5. Posesif

1853 Words
“Untunglah, presentasinya dibatalkan. Aku sudah sangat takut. Bagaimana jika nanti kita dimarahi? Atau dipecat?”   “Sangat memalukan.”   “Aku tidak bisa membayangkannya. Apalagi aku rasa Mr. Wesley itu sangat perfectionis. Aku yakin dia pasti sangat tegas.”   “Beruntunglah kita, dan kalau tidak salah dengar, tadi aku dapat info dari staf CEO, katanya ada kemungkinan project kita dibatalkan.”   “Kenapa?”   “Akan ada project yang lebih besar.”   Wendy hanya diam, ia tidak menanggapi sedikitpun kalimat yang dikeluarkan oleh seluruh anggota team yang merupakan bawahannya itu. Ia tidak bisa bereaksi seperti apapun, ia tidak bisa bahkan untuk tersenyum. Karena ia sudah tau pembatalan ini memang akan terjadi setelah jawaban yang ia berikan pada lelaki muda itu.   ---   Wendy menatap Millian kemudian membalas uluran tangan lelaki itu meski dengan sedikit ragu. “Deal.”   Millian tersenyum penuh kemenangan. “Jadi? Mulai sekarang, kau pasanganku? Hm?”   “Terserah.”   Millian mencekal lengan Wendy saat hendak meninggalkan ruangan itu. ia mencengkramnya, memaksa wanita itu berbalik.   “Aku punya permintaan.”   “Apa?”   “Sabtu malam, berkencan denganku.”   Wendy menghembuskan nafasnya panjang. “Aku juga ada satu permintaan.”   Millian menaikkan satu alisnya.   “Ini hanya rahasia kita, aku tidak mau ada yang mengetahui tentang ini. Siapapun itu, jika kabar ini tersebar, aku akan membantah dan kita tidak memiliki hubungan apapun lagi.”   Millian tersenyum miring. “Tidak sulit, tapi jika penyebar itu justru datang dari pihakmu. Maka kau akan menjadi milikku selamanya.”   Wendy lagi-lagi meneguk ludahnya kasar. Lelaki ini, lelaki menyebalkan ini selalu saja berhasil membuatnya mati kutu. Tidak bisakah memberinya kelonggaran? Bisa-bisanya selalu membuat kesepakatan diatas kesepakatan yang ia buat dan pada akhirnya ia yang paling merasa dirugikan atas kesepakatan tersebut.   “Kau—.” Wendy mengerang kesal seraya menunjuk wajah Millian dengan telunjuknya.   Millian meraih telunjuk itu kemudian terkekeh pelan. “Tentu saja. Aku juga tidak mau rugi sayang.”   Wendy menggeram kemudian mendengus, setelah itu ia menghempaskan cengkraman pada tangannya itu sedetik kemudian ia berlalu begitu saja.   “Selamat bekerja sayang.” Seru Millian sebelum Wendy meninggalkan ruangannya.   Wendy lagi-lagi menggeram, ia bahkan tidak mempedulikan Carlos yang menatapnya penuh selidik. Sungguh, ia tidak menduga ternyata Millian selicik itu. ia tidak menduga Millian akan sangat memanfaatkan kesempatan ini untuk menjeratnya. Ia juga tidak menduga jika Millian telah mengincarnya. Semuanya benar-benar diluar dugaannya, sangat diluar nalarnya.   Wendy tak menduga jika Millian, lelaki yang tampak baik dipertemuan sebelumnya itu, ternyata merupakan b******n yang sesungguhnya.   ---   “Ms. Camella, apakah ini ada hubungannya denganmu? Apakah tadi pagi kau benar-benar menemuinya seperti saran kami kemarin?” tanya Mikaila, salah satu anggota team-nya.   Wendy mengulas senyumannya lalu menatap seluruh anggota team-nya satu persatu. “Aku tidak melakukan apapun, kita hanya sedikit beruntung saja.” Ujarnya dengan sangat tenang.   