Bab 70 - Perkara Hadiah

1381 Words
Meski Diego sudah berada di dekat Anyelir bahkan duduk berhadapan saling memandang satu sama lain, kendati keduanya berbeda arah tujuan. Diego dengan kerinduannya terpaku lekat seolah baru pertama kali melihat kecantikan yang tak sedikitpun pudar dari Anyelir. Sementara yang ditatap malah termutung, memikirkan ucapan Bella yang memberi izin untuk mengorek masa lalu Janu. Tapi apa itu boleh? Janu tidak akan marah? Tapi untuk apa marah? Toh yang dipertanyakan Anyelir hanya yang berkaitan dengan Bella juga masa lalunya. Lagipula apa yang disembunyikan? Mungkinkah dulu mereka berpacaran? Terlalu banyak hal yang disembunyikan Janu, bahkan untuk sesuatu yang kecil sekalipun Janu selalu menutupi semua dari Anyelir hanya karena ingin memberikan kesan bahagia selalu pada Anyelir. Barangkali memang Janu selalu memberikan yang terbaik untuk pasangannya agar selalu nyaman berada di dekat Janu, tapi? yang terjadi justru sebaliknya. Siapa yang nyaman hari-harinya selalu dibohongi? yang lebih menyakitkan setiap fakta atau kejadian yang terungkap selalu orang lain terlebih dahulu yang memberitahu. Bukan Janu. Apa yang selalu dikatakan Janu? Nanti ada waktunya? Nanti ada saatnya? Janu pikir Anyelir akan sanggup berada di dunia yang menyesakkan dengan kebohongan Janu yang selalu menutup diri? Entahlah yang Anyelir rasakan sekarang hubungnnya benar-benar tidak sehat seperti dulu, Anyelir dan Janu bahkan jarang sekali menghabiskan waktu berdua untuk memupuk rindu. Menyejukkan hati atau membuat ukiran senyum, semua seperti terlihat munafik sekarang. Dari raut wajah Bella tadi, Anyelir dapat menangkap jelas bahwa gadis itu sangat ingin memancing Anyelir untuk mau menelisik masa lalu Janu. Bukan Anyelir tak ingin, ia mau. Bahkan mungkin jika waktunya tepat ia segera mencari tahu sendiri, daripada satu-persatu masa lalu dan hal yang Janu tutupi dibeberkan oleh orang lain. Menurutnya lebih menyakitkan daripada mencari tahu sendiri. Memang benar, masa lalu Janu adalah privasi, tapi apa yang harus Anyelir lakukan agar hal itu tidak menggangu hubungannya sekarang selain mencari tahu? Kata orang mencegah lebih baik daripada mengobati, bukan? Hanya saja untuk saat ini, keberadaan dan janjinya dengan Diego lebih utama. "Hei ... lo lagi mikirin apa, sih?" Senyum Diego yang masih manis semanis gula aren begitu lekat dengan bibir tipisnya. Anyelir sempat terperanjat, lantas menoleh kikuk ke arah Diego. "Hah? enggak ... cuman kebayang masa-masa syuting dulu." "Bareng gue? kangen lo?!" ledek Diego. Selain petakilan dan dermawan, Diego mmepunyai hobi baru untuk meledek Anyelir. Sudah hampir dua bulan Diego tidak bertemu dengan Anyelir, sebetulnya ia tahu launching produk terbaru kemarin yang sempat menghebohkan penjuru negeri. Bahkan Diego, yang pada saat itu berada di Papua untuk acara survival saja sampai tahu. "Kangen sama Kak Diego? ih ... enak aja! mimpi!" "Tuh liat." Diego entah menunjuk siapa, hanya tersenyum penuh arti. "Mata lo kelihatan kangen." "Iya deh, kangen!" Anyelir sempat celingak-celinguk memerhatikan sekitar. "Janu nggak ada, 'kan?" "Ha ... ha ... ha ha!" Diego memang dasar malah menertawakan, padahal Anyelir justru takut kalau Janu mendengar ia berucap merindukan Diego yang notabene laki-laki. Meski kepergian Anyelir atas seizin Janu juga ia yang mengantar langsung, tetap saja Janu si pemarah ulung dan cemburuan pasti akan mengamuk kalo mendengar kata barusan. Di siang yang cerah ini, angin berembus dari Selatan membawa semilir musim panas yang terasa hangat, Diego sengaja menyempatkan waktu hanya untuk mengucapkan selamat pada Anyelir. Sebab ia harus terbang kembali menuju Maladewa untuk acara petualangannya. Diego beralih dari aktor action menjadi pemandu acara survival, tapi mungkin memang itu yang membuatnya nyaman. Katanya acara hiburan ini terbilang santai, tanpa banyak aturan. Entahlah atas rasa apa yang menariknya sampai duduk berhadapan dengan Anyelir. Dibilang Diego suka, lagipula siapa yang tidak suka gadis cantik nan baik hati seperti itu? Dianggap sebagai adik sendiri, mungkin itu adalah hal yang lumayan baginya, tapi bisa jadi bagi orang lain tidak rasional. Sejujurnya, jauh dalam lubuk hati Diego rasa ingin memiliki seutuhnya memang ada. Tapi Diego sadar siapa dirinya, dan siapa Anyelir juga Janu. Sudahlah, lagipula siapapun yang menjaga Anyelir, asal dia bahagia Diego sudah pasti mendukung. Untuk saat ini ia hanya ingin menikmati hidup dengan pergi dari satu hutan ke hutan lainnya. Berpetualang adalah hobi sejak lama, dan baru kali ini terealisasikan tanpa rumit karena ia sebagai pemadu acara hanya tahu berpetualang dengan berbekal kamera. Diego mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah jambu berhias pita lantas diberikan pada Anyelir. "Buat lo." "Waa ... Apa ini?" "Nanti aja bukanya di rumah." "Eh ... gue juga punya, Kak." Sekarang giliran Anyelir, hasil kerja kerasnya setelah membujuk CEO shampo bisa terlihat oleh Diego. Lelaki itu dengan penuh semangat membuka paper bag yang di bawa Anyelir, sebuah piringan hitam salah satu grup ternama era 90-an tercantum di sana. Grup 'Queens'. Diego dengan tangan gemetar sangking senangnya tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya bisa melongo tak percaya sembari senyam-senyum sendiri. "Ini beneran?!" "Itu tiruan!" "Masa, sih?!" Dari setiap sudut, dari setiap angle Diego memerhatikan tidak ada satupun hal yang menandakan CD ini benar-benar tiruan. "Asli kok!" "THANK YOU!" teriak Diego histeris. "Kok lo bisa sih dapet piringan hitam yang langkanya minta ampun kayak gini?!" "Gue kenal sama seseorang yang mengoleksi juga," "Dia punya banyak?!" "Iyah, memang satu kelurga nge-fans!" Piringan hitam yang diberikan Diego kini di kesampingkan, berbincang dengan Anyelir sebetulnya lebih ia rindukan. Lelaki itu masih memasang wajah senyum merekahnya. "Eh ... lo nggak lagi balas budi, 'kan!?" "Balas Budi apa?" "Hadiah yang gue titip ke Janu itu loh, yang lo dapet penghargaan luar negeri." Anyelir terdiam seketika, hadiah yang dititipkan pada Janu? Dari Diego? Demi apapun ia tidak pernah menerima sama sekali, entah itu barang dari luar negeri, atau pemberian? Sungguh kali ini Anyelir tidak lupa, tapi memang ia sama sekali tidak tahu-menahu soal Diego yang memberi hadiah pada Anyelir melalui Janu. Janu berbohong lagi. "Ha—hadiah?" "Iya ... yang kita selesai acara award." Hadiah? Dari Diego? Di kemanakan? "Kenapa nggak langsung kasih ke gue?" Anyelir kebingungan sendiri sekarang, bagaimana bisa Janu melakukan hal itu? Menyembunyikan pemberian dari Diego? Memang benar Janu adalah tipikal orang yang mudah cemburu, tapi kenapa harus sampai titik ini? "Loh, kenapa? kalian 'kan pacaran, hadiahnya udah … lo terima, 'kan?" Diego mengerutkan dahi dengan reaksi Anyelir yang menurutnya aneh. Mana mungkin Anyelir lupa dengan hal yang paling ia suka menjadi kado istimewa sebagai tanda selamat saat memenangkan penghargaan internasional. "Ah?" Anyelir baru sadar, kalau ia terus mengungkit mungkin Diego akan curiga kalau hadiah itu memang belum sampai pada tangan Anyelir. Tidak mungkin juga ia berkata jujur, memang Janu yang salah, tapi hati kecil Anyelir berteriak untuk melindungi Janu. "Udah kok … udah lama banget—makanya lupa!" "Berarti sekarang udah berbunga?" Anyelir semakin melotot mendengar pertanyaan dari Diego, sungguh ia tidak bisa membayangkan apa yang Diego beri dari hadiah itu. Kenapa Diego mempertanyakan soal bunga? Akan menjadi boomerang yang mematikan jika Diego curiga, sejak awak lelaki itu terlihat kurang akur dengan Janu. Tapi bagaimana? Untuk sekedar tahu bahwa Diego memberi hadiah saja tidak, apalagi mengetahui isi dari hadiah itu. "Hah … u—udah kok udah!" terpaksa Anyelir hanya bisa mengalun senyum kikuk. " Bunganya warna apa? oranye? merah? putih? biru? atau merah muda?" Diego nampak antusias dengan perbincangan ini, sementara Anyelir tentu saja tidak paham. Bunga apa yang memiliki warna seperti itu? Anyelir saja kurang mengerti soal dunia tanaman hias selain kaktus, mengapa Diego memberinya bunga? "Ah … biru … biru!" jawab Anyelir asal. "Benarkah? Tapi bunga kaktus paskah tidak ada yang berwarna biru." Kaktus paskah? Hadiah Diego adalah kaktus? Ternyata benar dugaan Diego, Anyelir tidak menerima hadiah darinya. Tangan Diego terkepal sebab tahu rupanya Janu memang salah satu lelaki yang memiliki karakter cemburu ulung, segitunya? Padahal niat Diego baik. Diego sadar Anyelir memiliki pasangan, tidak etis rasanya memberi hadiah pada pacar orang lain. Tapi apa salahnya memberi hadiah biasa saat acara award? lagipula film yang Diego mainkan tidak akan sukses tanpa adanya Anyelir. Sebagai rekan kerja satu tim, berjibaku bersama selama berbulan-bulan lamanya tentu Diego ingin sekali memberinya hadiah selain ucapan terimakasih dan selamat. Tangan Anyelir gemetar marah, Janu benar-benar keterlaluan. Dari raut wajah Diego jelas lelaki itu curiga dengan maksud Anyelir, bagaimana bisa ia baru menyadari bahwa yang dimaksud Diego adalah sebuah kaktus yang berbunga? Diego tahu apa yang Anyelir suka, nampak jelas ada ketulusan yang nyaris tertutupi dengan rasa kecewa. "Ah … sorry, kayaknya gue sedikit lupa … karena kaktus di rumah banyak banget! Nanti gue ajak selfie, ya kalo beneran udah berbunga!" Diego tersenyum. "Nggak apa-apa, nanti gue kasih yang baru." Yang langsung gue kasih ke lo. Bukan manusia gila seperti Janu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD