Kabut yang sudah mulai memudar memunculkan sinar mentari pagi yang menghangatkan pedesaan asri, Janu membuka jendelanya agar udara masuk membuatnya segar. Ia penasaran dengan kondisi Anyelir, apakah gadis itu sudah bangun?
Sedikit-banyak dan secara diam-diam Janu mengamati kebiasaan Anyelir di pagi hari, terbangun dengan cantik tak memudarkan aura kejelitaannya. Siapapun yang melihat wajah gadis itu usai membuka mata seolah tersihir dengan riasan alami, mencari udara segar lantas menyesap secangkir kopi. Anyelir penyuka kafein rupanya.
Namun terkadang, gadis itu terlewat nyenyak. Tertidur seperti simulasi hibernasi, benar-benar sulit dibangunkan. Batari pernah bercerita bahwa sepanjang kariernya ia tak pernah bangun pagi dengan sengaja, jam di kamarnya hanya dianggap berfungsi dari pukul sepuluh pagi ke atas.
Tapi di Kalimantan ini, entah mengapa gadis itu selalu terbangun lebih awal, menikmati suasana hutan yang khas dengan oksigen murni tanpa tercemar polusi. Begitupun dengan Janu yang terkadang hanya mengamati Anyelir dari pintu penginapan, tersenyum tidak mau mengindahkan pandang tanpa merasa puas. Seolah ada magnet yang menarik Janu untuk memfokuskan diri pada Anyelir, Janu pun bingung.
Demi menghilangkan rasa penasaran, Janu membuka pintu ruangannya. Senyum yang semula terukir manis tiba-tiba pudar, mendapati ruangan di hadapannya kosong tak berpenghuni. Tiba-tiba saja perasan takut menyelinap seolah Anyelir benar-benar meninggalkan Janu sendirian dan kembali ke penginapan.
Janu yang panik lantas mengaburkan diri ke arah pintu masuk, perasaannya campur aduk, antara lega karena Anyelir kembali ke penginapan artinya gadis itu bisa berisitirahat usai mengurusi segala kebutuhan Janu. Tapi rasa sesak berbau kesedihan tak kalah mendominasi, karena Janu harus sendirian di tempat asing ini tanpa ada yang peduli untuk menemaninya.
"Pak Janu?" Asisten Ricky yang tampak tengah mengelap kaca mengerutkan dahi ke arahnya. "Ada apa, Pak?"
"Kenapa kalian tidak membangunkan saya?!" Tersirat nada amarah yang berusaha di tahan dari dalam sana, tidak mungkin juga pagi-pagi buta Janu sudah meledak dengan segala keresahan yang hinggap di batinnya, bisa terkejut anak orang.
"Me—membangunkan, Bapak?" Asisten yang mengenakan pakaian santai itu tersenyum canggung. "Tidak mungkin saya bangunkan pasien yang sakit, Pak," ucapnya ramah.
"Saya nggak peduli! Berta Bee pulang ke penginapan setidaknya harus pamitan dulu sama saya! Kalian keterlaluan tidak membangunkan saya terlebih dahulu!"
Asisten Ricky yang berusia masih di angka dua puluh dengan alis tebal dan kulit sawo matang itu semakin mengerutkan dahi, bingung bercampur tegang bila pasien dihadapannya tiba-tiba menaikan tensi darah oleh rasa kesal.
"Tapi, Pak ... Say—"
"Saya mau ke penginapan sekarang!"
"Pak ... Tapi Dokter Ricky pasti ti—"
"Pokoknya hantarkan saya sekarang!" Bentak Janu yang lagi-lagi memotong pembicaraan asisten Ricky tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.
Mana sempat, otaknya sudah berputar untuk segera menemui Anyelir. Bertanya kenapa dia menghindar, memperjelas sesuatu yang harus dijelaskan, bila perlu Janu mengalun maaf. Tapi memangnya bisa? Kali pertama ia menyebutkan kata itu di hadapan Anyelir saat malam di mana ia terluka, itupun Janu sentegah sadar dan sepertinya mengigau.
"AYO! TUNGGU APA LAGI?!"
Janu yang terus mendesak membuat asisten itu bertambah bingung, ingin berucap tapi melihat mata Janu yang melotot dengan otot-otot yang mencuat saja membuat nyalinya menciut.
Melihat asisten itu hanya diam menelan salivanya berat, membisu tanpa berekspresi Janu bertambah geram. "HEI!"
