Badan Chime tersurut ke belakang, tetapi ia memutar badan dan menerjang Cloud dan kawan-kawan. Cloud dan kawan-kawan berkelit cepat, lantas merangsek ke arah Chime.
Potato melemparkan kapsul ke udara. "Chips!"
Boom!
Kapsul itu berubah menjadi sesosok android. Android itu berwarna kuning, badannya pipih—seperti keripik. Tangan dan kakinya tidak menyatu dengan badan, dan melayang-layang.
Bersamaan dengan itu Splash masuk ke dalam Orange. Orange menggelinding secepat kilat ke arah Chime. Sementara itu Cloud, Milk, dan Orreo menghambur dari tiga arah.
Chime segera memutar badannya seperti kincir, sehingga mementahkan semua serangan lawan-lawannya. Kemudian ia melemparkan badannya ke Orreo. Sayang, Orreo terlambat bergerak sehingga ia terhempas ke tanah dengan keras.
"Orreo!" Milk berteriak dan melesat menghampori Orreo.
Chime tidak mengendurkan serangan, dan kembali menyerang Orreo. Belum sempat serangannya mendera, Chips melemparkan ratusan chips dan mementalka serangan Chime.
"Kita serang sama-sama!" Potato berseru.
Orreo bangkit lantas menembakkan energi cahaya ke arah Chime. Bersamaan dengan itu Cloud, dan Milk pun menembak dengan cahayanya. Sementara Orange kembali menggelinding. Serangan serentak itu tidak dapat diantisipasi Chime ....
Boom!
Serangan itu menimbulkan ledakan dan membuat tanah tercerai-berai; pohon-pohon bertumbangan seperti alang-alang tanpa akar; seluruh hutan berguncang hebat; debu-debu berhamburan dan memenuhi udara.
"Yeah!" Splash berteriak girang.
"Jangan senang dulu." Potato mengingatkan seraya menatap bayangan Chime dari asap yang berangsur-angsur pudar.
Tiba-tiba Chime melesat, menembus asap tebal. Ia menerjang Cloud dan kawan-kawan. Untungnya mereka sempat berkelit sehingga serangan itu hanya mendera ruang hampa.
Cloud dan kawan-kawan terkejut. Ternyata Chime bukan sekadar selamat dari serangan mereka, bahkan terluka pun tidak.
"Bagaimana cara kita mengalahkannya?" tanya Milk yang mulai kehabisan akal.
"Semua serangan kita sama sekali tidak berarti. Profesor Reufille, bisakah kamu menggunakan serangan dari tangan kalengmu?" tanya Splash.
Cloud menggeleng. "Istirahat semalam tidak cukup memulihkan daya tangan kalengku. Ia membutuhkan energu yang sangat besar."
Tulisan di dalam kotak Orreo bergerak, "Bagaimana kalau kita serang bersama-sama dan pusatkan serangan di satu titik?"
Cloud dan kawan-kawan mencerna kata-kata Orreo selama beberapa saat.
"Bisa kita coba. Hanya itu yang belum kita lalukan," tukas Potato, setuju. "Ayo!"
Mereka menyerang serempak ke arah perut Chime. Meskipun Chime tidak sempat menghindar, serangan itu masih tetap tidak berarti bagi Chime. Bahkan Chime menyerang Cloud dan kawan-kawan dan membuat mereka terhempas ke tanah dengan keras. Cloud dan kawan-kawan segera bangkit.
"Masih gagal," ujar Milk.
"Tidak mungkin Chime tak memiliki kelemahan," timpal Potato.
Splash menyahut, "Kulitnya keras sekali, seperti baja."
Cloud mengamati Chime selama beberapa saat. "Ada satu bagian yang tidak terlindungi kulit."
"Maksudmu ...."
Cloud mengangguk. "Benar, Milk. Mulutnya yang tidak terlindungi kulit."
"Baiklah. Ayo, kita coba sekali lagi!"
Mereka kembali menerjang bersamaan. Energi-energi cahaya melesat cepat ke arah Chime.
Boom!
Serangan itu menimbulkan ledakan lebih dahsyat dan membuat tanah tercerai-berai; pohon-pohon bertumbangan seperti alang-alang tanpa akar; seluruh hutan berguncang hebat; debu-debu berhamburan dan memenuhi udara.
Tak lama kemudian Chime ambruk ke tanah dan tak lagi bergerak. Serangan mereka berhasil mengalahkan makhluk itu.
"Akhirnya kita berhasil mengalahkannya," ujar Splash menghela napas lega.
Potato mengangguk. "Sebaiknya kita segera meninggalkan hutan. Kita tidak pernah tahu jika tetap di sini akan ada masalah lain atau tidak."
