Malam sebelum keberangkatan itu datang tanpa suara.
Langit tampak rendah, seperti menekan atap-atap kayu desa dengan berat yang tak terlihat. Udara musim panas masih hangat, namun ada getaran tipis di dalamnya—sebuah perubahan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang sedang bersiap meninggalkan sesuatu.
Li Xianyu duduk di lantai kamarnya.
Di hadapannya terbentang dua helai pakaian.
Yang pertama adalah jubah lamanya—pakaian sederhana yang selama ini ia kenakan sebagai biksuni pengembara. Kainnya lembut karena sering dicuci, warnanya pudar oleh matahari. Jubah itu menyimpan banyak malam sunyi dan doa yang tak pernah terucap.
Yang kedua adalah pakaian baru.
Bukan pakaian bangsawan. Bukan pula pakaian rakyat jelata biasa.
Melainkan pakaian tabib keliling.
Warnanya cokelat kelam dengan lapisan luar abu-abu pucat. Tidak mencolok. Tidak juga terlalu lusuh. Cukup bersih untuk dipercaya, cukup sederhana untuk diabaikan.
Ia menyentuh kain itu pelan.
Menyamar bukan hanya soal mengganti pakaian.
Menyamar berarti menghapus bagian dari dirinya sendiri.
Shen Wei berdiri di ambang pintu. Ia tidak masuk, hanya mengamati.
“Masih ragu?” tanyanya lembut.
Xianyu menggeleng pelan. “Tidak. Hanya... memastikan.”
“Memastikan apa?”
Bahwa ketika ia melangkah pergi, ia tidak lagi membawa bayangan putri mahkota di punggungnya.
Ia berdiri, lalu mengangkat pakaian tabib itu. Jubah lama ia lipat dengan hati-hati, meletakkannya ke dalam peti kayu kecil bersama jepit giok dan beberapa kenangan yang tak bisa ia bawa.
Ketika pakaian baru itu menyentuh tubuhnya, ia merasakan sesuatu yang aneh.
Seperti kulit kedua.
Ia menatap pantulannya di cermin perunggu kecil.
Wajahnya lebih kurus dari dulu. Tulang pipinya lebih tegas. Tatapannya tak lagi menyimpan kilau kepolosan istana.
Namun masih ada sesuatu yang harus diubah.
“Rambutmu,” ujar Gao Ren dari belakang.
Ia sudah masuk tanpa disadari.
Xianyu mengangkat tangan ke rambut panjangnya yang terurai hingga punggung. Rambut itu selalu menjadi kebanggaan mendiang ibunya. Hitam, tebal, berkilau di bawah cahaya.
Seorang putri tidak pernah memotong rambutnya sembarangan.
Seorang tabib keliling tidak bisa membiarkannya terurai seperti itu.
Shen Wei mendekat, menyerahkan sebilah pisau kecil.
“Sekali potong,” katanya. “Jangan ragu.”
Jantung Xianyu berdetak lambat.
Ia menggenggam rambutnya sendiri. Rasanya berat di tangan.
Ini bukan hanya soal penampilan.
Ini tentang identitas.
Ia menarik napas panjang.
Lalu—dengan satu gerakan tegas—ia memotongnya.
Sreng
Suara gesekan pisau terdengar pelan namun jelas.
Rambut panjang itu jatuh ke lantai seperti bayangan yang terlepas dari tubuhnya.
Keheningan menyusul.
Tak ada yang bertepuk tangan. Tak ada yang berbicara.
Hanya suara napasnya sendiri.
Ia menatap potongan rambut itu beberapa saat. Lalu mengikat sisa rambutnya menjadi simpul sederhana di belakang kepala.
Kini wajahnya tampak berbeda.
Lebih ringan. Lebih tajam.
Lebih asing.
“Siapa namamu?” tanya Gao Ren tiba-tiba.
Xianyu mengerutkan alis.
“Jika kau bukan Li Xianyu, siapa kau?”
Ia menatap cermin lagi.
Nama bukan sekadar panggilan. Nama adalah pintu masuk ke masa lalu.
“Aku…” ia berhenti.
Ia memikirkan sesuatu yang tidak terlalu indah. Tidak terlalu kuat. Tidak terlalu lemah.
“Xu Lan,” katanya akhirnya.
Shen Wei mengangguk. “Xu Lan. Tabib keliling dari selatan.”
“Dari mana tepatnya?” tanya Gao Ren lagi, menguji.
“Dari desa kecil dekat pegunungan Yun. Ayahku seorang pengumpul herbal. Ia meninggal karena demam. Aku meneruskan pekerjaannya.”
Jawabannya mengalir pelan.
Ia tidak terburu-buru.
Sebuah identitas baru harus dibangun seperti rumah—batu demi batu.
“Bagus,” gumam Shen Wei. “Sekarang berjalanlah.”
“Berjalan?”
“Ya. Seperti Xu Lan.”
Xianyu—tidak, Xu Lan—melangkah.
Langkah pertamanya masih terlalu tegak.
Terlalu ringan.
Terlalu terlatih.
“Tidak,” kata Gao Ren pelan. “Seorang tabib keliling tidak berjalan seperti pendekar istana.”
Ia mengulanginya.
Menundukkan sedikit bahu. Membiarkan langkahnya lebih berat. Menyamarkan pusat keseimbangannya.
Ia berjalan bolak-balik di ruangan kecil itu selama hampir satu jam.
