marah.
"Cloud, Cloud ..., jangan bilang aku tidak mengingatkanmu. Sadarlah Cloud, menghadapi androidku saja kalian tidak mampu, apalagi menentang pemerintah," desis Summer.
"Androidmu?"
"Colla." Summer tergelak. "Coba kalau kamu tidak keras kepala dan mau menyerahkan Sodda, hal ini tidak perlu terjadi."
"Dasar pengkhianat!"
Percuma. Kemarahan Cloud tidak berpengaruh apa pun. Polisi-polisi itu menahannya dan juga mengangkut Sodda. Mereka terlilit tali yang menjuntai dari badan android polisi dan dibawa melesat menuju Paris. Saat ini mereka sedang melayang di atas sungai dengan kecepatan tenang. Di dalam perjalanan, Sodda mengerjap.
"Cloud," panggil Sodda, lirih.
Cloud terhenyak. "Sodda, kamu sudah siuman?"
Sodda berusaha tersenyum. "Sebenarnya sudah dari tadi. Tapi aku terlalu lemah. Dengarkan aku Cloud. Aku akan menggunakan sisa tenagaku, untuk membebaskanmu."
"Tidak, Sodda. Aku tidak akan meninggal—"
"Selamatlah demi aku, Cloud." Sodda tersenyum, kemudian dengan sisa-sisa tenaga dia genggam tali yang melilit Cloud.
Merasa ada yang memegangi talinya, polisi menoleh ke bawah. "Hei, apa yang ka—"
Boom!
Sodda menembakkan cahaya sampai memutuskan tali yang mengikat Cloud.
"Sodda!" Cloud menjerit, dan terjun bebas.
Kejadian itu membuat para polisi terkejut. Mereka tidak pernah menyangka kalau Sodda kembali terbangun.
"Cepat tangkap Profesor Reufille!"
Baru saja beberapa polisi mau mengejar, Sodda kembali menembak beberapa kali. Kendati tembakan itu tidak mengenai sasaran, sudah cukup membuat Cloud terbebas dari kejaran.
Cloud menghantam permukaan laut, lalu tenggelam ....
***
"Yiha!" Seorang remaja perempuan berdiri di atas android berbentuk bola yang melesat di permukaan laut. "Tambah kecepatanmu, Splash!"
Gadis itu memiliki rambut pink sebahu, dan berombak. Pada wajahnya yang oval, terdapat sepasang mata lebar, dengan pupil safir, hidung mancung dan pipih, serta bibir yang melengkung sempurna. Dia mengenakan kaus putih yang dirangkap rompi hijau, celana jeans pendek, serta sepatu boot cokelat.
"Aye, aye, Orange!"
Mesin android bernama Splash menderum sambil berputar di tempat. Sedetik kemudian dia melesat lebih cepat melintasi lautan. Splash berbelok dan berzig-zag beberapa kali.
Splash adalah android berwarna orange dengan kaki dan tangan silver. Matanya segaris, dan berupa lampu yang serupa dengan lampu mobil. Dia tidak memiliki bibir, dan berbicara melalui speaker.
Orange dan Splash, pasangan ini adalah salah satu buronan yang dibanderol tinggi oleh pemerintah. Belum ada yang tahu sebabnya pemerintah menghargai mereka dengan angka yang fantastis.
"Kamulah android tercepat yang pernah ada!" seru Orange, antusias.
"Berkat kegeniusanmu, Gadis Kecil!"
Saat sedang melesat, tiba-tiba Orange melihat ada yang mengapung di laut.
"Ada yang mengapung," tukas Orange, menyipitkan mata. "Itu, manusia! Cepat kita ke sana!"
Dengan sigap Orange menginjak sedikit, dan membuat Orange berbelok. Akhirnya keduanya pun tiba di dekat laki-laki itu.
"Cepat masukkan dia!" perintah Orange.
Tak lama kemudian terdengar suara besi terpantik dari dalam ruang mesin Splash, lalu bagian depannya terbuka. Buru-buru kedua tangannya meraih laki-laki itu dan merebahkannya di dalam cockpit yang ada di dalam tubuhnya.
"Cek identitasnya, Splash."
Splash bergeming sesaat sebelum memancarkan cahaya hologram ke hadapan Orange. Angka-angka di hologram itu bergerak cepat, berusaha mengidentifikasi laki-laki yang baru mereka selamatkan.
"Profesor Cloud Reufille. Dia menelan terlalu banyak air laut," terang Splash.
Orange tersentak. "Profesor Cloud Reufille?"
"Benar. Kamu mengidolakannya, 'kan?"
Orange mengangguk. "Dia orang yang luar biasa. Ayo kita obati dia di rumah. Pacu kecepatan tertinggi!"
"Okay."
Splash mengeluarkan tali yang mengikat badan Orange, lalu berputar di tempat, sebelum akhirnya melesat. Kecepatan Splash sangat luar biasa. Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit mereka telah tiba di daratan. Splash dan Orange berjalan menuju sebuah rumah mungil yang berada tidak jauh dari pantai.
Setibanya di dalam rumah, Cloud direbahkan di ranjang eletronik. Ranjang itu adalah ciptaan Splash yang mampu melancarkan sirkulasi darah manusia, sehingga dapat mempercepat penyembuhan.
"Untunglah kita menemukannya." Orange memandang Cloud dengan tatapan nanar. "Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?"
"Orange, dia dan androidnya juga buronan seperti kita. Aku yakin dia jadi seperti ini karena berusaha lari dari kejaran pemerintah."
"Kalau begitu di mana androidnya? Kenapa dia hanya sendiri?" tanya Orange.
"Sama denganmu, aku juga tidak tahu, Orange. Tapi yang jelas dia berada di pihak kita. Sebaiknya kita tunggu dia siuman."
Orange menghela napas. "Pemerintah memang biadab. Mereka mencari-cari alasan untuk menutupi tujuan yang sebenarnya."
"Yah, kita hanya bisa menduga, Orange. Tapi dugaan kita akan percuma kalau tidak memiliki bukti," tukas Splash.
"Mungkinkah Profesor Reufille tahu motif mereka?"
"Mungkin dia lebih banyak tahu daripada kita karena nyatanya dia dan androidnya dihargai lebih mahal dibandingkan semua buronan," ujar Splash, berpendapat.
"Mungkin." Orange menatap Cloud lamat-lamat. "Sodda ..., dia memang android yang luar biasa. Banyak yang mengatakan kalau Sodda adalah produk gagal. Tapi aku yakin kalau Sodda merupakan ciptaan terbaik Profesor Reufille."
"Apa maksudmu Sodda lebih baik daripada aku?" tanya Splash, sedikit kesal.
Orange tersenyum. "Tentu saja tidak. Bagiku kamulah android yang terbaik yang pernah ada. Apalagi tidak satu pun yang dapat mengungguli kecepatanmu."
"Ah, kamu hanya mencoba menyenangkanku, pada—"
Tiba-tiba Cloud terbatuk dan mengeluarkan air dari mulutnya. Orange buru-buru membantu Cloud duduk dan bersandar di ranjang.
Berangsur-angsur pandangan Cloud kembali, seiring kesadarannya yang pulih. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, sampai terpaku pada Orange dan Splash.
"Di mana aku?"
Orange tersenyum. "Ini De Panne."
"De Panne, Belgia ...," gumam Cloud, "Lantas siapa kalian, dan kenapa aku bisa sampai di sini?"
"Aku Orange, dan meruoakan pengagummu, Profesor Reufille." Orange melirik Splash. "Ini ciptaanku, Splash. Tadi ketika sedang berada di laut, kamu menemukanmu terapung-apung lalu membawamu ke sini."
Cloud tercenung, mencoba mengulas kembali memorinya sebelum hilang kesadaran. Bayangan kejadian ketika berpisah dengan Sodda pun melintas. Ya, dia tahu kalau makin lama berada di sana, Sodda makin terancam didaur ulang. Tidak ada pilihan lain selain berusaha menyelamatkannya. Namun, dia tidak bisa berbuat banyak lantaran kursinya ditahan oleh polisi.
"Bagaimana caranya aku menyelamatkan Sodda?" gumam Cloud yang terdengar oleh Orange dan Splash.
"Memangnya kenapa dengan androidmu?" tanya Orange.
"Dia ..., dia dibawa polisi ke tempat daur ulang." Cloud menatap Orange lamat-lamat. "Kalau tidak segera diselamatkan, aku khawatir Sodda akan berakhir menjadi kaleng-kaleng rongsok. Tolong bantulah aku. Kumohon ...."
Orange dan Splash bertukar pandang selama beberapa saat. Bagaimana mungkin mereka menolong kalau saat ini saja mereka lari dari kejaran pemerintah? Bagaimana mungkin mereka menghadapi pasukan polisi yang jauh lebih banyak?
***