Chapter 10

990 Words
Langit senja belum sepenuhnya padam ketika Xu Lan memilih sebuah gang kecil di sisi timur pasar untuk berhenti. Gang itu tidak terlalu kotor, namun juga tidak cukup bersih untuk menarik perhatian pejabat kota. Dindingnya dari batu tua yang retak-retak, ditumbuhi lumut tipis di sela-selanya. Bau sup tulang dari kedai terdekat bercampur dengan aroma kayu bakar dan sedikit anyir ikan asin. Ia tidak langsung mencari penginapan. Ia berdiri cukup lama, mengamati. Xu Lan menurunkan sedikit dagunya. Ia membiarkan dirinya terlihat lelah, seperti pengelana yang hanya ingin tempat berteduh. Keranjangnya terasa lebih berat dari tadi pagi. Bukan karena isinya. Karena tanah ini. Tanah yang pernah menyentuh ujung sepatu sutranya. Ia berjalan perlahan menyusuri gang, lalu berhenti di depan rumah kayu sederhana dengan pintu setengah terbuka. Di samping pintu tergantung kain lusuh bertuliskan: Kamar disewakan. Seorang wanita paruh baya duduk di bangku kecil sambil mengipasi diri. Xu Lan menunduk sopan. “Bibi, apakah masih ada kamar kosong?” Wanita itu mengangkat kepala, menatapnya dari ujung rambut hingga ke keranjang anyam di tangannya. “Tabib?” “Ya.” “Bayarnya harian.” “Aku mengerti.” Wanita itu tidak banyak bertanya. Ia hanya berdiri, mengambil kunci kayu kecil, dan menyerahkannya. “Kamar paling belakang. Air di sumur. Jangan membuat keributan.” Xu Lan kembali menunduk. “Terima kasih.” Ia berjalan menyusuri lorong sempit menuju kamar yang dimaksud. Ruangan itu kecil—cukup untuk satu dipan kayu, meja rendah, dan jendela sempit menghadap tembok tetangga. Cahaya senja masuk tipis, membelah debu yang melayang di udara. klek Ia menutup pintu perlahan. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri. Tidak bergerak. Seolah menunggu sesuatu terjadi. Namun tidak ada apa pun. Tidak ada langkah tergesa dari penjaga istana. Tidak ada suara pintu didobrak. Tidak ada teriakan mengenali namanya. Keheningan itu… nyata. Ia meletakkan keranjang di meja, lalu duduk di dipan. Baru sekarang napasnya terasa sedikit berat. Ia tidak menyalakan lampu minyak. Hanya membuka jendela kecil agar cahaya terakhir matahari cukup menerangi ruangan. Dari keranjang, ia mengeluarkan botol-botol kecil berisi ramuan. Ia menyusunnya di atas meja dengan jarak yang teratur. Tangannya bergerak otomatis—gerakan yang ia pelajari bertahun-tahun lalu di paviliun pengobatan istana. Ia berhenti. Gerakan itu terlalu rapi. Ia mengacak susunan botolnya sedikit. Tidak sembarangan, hanya cukup untuk terlihat lebih biasa. Ia lalu membuka salah satu botol, menghirup pelan aromanya. Akar huang qi kering. Menambah tenaga. Menguatkan limpa. Bukan obat untuk racun. Ia menutupnya kembali. Desas-desus tentang pejabat yang sakit… demam rendah, tubuh melemah. Gejala yang samar. Racun yang cerdas tidak membunuh cepat. Ia melemahkan perlahan. Menggerogoti kepercayaan diri tabib. Membuat kematian tampak seperti takdir. Xu Lan memejamkan mata. Ia membayangkan meja makan panjang di aula dalam istana. Piring-piring porselen. Cangkir teh hangat yang tampak tak berbahaya. Siapa yang duduk di sana sekarang? pasti selir jahat dan anaknya itu. Dan Xu Lan bersumpah akan membalas dendam atas kematian ibunya. Ia tidak akan membiarkan Selir jahat dan anaknya berkuasa di negeri itu. Ia yang pantas memimpinnya, karena ia anak resmi permaisuri yang meninggal. Dan ia yang di asingkan di tempat para biksu. Ia yang merupakan putri mahkota Kerajaan itu. Xu Lan mengepalkan kedua tangannya dengan kencang. Ilmu beladiri sudah ia kuasai, dan ilmu membuat racun sudah ia kuasi juga. Dan tujuannya membalas dendam akan terlaksana. "Aku bersumpah, demi ibuku, kalian akan mati." Desis Xu Lan. Ia membuka mata sebelum pikirannya melangkah terlalu jauh. Malam turun sepenuhnya. Suara kota berubah. Pasar yang tadi riuh kini berganti dengan percakapan pelan dan langkah kaki yang lebih jarang. Seekor anjing menggonggong di kejauhan. Angin membawa aroma sungai dari arah barat. Terdengar ketukan pelan di pintu. Ia tidak langsung menjawab. Ketukan kedua. “Kau tabib baru?” suara wanita terdengar dari luar. Xu Lan berdiri, membuka pintu sedikit. Wanita yang tadi menyewakan kamar berdiri dengan ekspresi ragu. “Anak tetanggaku demam sejak siang. Tabib biasa belum datang. Kalau kau memang tabib… mungkin kau bisa melihatnya.” Xu Lan menunduk ringan. “Tentu.” Ia mengambil keranjang, mengikuti wanita itu menyusuri lorong menuju rumah sebelah. Rumah itu lebih sempit dari yang ia kira. Seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh atau delapan tahun terbaring di atas tikar, wajahnya memerah, napasnya cepat. Ibunya duduk di sampingnya, menggenggam tangan kecil itu. Xu Lan berlutut. “Sejak kapan demamnya?” tanyanya pelan. “Siang tadi. Tiba-tiba panas. Ia menggigil.” Xu Lan menyentuh dahi anak itu. Hangat, tapi tidak membakar. Ia memeriksa nadi di pergelangan tangan kecil itu. Cepat. Dangkal. Bukan racun. Hanya panas musim dan tubuh yang terlalu lama bermain di bawah matahari. Namun ia tidak boleh tergesa menyimpulkan. Ia membuka kelopak mata anak itu, melihat warna bagian dalamnya. Memeriksa lidahnya. Ia mendengarkan napasnya lebih lama dari yang diperlukan. Bukan untuk memastikan penyakit. Untuk memastikan perannya. “Tidak berbahaya,” katanya akhirnya. “Panas dalam dan kelelahan. Aku akan meracik ramuan penurun panas.” Ibunya hampir menangis lega. Xu Lan mengeluarkan beberapa potong herbal, menumbuknya dengan batu kecil yang selalu ia bawa. Gerakannya kali ini sengaja sedikit lebih lambat. Tidak seefisien di istana. Ia menyerahkan ramuan itu. “Beri sedikit-sedikit. Jika besok pagi tidak turun, panggil aku lagi.” Wanita itu berulang kali mengucap terima kasih. Xu Lan hanya mengangguk. Saat ia kembali ke kamarnya, langkahnya tetap pelan. Namun di dalam dirinya ada perubahan kecil. Ia telah menyentuh nadi ibu kota untuk pertama kalinya. Bukan nadi pejabat. Bukan nadi bangsawan. Melainkan nadi rakyat biasa. Dan nadi itu sehat. Ia duduk kembali di dipan. Malam semakin dalam. Di kejauhan, dari arah pusat kota, terdengar suara lonceng malam dipukul tiga kali. Dulu, suara itu menandakan waktunya kembali ke paviliun dalam. Kini, itu hanya penanda bahwa kota ini tidak peduli siapa dirinya. Ia berbaring tanpa membuka alas rambutnya yang pendek. Langit di luar jendela kecilnya tampak sempit. Namun pikirannya bergerak luas. Besok, ia akan membuka tikar kecil di sudut pasar dan menawarkan pengobatan sederhana. Ia akan mendengarkan keluhan para pedagang. Para pelayan rumah besar. Para kusir gerobak. Dan ia berharap bisa segera masuk ke dalam istana.. "Kita lihat saja."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD