Chapter 4

1416 Words
Musim semi datang tanpa suara. Tidak ada teriakan kemenangan, tidak ada lonceng yang berdentang menyambutnya. Ia hanya hadir pelan-pelan—melunakkan tanah yang beku, mengubah putih menjadi hijau, dan membiarkan bunga liar tumbuh di sela batu. Di kuil kecil di perbatasan utara itu, Li Xianyu berdiri di halaman dengan pakaian sederhana berwarna biru pucat. Lengan bajunya digulung hingga pergelangan, tangannya masih sedikit kotor oleh tanah. Ia baru saja selesai menanam bibit sayuran bersama para biksuni. Dulu, ia tidak pernah menyentuh tanah seperti ini. Dulu, tangannya hanya memegang kuas kaligrafi, sutra halus, atau cangkir porselen tipis. Kini, ia merasakan denyut kehidupan dari bumi yang lembap di sela-sela jarinya. Aneh sekali—ia merasa lebih nyata di sini daripada di aula istana yang megah. Namun kenyataan tidak selalu berarti damai. Ada malam-malam ketika ia masih terbangun karena mimpi. Dalam mimpi itu, hujan turun deras. Ibunya berdiri di halaman istana, mengenakan pakaian putih. Dan Xianyu selalu terlambat. Selalu terhalang. Selalu tidak mampu menyelamatkan. Ia terbangun dengan napas tercekat, d**a terasa sesak seperti dihimpit sesuatu yang tak terlihat. Setiap kali itu terjadi, ia duduk tegak di ranjang kayu kecilnya, memeluk lutut, dan menunggu sampai detak jantungnya kembali teratur. Musim semi mungkin datang. Namun luka tidak mengenal musim. Shen Wei datang lagi pada suatu pagi ketika kabut masih menggantung rendah. Kehadirannya kini tidak lagi mengejutkan para biksuni. Ia diterima sebagai tamu yang jarang berbicara namun selalu membawa sesuatu—kadang buku, kadang kain, kadang hanya kabar. Hari itu, ia membawa gulungan kain panjang. “Apa itu?” tanya Xianyu ketika mereka berdiri di dekat sungai kecil di belakang kuil. “Peta,” jawab Shen Wei singkat. Ia membentangkannya di atas batu datar. Peta wilayah kekaisaran terbentang di depan mereka. Garis-garis tinta menunjukkan sungai, pegunungan, kota-kota penting, dan jalur perdagangan. Xianyu berlutut di sampingnya. Ia mengenali ibu kota di tengah peta. Istana Tianlong tergambar kecil, namun baginya, tempat itu terasa lebih besar dari dunia. “Perbatasan utara ini,” Shen Wei menunjuk dengan jarinya, “selama ini dijaga oleh pasukan Ayahku. Namun setelah kematian beliau, sebagian komando dialihkan.” “Dialihkan ke siapa?” tanya Xianyu pelan. “Ke orang-orang yang lebih dekat dengan Permaisuri baru.” Nada suaranya datar. Namun Xianyu bisa merasakan ketegangan di baliknya. “Apakah mereka mencurigaimu?” tanyanya. Shen Wei menatapnya sebentar. “Mereka mencurigai semua orang yang tidak bersorak cukup keras.” Keheningan menyelimuti mereka. Angin menggerakkan ujung peta, membuatnya bergetar pelan. “Jika istana menguatkan cengkeramannya di militer,” Xianyu berkata perlahan, “maka mereka sedang menutup kemungkinan pemberontakan.” Shen Wei mengangguk. “Kau memahami lebih cepat dari yang kuduga.” Xianyu tersenyum tipis, tanpa kebanggaan. “Aku tidak punya pilihan selain belajar cepat.” Ia menggeser jarinya ke jalur perdagangan di peta. “Namun militer bukan satu-satunya kekuatan,” lanjutnya. “Pajak. Perdagangan. Kepercayaan rakyat. Jika salah satu goyah…” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Shen Wei menatapnya lebih lama dari biasanya. “Xianyu,” katanya pelan, “kau tidak lagi terdengar seperti seorang putri.” Ia menoleh, tatapannya tenang. “Karena aku bukan lagi seorang putri.” Kata-kata itu jatuh begitu saja. Tanpa emosi berlebihan. Namun di dalamnya ada kesedihan yang tak terucap. Beberapa hari kemudian, seorang tamu lain datang ke kuil. Seorang pria tua dengan jubah sederhana, membawa kotak kayu di tangannya. Ia memperkenalkan diri sebagai tabib keliling. Biksuni tua menerima kedatangannya dengan tenang, mempersilakan ia beristirahat. Xianyu mengamati pria itu dari kejauhan. Ada sesuatu pada cara ia berjalan—tegak, tidak seperti orang tua biasa. Malam itu, ketika para biksuni telah tidur, Xianyu mendengar ketukan pelan di pintunya. Ia membuka dengan hati-hati. Pria tua itu berdiri di luar. “Aku diberi tahu bahwa kau tinggal di sini,” katanya pelan. “Siapa yang memberi tahu?” tanya Xianyu waspada. “Seorang jenderal muda yang keras kepala.” Shen Wei. Xianyu terdiam sejenak sebelum mempersilakan pria itu masuk. Di dalam kamar kecilnya, pria itu membuka kotak kayu yang dibawanya. Di dalamnya terdapat botol-botol kecil, gulungan kain, dan beberapa alat medis. “Aku dulu tabib istana,” katanya tanpa diminta. Jantung Xianyu berdetak lebih cepat. “Namaku Gao Ren.” Nama itu seperti gema dari masa lalu. Ia pernah mendengar ibunya menyebutnya. Tabib yang paling dipercaya oleh Kaisar. “Mengapa Anda di sini?” tanya Xianyu. Gao Ren menatapnya dengan mata yang tajam meski dikelilingi keriput. “Karena aku tidak percaya Permaisuri Agung menggunakan sihir,” katanya. “Dan karena aku pernah melihat racun yang lebih halus daripada tuduhan.” Napas Xianyu tertahan. “Racun?” Gao Ren mengangguk. “Kaisar tidak sakit secara alami. Gejalanya… tidak biasa. Lemah perlahan. Pusing. Gangguan tidur. Namun tidak cukup parah untuk membunuh cepat.” Xianyu merasa dunia kembali berputar. “Apakah Anda menyampaikan kecurigaan itu?” suaranya hampir berbisik. “Pada siapa?” Gao Ren tersenyum pahit. “Istana sudah memilih narasinya.” Keheningan di kamar kecil itu terasa lebih berat dari dinding istana. “Jika Kaisar diracuni,” Xianyu berkata perlahan, “maka Ibu hanya kambing hitam.” “Ya.” Jawaban itu begitu sederhana. Namun dampaknya menghantam seperti badai. Xianyu berdiri perlahan. Kakinya terasa lemah. Ia berjalan ke jendela kecil dan menatap langit malam. Bintang-bintang tampak jauh. Terlalu jauh. “Apakah Ayahanda tahu?” tanyanya tanpa berbalik. Gao Ren tidak langsung menjawab. “Entah,” katanya akhirnya. “Namun seseorang di sekelilingnya pasti tahu.” Air mata akhirnya jatuh. Bukan tangisan keras. Hanya tetesan diam yang mengalir tanpa suara. “Ibu mati untuk kejahatan yang tidak ia lakukan,” bisiknya. Shen Wei benar. Ini bukan sekadar perebutan takhta. Ini lebih dalam. Lebih kotor. Dan lebih berbahaya. Sejak malam itu, sesuatu dalam diri Xianyu berubah lagi. Bukan hanya tekad. Melainkan arah. Jika sebelumnya ia ingin kembali untuk membersihkan nama ibunya, kini ia tahu— ia harus menemukan kebenaran tentang racun itu. Dan untuk itu, ia tidak bisa bergerak sembarangan. Hari-hari berikutnya diisi dengan percakapan sunyi bersama Gao Ren. Ia belajar mengenali jenis-jenis racun, efeknya pada tubuh, cara mencampurnya, dan—yang terpenting—cara mendeteksinya. Ia mencatat semuanya di kertas kecil yang disembunyikan di bawah papan lantai kamarnya. “Racun terbaik,” kata Gao Ren suatu malam, “bukan yang membunuh cepat. Melainkan yang membuat korban tampak mati secara alami.” Xianyu memejamkan mata. Ia membayangkan ayahnya duduk di singgasana, wajahnya pucat, tubuhnya melemah. Apakah beliau sadar? Apakah beliau merasakan bahwa tubuhnya perlahan dikhianati? Dan jika ia tahu— mengapa ia tetap membiarkan Permaisuri Agung dihukum? Pertanyaan itu menyakitkan. Namun Xianyu memaksakan dirinya untuk tidak tenggelam dalam luka. Ia harus berpikir jernih. Dendam yang kabur hanya akan menghancurkannya. Suatu sore, ketika bunga liar mulai bermekaran di halaman kuil, Shen Wei berdiri di depannya dengan ekspresi yang berbeda. Lebih tegang. “Ada desas-desus,” katanya. “Apa lagi?” tanya Xianyu tenang. “Putra Mahkota Li Zhen akan melakukan inspeksi wilayah utara musim panas ini.” Jantungnya bergetar. “Ke sini?” “Tidak sampai kuil. Namun ke kota di kaki gunung.” Jaraknya tidak terlalu jauh. Cukup dekat. Cukup berbahaya. “Atau cukup dekat untuk melihatnya dari jauh,” Xianyu berkata perlahan. Shen Wei menatapnya tajam. “Apa yang kau pikirkan?” Ia tidak langsung menjawab. Ia menatap ladang kecil di belakang kuil, tempat ia menanam sayuran dengan tangannya sendiri. “Aku ingin melihat wajahnya,” katanya akhirnya. “Untuk apa?” “Untuk memastikan bahwa aku tidak membayangkan kebencianku.” Angin musim semi menyapu rambutnya. “Aku harus tahu seperti apa pria yang kini duduk di tempatku.” Shen Wei terdiam lama. “Itu terlalu berisiko.” “Segalanya memang berisiko.” Ia menatapnya lurus. “Aku tidak akan melakukan apa pun. Hanya melihat.” Shen Wei menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa menghentikannya. Karena di balik wajah tenang itu, ada kekuatan yang tidak mudah digoyahkan. Malam itu, Xianyu duduk sendirian di bawah pohon pinus. Musim semi membuat udara terasa lebih lembut. Namun hatinya tidak lebih ringan. Ia memegang jepit giok di tangannya. “Ibu,” bisiknya pelan, “aku tidak lagi hanya ingin hidup.” Ia menutup matanya. “Aku ingin keadilan.” Angin berembus pelan. Cabang pinus bergoyang lembut. Dan di bawah langit yang perlahan berubah warna oleh cahaya bulan, Li Xianyu menyadari satu hal— jalan yang ia pilih tidak akan membawanya kembali pada kepolosan. Ia akan berjalan lebih jauh ke dalam bayangan. Namun di dalam bayangan itulah, ia akan menemukan kebenaran. Dan ketika waktunya tiba, musim semi ini— yang tampak begitu lembut— akan menjadi awal dari badai yang tak seorang pun di Istana Tianlong pernah bayangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD