Musim semi benar-benar berada di ujung napas terakhirnya.
Udara tidak lagi setajam beberapa bulan lalu, tetapi belum sepenuhnya hangat. Angin berhembus membawa aroma tanah yang mulai mengering, bercampur dengan wangi bunga liar yang telah mekar penuh di lereng-lereng kecil sekitar kuil.
Di kejauhan, suara lonceng pagi terdengar perlahan.
Li Xianyu terbangun sebelum bunyi itu selesai bergema.
Ia sudah terbiasa bangun sebelum dunia membuka mata.
Di kamar kecilnya yang sederhana—dinding kayu, tikar anyaman, dan jendela sempit yang menghadap hutan pinus—ia duduk sejenak tanpa bergerak. Napasnya teratur. Tatapannya kosong, namun bukan kosong karena hampa.
Ia sedang berpikir.
Tentang waktu.
Tentang langkah berikutnya.
Tentang bagaimana musim panas akan membawa lebih dari sekadar udara panas.
Ia bangkit perlahan, melipat selimutnya rapi. Setiap gerakannya terukur. Tidak tergesa. Tidak lagi seperti gadis yang pernah terburu-buru mengejar persetujuan istana.
Kini, setiap pagi adalah latihan pengendalian diri.
Di halaman belakang, embun masih bertahan di ujung rumput.
Shen Wei sudah menunggu.
Ia tidak pernah banyak bicara sebelum latihan dimulai. Hanya tatapan singkat yang menjadi isyarat.
Xianyu berdiri tegak, pedang kayu di tangan.
“Kita mulai tanpa aba-aba,” ujar Shen Wei pelan.
Belum selesai kalimat itu, ia sudah bergerak.
Cepat.
Tidak seperti biasanya.
Xianyu hampir terlambat mengangkat pedang untuk menangkis.
Benturan kayu terdengar keras. Getarannya merambat ke lengan hingga ke bahu.
Shen Wei menyerang lagi.
Tidak memberi ruang.
Tidak memberi kesempatan untuk berpikir.
Xianyu terpaksa mundur satu langkah.
Lalu dua.
Namun kali ini ia tidak panik.
Ia mengingat satu hal yang diajarkan Shen Wei minggu lalu:
Jika musuh lebih cepat, jangan lawan kecepatannya. Hancurkan ritmenya.
Saat Shen Wei kembali mengayunkan pedang dari sisi kanan, Xianyu tidak menangkis.
Ia melangkah mendekat.
Terlalu dekat untuk ayunan penuh.
Pedang kayu Shen Wei kehilangan tenaga sebelum menyentuh bahunya.
Xianyu memutar tubuhnya dan menyentuhkan ujung pedangnya ke sisi perut Shen Wei.
Sunyi.
Angin berhenti seolah ikut menyaksikan.
Shen Wei menatap ujung pedang itu, lalu mengangkat pandangan pada Xianyu.
“Lebih baik,” katanya singkat.
Xianyu menurunkan pedangnya, napasnya berat.
“Namun kau masih ragu di awal,” lanjutnya.
Xianyu tersenyum samar.
“Aku tidak ragu,” katanya pelan. “Aku hanya tidak ingin mati sia-sia.”
Shen Wei menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.
“Aku tidak mengajarkanmu untuk mati,” ujarnya. “Aku mengajarkanmu untuk hidup.”
Kalimat itu sederhana.
Namun menetap lama di d**a Xianyu.
Setelah latihan, ia membantu para biksuni membawa air dari sumur.
Kehidupan kuil berjalan seperti biasa—tenang, teratur, hampir membosankan bagi orang luar.
Namun bagi Xianyu, ketenangan itu adalah ruang belajar.
Ia memperhatikan bagaimana para biksuni berbicara dengan para penduduk desa yang datang meminta doa.
Bagaimana mereka mendengarkan lebih banyak daripada berbicara.
Bagaimana satu kalimat lembut bisa meredakan kecemasan seseorang.
Kekuatan tidak selalu berwujud pedang.
Terkadang, ia hadir dalam kesabaran.
Sore harinya, Gao Ren memanggilnya.
Di bawah atap kayu kecil, meja mereka dipenuhi kain tipis, mangkuk batu, dan beberapa bubuk herbal.
“Kita tidak akan membahas racun hari ini,” kata Gao Ren.
Xianyu mengangkat alis sedikit.
“Kita akan membahas penawar.”
Ia duduk.
Mendengarkan.
“Racun menghancurkan secara diam-diam,” lanjut Gao Ren. “Namun penawar bekerja lebih lambat lagi. Ia memperbaiki tanpa terlihat.”
Xianyu memandang cairan kehijauan dalam mangkuk kecil.
“Seperti memperbaiki kepercayaan rakyat,” gumamnya.
Gao Ren tersenyum tipis.
“Persis.”
Ia mulai menjelaskan tentang kombinasi akar tertentu yang bisa menguatkan jantung dan membersihkan darah dari racun ringan.
Xianyu mencatat dalam ingatannya.
Jika ayahnya benar diracuni perlahan…
maka masih ada kemungkinan.
Harapan itu kecil.
Namun bukan nol.
Dan bagi seseorang yang hampir kehilangan segalanya, kemungkinan sekecil apa pun adalah cahaya.
Malam datang dengan lambat.
Langit memerah sebelum gelap sepenuhnya.
Xianyu duduk di bawah pohon pinus yang sama seperti malam-malam sebelumnya.
Namun malam ini, pikirannya lebih berat.
Desas-desus tentang Li Zhen semakin jelas.
Seorang pejabat desa yang datang berdoa pagi tadi menyebutkan rombongan bangsawan akan melewati wilayah ini dalam perjalanan inspeksi musim panas.
Nama itu tidak disebutkan.
Namun Shen Wei yakin.
“Itu dia,” katanya singkat ketika Xianyu menyampaikan kabar itu.
Xianyu tidak langsung menjawab.
Ia menatap tanah.
Jika Li Zhen benar datang…
apa yang harus ia lakukan?
Menyergapnya?
Terlalu berisiko.
Mengikutinya?
Butuh rencana matang.
Atau hanya mengamati?
Mungkin itu yang paling bijak.
Namun dadanya tetap terasa panas.
Ia mengingat kembali hari terakhir di istana.
Tuduhan.
Tatapan dingin.
Langkah kaki yang tidak menoleh saat ia dibawa pergi.
Ia menggenggam jepit giok di tangannya.
Benda kecil itu kini bukan lagi lambang masa lalu.
Melainkan pengingat.
Bahwa ia pernah memiliki segalanya.
Dan semuanya direnggut.
“Aku tidak akan membiarkan emosi mengendalikan langkahku,” bisiknya pada angin.
Beberapa hari kemudian, kuil menerima kabar resmi.
Rombongan bangsawan akan bermalam satu malam di desa sebelum melanjutkan perjalanan ke wilayah barat.
Kuil diminta menyiapkan doa keselamatan.
Itu berarti—
Li Zhen akan berada di dekatnya.
Begitu dekat hingga Xianyu mungkin bisa melihat wajahnya dari jarak beberapa langkah.
Malam sebelum kedatangan rombongan itu, Xianyu tidak bisa tidur.
Ia duduk di dekat jendela.
Mendengarkan suara serangga malam.
Mengingat kembali wajah Li Zhen dengan jelas.
Garis rahangnya.
Cara ia tersenyum tanpa kehangatan.
Cara ia membungkuk di depan Kaisar dengan hormat palsu.
Apakah ia pernah merasa bersalah?
Atau semua itu hanya permainan baginya?
Xianyu menyentuh dadanya.
Jantungnya berdetak stabil.
Tidak seperti dulu.
Tidak liar.
Ia tidak lagi gadis yang menangis di bawah hujan.
Ia adalah seseorang yang sedang menunggu.
Hari itu tiba.
Langit cerah.
Tidak ada awan.
Penduduk desa berkumpul di pinggir jalan utama.
Debu beterbangan saat rombongan kuda mendekat.
Bendera keluarga bangsawan berkibar.
Xianyu berdiri di antara para biksuni.
Kepalanya tertunduk.
Pakaian abu-abu sederhana menyamarkan siapa dirinya dulu.
Ia tidak melihat ke atas.
Belum.
Suara derap kuda berhenti.
Suara langkah kaki turun dari pelana.
Lalu—
suara yang ia kenal.
Tenang.
Terkontrol.
Sedikit serak.
Memberi perintah singkat pada bawahannya.
Jantung Xianyu berdetak satu kali lebih keras.
Namun ia tetap diam.
Tetap menunduk.
Doa dimulai.
Suara para biksuni melantunkan mantra lembut.
Xianyu berdiri beberapa langkah di belakang.
Ia akhirnya mengangkat pandangan.
Pelan.
Hanya sekilas.
Dan di sana ia melihatnya.
Li Zhen.
Wajahnya tidak banyak berubah.
Sedikit lebih dewasa.
Sedikit lebih tegas.
Namun mata itu—
tetap sama.
Dingin.
Menghitung.
Ia berbicara dengan kepala kuil, berpura-pura rendah hati.
Xianyu memperhatikan setiap geraknya.
Cara ia memegang lengan bajunya.
Cara ia menoleh ketika mendengar suara kecil di belakang.
Cara ia memindai sekitar tanpa terlihat mencurigakan.
Ia berhati-hati.
Seperti seseorang yang tahu banyak orang mungkin membencinya.
Doa selesai.
Rombongan diizinkan beristirahat di paviliun tamu desa.
Xianyu tetap di tempatnya sampai mereka pergi.
Shen Wei mendekat tanpa suara.
“Kau melihatnya,” katanya.
“Ya.”
“Apa yang kau rasakan?”
Xianyu terdiam cukup lama.
“Tidak sebanyak yang kukira.”
Shen Wei menatapnya.
“Aku marah,” lanjut Xianyu pelan. “Namun kemarahanku tidak lagi buta.”
Itu benar.
Ia tidak ingin menyerangnya.
Tidak ingin berteriak.
Ia hanya ingin memahami.
Dan menjatuhkannya dengan cara yang tidak bisa ia bangkitkan kembali.
Sore itu, saat matahari mulai condong, seorang pelayan dari rombongan bangsawan datang ke kuil.
Ia meminta ramuan untuk mengatasi pusing ringan yang dialami tuannya.
Xianyu dan Gao Ren saling bertukar pandang.
Pusing ringan.
Seperti gejala awal huanxi.
Namun tentu saja, itu belum bukti apa pun.
Gao Ren menyiapkan ramuan sederhana yang tidak mencurigakan.
Xianyu memperhatikan pelayan itu.
Tangannya gemetar tipis.
Bukan karena takut.
Namun karena gugup.
“Tuanku sering merasa pusing akhir-akhir ini,” katanya tanpa diminta.
Xianyu menunduk.
“Cuaca berubah,” jawabnya lembut. “Tubuh butuh waktu menyesuaikan.”
Pelayan itu mengangguk.
Namun sebelum pergi, ia sempat berkata, “Tuanku tidak suka terlihat lemah.”
Kalimat itu menggantung.
Tidak jelas maknanya.
Namun cukup untuk membuat Xianyu berpikir.
Apakah Li Zhen juga diracuni?
Atau—
apakah ia mulai menuai sesuatu yang ia tanam sendiri?
Malam itu, Xianyu berdiri di tepi sungai lagi.
Air mengalir seperti biasa.
Tidak peduli siapa yang berkuasa.
Tidak peduli siapa yang jatuh.
Ia menatap pantulan bulan.
Hari ini, ia telah melihat musuhnya dari dekat.
Dan ia tidak hancur.
Itu kemenangan kecil.
Ia menyadari sesuatu.
Balas dendam bukan hanya tentang menghancurkan.
Melainkan tentang bertahan cukup lama untuk melihat kebenaran terungkap.
“Aku akan menunggu,” bisiknya.
“Namun bukan tanpa bergerak.”
Di kejauhan, suara kuda terdengar samar.
Rombongan akan pergi esok pagi.
Namun kehadiran mereka telah meninggalkan sesuatu.
Petunjuk.
Kemungkinan.
Retakan kecil pada dinding yang selama ini terlihat kokoh.
Musim panas benar-benar telah tiba.
Dan bersama panasnya udara,
intrik mulai bergerak lebih cepat.
Namun Li Xianyu tetap seperti air sungai di hadapannya—
mengalir perlahan.
Dalam.
Tenang.
Menunggu saat yang tepat
untuk mengikis batu
yang selama ini berdiri menghalangi jalannya.