Sampai hari dimana Wendy harus memberikan laporan pada Millian, Wendy benar-benar tidak menemukan lagi perancang baru untuk parfume yang telah ia desain. Rasanya benar-benar gila. Bahkan teman satu team nya tidak banyak membantu, karena selama ini memang kesalahannya yang keras kepala menginginkan perancang parfume itu. Ia tidak mendengarkan mereka yang telah melarangnya berulang kali.
“Wendy, sebaiknya katakan saja pada Mr. Wesley secara pribadi. Daripada kau dipermalukan ditengah rapat. Katakan besok pagi begitu dia tiba. Siapa tau dia berbaik hati dan mau membatalkan rapat itu?”
Itu saran salah satu rekan satu teamnya.
Memang, tidak ada lagi cara selain berbicara secara pribad. Itupun jika ia tidak ingin dipermalukan didepan umum. Lagipula kemarin Millian tampak baik bukan? Tidak seburuk kelihatannya. Bisa saja Millian memberinya sedikit kelonggaran dan memaklumi pembatalan itu, karena pembatalan itu pembatalan secara sepihak yang bukan sepenuhnya sesalahannya. Ya—begitu. Setidaknya itu yang Wendy pikirkan.
Sehingga disinilah Wendy sekarang, menunggu Millian di depan ruangan milik lelaki itu dengan membawa sebuah kotak makanan ditangannya. Menunggu Millian dengan perasaan gugup dan juga takut. Bagaimana jika respon Millian tidak sesuai dengan harapannya?
“Ms. Camella, sedang apa kau disini?”
Itu Carlos, lelaki itu datang sendirian. Dia berjalan dengan langkah tegas dan wajah yang begitu dingin. “Ada yang bisaku bantu?”
“Mr. Peter, aku ingin menemui Mr. Wesley secara pribadi.”
Carlos menaikkan satu alisnya, menatap sangsi pada perempuan dihadapannya ini. “Kau bisa sampaikan padaku, aku akan menyampaikannya langsung nanti saat dia datang.”
“Tidak bisa.” Wendy membasahi bibirnya, gugup. “Aku harus menemuinya sendiri.”
Carlos masih menatap Wendy dengan curiga, tapi kemudian ia mengangguk kecil. “Baiklah, sebaiknya kau duduk dulu. Mr. Wesley mungkin akan sampai beberapa menit lagi.” Carlos menunjuk sebuah kursi tak jauh dari meja kerja lelaki itu.
Wendy menarik nafas panjang kemudian mendudukkan tubuhnya dengan sesekali menatap kearah lift. Detik demi detik terasa sangat mendebarkan, bahkan lebih mendebarkan dari saat pertamakali lelaki itu menginjakkan kaki diperusahaan ini. Wendy menunduk seraya menggigit-gigit bibirnya pelan, mencoba mengurangi rasa gugup yang semakin melandanya.
Ting!
Dentingan lift itu terasa begitu nyaring ditelinga Wendy, tubuhnya seketika menagang, ia bahkan menahan nafasnya saat pintu itu terbuka dan Millian benar-benar keluar dari dalam lift tersebut.
“Selamat pagi Mr. Wesley.” Itu sapaan Carlos, sementara Wendy ia hanya membungkuk sesaat dengan kakunya, tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Ms. Camella? Bukankah rapatnya akan dilaksanakan jam sepuluh nanti?”
Wendy meneguk ludahnya kasar, lalu membasahi bibirnya lagi. “Benar, tapi ada yang harus disampaikan terlebih dulu padamu Mr. Wesley. Bisakah kita berbicara, empat mata?”
Millian menarik ujung bibirnya sekilas, kemudian beranjak memasuki ruangannya setelah mengajak Wendy untuk mengikutinya.
Wendy membungkuk sesaat pada Carlos kemudian memasuki ruangan itu. Wendy menghentikan langkahnya tepat dihadapan Millian yang kini tengah berdiri dengan bersandar pada meja kerjanya. Tangannya menyilang didada, sementara pandangan matanya menatap Wendy dengan tatapan penuh selidik.
Wendy meneguk ludahnya lagi dan membasahi bibirnya lagi entah untuk keberaapa kalinya. Jujur saja, ia sangat amat gugup apalagi setelah berhadapan dengan Millian seperti ini. padahal Millian hanya diam, tapi entah mengapa sekujur tubuhnya serasa mengigil.
“Mr. Wesley, ini.” Wendy mengulurkan kotak bekal ditangannya pada Millian. “Aku sengaja membuatkan ini untukmu.”
“Sebagai Ms. Camella atau Wendy?”