"Nona Berta Bee tidak kembali ke penginapan." Ada suara khas yang muncul dari arah luar, membuat si asisten berambut ikal itu menghela napas lega.
Ricky yang baru tiba mengerutkan alisnya penasaran. "Pagi-pagi begini, Pak Janu kenapa?"
"A—apa maksudnya ... Ber—berta Bee tidak ... tidak kembali ke penginapan?!"
"Siapa yang kembali ke penginapan?"
"Lantas di—dia?" Telunjuk Janu mengarah pada pintu ruangan milik asisten Ricky yang dipergunakan Anyelir istirahat terbuka setengah, namun di dalamnya tidak ada siapa-siapa.
"Berta Bee dengan managernya diajak Raude pergi ke pasar dengan warga lain," ucap Ricky informatif.
"Berta Bee? Ke pasar?!"
"Iya."
Ini aneh, Janu terdiam sejenak mencerna kalimat Ricky. Seorang Berta Bee yang hidup bergelimang harta, memiliki segudang asisten rumah tangga, bahkan mempunyai koki pribadi pergi ke pasar? Oh, Janu kebingungan setengah mati. Di mana para wartawan? Bukankah ini suatu berita yang besar dan langka? Kalimantan memang berhasil menyulap gadis itu menjadi berbeda.
"Pak Janu?" Ricky yang heran sebab Janu melamun dengan tatapan kosong berhasil membuyarkan imajinasinya.
"Pak Janu baik-baik saj—"
"Di mana pasarnya?!" Potong Janu tidak sabar.
"Pa—pasarnya ... Pasarnya ada di timur desa,"
"Boleh saya ke sana?!"
Melihat reaksi Ricky yang nampak ragu, dengan tiba-tiba Janu memasang wajah memelas. Catat, kali pertama ia melakukan hal demikian demi pergi ke pasar menemui Anyelir. Asisten Ricky yang tak tega menepuk pundak si dokter tampan itu, dengan berat hati Ricky mengangguk.
"Tapi di temani Aroem, asisten saya," perintahnya.
"Tidak jadi masalah, asal saya dapat bertemu dengannya."
**
Sementara di bagian timur desa, suasana pasar yang ramai juga sinar mentari yang mulai menjuntai membuat seorang aktris papan atas yang dikenal akan kemewahannya itu kelimpungan. Anyelir tidak terbiasa dengan situasi seperti ini, tapi ia tak mungkin menolak ajakan Batari yang memaksa untuk pergi ke pasar guna menghilangkan penat, katanya.
Faktanya, pergi ke pasar di pagi hari belanja sayuran serta kebutuhan pokok bukan tujuan menghilangkan penat. Yang ada bertambah lelah, dari deretan wadah kayu dibentuk kotak menyajikan sayuran, rempah-rempah, ayam atau ikan segar berdiri warga desa yang tengah tawar-menawar. Di atasnya terpal membentang diikat tali rafia pelindung panasnya sang surya.
Ada yang berbeda dengan pasar di tempat ini, terasa panas padahal jam belum menunjukkan pukul sembilan. Kata Raude, tidak jauh dari area pasar berdiri pertambangan batubara yang sudah dikelola hampir tiga tahun lamanya. Ekosistem di sekitar sedikit berubah, berbeda dengan tempat Anyelir melaksanakan syuting yang rimbun pepohonan, di sini nampak kering juga tidak segar. Wajar bila saat ini Anyelir kepanasan.
"Kakak artis?" panggil Raude, bocah putus sekolah yang turut membantu ibunya berladang itu mengamati ekspresi tidak nyaman Anyelir sejak tadi.
"Hmm? Kakak? Bukannya kamu panggil saya Ibu, kemarin?" Anyelir terheran sembari menghapus jejak keringat di dahinya.
"Terlalu tua, Kakak lebih cantik kalo di siang hari. Terlihat macam anak SMP!"
Terkekeh Anyelir, mendapat gombalan receh dari bocah belasan tahun. "Udah bisa gombal, ya?"
Mereka tertawa di bawah gubuk rotan tempat mangkal ojek, menunggu Bu Suri—ibu Raude yang ditugaskan untuk belanja di pasar. Kata Ricky, malam nanti para warga berniat menyiapkan masakan semacam pesta kecil-kecilan untuk hari terakhir Anyelir dan Janu di pusat kesehatan sebelum kembali pada rutinitas awal.