Salah satu anggota team-nya, menghembuskan nafas begitu mendengar kalimat yang ia keluarkan. “Syukurlah. Aku pikir kau melakukan sesuatu tadi pagi. Soalnya tidak biasa kau telat.”   Wendy tidak menanggapi ucapan itu lagi, ia hanya memberikan sebuah senyuman kecil kemudian memokuskan kembali pandangannya pada layar. Berusaha mengabaikan anggota team-nya agar tidak terlalu banyak bertanya.   ***   Saat makan siang tiba Wendy beranjak menuju sebuah kedai makanan yang tak jauh dari lokasi kantor, untuk menemui dua sahabatnya. Mereka bilang, ingin bertemu dengannya yang memang selalu sibuk dikantor. Memang, selama satu minggu ini bahkan ia pulang larut untuk mengerjakan project yang gagal itu, sehingga ia tidak dapat menemui kedua temannya, meski untuk sekedar ngopi bersama ataupun makan malam bersama seperti yang biasa mereka lakukan.   “Wendy! disini.” Salah satu dari dua sahabatnya melambaikan tangan, dia Thalia. seorang wanita dengan perawakan yang paling mungil diantara mereka. Kemudian perempuan yang satunya, dia Sabrina. seorang perempuan yang memang selalu menunjukkan sisi tenang dalam dirinya. Lalu satu lagi, seorang laki-laki yang berada diantara mereka. Dia Johnny, sahabat Thalia.   “Kalian sudah lama menunggu?” tanya Wendy berbasa-basi seraya mendudukkan dirinya pada satu kursi tersisa.   “Cukup lama, tapi Johnny baru saja sampai. Mau pesan apa Wen? Kami sudah memesan lebih dulu tadi.” Ucap Sabrina.   “Samakan saja, aku sedang malas banyak makan.” Jawab Wendy, “Tapi kalau kali ini kau yang membayar makanannya, bolehlah sedikit lebih banyak.” Lanjutnya diiringi kekehan pelan.   Sabrina mendesis, “Tentu saja aku traktir, aku yang meminta kalian datang.”   “Sabrina sekarang memiliki guardian angel Wen, keren sekalikan?” ujar Thalia seraya menaik turunkan alisnya, menggoda Sabrina yang mulai tersenyum malu.   “Wow wow wow, sepertinya ada yang aku lewatkan?” kali ini Johnny yang menatap ketiga wanita itu bergantian.   “Tidak ada, mereka hanya mengada-ada John. Mereka hanya membual.”   “Oh? Membual? Ok. Lalu siapa yang kau ceritakan tadi?” goda Thalia.   Wendy tersenyum melihat wajah Sabrina yang memerah sempurna. Sahabatnya itu terlihat benar-benar sedang jatuh cinta. Menggemaskan.   “Jadi pria seperti apa yang berhasil meluluhkan seorang Sabrina?” goda Wendy juga. “Yang terpenting kau harus hati-hati Nana, terkadang laki-laki itu tidak sebaik yang terlihat.” Lanjutnya diiringi dengan senyuman pahit. Tiba-tiba ia jadi teringat Brian kembali, lelaki itu—lelaki yang terlihat baik tapi ternyata bejad juga.   “Wen, jadi benar hubunganmu dengan Brian berakhir?” Sabrina yang bertanya, setelah ia selesai memesan makanan untuk Wendy. Sabrina menatap Wendy lagi, sahabatnya itu memang terlihat sedikit murung, berbeda dari biasanya.   “Kenapa kau tidak bercerita Wen?” tanya Thalia. ia menatap Wendy yang kini hanya memberikan senyuman tipis yang terlihat sangat menyedihkan.   “Kau sibuk menjahit Thalia, Sabrina juga sangat sibuk dengan bekerja sekarang.” Wendy tersenyum lagi. “Sudah jangan terlalu dipikirkan. Aku tak apa, aku baik-baik saja.”   