4 tahun kemudian.
Eveline tumbuh menjadi gadis muda yang cukup disegani dikalangan kampusnya. Saat ini ia telah menjadi mahasiswa jurusan seni di kampus ternama Terrance University. Eveline yang memiliki paras wajah cantik dan sikapnya yang lembut tentu membuat banyak laki-laki yang menyukainya. Terlebih ia ramah ke semua orang. Tak sedikit dari mereka mencoba menembak Eveline namun gadis itu menolaknya. Ia masih fokus dengan kuliah dan juga penyelidikannya terkait pembunuh orang tuanya 5 tahun yang lalu.
Seperti biasa, seusai ada kelas. Eveline pergi ke studio untuk melukis. Ia sangat suka menggambar sejak kecil, ia selalu menghabiskan waktu di sana berjam-jam saat jam kosong untuk mengisi waktu luang.
Saat sedang asyik melukis, ponsel Velin berdering. Rupanya dari Olice, segera ia mengangkatnya. "Iya Liv, ada apa?"
"Beb, gue ntar pulang malam lagi ya. Masih ada sesi foto nih!"
"Oh. Oke!"
"Lo hati-hati ya pulangnya!"
"Gue yang harus bilang gitu Liv, hati-hati kalau pulang!"
Olive—gadis yang juga sahabat Eveline sejak mereka masih kecil, Olive juga tinggal bersamanya di apartemen. Berbanding terbalik dengan Eveline. Olive memiliki pribadi centil dan sangat menjaga penampilan. Ia juga seorang model di majalah sebagai kerja sampingannya. Ia sebenarnya satu jurusan di kampus bersama Eveline, tapi gadis itu izin tidak masuk dengan alasan kerjaan sebagai Model. Terpaksa, hari ini Eveline akan pulang sendiri lagi.
***
Eveline yang tengah membereskan peralatannya dan kemudian pulang, ia terpaksa pulang agak malam untuk menyelesaikan pesanan lukisan yang dibuatnya.
Suasana kampus mulai sepi, Velin berjalan sendirian menuju ke gerbang depan. Beruntung masih ada satpam dan beberapa mahasiswa yang masuk di jam malam. Velin lalu menunggu bus untuk pulang di halte. Saat bus datang, ia langsung masuk ke dalam dan duduk di bangku paling pojok sambil mendengarkan lagu di headsetnya. Jarak untuk sampai ke apartemennya lumayan jauh, dengan sedikit mengantuk, ia mulai mengecek ponselnya membuka berita yang tersiar malam itu.
Seorang pebisnis kaya ditemukan terbunuh di salah satu apartemennya.
“Pembunuhan lagi,” batin Velin.
Bus yang ditumpangi Velin berhenti di halte terakhir, sudah tidak ada anak yang menumpang malam itu. velin turun dari sana dan harus berjalan sekitar 100 meter untuk sampai ke apartemennya.
Velin harus melewati gang kecil yang terlihat sepi malam itu, temarang lampu jalan tak membuatnya takut, sesekali ia melihat layar ponselnya untuk mengalihkan rasa takutnya, sampai sebuah suara mengejutkannya. Velin terkejut. Ia menghentikan langkahnya sejenak. Suara itu kembali terdengar, Velin membeku.
“Suara apa itu?”
Velin memberanikan diri untuk mencari sumber suara yang didengarnya, dan rupanya suara itu berasal dari gang sebelah yang merupakan gang buntu dan sepi, sambil mengendap-endap, Velin melangkah dengan mengarahkan ponsel miliknya ke depan.
Mata Velin ternganga ketika melihat seorang laki-laki dikeroyok dan terlihat dari kejauhan seorang laki-laki berjas hitam di sana. Eveline mengira dialah orang meroyoknya. Tanpa basa basi dengan segala ketakutan akan konsekuensi yang didapat kalau ikut campur, Eveline mencoba menelpon polisi. Namun rupanya kejadian itu dilihat oleh laki-laki itu, lidah Velin kelu, bahkan suaranya tak berucap untuk sekedar menjerit. Kejadian itu seketika mengingatkan kejadian pembunuhan orang tuanya dulu.