Sampai kakinya mulai terasa alami dalam peran barunya.
Pagi keberangkatan tiba dengan langit pucat dan matahari yang belum sepenuhnya muncul.
Desa itu tampak seperti biasa.
Beberapa wanita menjemur pakaian. Anak-anak berlarian tanpa peduli pada perpisahan.
Tidak ada upacara. Tidak ada pelukan panjang.
Penyamaran membutuhkan keheningan.
Xianyu membawa keranjang anyam berisi botol herbal, kain perban, dan beberapa alat sederhana.
Shen Wei berdiri di sampingnya.
“Di ibu kota, jangan cari jawaban,” katanya pelan. “Biarkan jawaban yang mendekatimu.”
Ia mengangguk.
Gao Ren menyerahkan sebuah kantong kecil.
“Serbuk penawar. Gunakan hanya jika benar-benar perlu.”
“Dan jika tidak cukup?” tanyanya.
“Kalau begitu,” Gao Ren menatapnya dalam, “kau harus menemukan siapa yang mencampur racunnya.”
Angin pagi berhembus pelan.
Untuk sesaat, ia ingin memeluk mereka.
Namun Xu Lan tidak memiliki hubungan dengan dua pria itu.
Jadi ia hanya menunduk hormat.
“Terima kasih.”
Lalu ia berbalik.
Tanpa menoleh lagi.
Perjalanan menuju ibu kota tidak singkat.
Jalan tanah berdebu membentang panjang, diapit sawah dan ladang yang mulai menguning oleh musim panas. Kadang ia menumpang gerobak pedagang, kadang berjalan sendiri.
Ia berbicara sedikit.
Ia mendengarkan lebih banyak.
Di pasar kecil yang ia lewati, ia mendengar desas-desus.
“Katanya beberapa pejabat sakit aneh.” “Demam tidak tinggi, tapi tubuh melemah.” “Tabib istana kebingungan.”
Ia tidak ikut menanggapi.
Hanya mengingat.
Setiap malam, ia tidur di penginapan murah atau di bawah atap kuil kecil. Ia tidak menyalakan lampu terlalu terang. Ia menjaga suaranya tetap pelan.
Xu Lan bukan seseorang yang menarik perhatian.
Dan itulah kekuatannya.
Namun di dalam dirinya, Li Xianyu tetap terjaga.
Setiap kali ia melihat lambang kerajaan terpahat di gerbang kota kecil, dadanya terasa sesak.
Ia semakin dekat.
Semakin dekat pada tembok tinggi yang dulu ia sebut rumah.
Suatu sore, ketika matahari condong ke barat, siluet ibu kota akhirnya terlihat di kejauhan.
Tembok batu besar menjulang, kokoh dan dingin.
Bendera kerajaan berkibar di puncaknya.
Jantungnya berdetak lebih lambat.
Bukan karena takut.
Melainkan karena kesadaran.
Di balik tembok itu, ada orang-orang yang mungkin mengira ia telah lenyap. Ada meja-meja makan tempat racun mungkin dicampur dengan tenang. Ada wajah-wajah yang tersenyum sambil menyembunyikan niat.
Ia berhenti beberapa langkah sebelum gerbang.
Menatapnya lama.
“Xu Lan,” bisiknya pada diri sendiri.
Bukan Li Xianyu.
Bukan putri mahkota yang pernah dielu-elukan.
Hanya seorang tabib keliling.
Gerbang terbuka untuk para pedagang dan pengelana.
Ia ikut dalam arus.
Penjaga hanya memeriksa sekilas isi keranjangnya.
“Tabib?” tanya salah satu dari mereka.
“Ya,” jawabnya tenang.
“Banyak yang sakit belakangan ini. Mungkin kau akan mendapat banyak pekerjaan.”
Ia menunduk sopan. “Semoga bisa membantu.”
Penjaga itu tidak mengenalinya.
Tidak ada sorot mata terkejut. Tidak ada bisikan.
Ia berhasil masuk.
Langkahnya menjejak tanah ibu kota sekali lagi.
Namun kali ini, bukan sebagai putri yang kembali dari taman musim semi.
Melainkan sebagai bayangan yang berjalan di antara keramaian.
Suara kota memeluknya.
Teriakan pedagang. Derit roda gerobak. Aroma makanan yang dulu akrab di hidungnya.
Semuanya terasa sama.
Namun ia berbeda.
Ia berjalan perlahan, menyatu dalam kerumunan.
Menyamar bukan lagi sekadar pakaian.
Menyamar adalah menahan setiap emosi yang berusaha muncul ketika ia melewati jalan menuju istana.
Ia tidak menoleh ke arah menara tinggi yang tampak dari kejauhan.
Belum.
Masih terlalu cepat.
Ia harus memulai dari bawah.
Dari rumah-rumah kecil. Dari pasien-pasien sederhana. Dari desas-desus yang terdengar remeh.
Karena racun yang halus tidak selalu bermula di aula megah.
Kadang ia bermula dari dapur. Dari tangan yang tak diperhatikan.
Matahari mulai tenggelam.
Langit ibu kota berubah jingga keemasan.
Xu Lan—Li Xianyu—berdiri di tengah kota yang dulu ia kuasai sebagai calon pewaris.
Kini ia hanyalah setitik debu.
Namun debu pun, jika ditiup angin yang tepat, dapat mengaburkan penglihatan siapa pun.