Chapter 2

1223 Words
Kereta itu berhenti ketika langit hampir kehilangan warna. Bukan senja, bukan pula siang. Hanya hamparan abu-abu pucat yang menyelimuti perbatasan utara kekaisaran. Angin berembus lebih tajam di sini, membawa bau tanah basah dan kayu pinus yang belum sempat ditebang. Li Xianyu membuka matanya perlahan. Selama perjalanan panjang dari ibu kota, ia tidak benar-benar tidur. Ia hanya memejamkan mata, membiarkan tubuhnya berguncang mengikuti irama roda kayu yang melindas batu dan lumpur. Setiap kali kereta berhenti untuk istirahat, ia tidak bertanya di mana mereka berada. Tidak ada yang akan menjawabnya dengan jujur. Ketika tirai kereta disingkap, udara dingin langsung menyentuh wajahnya. “Turun,” kata seorang prajurit singkat. Tidak ada lagi sapaan hormat. Tidak ada lagi sebutan Yang Mulia. Xianyu turun tanpa bantuan. Hanfu tipis yang ia kenakan terasa tidak cukup menahan dingin. Sepatu sutranya yang dulu berjalan di lantai marmer istana kini menapak tanah kasar yang bercampur salju tipis. Di hadapannya berdiri sebuah kuil tua. Atapnya melengkung, cat merahnya pudar dimakan waktu. Lentera-lentera kayu tergantung diam, tidak menyala. Di depan gerbang, sebatang pohon pinus berdiri tegak, cabang-cabangnya dipenuhi salju. “Mulai hari ini, kau tinggal di sini,” ujar prajurit itu lagi. “Atas titah Kaisar.” Xianyu menatap gerbang kuil tanpa ekspresi. Ia menunggu. Menunggu mungkin seseorang akan muncul dan berkata bahwa ini semua kesalahan. Bahwa ia akan dibawa kembali. Bahwa ibunya masih hidup. Namun tidak ada yang datang. Kereta itu berbalik arah tanpa sepatah kata pun. Suara roda kayu semakin menjauh, meninggalkan keheningan yang terasa hampir menyakitkan. Untuk pertama kalinya sejak malam itu, Xianyu benar-benar sendirian. Gerbang kuil terbuka perlahan. Seorang biksuni tua berdiri di ambang pintu. Wajahnya dipenuhi garis waktu, namun matanya jernih dan tenang seperti danau di musim panas. “Kau adalah Li Xianyu,” katanya tanpa nada tanya. Xianyu mengangguk. “Masuklah.” Tidak ada simpati dalam suara itu. Namun juga tidak ada penghinaan. Hanya penerimaan yang sederhana. Langkah Xianyu terasa berat saat melewati gerbang. Halaman dalam kuil jauh lebih kecil dibanding halaman istana. Lantai batunya retak di beberapa tempat. Sebuah lonceng perunggu kecil tergantung di sudut, tertiup angin pelan. Di sinilah ia akan tinggal. Putri Mahkota yang dulu memiliki seratus pelayan kini hanya ditemani gema langkahnya sendiri. “Kami tidak punya banyak,” ujar biksuni itu sambil berjalan di depannya. “Kau akan berbagi kamar kecil di sayap timur. Makanan sederhana. Air harus kau ambil sendiri dari sumur.” Xianyu mendengarkan tanpa menyela. Ia tidak lagi memiliki hak untuk mengeluh. Kamar yang ditunjukkan padanya berukuran kecil. Hanya ada ranjang kayu keras, selimut tipis, dan meja rendah dengan lilin setengah habis. Ia berdiri di tengah ruangan cukup lama sebelum akhirnya duduk di tepi ranjang. Tangannya bergerak pelan, menyentuh permukaan kayu yang kasar. Dulu, tangannya memegang sutra dan giok. Kini, hanya kayu dingin. Dadanya terasa kosong. Namun kali ini, ia tidak menangis. Air matanya seolah telah membeku bersama salju. Hari-hari pertama berlalu seperti bayangan. Xianyu bangun sebelum fajar, mengikuti jadwal para biksuni. Ia menyapu halaman, mencuci pakaian di sungai kecil di belakang kuil, dan mengangkut kayu bakar. Tubuhnya yang dulu jarang melakukan pekerjaan kasar mulai terasa nyeri. Telapak tangannya memerah dan melepuh. Setiap malam, ia berbaring di ranjang keras, menatap langit-langit kayu yang retak. Dalam keheningan itu, bayangan ibunya selalu datang. Senyum lembut. Tatapan terakhir. Kata tanpa suara: Hiduplah. Xianyu memejamkan mata. Apa arti hidup ketika segalanya telah dirampas? Namun setiap kali pertanyaan itu muncul, wajah Li Zhen ikut terbayang. Tatapan dingin di halaman istana. Bisikan yang merendahkan. Dan di balik semua itu, bayangan Selir Rong yang menangis dengan air mata yang terasa terlalu sempurna. Perlahan, di dalam ruang kosong dadanya, api kecil mulai menyala. Bukan