Potato berjalan menuju ke luar hutan, diikuti Cloud dan kawan-kawan.
***
Sementara itu di Paris, tepatnya di markas pusat kepolisian Prancis. Kolonel Beef sedang berkumpul dengan pasukan elit yang akan berangkat ke Belgia.
Mereka duduk mengitari sebuah meja bundar, menanti Kolonel Beef membuka rapat tersebut. Mereka adalah Stick, Lolly, Tea, Cheese, Hot, dan Cornish. Keenam pasukan elit itu merupakan orang-orang yang memiliki prestasi luar biasa di kepolisian Prancis. Setiap orang itu didampingi android yang memiliki kemampuan fantastis dengan disematkannya teknologi terbaru.
"Selamat datang anggota pasukan elit. Kalian pasti tahu alasanku mengumpulkan kalian di sini." Kolonel Beef membuka pertemuan.
"Ya, aku sudah mendengar desas-desusnya, Kolonel Beef. Apakah benar kita akan berangkat ke Belgia untuk menangkap para buronan?" tanya Lolly.
"Ah, rupanya kabar itu telah tersebar. Benar sekali, Lolly. Tepatnya kita akan ke Kota Ath," jawab Kolonel Beef.
"Bagus! Aku sudah tidak sabar menghajar mereka! Berani-beraninya mereka menghabisi sahabatku Ice!" Tea tampak marah.
"Hah! Jangan membual, Tea! Ice saja tidak bisa mengalahkan mereka, apalagi kamu yang lemah!" cebik Hot, perempuan berambut merah.
"Apa katamu?!" Tea melotot menatap Hot.
"Aku katakan kamu le-mah," jawab Hot, sambil menatap Tea, dingin.
Cornish, pria berambut perak, terkekeh. "Kamu lucu sekali Hot! Kamu anggap Ice kuat?! Kamu benar-benar t***l! Aku! Ya, akulah yang paling kuat di antara anggota pasukan elit!"
Cheese tergelak. "Bujan! Bukan kamu Cornish! Tapi aku!"
Cornish berdiri seraya mengangkat tangannya. Perlahan-lahan menguar asap di tangannya. "Kamu mau mencobanya?"
Cheese menyeringai. "Siapa takut?!"
"Cukup!" tegas Kolonel Beef seraya menatap tajam ke arah Cornish, membuatnya kembali duduk. "Siapa pun bisa mengaku lebih kuat dibanding yang lain. Tapi tidak akan kubiarkan kalian berkelahi sendiri. Bagiku, yang dapat meringkus paling banyak buronan, dialah yang paling kuat di antara pasukan elit. Tentu saja bukan hanya itu. Hadiah dan kenaikan jabatan telah menanti bagi mereka yang berjasa."
"Hmm ..., menarik, Kolonel Beef. Aku pikir itu sangat adil. Akan kubuktikan akulah yang berhasil meringkus mereka!" tukas Hot, pongah. "Lalu kapan kita berangkat ke Kota Ath?"
"Malam ini kita ke sana dan berkumpul dengan pasukan elit Belgia untuk membicarakan strategi bersama mereka," jawab Kolonel Beef.
"Jadi kita akan bekerjasama dengan pasukan elit Belgia?" tanya Tea, tidak percaya dengan yang baru saja didengarnya.
"Benar. Kita harus bekerjasama dengan mereka. Bagaimanapun juga buronan itu bersembunyi di negara mereka." Kolonel Beef menjawab.
"Cih! Sebenarnya aku enggan bekerjasama dengan pasukan elit Belgia. Kita semua tahu kalau mereka lemah, 'kan?!" cibir Hot.
"Ya, kali ini aku setuju denganmu Hot. Para pasukan elit Belgia cuma akan menyusahkan kita saja," sahut Cornish.
Cheese pun berkomentar, "Benar. Kalau memang mereka kuat, sehafusnya mereka masuk ke dalam sepuluh besar kepolisian terbaik di seluruh dunia. Nyatanya? Hah! Mereka hanya sanggup berada di peringkat sebelas!"
"Kalian jangan meremehkan pasukan elit Belgia," tukas Kolonel Beef.
"Tidak, Kolonel Beef. Kami bukan meremehkan. Tapi nyatanya memang seperti itu," celetuk Tea.
Kolonel Beef tersenyum. "Berarti kalian belum tahu soal seorang genius yang berada di antara pasukan elit Belgia."
"Seorang genius? Siapa yang Kolonel maksudkan?" tanya Hot penasaran.
"Seorang perempuan bernama Bubble," jawab Kolonel Beef.
***