Krak, tak sengaja saat ia melangkah mundur saat ia akan menelpon polisi, laki-laki yang dari arah depan menoleh ke arahnya. Mampus, Velin ketahuan. Sebelum Velin berlari laki-laki itu terlanjur mengejarnya.
Velin tersandung dan jatuh ke tanah, laki-laki itu semakin mendekat dan kali ini berhasil menangkapnya. Velin sangat ketakutan saat laki-laki itu menarik tangannya dengan tatapan tajam menyita perhatiannya.
Tak disangka, laki-laki itu melonggarkan cengkraman tangannya dan langsung mengambil ponsel miliknya dan langsung melemparkannya ke tembok dengan sekali lempar hinga jatuh berkeping-keping. Velin gemetar ketakutan, ia pun marah.
“Ponsel gue!”
Bukannya takut lagi, kini Eveline justru meminta laki-laki itu mengembalikan ponselnya. Tak disangka, laki-laki itu justru berkebalikan, ia langsung menarik gadis itu ke belakang dan memukul pundaknya hingga gadis itu pingsan di tempat. Laki-laki itu pun membopongnya dan membawanya pergi. Entah apa yang akan dilakukan laki-laki itu pada Eveline.
Drttt, getaran ponsel milik laki-laki dari balik jaketnya. Ia pun mengambilnya dan mengangkatnya. “Halo!”
“Tuan, di mana tuan sekarang?”
“Aku akan segera kembali Michael.”
“Tuan, ada masalah, cepat Tuan Victor pulang segera!”
Keynan, nama laki-laki itu. Sorot mata yang tajam seketika menghentikan langkahnya, dilihat wajah gadis yang saat ada ada di gendongannya.
"Aku mengerti!"
Tanpa pikir panjang, Victor memasukkan gadis itu ke mobilnya dan pergi ke suatu tempat. Selama di perjalanan, Victor terus melajukan mobilnya cukup tinggi. Beruntung tak ada pengaruh pada gadis itu yang masih pingsan—apa pukulannya tadi cukup keras sampai membuatnya tak sadar-sadar.
Rumah sakit Permata.
Michael asistennya telah menunggunya. Victor yang sudah sampai di depan rumah sakit langsung keluar.
"Tuan kondisi Nona kecil memburuk!"
"Aku mengerti Michael. Aku yang akan mengurusnya."
Victor masuk ke dalam, namun sebelum ia masuk, ia teringat gadis di mobilnya yang belum ia bereskan.
"Oh ya, tolong bereskan gadis yang ada di mobilku."
Michael bingung tapi ia menurut saja. Namun saat ia membuka pintu mobil betapa terkejutnya melihat seorang gadis cantik pingsan di sana. Segera Michael masuk ke dalam dan menjalankan mobil seperti yang diperintah untuk membawa gadis itu pergi.
Di tengah jalan,Velin samar-samar tersadar dan betapa terkejutnya ia saat menyadari dirinya ada di dalam mobil dan ketika ia menoleh ke samping ia langsung menjerit melihat ada orang asing di dalam.
"Nona... nona jangan takut, saya tidak akan berbuat jahat pada nona."
"An-anda siapa?"
"Saya Michael, nona baik-baik saja. Saya akan mengantar nona pulang ke rumah."
Velin sedikit ingat, bukannya dia tadi bertemu dengan seorang laki-laki yang menghabisi nyawa seseorang, dan kejadian itu dilihat langsung oleh kedua matanya.
"Laki-laki itu? Ponsel saya. Laki-laki itu harus menggantinya, di mana dia sekarang?”
“Tuan sedang ada urusan, untuk urusan ponsel yang sudah dirusak Tuan, saya akan menggantinya Nona.”
“Menggantinya?”
Michael memberi cek instan pada Eveline, betapa terkejutnya ia melihat nominal yang tertulis di sana. 100 juta? Velin ternganga lebar tak percaya. Bahkan harga ponselnya saja tak lebih dari 10 juta, ini 10 kali lipat dari yang dibayangkannya.
Michael tersenyum. "Saya akan mengantar nona pulang, di mana rumah Nona."
Saking terkejutnya, Veline sampai tak sadar saat dipanggil.
“Nona, di mana rumah Nona, biar saya yang mengantar.”
“Tung-tunggu, dimana laki-laki itu? Dia mau lepas tanggung jawab gitu aja?” Velin masih menyimpan kekesalan pada laki-laki itu.
"Maafkan kesalahan tuan saya, Nona!"
"Tuan?" Velin jadi bingung.
"Mungkin Nona sedikit kesal dengan tuan saya."
"Jelas saja, dia menghancurkan ponselku."
"Saya akan menggantinya yang lebih baru, apa merek dari ponsel Nona."
"Ahh sudahlah!" Velin terlanjut kesal.
Michael berhenti tepat di depan apartemen bertingkat, tempat tinggal gadis itu.
"Terima kasih pak!"
Setelah memgantar gadis itu, Michael gantian nelaporkan pada tuannya, Victor.
….
"Sudah saya antarkan Tuan!"
"Kerja bagus Michael!"
Victor, laki -laki yang ada diseberang terlihat duduk di dekat ranjang pasien, dan di sebelahnya seorang anak yang terbaring di depannya. Victor langsung menggenggam tangan mungil gadis itu dan berkata, "cepat sembuh sayang!" Lantas Victor mencium punggung anak kecil itu.
***
"Papah!" Teriak seorang anak kecil yang duduk di kursi roda, melihat Victor datang membawa boneka dan kue.
Anak itu langsung berlarian dan jatuh kepelukan Victor. "Kenapa baru datang, aku kan sudah menunggu papah dari tadi!"
Victor tersenyum, "maafin papah ya sayang. Tadi papah ada kerjaan bentar.”
Kiara—anak kecil yang memakai kupluk putih di kepalanya langsung memeluk Victor dengan manja. Michael yang berada di sebelahnya hanya mengamati keduanya.
“Papah, aku mau makan es krim!”
“Kiara mau es krim?”
Kiara mengangguk. “ bolehkan pah, boleh ya?” Kiara memohon dengan wajah memelas.
Victor tersenyum mengangguk. “Kiara boleh makan es krim, tapi ada satu syarat. Kiara harus minum obat dulu!”
Kiara langsung manyun, ia tak suka saat disuruh minum obat, baginya, obat yang diminum hampir setiap hari itu sangat pahit dan bahkan membuatnya ingin muntah. Dokter dan suster selalu memaksanya minum obat. Suster bilang kalau minum obat, ia akan sembuh dan bisa bermain di luar bersama anak-anak, tapi nyatanya tak ada perubahan, justru membuat rambutnya perlahan rontok dan harus memakai penutup kepala.
“Aku nggak mau minum obat!”
“Sayang!” Victor berusaha membujuknya. “Kalau Kiara mau minum obat, nanti papah ajak jalan-jalan ke luar, bagaimana?” Victor terus membujuknya.
Wajah cemberut Kiara berubah senang mendengarnya, dari dulu ia ingin sekali jalan-jalan ke luar. “Mau pah, mau!” wajah Kiara tersenyum mengembang.
“Jadi, Kiara mau minum obatnya?”
Mendengar kata ‘obat’ Kiara sebenarnya enggan untuk mematuhi perintah Victor. Namun saat dibujuk akan mendapatkan es krim dan jalan-jalan ke luar, Kiara pun berubah mematuhinya. Ia mengangguk. “Iya Kiara mau minum obatnya, tapi papah janji ajak Kiara jalan-jalan ke luar,” ancam Kiara
“Tentu saja, kita mau jalan-jalan ke mana? Dufan?”