“Hng?”
Millian terkekeh pelan. “Kau bisa memanggilku Millian jika datang sebagai Wendy.”
“Mr. Wesley—aku.”
Millian menyeringai kemudian maju dua langkah mendekati Wendy. “Ah, baiklah. Ms. Camella. Apa maksudmu memberikan ini? Aku. Tidak sembarangan menerima hadiah.”
Wendy kembali membasahi bibirnya yang mendadak terus mengering, ia kehilangan kata-kata untuk membalas ucapan lelaki muda itu. Ia meneguk ludahnya kasar, lagi.
“Mr. Camella, jam kerja akan segera dimulai. Silahkan kembali keruanganmu.”
“Millian, ini—aku memberikan ini sebagai ucapan terimakasihku untuk kejadian tempo hari.” kali ini Wendy menggigit-gigit bibirnya dengan perasaan yang semakin gugup, apalagi saat Millian semakin mendekatinya. Menyudutkannya terus menerus hingga kaki Wendy terantuk kursi.
“Kau sengaja menggodaku Wendy?”
“A—apa maksudmu?”
Seringaian itu muncul kembali, kali ini bahkan tangan Millian berusaha meraih dagunya. Membuat Wendy memundurkan wajah dengan gerakan cepat.
Millian terkekeh pelan seraya memundurkan wajahnya, kali ini ia meraih kotak makan itu lalu mundur satu langkah. “Aku terima, aku akan memakannya nanti saat makan siang.”
Wendy menganggukkan kepalanya samar. Ia membasahi bibirnya entah untuk keberapa kalinya saat melihat punggung Millian yang menjauh. Haruskah ia mengatakannya sekarang? Tentang project yang gagal itu?
“Millian, aku—aku tidak bisa melakukan presentasi hari ini. aku rasa project parfume juga akan gagal. Perancang parfume yang sudah tanda tangan kontrak denganku tiba-tiba menghilang dengan pembatalan sepihak. Aku sudah berusaha mencari perancang lain sejak sejak hari pembatalan sampai pagi ini. tapi tidak ada satupun yang berhasil dan tidak ada yang sesuai dengan rancangan yang aku inginkan.” Wendy menarik nafas panjang sebelum akhirnya menatap Millian yang menatapnya dalam diam. “Maka dari itu, aku meminta kerjasamanya. Aku meminta keringanan. Aku berjanji akan segera mengajukan project lain yang lebih hebat dari ini.”
Wendy mematung saat tidak mendapati reaksi yang berarti dari Millian. Lelaki itu hanya diam, menatapnya datar dan dingin. Ia bahkan dapat merasakan bulu kuduknya seketika merinding saat bertatapan dengan mata setajam elang milik Millian itu.
Wendy menunduk dengan mengigit bibirnya lagi. Merutuki kebodohan yang selama ini ia perbuat. Tubuh Wendy semakin menegang, kala suara gesekan sepatu Millian dengan lantai marmer terdengar begitu menginvasi, terdengar sangat mengancam.
Sebuah tangan menyentuh dagu Wendy, memaksanya mengangkat wajah sehingga kini ia dapat melihat mata tajam itu lagi.
“Mr. Wesley—aku sungguh meminta maaf. Ini murni kesalahanku, bukan kesalahan team. Aku yang bersikeras dengan perancang itu, team-ku sudah memperingatiku tapi aku masih tetap dengan pendirianku dan berakhir seperti ini. jika—kau akan mencari pihak paling bersalah, maka aku yang paling bersalah. Aku sungguh meminta maaf Mr. Wesley. Ini kesalahanku. Jangan libatkan team-ku. Aku mohon—ijinkan aku mengajukan project lain.”
“Jika ini hanya kesalahanmu, berarti kau harus mempertanggung jawabkannya sendiri bukan?”
Wendy mengangguk dengan ragu.
“Aku sebenarnya tidak ingin memberi toleransi pada siapapun yang melakukan kesalahan, tapi—untukmu aku bisa memberikan pengecualian Wendy. Aku bisa membereskan semuanya tanpa membuat namamu buruk dan tanpa pembatalan promosimu. Kau akan tetap menjadi Wendy yang hebat tanpa melakukan kesalahan kerja dan kau masih bisa naik jabatan.”
“Benarkah Millian?”
Millian kembali mengeluarkan seringaiannya. “Tentu saja, itu mudah. Tapi— kau taukan, segala sesuatu yang ada dibumi ini tidak ada yang gratis?”
Wendy membulatkan matanya. “Apa maksudmu?”
“Sebagai ganti rugi, kau harus membayar kesalahan yang kau lakukan seumur hidupmu.”
