Cahaya pertama tidak langsung menerangi kamar Xu Lan. Ia hanya merayap tipis melalui celah jendela sempit, memantul pada dinding tembok tetangga, lalu masuk sebagai pantulan pucat yang lembut.
Xu Lan sudah terjaga sebelum itu.
Ia tidak bergerak selama beberapa saat. Hanya berbaring dengan mata terbuka, mendengarkan.
Langkah kaki di lorong. Suara timba kayu diturunkan ke sumur. Batuk kecil seseorang yang mungkin baru bangun.
Tidak ada yang mencurigakan.
Baru setelah napasnya benar-benar stabil, ia bangkit perlahan. Rambut pendeknya jatuh rapi di sekitar tengkuk—praktis, tidak menarik perhatian. Ia merapikan pakaian sederhananya, kain abu-abu tanpa bordir, tanpa sulaman naga atau burung phoenix yang dulu pernah menghiasi lengan sutra miliknya.
Ia berdiri di depan meja rendah.
Botol-botol kecil itu masih ada di sana.
Ia menyentuh satu per satu, bukan untuk memeriksa isi—melainkan untuk mengingat.
Ia bukan lagi putri mahkota.
Ia tabib pengelana.
Xu Lan membuka pintu kamar.
Udara pagi membawa aroma bubur beras dari dapur depan. Wanita pemilik rumah sudah duduk di bangku kecil, menyisir rambutnya yang mulai memutih.
“Kau bangun cepat,” katanya tanpa menoleh.
“Kebiasaan,” jawab Xu Lan pelan.
Wanita itu mengamatinya sekilas. “Anak itu berkeringat semalam. Demamnya turun.”
Xu Lan hanya mengangguk. “Itu baik.”
Tidak ada pujian. Tidak ada kecurigaan. Percakapan itu datar, sederhana.
Justru itu yang membuatnya merasa asing.
Di dalam istana, setiap keberhasilan selalu diikuti bisikan. Setiap kesembuhan memiliki makna politik. Tidak ada tindakan yang benar-benar murni.
Di sini, seorang anak berkeringat, dan itu saja sudah cukup.
Ia berjalan ke sumur, menimba air sendiri. Tangan yang dulu lebih sering memegang kuas kaligrafi dan kitab klasik kini memegang tali kasar yang meninggalkan bekas kemerahan di kulitnya.
Ia tidak mengeluh.
Air dingin menyentuh wajahnya. Jernih. Sederhana.
Untuk sesaat—hanya sesaat—ia merasa ringan.
Namun perasaan itu tidak bertahan lama.
Menjelang matahari naik setinggi atap rumah, Xu Lan sudah duduk di sudut pasar timur.
Ia memilih tempat di bawah bayangan pohon tua yang akarnya menonjol dari tanah. Tidak terlalu dekat dengan pusat keramaian, tapi cukup terlihat.
Ia membentangkan tikar kecil.
Meletakkan kotak kayu rendah.
Di atasnya, tiga botol ramuan, satu mangkuk kecil, dan batu penumbuk.
Tidak lebih.
Ia tidak menulis papan besar. Hanya secarik kain kecil bertuliskan: Tabib – Ramuan & Periksa Nadi.
Pasar mulai hidup.
Pedagang sayur berteriak menawarkan harga. Ayam-ayam dalam keranjang berkokok protes. Anak-anak berlarian di antara kaki orang dewasa.
Xu Lan duduk dengan punggung lurus, tangan terlipat rapi di atas pangkuan.
Ia menunggu.
Waktu berjalan lambat.
Sangat lambat.
Beberapa orang meliriknya. Beberapa berhenti sebentar, lalu melanjutkan langkah. Seorang pria tua bahkan mendengus kecil, mungkin meragukan usia mudanya.
Xu Lan tidak memanggil siapa pun.
Ia hanya menunggu.
Setengah jam berlalu. Mungkin satu jam.
Akhirnya seorang wanita tua mendekat. Langkahnya pelan, dibantu tongkat kayu.
“Kau benar-benar bisa membaca nadi?” tanyanya curiga.
Xu Lan menunduk ringan. “Sedikit.”
Wanita itu duduk perlahan di hadapannya.
“Tanganku sering kesemutan. Malam hari sulit tidur.”
Xu Lan mengulurkan tangan.
Kulit wanita itu tipis dan dingin. Nadinya lemah, namun stabil.
Ia tidak langsung bicara.
Ia memejamkan mata, seolah benar-benar tenggelam dalam irama denyut kecil itu.
Padahal ia sudah tahu jawabannya sejak sentuhan pertama.
Tubuh yang menua. Sirkulasi melemah. Kecemasan yang tidak pernah diucapkan.
Namun ia tetap diam cukup lama.
Peran.
Ia harus menjaga peran.
“Bukan penyakit berat,” ucapnya pelan. “Angin dingin masuk ke sendi. Kurangi duduk terlalu lama di malam hari. Aku akan beri ramuan penghangat.”
Wanita itu tampak lega, meski mungkin tidak sepenuhnya mengerti.
Xu Lan menumbuk jahe kering dan sedikit akar manis. Gerakannya masih terukur. Masih rapi.
Ia sengaja menjatuhkan sedikit serbuk ke samping, lalu membersihkannya dengan ujung kain.
Sedikit ketidaksempurnaan.
Wanita itu membayar dengan beberapa koin kecil.
Koin yang ringan. Namun terasa berat di telapak tangannya.
Ia menatap koin itu sesaat.
Ini pertama kalinya ia menerima bayaran sebagai rakyat biasa.
Bukan sebagai putri. Bukan sebagai tabib istana.
Hari bergerak perlahan.
Seorang kusir datang dengan keluhan sakit punggung. Seorang gadis kecil dengan batuk kering. Seorang pedagang ikan yang tangannya bengkak karena tertusuk duri.
Xu Lan menangani semuanya dengan sabar.
Tidak terburu-buru. Tidak berlebihan.
Dan setiap kali ia menyentuh nadi seseorang, ia merasakan sesuatu yang berbeda.
Tubuh-tubuh ini tidak menyembunyikan racun politik. Tidak menyimpan rahasia istana.
Mereka hanya lelah. Hanya ingin sembuh. Hanya ingin esok hari lebih ringan.
Menjelang sore, bayangan pohon memanjang.
Xu Lan merapikan botolnya kembali ke dalam keranjang.
Jumlah koinnya tidak banyak.
Namun cukup untuk makan beberapa hari.
Ia bangkit perlahan.
Di kejauhan, atap-atap istana terlihat samar, menjulang di balik tembok tinggi kota bagian dalam.
Di sanalah aula panjang itu berada. Di sanalah selir itu mungkin sedang tersenyum puas. Di sanalah nama Xu Lan sudah lama dihapus dari catatan resmi.
Tangannya mengencang di pegangan keranjang.
Namun kali ini amarahnya tidak meledak.
Ia justru merasa… berhati-hati.
Jika racun memang sedang beredar di dalam istana— maka seseorang sedang bermain dalam bayangan.
Dan ia tidak boleh masuk sebagai badai.
Ia harus masuk sebagai angin.
Tak terlihat. Tak terdengar.
Xu Lan berjalan kembali ke penginapan kecilnya.