“Aku mau ke Dufan!” teriak Kiara langsung memeluk Victor erat.
Uhuk…uhuk, saking senangnya, Kiara sampai terbatuk. Victor langsung dibuat panik. “Sayang!”
“Aku nggak papa kok Pah!”
Suster datang menghampiri Kiara untuk memeriksa kondisinya, ia diberi suntikan dari jarum infus yang melekat di tangannya. Victor mundur sebentar saar dokter dan suster mulai mengecek kondisi Kiara.
Di ruangan Dokter
“Kondisi Kiara semakin mengkhawatirkan, kanker yang ada di tubuhnya telah menyebar,” ucap dokter yang menangani Kiara.
“Tapi Kiara selalu meminum obatnya Dok, kenapa tidak ada perubahan sama sekali.”
“Maaf tuan Victor, obat yang selama ini dikonsumsi Kiara tidak untuk menghilangkan kanker di tubuhnya, tapi memperlambat kanker itu menyebar, sampai sekarang kita belum bisa menemukan obat untuk kanker otaknya.”
Deg!
Victor kesal, tapi ia tak ingin menyalakan siapapun, ia paham betul kalau selama ini dokter telah berusaha sebisa mungkin untuk menyembuhkan Kiara—gadis kecil yang telah kehilangan kedua orang tuanya itu.
***
Hari berikutnya di kampus, Eveline masuk seperti biasa. Namun hal tak terduga terjadi. saat melewati koridor kelas, suara hiruk piruk terdengar dari depan. Bahkan beberapa anak teriak histeris.
“Ada apa di sana?” Eveline hanya sedikit penasaran, tapi ia tak langsung mencari tahu. Sampai ketika ia tak sengaja melihat sosok laki-laki berjalan dari kejauhan, sontak saja Eveline membulatkan matanya.
“D-dia kan?”
Rupanya laki-laki itu datang ke kampusnya. Tapi tunggu? Bagaimana bisa laki-laki itu mengetahui kampusnya, dan untuk apa dia ada di sini? Pertanyaan demi pertanyaan membuat Eveline bingung.
“Victor!”
“Victor!”
Teriakan para gadis memanggil nama laki-laki itu, Eveline kembali mengeja nama itu pelan. Tak disangka, pandangan mata laki itu menangkapnya, Victor langsung berjalan menghampirinya.
Eveline berjalan mundur, namun saat ia berusaha berlari menjauh, Victor memanggilnya.
“Nona Anastasia?”
Eveline menoleh, bagaimana bisa dia tahu namanya?
Kerumunan di luar pun seketika bubar saat laki-laki itu mendekati Eveline. Victor tersenyum sinis padanya.
“Apa yang anda lakukan di kampus saya?”
“Bisa kita bicara sebentar?”pinta Victor.
Eveline beralasan, “Saya sibuk, hari ini ada kelas!” berusaha Velin menghindar namun laki-laki justru menarik tangannya.
“Hari ini kelas kamu kosong sampai jam 3 sore, itu artinya kamu longgar Nona,” ucap Victor penuh kemenangan.
Tanpa pikir panjang lagi, Victor langsung menarik tangan Eveline dan hal itu disaksikan langsung oleh teman sekampusnya.
“Tung-tunggu, jangan menarikku!”
Eveline hendak melayangkan satu tamparan pada Victor namun laki-laki itu dengan sigap menampiknya dan justru menarik tubuh Eveline semakin dekat padanya.
“Kamu ingin menamparku?”
Gulp, sorot tajam mata Victor hampir menghipnotisnya. Seketika Velin tersadar dan langsung menjauhkan tubuhnya dari laki-laki itu. namun Victor kembali menarik tangannya dan pergi dari kampus itu.
“Tung-tunggu, Anda mau membawa saya ke mana, lepas!”