Fajar datang dengan warna pucat keperakan.
Kabut tipis menggantung di atas sungai, menutupi permukaannya seperti selimut yang enggan diangkat. Udara pagi terasa lebih hangat dari biasanya. Musim panas benar-benar telah menyentuh desa kecil itu, meski belum sepenuhnya menguasainya.
Li Xianyu berdiri di tepi air.
Ia tidak tidur sepanjang malam.
Bukan karena gelisah.
Melainkan karena pikirannya terlalu penuh untuk diistirahatkan.
Rombongan bangsawan akan pergi pagi ini.
Dan ia tahu, kesempatan sekecil apa pun untuk mengamati Li Zhen tidak boleh terlewat.
Ia menatap arus sungai yang bergerak lambat.
Air tidak pernah tergesa.
Namun ia selalu mencapai tujuannya.
Itulah yang harus ia lakukan.
Di desa, suasana mulai sibuk.
Penduduk kembali berkumpul untuk melepas rombongan bangsawan. Anak-anak kecil berdiri di belakang orang tua mereka, berjinjit ingin melihat kuda-kuda tinggi dengan pelana berhias emas.
Para prajurit sudah bersiap.
Xianyu berdiri agak jauh, di bawah bayangan pohon besar.
Ia tidak mengenakan pakaian biksuni hari ini.
Shen Wei telah menyarankannya untuk tetap berada di luar kerumunan utama.
“Amati dari pinggir,” katanya. “Pinggir sering melihat lebih jelas daripada pusat.”
Xianyu memegang keranjang kecil berisi kain dan beberapa botol herbal.
Alasan yang masuk akal jika seseorang bertanya mengapa ia berdiri di sana.
Suara langkah kuda terdengar lagi.
Rombongan mulai bergerak keluar dari paviliun.
Li Zhen muncul terakhir.
Ia menaiki kudanya dengan gerakan tenang, hampir elegan.
Namun mata Xianyu menangkap sesuatu yang berbeda.
Tangannya sempat bertumpu sedikit lebih lama pada pelana.
Seolah tubuhnya tidak sepenuhnya mendukung keseimbangan.
Hanya sepersekian detik.
Namun cukup.
Pusing ringan.
Gejala yang sama.
Ia memperhatikan wajahnya.
Masih tegap.
Masih percaya diri.
Namun ada bayangan lelah di bawah matanya.
Seseorang yang kurang tidur.
Atau seseorang yang tubuhnya perlahan diserang dari dalam.
Rombongan mulai bergerak.
Debu kembali terangkat.
Namun sebelum mereka benar-benar menjauh, seekor kuda tiba-tiba meringkik keras.
Li Zhen menarik tali kekang sedikit terlambat.
Kudanya berputar lebih tajam dari yang seharusnya.
Tubuhnya condong ke samping.
Untuk sesaat—
ia hampir jatuh.
Seorang prajurit segera menahan kendali kuda itu.
“Tuanku!”
Suara cemas terdengar.
Namun Li Zhen segera menegakkan tubuhnya.
“Aku baik-baik saja,” katanya tegas.
Terlalu tegas.
Xianyu menyaksikan semuanya tanpa ekspresi.
Namun jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia tidak merasa puas.
Tidak juga senang.
Yang ia rasakan adalah kepastian kecil.
Ada sesuatu yang tidak beres.
Dan sesuatu itu bukan kebetulan.
Rombongan akhirnya pergi.
Desa perlahan kembali sunyi.
Debu turun.
Suara kuda menghilang di kejauhan.
Namun pikiran Xianyu tidak ikut menghilang bersama mereka.
Siang itu, ia duduk bersama Gao Ren di bawah atap kayu.
“Kau melihatnya?” tanya Gao Ren tanpa menoleh.
“Ya.”
“Dan?”
Xianyu meremas kain di tangannya.
“Tubuhnya tidak sekuat yang ia tunjukkan.”
Gao Ren mengangguk pelan.
“Racun huanxi bekerja lambat. Namun jika digunakan dalam jangka panjang, tubuh akan menunjukkan tanda-tanda kecil.”
“Apakah mungkin…” Xianyu berhenti.
“Bahwa ia juga menjadi korban?” lanjut Gao Ren.
Xianyu mengangguk.
Ia tidak menyangka akan mempertimbangkan kemungkinan itu.
Jika Li Zhen diracuni—
maka ada orang lain di atasnya.
Atau di sekitarnya.
Seseorang yang lebih sabar.
Lebih berhati-hati.
Lebih tersembunyi.
Pikiran itu membuat bulu kuduknya meremang.
Selama ini ia mengarahkan kebenciannya pada satu nama.
Namun mungkin permainan ini lebih besar dari yang ia kira.
“Jangan terlalu cepat menarik kesimpulan,” kata Gao Ren lembut. “Amati lebih lama.”
Xianyu menunduk.
Ia tahu.
Kesabaran.
Selalu kembali pada itu.
Malam turun dengan suhu yang lebih hangat.
Xianyu duduk di kamarnya, menyalakan lampu minyak kecil.
Cahaya kuningnya bergetar lembut di dinding kayu.
Ia membuka kain kecil tempat ia menyimpan jepit giok.
Benda itu berkilau samar dalam cahaya.
Ia mengingat kembali wajah ayahnya.
Tangan besar yang selalu terasa hangat saat menepuk kepalanya.
Suara berat yang mengajarinya membaca laporan negara.
“Seorang penguasa tidak boleh hanya melihat musuh,” kata Kaisar dulu. “Ia harus melihat siapa yang berdiri di belakang musuhnya.”
Saat itu ia masih terlalu muda untuk memahami.
Kini kalimat itu terasa seperti petunjuk yang baru ia mengerti.
Bagaimana jika Li Zhen hanyalah pion?
Bagaimana jika seseorang memanfaatkan ambisinya?
Bagaimana jika racun yang melemahkan Kaisar bukan rencana tunggal, melainkan bagian dari jaringan lebih besar?
Xianyu menarik napas panjang.
Jika itu benar, maka balas dendamnya tidak bisa diarahkan pada satu orang saja.
Ia harus membongkar seluruh akar.
Dan untuk itu—
ia membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan.
Ia membutuhkan informasi.
Keesokan harinya, Shen Wei membawa kabar.
“Rombongan berhenti di kota berikutnya,” katanya. “Ada laporan bahwa tabib kota dipanggil untuk memeriksa tuannya.”
“Li Zhen?” tanya Xianyu.
“Ya.”
Hening sejenak.
Xianyu menatap tanah.
“Jika ia benar diracuni,” katanya pelan, “maka seseorang ingin ia melemah. Sama seperti Ayah.”
Shen Wei tidak langsung menjawab.
“Kau memikirkan kemungkinan bahwa musuhmu bukan hanya dia.”
“Ya.”
Ia mengangkat kepala.
“Dan itu membuatku lebih takut.”
Shen Wei menatapnya lama.
“Takut karena musuhmu lebih besar?”
“Takut karena selama ini aku mungkin hanya melihat permukaan.”
Angin berhembus melewati halaman.
Musim panas mulai terasa lebih nyata.
Panasnya tidak membakar.
Namun cukup untuk membuat kulit berkeringat tipis.
“Kau tidak bisa melawan bayangan tanpa mengenali bentuknya,” ujar Shen Wei akhirnya.
“Aku tahu.”
“Namun untuk mengenalinya, kau harus mendekat.”
Kalimat itu menggantung di antara mereka.
Mendekat.
Artinya kembali ke pusat kekuasaan.
Kembali ke ibu kota.
Bukan sekarang.
Namun suatu hari.
Hari-hari berikutnya berjalan lambat.
Seolah dunia sengaja melambat agar ia bisa berpikir lebih dalam.
Xianyu kembali berlatih pedang.
Kali ini bukan hanya kecepatan yang diasah, melainkan ketahanan.
Shen Wei membuatnya bertahan dalam posisi bertahan lebih lama.
Tidak menyerang.
Hanya menunggu.
Menunggu celah.
Menunggu kesalahan.
Menunggu momen yang tepat.
Tangannya gemetar.
Keringat menetes dari pelipis.
Namun ia tidak bergerak sebelum waktunya.
“Apa yang kau pelajari?” tanya Shen Wei suatu sore.
“Bahwa menunggu bukan berarti diam,” jawabnya pelan.
Shen Wei mengangguk.
“Menunggu adalah bagian dari serangan.”
Kalimat itu terasa seperti kunci.
Suatu malam, seorang kurir tiba di desa.
Ia membawa kabar bahwa kondisi Li Zhen membaik setelah meminum ramuan tabib kota.
Namun pusing itu kembali muncul setiap beberapa hari.
Tidak parah.
Namun cukup untuk membuatnya waspada.
Xianyu mendengarkan dengan tenang.
Ia tidak tersenyum.
Tidak menunjukkan emosi.
Namun di dalam hatinya, teka-teki itu semakin jelas.
Jika racun itu sama—
maka pelakunya memiliki akses ke banyak meja makan bangsawan.
Bukan hanya meja Kaisar.
Bukan hanya satu keluarga.
Ia menatap langit malam.
Bintang-bintang tampak lebih redup karena udara musim panas yang mulai lembap.
Permainan ini lebih luas dari dugaannya.
Dan ia—
yang dulu hanya seorang putri yang hidup dalam tembok istana—
kini berdiri di luar, melihat peta yang lebih besar.
“Aku tidak bisa terburu-buru,” bisiknya pada diri sendiri.
Jika ia bergerak sekarang, ia mungkin hanya akan memicu kewaspadaan mereka.
Ia harus menjadi sesuatu yang tidak diperhitungkan.
Seseorang yang tidak dianggap ancaman.
Bayangan.
Beberapa hari kemudian, ia kembali berdiri di tepi sungai.
Airnya kini lebih hangat.
Arusnya sedikit lebih cepat karena salju di pegunungan telah sepenuhnya mencair.
Ia menatap pantulannya.
Wajahnya tidak lagi terlihat seperti gadis istana.
Kulitnya sedikit lebih gelap karena matahari.
Tatapannya lebih dalam.
Lebih sunyi.
“Aku akan kembali,” katanya pelan.
“Namun bukan sebagai anak yang diusir.”
Ia akan kembali sebagai seseorang yang memahami kelemahan musuhnya.
Sebagai seseorang yang telah melihat bagaimana racun bisa menggerogoti dari dalam.
Sebagai seseorang yang tahu bahwa balas dendam bukan sekadar membalas luka—
melainkan memutus sumber luka itu sendiri.
Angin musim panas berhembus, menggerakkan rambutnya perlahan.
Di kejauhan, burung-burung terbang rendah di atas air.
Waktu terus berjalan.
Dan untuk pertama kalinya sejak pengasingannya,
Li Xianyu tidak merasa dikejar waktu.
Ia merasa berjalan bersamanya.
Perlahan.
Tenang.
Namun dengan arah yang semakin jelas.
Musim panas baru saja dimulai.
Dan bersama panas yang semakin menguat,
ia tahu—
intrik yang selama ini tersembunyi
akan mulai menunjukkan bayangannya.
Dan ketika saat itu tiba,
ia tidak lagi hanya menjadi saksi.
Ia akan menjadi bagian dari permainan.
Namun untuk sekarang,
ia memilih tetap mengalir.
Seperti sungai di hadapannya.
Mengikis batu sedikit demi sedikit.
Tanpa suara.
Tanpa tergesa.
Namun tak terhentikan.