Wendy mendongak, menatap nyalang pada Millian yang tersenyum penuh kemenangan. Wendy mengerang, kesal. Ia bahkan mendorong tubuh Millian hingga lelaki itu terhuyun satu langkah kebelakang.
“Kau sudah merencanakan ini?”
Millian menyeringai puas. “Menurutmu?”
“Sebenarnya apa maumu?”
“Membuatmu, jadi milikku. Tentu saja. Memang apa lagi?”
“Gila! Lebih baik aku dianggap tak becus bekerja dan tidak naik jabatan!”
Millian tertawa, “Begitukah? Menurutmu begitu yang terbaik?” Millian melangkah, mendekati Wendy lagi. “Disini, aku yang berkuasa Ms. Camella, aku bisa melakukan apapun. Membersihkan, atau menghancurkan namamu, benar?”
“Kau!” Wendy menatap Millian dengan tatapan nyalang. Ia tak menduga Millian yang ia temui malam itu ternyata sangat berbeda dengan Millian yang berada dihadapannya ini. ia pikir Millian baik, tapi ternyata penuh intrik. “b******n!”
“Kau bisa mengundurkan diri jika ingin, tapi aku tidak menjamin kau akan mendapatkan pekerjaan ditempat lain.” Millian menyeringai. “Jadi jawabanmu?”
“Tidak seumur hidupku Millian. Tiga bulan. Kau bisa bersamaku selama tiga bulan. Bagaimana? Lagipula project ku buka project yang besar, kau tidak perlu berlebihan dan mengatakan aku harus membayar seumur hidupku!”
“Tapi aku mempertaruhkan namaku juga untuk menghapus kebodohanmu.” Millian melipat kedua tangannya didada. “Satu tahun.”
“Enam bulan.”
“Satu Tahun atau tidak sama sekali?” Millian menatap Wendy tegas, seolah tak ada tawar menawar lagi.
Sementara Wendy menatap lelaki dihadapannya itu penuh selidik dengan rahang terkatup keras dan juga tangan yang mengepal dikedua sisi tubuhnya.
“Sepertinya aku salah menilaimu.”
Millian menaikan satu alisnya. “Memang apa yang kau harapkan dariku?”
“Kau—merencanakan ini? Kau yang mempersulit project ku karena mengincarku?” Wendy mendengus. “Malam itu kau juga sengaja? Menemuiku dan pura-pura menghiburku? Kau sengaja ingin membuatku merasa lebih baik dan membuatku berhutang budi? Begitu?” Wendy menggeram. “Dasar licik!”
Millian tertawa lagi. “Jangan gila Wendy, untuk apa aku melakukan itu?” Millian menghentikan tawanya, “Aku—memang mengincarmu, kejadian malam itu dan kejadian ini—aku tidak pernah merencanakannya. Lagipula untuk apa aku melakukan itu?”
Millian menyeringai lalu mendekatkan wajahnya tepat dihadapan wajah Wendy, kemudian berbisik. “Anggap saja keberuntungan sedang berpihak padaku.”
Tangan Wendy semakin mengepal, ia semakin kesal apalagi saat melihat seringaian itu lagi.
“Aku sudah memberimu keringanan, dari seumur hidupmu menjadi satu tahun saja. Sangat baik bukan? Sesuai yang kau harapkan.”
Wendy masih menatap Millian dalam diam. Rahangnya masih mengeras, kepalan tangannya bahkan semakin erat, hingga kuku-kuku ditangannya terasa menusuk.
“Sebenarnya, apa yang kau rencanakan Millian. Satu tahun—setelah satu tahun banyak hal yang mungkin terjadi.”
Kali ini Millian tersenyum simpul, tak ada lagi seringaian menyebalkan pada wajah tampannya itu. “Kita tidak memiliki banyak waktu Wendy, waktu presentasi semakin dekat. Jadi—kau setuju atau tidak?”
Wendy meneguk ludahnya kasar. Ia gugup, tentu saja. Apalagi ia harus memutuskan perjalanan hidupnya satu tahun kedepan hanya dalam waktu yang singkat. Sebenarnya, sekilas itu akan sangat mudah. Hanya satu tahun dan setelah itu ia akan bebas kembali. Namun jujur saja, Wendy takut. Ia takut terjerat dan jatuh dalam pesona Millian.
“So? Deal?” Millian mengulurkan tangan kanannya.
Wendy menatap tangan Millian dan wajah lelaki itu secara bergantian. Haruskah ia menyetujuinya? Atau membiarkan saja karirnya memburuk?
***
Bersambung….
***