kemarahan yang meledak-ledak. Melainkan bara yang tenang. Bara yang sabar menunggu angin. Musim gugur berubah menjadi musim dingin. Salju turun lebih sering. Kuil menjadi sunyi, hampir terisolasi dari dunia luar. Jalan menuju kota kecil di kaki gunung tertutup es. Suatu sore, ketika Xianyu sedang mengambil air dari sumur, ia mendengar suara derap kuda. Langkahnya terhenti. Jarang ada tamu datang saat musim dingin seperti ini. Ia menoleh perlahan. Seorang pria turun dari kudanya di depan gerbang kuil. Ia mengenakan mantel tebal berwarna gelap. Tubuhnya tinggi dan tegap. Di pinggangnya tergantung pedang. Bukan pedang biasa. Itu pedang militer. Xianyu merasakan napasnya tertahan. Pria itu berbicara dengan biksuni tua di gerbang. Mereka berbicara cukup lama. Angin membawa potongan kata-kata yang tidak jelas. Kemudian pria itu menoleh. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, waktu terasa berhenti. Mata pria itu tajam, namun tidak bermusuhan. Ada sesuatu di dalamnya—pengamatan, mungkin juga pengenalan. Ia berjalan mendekat. Xianyu berdiri tegak, meski jantungnya berdetak lebih cepat. “Apakah kau Li Xianyu?” tanyanya pelan. Ia tidak menyebut gelar. Tidak pula menyebut aib. Hanya namanya. “Aku pernah menjadi orang itu,” jawab Xianyu tenang. Pria itu terdiam sejenak. “Aku Jenderal Muda Shen Wei.” Nama itu membuat ingatan lama bergerak di benaknya. Shen Wei. Putra dari Jenderal Shen yang dulu setia pada Permaisuri Agung. Ia ingat pernah melihatnya beberapa kali di aula istana. Saat itu ia masih lebih muda, berdiri di belakang ayahnya dengan sikap tegap. “Ayahku…” suara Shen Wei sedikit merendah, “berutang nyawa pada Ibu Permaisuri.” Dada Xianyu mengencang. Untuk pertama kalinya sejak diasingkan, seseorang menyebut ibunya tanpa tuduhan. Tanpa penghinaan. “Ayahmu adalah orang terhormat,” katanya pelan. Shen Wei menatapnya lebih dalam. “Aku datang bukan atas perintah istana,” ujarnya. “Aku datang atas kehendakku sendiri.” Angin meniup rambut Xianyu yang kini jarang dihias. Ia tampak berbeda dari putri istana dulu—lebih pucat, lebih kurus, namun matanya tidak lagi secerah dahulu. Kini, matanya lebih dalam. “Apa yang kau inginkan dariku, Jenderal?” tanyanya. Shen Wei tidak langsung menjawab. “Aku ingin memastikan kau masih hidup,” katanya akhirnya. Jawaban itu sederhana. Namun membuat sesuatu bergetar di dalam hati Xianyu. Masih hidup. Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatap pria itu. “Aku hidup,” ucapnya pelan. “Namun bukan lagi orang yang sama.” Shen Wei mengangguk, seolah memahami sesuatu yang tidak diucapkan. “Aku tidak bisa membawamu kembali,” katanya. “Belum.” Kata terakhir itu menggantung di udara. Belum. Artinya, mungkin suatu hari. “Mengapa kau membantuku?” tanya Xianyu. Shen Wei menatap salju yang mulai turun lagi. “Karena aku tidak percaya pada dakwaan itu,” jawabnya pelan. “Dan karena jika kebenaran benar-benar telah dibunuh malam itu… maka negeri ini sedang berjalan menuju kehancuran.” Keheningan menyelimuti mereka. Di kejauhan, lonceng kecil kuil berbunyi tertiup angin. Xianyu merasakan sesuatu yang telah lama hilang mulai kembali—bukan kebahagiaan, bukan pula harapan yang polos. Melainkan tujuan. “Jika suatu hari aku kembali,” katanya perlahan, “aku tidak akan kembali sebagai korban.” Shen Wei menatapnya tanpa berkedip. “Aku tahu.” Salju turun semakin lebat, menutupi jejak kaki mereka di tanah. Namun di bawah salju itu, bumi tetap ada. Dan di dalam hati Li Xianyu, sesuatu telah tumbuh. Bukan sekadar keinginan untuk bertahan hidup. Melainkan tekad. Tekad yang tidak akan padam hanya karena dingin. Malam itu, ketika ia kembali ke kamar kecilnya, ia duduk lama di depan lilin yang hampir habis. Bayangan api kecil menari di dinding kayu. Ia teringat kata terakhir ibunya. Hiduplah. Kini ia mulai memahami. Hidup bukan sekadar bernapas. Hidup adalah menunggu waktu yang tepat. Dan ketika waktu itu tiba— ia akan memastikan bahwa langit yang dulu menyaksikan kejatuhannya akan kembali menyaksikan kebangkitannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD