Pagi harinya di depan kediaman Sand, Cloud dan kawan-kawan sedang berkumpul. Selain mereka tampak dua orang di sana. Mereka adalah Sand, dan Potato. Jika melihat penampilannya, tidak ada yang percaya kalau Potato merupakan Jendral Liberte. Ia adalah seorang laki-laki berusia awal dua puluhan. Rambutnya keriting dan hitam. Wajahnya yang oval membingkai sepasang mata lebar, alis tebal, serta hidung mancung agak lebar. Kulitnya cokelat, hampir sama gelapnya dengan baju yang dikenakan. Sebenarnya Potato memiliki android, tetapi androidnya dimasukkan ke dalam kapsul, yang apabila diperlukan akan dikeluarkan. Kolaborasi Potato dan android yang bernama Chips, ditakuti lawan-lawannya.
Cloud mengedarkan pandangan ke arah teman-temannya. "Apakah semua sudah siap?"
"Yap! Aku siap!" seru Splash, antusias.
"Baiklah, kalau begitu kita berangkat." Potato mengalihkan pandangan pada Sand. "Ketua, kami berangkat sekarang."
Sand mengangguk. "Antarkan mereka sampai tujuan dengan selamat, Potato."
"Baik, Ketua."
Setelah itu mereka melesat ke arah timur. Potato berada paling depan. Sementara itu Cloud dan kawan-kawan melayang beriringan. Perjalanan ke Kota Ath terasa panjang karena mereka menempuh jalur yang lebih jauh. Meskipun lebih jauh, jalur itu lebih aman dibandingkan jalur lainnya.
Berkilo-kilo telah dilalui, akhirnya mereka mendarat di tepi sebuah hutan. Hutan itu sangat gelap, walaupun saat itu masih siang hari. Pohon-pohon di dalamnya tinggi dan besar, menutupi cahaya matahari menerobos ke dalam.
"Semua harus berada di dekatku. Ingat, apa pun yang terjadi, jangan sentuh apa pun di hutan itu. Jika ada yang menyentuhnya, jalan akan berubah, dan kita akan terjebak di dalam labirin. Aku sekali pun tidak akan tahu cara keluar dari dalam hutan." Potato mengingatkan.
"Kenapa kita tidak terbang saja?" tanya Splash.
Potato menjawab, "Ada kubah udara di atas hutan ini. Kita tidaka akan bisa terbang lebih tinggi dai hutan ini. Ayo, makin laama kita d sini, makin lama kita sampai di tujuan."
Cloud dan kawan-kawan mengangguk kemudian mengekor Potato yang memimpin di depan. Setibanya di dalam, Potato menyelisik. Ia tampak berhati-hati. Sesekali mereka berhenti untuk sekadar melepas lelah atau memperhatikan sekeliling dengan lebih saksama.
Detik berganti, menit demi menit pun berlalu, tak terasa mereka sudah berjalan belasan kilo. Untung saja mereka tidak menemui hambatan. Setidaknya untuk saat ini. Namun, ketika mereka makin jauh ke dalam hutan, Splash melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Pandangannya tertuju pada buah emas yang menggantung di salah satu pohon. Tanpa disadari, ia melangkah mendekati buah itu.
"Dengarkan aku, Kawan-Kawan. Buah emas di sekitar kita bisa menghipnotis. Ia akan berusaha menarik kita untuk menyentuhnya. Jadi tundukkan kepala kalian, dan fokuslah ke jalanan."
Baru saja Potato selesai berkata, tiba-tiba pohon-pohon bergerak dan bertukar tempat. Jalanan mereka pun berganti arah.
Sontak, Potato menoleh ke belakang dan melihat Splash sedang memetik buah emas. "Tidak ...."
Melihat itu, terkejutlah Cloud dan kawan-kawan. Mereka buru-buru menghampiri Splash.
"Splash! Splash! Sadarlah!" Cloud mengguncang-guncang bahunya. "Buang buah itu!"
Splash tersadar dan membuang buah itu. "Oh, Tuhan!"
"Percuma. Splash sudah telanjur menyentuhnya," celetuk Potato tampak kesal. "Karena kebodohannya, kita terjebak di sini."
"Hei! Aku tidak bermak—"
"Aku sudah mengingatkanmu sebeluk kita masuk ke dalam hutan!" bentak Potato membuat Splash terdiam.
"Apakah ada jalan keluar dari sini?" tanya Milk.
Potato menggeleng. "Sudah kukatakan, kita akan terjebak di sini."
Semua yang ada di sana terdiam. Mereka tida tahu harus berbuat apa.
"Terjebak? Tidak. Kita harus mencoba mencari jalan di sini," tukas Cloud tegas.
Potato menghela napas kasar seraya memutar bola mata. "Sudah kukatakan percuma."
Cloud tersenyum. "Berdiam di sini tidak akan membuat kita lebih baik. Meskipun kamu mengatakan mustahil, aku akan tetap mencobanya."
Potato mengangkat kedua bahunya. "Terserah."
"Aku ikut, Cloud," ujar Milk.
"Aku juga," ucap Splash.
"Bagaimana denganmu, Potato?"
Potato mencerna pikirannya selama beberapa saat. Kalau tidak ingat pesan Sand agar membawa mereka sampai tujuan dengan selamat, mungkin ia gengsi untuk mengikuti mereka.
"Ayo," jawab Potato enggan.
Mereka kembali berjalan menyusuri hutan. Seperti kata Potato, jalanan di sana seperti labirin. Selama tiga jam mereka berjalan, mereka kembali melalui jalan yang sama.
"Benar kata-kataku, 'kan?!" celetuk Potato melirik Cloud.
Cloud mendesah. "Kamu be—eh, tunggu ..., jalan ini berbeda."
Potato terkekeh. "Apanya yang berbeda?! Kita sudah melewati jalan yang sama puluhan kali!"
Alih-alih menjawab, Cloud menghampiri buah emas di salah satu pohon.
Potato tersentak ketika melihat Cloud mau memetik buah itu. "Jangan!"
Terlambat, Cloud sudah telanjur memetiknya. Namun kali ini jalanan tidak berubah.
"Lihatlah. Buah ini masih ada," tukas Cloud.
"Apa maksudmu, Cloud?" tanya Milk, heran.
Splash yang dari tadi memperhatikan menyadari maksud Cloud. "Aku tahu! Itu buah yang sama seperti yang tadi aku petik!"
Cloud mengangguk. "Kalau kita memang kembali ke jalan yang sama, seharusnya buah ini tidak ada lagi. Ini membuktikan kalau sebenarnya kita berada di tempat yang berbeda. Labirin ini hanya membuat bagian-bagian hutan tampak serupa."
Milk tersenyum. "Tidak mengherankan kalau dunia menyebutmu sebagai manusia paling genius, Cloud."
"Hah! Lantas kalau kita sudah tahu ini tempat yang berbeda, apakah kita tahu jalan keluar? Tidak! Ini sama sekali tidak menjadi petunjuk!" Potato mencebik.
"Hei! Pakai otakmu! Dasar kentang!" hardik Splash, sudah tidak bisa menahan emosinya.
"Apa katamu?!" Potato melotot seraya menghampiri Splash.
"Sudah ..., sudah ...."
Milk dan Cloud melerai mereka.
"Setiap kita melewati pohon berbuah emas, kita petik satu buahnya dan ikatkan di batang yang lain. Dengan begitu kita bisa menandai jalanan yang kita lalui," terang Cloud.
Tampaknya tidak ada yang menyadari kalau Potato tersenyum tipis.
Kemudian mereka kembali berjalan sambil mengikuti instrjksi yang diberikan Cloud. Benar dugaan Cloud, cara itu berhasil membuat mereka bisa membedakan jalan. Setelah cukup jauh melangkah, akhirnya mereka tiba di dekat pintu keluar.
Akan tetapi, ketika jarak mereka makin dekat, tiba-tiba tanah berguncang keras, seperti terjadi gempa bumi. Tak lama kemudian muncul seekor cacing raksasa dari dalam tanah. Cacing itu memiliki pajang lima meter. Cacing itu memiliki wajah yang mengerikan. Matanya bulat, tanpa hidung, dan memiliki gigi-gigi runcing. Kulitnya yang tidak tertutup bulu, sedikit bersisik.
"Chime ...," gumam Potato sambil menatap tajam ke arah cacing raksasa.
"Chime?"
Potato mengangguk. "Ia adalah makhluk legendaris yang sangat mengerikan. Aku sudah beberapa kali melewati hutan ini, tapi tak sekali pun aku pernah melihatnya. Tampaknya hari ini kita sial."
"Kita?" Cloud tersungging. "Bukan kita yang sial. Tapi dialah yang sial!"
Bersamaan dengan itu, Cloud menembakkan energi cahaya ke arah Chime.
***