Sungai itu tetap mengalir.
Hari demi hari, Li Xianyu kembali ke tepian yang sama, berdiri dalam diam yang hampir menyerupai doa. Musim panas kini benar-benar berakar di desa kecil itu. Pagi tak lagi berkabut tebal, melainkan diselimuti uap tipis yang naik dari permukaan air seperti napas bumi yang panjang dan pelan.
Ia menyukai waktu sebelum matahari benar-benar muncul.
Di saat itu, dunia belum sepenuhnya terjaga. Suara ayam belum ramai. Anak-anak belum berlarian. Bahkan angin pun terasa berhati-hati.
Ia duduk di atas batu datar yang separuhnya tenggelam di tepi sungai. Jemarinya menyentuh permukaan air. Hangat.
“Air selalu tahu ke mana ia harus pergi,” gumamnya lirih, seakan berbicara pada sesuatu yang lebih tua dari dirinya sendiri.
Beberapa minggu telah berlalu sejak rombongan bangsawan meninggalkan desa. Kabar tentang Li Zhen sesekali datang melalui jalur yang tak pernah disebutkan namanya oleh Shen Wei. Kabar itu tidak pernah panjang. Hanya serpihan.
Pusing yang kembali. Tabib yang dipanggil. Jamuan yang dibatalkan. Perjalanan yang dipersingkat.
Hal-hal kecil.
Namun bagi Xianyu, serpihan-serpihan kecil itu lebih berharga daripada kabar besar.
Karena dari serpihan itulah ia bisa merangkai pola.
Suatu sore, panas matahari terasa lebih berat dari biasanya. Angin berhenti bergerak. Udara seakan menggantung di antara langit dan tanah tanpa arah.
Xianyu sedang menumbuk akar herbal di dalam mangkuk batu ketika Shen Wei mendekat tanpa suara.
“Gao Ren akan pergi ke kota timur,” katanya pelan.
Tumbukan di tangan Xianyu berhenti sesaat.
“Untuk apa?”
“Mencari sesuatu yang tidak dijual di desa.”
Ia tidak langsung menoleh. “Informasi?”
Shen Wei tersenyum tipis. “Selalu.”
Keheningan turun di antara mereka. Xianyu kembali menumbuk akar itu, namun kali ini gerakannya lebih pelan.
“Apakah terlalu berbahaya?” tanyanya akhirnya.
“Segala sesuatu berbahaya jika kau tidak tahu batasnya,” jawab Shen Wei ringan. “Namun kita sudah terlalu jauh untuk mundur.”
Kata-kata itu tidak terasa dramatis. Justru tenang. Dan karena ketenangannya itulah, Xianyu merasakan beban di dadanya sedikit menguat.
Ia menyadari sesuatu yang tak pernah benar-benar ia pikirkan sebelumnya.
Jika permainan ini lebih besar dari Li Zhen, maka mereka bukan hanya mengincar satu orang.
Mereka sedang berjalan menuju jantung kerajaan.
Dan jantung itu berdenyut di ibu kota.
Malam itu, ia tidak langsung tidur.
Ia duduk bersandar pada dinding kayu kamarnya. Lampu minyak kecil di sudut ruangan berkedip pelan, cahayanya tidak cukup terang untuk mengusir bayangan sepenuhnya.
Bayangan selalu ada.
Ia mengeluarkan jepit giok dari kain kecilnya. Permukaan batu itu terasa dingin di telapak tangannya.
Ia mengingat kembali malam terakhir di istana.
Ayahnya duduk di kursi kayu hitam, wajahnya pucat namun tetap tegas. Para menteri berdiri dalam barisan yang terlalu rapi. Li Zhen berdiri sedikit lebih maju dari yang seharusnya.
Saat itu, Xianyu tidak melihat sesuatu yang aneh.
Namun kini, ingatan itu terasa berbeda.
Ia mencoba mengingat lebih dalam.
Siapa yang berdiri di belakang Li Zhen?
Siapa yang tidak berbicara namun selalu hadir?
Wajah-wajah itu kabur. Waktu mengaburkan detailnya, atau mungkin pikirannya sendiri yang dulu terlalu polos untuk menangkap tanda-tanda kecil.
“Ayah...” bisiknya.
“Jika musuh bukan hanya satu, bagaimana aku harus memulainya?”
Keheningan menjawabnya.
Namun dalam keheningan itu, ia mulai menyadari sesuatu.
Ia tidak harus menyerang terlebih dahulu.
Ia harus kembali.
Bukan sebagai putri. Bukan sebagai ancaman.
Melainkan sebagai sesuatu yang tak terlihat.
Hari-hari berikutnya dihabiskan dalam latihan yang semakin berat.
Shen Wei tidak lagi sekadar mengajarinya teknik. Ia mengajarinya kesabaran yang menyakitkan.
Ia harus berdiri dalam posisi kuda-kuda selama seperempat jam tanpa bergerak. Ia harus menahan pedang dalam posisi menyerang tanpa benar-benar menebaskannya. Ia harus menunggu aba-aba yang sengaja ditunda.
Waktu terasa lambat. Otot-ototnya gemetar. Keringat membasahi punggungnya.
“Serangan paling berbahaya,” kata Shen Wei suatu sore, “adalah serangan yang datang setelah lawan lelah menunggu.”
Xianyu menarik napas berat. “Dan bagaimana jika aku yang lelah lebih dulu?”
“Kalau begitu kau kalah sebelum pedang terangkat.”
Jawaban itu sederhana. Namun ia tahu itu bukan hanya tentang pedang.
Itu tentang hatinya.
Tentang kebenciannya.
Tentang keinginannya untuk segera melihat seseorang membayar harga.
Ia harus menahannya.
Karena dendam yang terburu-buru hanya akan mengungkap dirinya sebelum waktunya.
Beberapa minggu kemudian, Gao Ren kembali.
Ia tampak lebih kurus. Debu perjalanan masih menempel di ujung pakaiannya.
Mereka duduk bertiga di dalam ruangan kecil yang tertutup rapat.
“Ada beberapa bangsawan lain yang mengalami gejala serupa,” kata Gao Ren tanpa basa-basi.
Jantung Xianyu berdetak lebih pelan, bukan lebih cepat.
Ia sudah menduga.
“Siapa?” tanyanya.
“Dua pangeran jauh. Satu jenderal tua. Dan seorang pejabat keuangan.”
Ia menutup mata sejenak.
Pola itu mulai terlihat.
Bukan sembarang orang.
Mereka yang memiliki akses pada keputusan. Mereka yang memegang pengaruh.
“Apakah semuanya dekat dengan Li Zhen?” tanya Shen Wei.
“Sebagian ya. Sebagian lagi justru dikenal sering berseberangan dengannya.”
Ruangan itu menjadi sunyi.
Jika musuhnya meracuni orang-orang berpengaruh tanpa memandang pihak, maka tujuannya bukan sekadar menjatuhkan satu kubu.
Tujuannya mungkin menciptakan kekosongan.
Kekacauan.
Dan dalam kekacauan, seseorang bisa naik tanpa terlalu terlihat.
“Racun itu bukan untuk membunuh cepat,” kata Xianyu pelan. “Ia untuk melemahkan. Membuat keputusan goyah. Membuat tubuh rapuh.”
“Dan membuat kerajaan perlahan kehilangan penopangnya,” tambah Gao Ren.
Ia membuka mata.
“Aku harus kembali ke ibu kota.”
Dua pasang mata menatapnya.
Shen Wei tidak langsung menolak. Gao Ren tidak langsung setuju.
“Kau belum cukup kuat,” kata Shen Wei akhirnya.
“Aku tidak akan masuk sebagai diriku.”
Ia mengangkat wajahnya. Tatapannya tidak lagi ragu.
“Aku akan masuk sebagai tabib.”
Keheningan yang panjang menyusul.
“Tabib keliling?” tanya Gao Ren.
“Ya.”
Ia sudah memikirkannya selama berminggu-minggu. Desa kecil ini memberinya cukup pengetahuan tentang herbal. Shen Wei melatihnya membaca denyut nadi. Gao Ren mengajarinya mengenali gejala racun.
Ia tidak sempurna. Namun cukup untuk tidak dicurigai.
“Kau sadar risikonya?” tanya Shen Wei pelan.
“Ya.”
Jika ia tertangkap, ia tidak akan diasingkan lagi.
Ia akan dieksekusi.
Namun entah mengapa, pikiran itu tidak lagi menakutkannya seperti dulu.
Yang menakutkan justru adalah tidak melakukan apa-apa.
Malam itu, ia kembali ke sungai.
Langit gelap tanpa bulan. Bintang-bintang tersebar seperti titik-titik cahaya yang terlalu jauh untuk disentuh.
Ia berdiri lama.
Menghirup udara musim panas yang kini lebih pekat.
Ia tidak merasa marah.
Ia juga tidak merasa sedih.
Yang ia rasakan adalah ketenangan yang aneh. Ketenangan sebelum sesuatu yang besar dimulai.
“Aku tidak akan kembali sebagai anak yang menangis,” bisiknya.
“Aku akan kembali sebagai bayangan.”
Air sungai memantulkan cahaya bintang yang bergetar pelan.
Ia teringat pada Li Zhen yang hampir terjatuh dari kudanya. Tangan yang bertumpu sedikit terlalu lama. Tatapan yang sekilas kosong.
Jika ia benar diracuni, maka ia bukan hanya musuh.
Ia mungkin juga kunci.
Dan untuk pertama kalinya, dendam Xianyu tidak lagi sesederhana membalas satu nama.
Ia ingin tahu siapa yang berani menyentuh ayahnya. Siapa yang berani menyentuh jantung kerajaan. Siapa yang berani bermain dengan racun dalam bayangan.
Dan jika orang itu berpikir tidak ada yang memperhatikannya—
maka ia salah.
Karena di tepi sungai kecil ini, seorang putri yang dianggap hilang sedang belajar berjalan tanpa suara.
Sedang belajar melihat tanpa terlihat.
Sedang belajar menunggu.
Angin malam bergerak perlahan, mengibaskan ujung rambutnya.
Ia menutup mata sejenak.
Musim panas baru saja mencapai puncaknya. Dan ia tahu, ketika musim berganti, ia tidak akan lagi berada di desa ini.
Perjalanannya menuju ibu kota akan dimulai. Pelan. Diam. Namun pasti.
Seperti sungai yang tak pernah berhenti mengalir, meski batu sebesar apa pun menghadangnya.
Dan ketika ia akhirnya tiba di pusat kekuasaan, tidak seorang pun akan menyadari bahwa badai itu telah lama terbentuk—
jauh di hulu, di desa kecil yang kini mulai ia tinggalkan dengan hati yang jauh lebih dingin, namun jauh lebih kuat.