Karena alasan itulah Batari ngotot mengajak Anyelir ikut ke pasar, berdalih tidak enak. Padahal gadis itu sepertinya menikmati suasana pasar, lihat saja sekarang ia tengah asik bercanda dengan penjual ikan, entahlah Anyelir heran dengan gadis itu.
Ibu Suri yang baru tiba menenteng cabai tiba-tiba menepuk jidatnya sendiri. "Astaga ... pikun sekali aku ini!" Sekantong rempah-rempah diberikan pada Raude untuk dikumpulkan.
"Kenapa, Bu?"
"Wortel! Lupa aku beli!" Ibu dua anak yang bekerja sebagai buruh ladang itu lantas berbalik. "Tunggu sebentar lagi, ya! Beli wortel dulu!"
"Bu Suri!" Panggilan Anyelir menghentikan langkahnya. "Biar saya saja yang beli," pintanya tulus.
"Ah! Tidak usah! Nona artis tunggu saja di sini, ya? Ke pasar sana becek, juga panas!"
"Tidak apa-apa, Bu." Anyelir mengukir senyum. "Bu Suri pasti lelah, beristirahatlah."
"Nona artis itu 'kan tam—"
"Jangan menolak permintaan saya ... Saya mohon, Bu. Lagipula hanya beli wortel saja, bukan berladang wortel, 'kan?" Anyelir memelas seolah mengharapkan hal untuk diberikan, padahal ia hanya sekadar menawarkan bantuan.
"Baiklah, kalo begitu ... Raude temani Non—"
"Tidak usah!" Anyelir menjulurkan kedua telapak tangannya, bingung dia. Hanya menawarkan untuk membeli wortel kenapa sesulit ini? Padahal jaraknya paling hanya sepuluh langkah, kenapa harus ditemani Raude juga?
Jujur, Anyelir sejak tadi menjadi pusat perhatian sebab parasnya yang rupawan dengan kulit sebening kristal itu memancarkan aura kecantikan yang luar biasa. Orang akan terpana hanya karena melihatnya berjalan saja, disorot oleh sinar sang surya berwarna keemasan memberikannya nampak berkilau. Itulah alasan mengapa Bu Suri benar-benar menyuruh Raude untuk menjaga Anyelir dengan sangat ketat, takut digoda para preman hidung belang katanya.
Tiba di kedai sayuran, seorang pria berkumis tebal membuka setengah mulutnya. Bahkan matanya tidak berkedip barang sedetik saja, ia mengikuti arah gerak Anyelir yang tengah melihat-lihat wortel.
Anyelir yang baru menyadari lantas mendongak. Melambai-lambaikan tangan tepat di wajah pria tadi untuk menyadarkan.
"Pak? Wortel ... Pak?"
"HAH! APA?!"
"Kaget!" Anyelir tersentak seraya mengernyit.
Pria tadi mengedip-ngedipkan mata untuk menetralisir lamunan yang menbuat arah pandangnya fokus pada satu titik, yaitu Anyelir. Seolah ada sihir yang berlaku membuatnya begitu tergoda.
"Sa—saya ... Saya cuman mau beli wortel." Gelagapan bercampur risih Anyelir ditatap demikian, matanya berkedip-kedip tak nyaman seraya merunduk mengamati wortel-wortel segar.
"Cantik banget,"
"Hah?" Tersenyum kikuk Anyelir.
"Cantik banget kayak pemain film ... Apa itu? Lov ... Lov ... Dipe ... apa itu, yang syuting sama bule!"
"Love different talk?" Tanya Anyelir memperjelas.
"Iya itu! Mirip! Mukanya kayak Berta Bee pemain film itu!"
Ini emang saya kali, Pak.
Tenang saja, Anyelir hanya berani berucap dalam hati. Bagus bila para pedagang serta pembeli yang ada di pasar ini hanya mengira ia mirip dengan Berta Bee, padahal jelas itu dirinya yang asli.
Anyelir jadi senang sendiri, rupanya film yang dia mainkan bisa seterkenal ini sampai ke pelosok Kalimantan. Ia tak akan melupakan kota Borneo yang menyimpan sejuta keunikan, kisah yang terukir lebih rumit daripada film yang ia buat. Tapi justru ada kelebihan tersendiri yang membuatnya perlahan nyaman tinggal di sini.
"Ini ... tiga kilo, 'kan?" Pedagang sayuran itu menyodorkan keresek yang berisikan wortel habis ditimbang.
Baru saja gadis itu hendak mengeluarkan uang untuk melakukan transaksi, seorang wanita muda kira-kira usia tiga puluhan tengah mengandung muncul dari arah belakang.
"Berta Bee, 'kan?!" Teriaknya agak histeris.
"A—ah?" Bingung Anyelir, ternyata ada yang mengenalinya?
"Heh! Bukan!" Pria penjual wortel itu menyelamatkan Anyelir. "Dia cuman mirip, bukan Berta Bee! Mana mungkin Berta Bee ada di desa kita, dia pasti tinggal di itu ... Los .. Los ... Anjules!"
Los Angeles, batin Anyelir.
"Masa, sih?" Wajah Anyelir yang cantik walau tanpa make up tiba-tiba dipegang kuat-kuat oleh kedua tangannya, pipinya dihapit sampai-sampai mulutnya manyun. Lantas di gerakkan ke kanan dan ke kiri untuk memastikan.
"Bener ini ... Berta Bee ... Liat cantik banget!"
Anyelir yang merasakan sensasi nyeri di rahangnya hanya bisa menghela napas masih tersenyum canggung.
"Bu—bukan ... Saya hanya mirip aja,"
"Masa ada makhluk Tuhan semirip ini. Tuhan menciptakan manusia dengan perbedaan!" Wanita tadi selalu berbicara keras, membuat Anyelir bingung harus berbuat apa.
"I—iya tapi ... saya ... say—"
"Bisa tolong elus perut saya?" Potongnya cepat.
"A—ah?" Melotot Anyelir, menatap lekat ke arah perut wanita muda yang nampak cantik dengan rambut diikat satu. Perut yang membuncit itu membuat Anyelir ngeri, membayangkan bagaimana jadinya jika ia ada diposisi seperti itu, pasti berat.
Tanpa meminta persetujuan, wanita itu menarik lengan Anyelir, lalu menempelkan tangan di perut buncit yang begitu ajaib bisa dengan aman tersimpan bayi di dalamnya. Tuhan memang luar biasa.
"Anak saya perempuan, siapa tahu kalo dielus Berta Bee bisa sama-sama cantik." Senyum wanita tadi nampak sumringah juga bahagia, membuat Anyelir perlahan meredupkan rasa canggungnya.
"Tapi saya—"
"Iya, kalo pun kamu bukan Berta Bee ... yang penting 'kan cantik!"
"Cantik itu nggak harus dari fisik, tapi ... kecantikan paling utama terkadang muncul dari hati." Tanpa sadar Anyelir mengukir senyum seraya mengelus lembut perut wanita hamil itu.
"Sama seperti kamu ... cantik luar dalam," ucapan itu sukses membuat Anyelir terdiam.
Si artis yang tengah kebingungan itu mendongak. "Ah? Saya?"
"Berta Bee ... dari pertama saya mengenal artis di hadapan saya ... saya tahu hati kamu begitu cantik. Saya tidak suka gosip sebelum saya tahu faktanya seperti apa, setelah saya tahu ... Saya semakin yakin bahwa kamu memang orang yang sangat baik, lihat saja sekarang."
"Tapi saya ...."
"Terimakasih sudah mau berkenalan dengan Anyelir." Wanita itu mengukir senyum indahnya.
"Ah? Anyelir?"
"Iya, saya berencana memberi nama anak ini Anyelir agar seberuntung kamu,"
"Ibu ... tahu nama?"
"Semuanya saya tahu tentang kamu, jadi jangan berpura-pura di depan saya, ya!" Wanita tadi mendekat ke arah Anyelir, mulutnya hampir bertegur sapa dengan telinga si artis itu. "Saya nggak akan kasih tahu penduduk di sini kok kalo kamu Berta Bee yang asli."
"TERIMAKASIH, YA, BERTA BEE KW!" Teriak wanita itu tiba-tiba.
Lantas dengan santainya ia pergi meninggalkan Anyelir yang masih mematung, Anyelir terdiam membisu. Tangan kanan yang dipakai untuk mengusap perut berisikan makhluk hidup itu ditatapnya nanar. Mengapa ibu itu ingin memberikan nama yang sama? Biar beruntung katanya?
"Perlu ibu tahu ... gadis yang diberi nama Anyelir ini hidup penuh dengan kesialan dan menyedihkan," gumam Anyelir pelan entah pada siapa.