Johnny menepuk pundak Wendy kemudian memberi elusan dipunggung ringkih itu sesaat, sekedar memberi penyemangat, “Kalau ada sesuatu, katakan saja padaku Wen, jangan sungkan.”   Wendy tersenyum simpul, “Thank you John, tapi aku serius aku baik-baik saja. Pekerjaanku yang super sibuk membuatku tidak terlalu memikirkannya. Jadi kalian tak perlu khawatir, aku baik-baik saja.”   “Ngomon-ngomong, kau sudah melunasi utang pada mucikari itu Sabrina?”   “Belum, tapi mulai sekarang sepertinya aku bisa segera melunasi utangku.” Wanita itu tersenyum. “Aku merasa seseorang datang menjadi malaikat pelindungku Wen, awalnya aku pikir dia membual saat mengatakan akan menemuiku lagi dan setiap malam menemuiku. Tapi ternyata benar, dia semalam datang lagi.”   Wendy mengerutkan keningnya, “Dia? Siapa maksudmu? Siapa namanya? Bekerja dimana dan orang seperti apa? Jangan langsung terperdaya Sabrina!”   “Benar, apalagi pada lelaki tampan. Kau tau, lelaki tampan itu jika tidak b******k dia pasti penyuka sesama jenis.” Desis Thalia kemudian menyeruput minumannya.   “Hey! Aku juga laki-laki, tapi aku tidak b******k dan bukan penyuka sesama jenis. Jangan begitu dong.” Ujar Johnny, tak terima dengan gagasan Thalia. membuat wanita itu tertawa pelan.   “Kebanyakan yang aku temukan memang begitu John. Tapi kau mungkin memang lain? Atau jiwa brengsekmu saja yang belum keluar?” goda Thalia yang dihadiahi tawa oleh Wendy dan Sabrina.   “Sudah-sudah aku cuma bercanda. Mungkin saja, memang tidak semua lelaki seperti itu. hanya saja, kau harus tetap berhati-hati Sabrina. apalagi kau baru bertemu dengannya.”   Wendy mengangguki ucapan Thalia, ”Benar, lelaki yang aku kenal sejak lama saja ternyata b******k, padahal terlihat sangat baik. Apalagi seseorang yang baru kau temui Na. jadi siapa dia?”   Sabrina mengulum senyumannya, “Namanya—ah aku tidak bisa mengatakan identitas dia pada kalian. Ini rahasia pelanggan.”   Wendy mendesis begitu juga dengan Thalia, “Kita bukan orang asing Na, kau tak perlu takut.”   Sabrina terlihat mengulum senyumannya hingga senyuman itu merekah lebar, pipinya bahkan merona hingga seluruh wajahnya memerah. Sepertinya dia sedang membayangkan sosok lelaki dalam ingatannya. Wendy menduga, Sabrina telah menyukai lelaki itu, mungkin?   “Wow, perkumpulan orang-orang membosankan?”   Wendy mendongak saat mendengar suara itu, begitu juga dengan ketiga orang lainnya.   Brian, lelaki itu tiba-tiba muncul didepan mereka berempat entah dari arah mana. Dia memberikan tawa mengejeknya dengan tatapan yang sangat merendahkan.   “Dimana lelaki itu Wendy? sudah bosan padamu bukan? Padahal baru beberapa hari ya? Dua hari?” Brian tertawa penuh kemenangan lagi. “Seperti yang aku bilang, tidak akan ada yang betah dengan wanita membosankan sepertimu”   “Semua ingin wanita yang menyenangkan.” Lanjut Brian tanpa perasaan.   “b******k!” Johnny meraih kerah Brian. “Jangan pernah kau menghina Wendy seperti itu Brian! Kau saja yang terlalu rendahan!”   Brian mendelik, menatap nyalang pada Johnny. “Apa kau bilang?”   “Kau rendahan!”   “Sialan!”   BUK!   Satu bogem mentah melayang pada wajah Johnny, membuat ketiga wanita itu memekik keras. Sementara itu Johnny yang hanya sedikit terhuyun, kini semakin menatap tajam pada Brian. Tangannya bahkan sudah terkepal, siap membalas. Namun Wendy tiba-tiba menahannya.   “John tak perlu, tak ada gunanya menghadapi sampah seperti dia!” desis Wendy seraya meraih lengan Johnny.   Brian tampak tertawa lagi, seolah dirinyalah yang menang. “Sampah kau bilang? Bukankah sebaliknya? Kau seperti sampah yang akan selalu dicampakkan. Dasar wanita membosankan!”   Wendy mengepalkan tangannya, berusaha menahan diri untuk tidak mencabik mulut itu. Ia menarik nafas panjang, kemudian mengusir Brian dengan geraman tertahan. “Pergi.”   “Pergi Brian! Sebelum aku melaporkanmu ke polisi.”   Lelaki itu mengeluarkan seringaiannya, “Aku memang akan pergi, untuk apa berurusan lagi dengan wanita membosankan sepertimu, apalagi berdekatan dengan orang-orang membosankan ini.”   “CUKUP! Pergi.”   “Aku memang akan pergi. Sampai jumpa lagi Wendy, aku tak sabar bertemu denganmu lagi dan mengatakan hal yang sama, wanita membosankan.” Ujar Brian setelah itu berlalu begitu saja tanpa merasa bersalah.   “Seharusnya kau membiarkan Johnny menghabisi Brian, Wendy. dia pantas mendapatkan ganjarannya.” Desis Thalia setelah Brian menghilang dari hadapan mereka.   “Tak ada gunanya melakukan hal itu pada orang tak berguna seperti dia. Kau hanya menghabiskan tenagamu saja.” Ujar Wendy, ia kemudian duduk menghadap Johnny yang masih memegangi pipinya. “John, pasti sakit sekali. Aku obati ya?” Tangan Wendy terulur, mengelus permukaan luka pada wajah Johnny.   “Wen, aku sarankan jangan pernah mau kembali padanya jika dia meminta. Dia benar-benar brengsek.” Ujar Johnny. “Lelaki macam apa yang menghina mantan pasangannya? Menggelikan.”   “Tapi Wen, apa yang tadi Brian katakan? Dimana lelaki itu? lelaki yang mana? Kau memiliki kekasih baru?” tanya Sabrina dengan penuh selidik.   Wendy meneguk ludahnya kasar, perasaan gugup mulai menghantuinya. Ia pikir mereka tidak ada yang menyimak perkataan Brian yang satu itu. tapi seharusnya ia tau, jika sahabatnya yang satu ini—Sabrina, dia seseorang yang sangat jeli.   “Kau berhutang cerita Wen.”   ***   Sementara itu tanpa mereka sadari, tak jauh dari sana ada sesosok lelaki yang tengah mengamati mereka dari dalam kendaraan mewahnya. Lelaki itu, Millian. Ia menatap tajam ke arah Wendy dengan rahang yang mengatup keras saat melihat wanita itu menyentuh wajah lelaki lain. Ia bahkan menyaksikan saat Wendy mengelus pipi lelaki itu diiringi dengan tatapan yang sangat lembut.   Millian menggeram dalam. Wanita itu, wanita miliknya itu. bisa-bisanya menyentuh wajah lelaki lain? Apakah ia tidak cukup tegas saat mengatakan Wendy pasangannya sekarang? Ataukah ia memang harus menegaskannya kembali? Agar membuat wanita itu sadar bahwa menjadi pasangannya, berarti hanya menjadi miliknya saja. Tidak diperbolehkan menyentuh atau bahkan disentuh orang lain.   Millian masih menatap Wendy dengan tatapan yang tak kalah tajam dari sebelumnya.   Apakah aku perlu menghukummu, sayang?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD