bc

My Lovely CEO

book_age18+
19
FOLLOW
1K
READ
murder
dark
possessive
arrogant
dominant
CEO
drama
tragedy
campus
like
intro-logo
Blurb

Karena insiden kesalahpahaman, Eveline Anastasia harus berurusan dengan Victor Sebastial Fredo, CEO nan arogan yang memiliki sifat pemaksa. Kejadian di malam saat sepulang dari kampus dan melihat seseorang dikeroyok, Eveline menuduh Victor yang menjadi dalang dari pengeroyokan itu.

Victor Sebastial Fredo, harus berurusan dengan polisi atas tuduhan pengeroyokan yang tak dilakukannya, ia ingin menghapus tuntutan dari gadis yang memergokinya itu dengan mengatakan yang sebenarnya padanya.

Pertemuan keduanya yang singkat justru membuat hubungan mereka semakin diwarnai konflik. Eveline selalu bertemu dengan Victor dimanapun ia pergi dan hal itu justru membuat Victor malah memiliki ketertarikan dengan gadis itu.

Dan malam tak sengaja, Eveline bernasib sial saat seseorang memberinya alkohol dan berakhir dengan mabuk parah, dan saat itu Victor memergokinya. Gadis itu muntah di jas milik Victor dan pingsan saat itu juga.

Dan ketika ia bangun, Eveline begitu terkejut mendapati dirinya ada di apartemen milik laki-laki itu. apa yang sebenarnya terjadi dengan Eveline?

Penasaran kisah selengkapnya?

chap-preview
Free preview
Prolog
"CEPAT AMBIL AMBULANCE!" Suara sirine mobil polisi berdatangan diiringi dengan teriakan orang-orang dari dalam, "cepat...cepat!" Tampak dari kejauhan, seorang gadis dengan baju seragamnya terduduk di teras sambil menangis, orang lalu lalang melewatinya namun gadis itu tak berkutik sedikitpun dari tempat itu.  "Nak!" Seseorang mendekatinya. Gadis itu mulai mendongak, seorang polisi duduk di sampingnya. "Bisa ikut kami ke kantor untuk keterangan lebih lanjut terkait kejadian ini Nak?" "Jangan khawatir, kami pihak polisi akan berusaha menemukan siapa pembunuh orang tua kamu." Gadis itu masih tak hentinya terisak, saat dua jenasah dikeluarkan, gadis itu histeris. "Mamah... papah!" "Mamah... papah, jangan tinggalin Velin Mah pah!" Polisi berusaha menenangkan gadis itu. Dua jenasah langsung dimasukkan ke dalam mobil ambulance. Evelin—nama gadis itu, menjadi salah satu korban dari pembantaian keluarganya yang tak diketahui, yang ia ingat kejadian sebelum ia pulang ke rumah pada malam hari. Evelin menemukan papah dan mamahnya dalam keadaan terbunuh dengan luka tusukan. Ada darah di mana-mana. Jelas saja Evelin kaget dengan kondisi rumah yang berantakan malam itu. Evelin menangis sejadi-jadinya. Ia langsung menelpon polisi malam itu. Dan sekarang polisi telah datang untuk mengamankan korban.   Satu minggu kemudian. Setelah kejadian pembunuhan yang terjadi di rumahnya, sekarang rumah itu telah diamankan polisi dan disegel guna untuk penyelidikan. Sementara Eveline tinggal di apartemen untuk sementara. Sebelum ia meninggalkan selamanya rumah itu, Eveline ingin mengambil beberapa barang miliknya. Langkah Eveline masuk ke sana dengan berat, ia masih teringat kejadian malam yang begitu membekas. Kedua orang tuanya meninggal secara tragis di tempat itu dan sekarang ia sebatang kara. Jejak dari tempat itu masih sama, bahkan kondisi masih sama persis saat terakhir kali ia masuk waktu itu. Gadis berusia 15 tahun itu cukup kuat untuk menerima kenyataaan terkait pembunuhan di rumahnya. Eveline mengambil sebuah kalung yang ia temukan saat pembunuhan malam itu, sebuah kalung K yang dipastikan milih pembunuhnya. Eveline sengaja menyimpan kalung itu sebagai bahan penyelidikan siapa pembunuh orang tuanya. Ia bertekad untuk mencari siapa pembunuhnya malam itu dan alasan kenapa harus mamah dan papanya yang menjadi korban. Mulai sekarang, Eveline akan hidup sendiri. Sebenarnya polisi meminta Eveline untuk tinggal di panti asuhan yang ditunjuk, tapi ia enggan untuk tinggal di panti asuhan. Beruntung ia memiliki satu sahabat dan untuk sementara ia akan tinggal bersama sahabatnya Olive di apartemen. Beberapa bulan kemudian, Eveline mulai kembali ke kehidupan nyata, ia terpaksa bekerja di salah satu kedai kopi Moriz Coffe. Ia termasuk karyawan yang rajin dan pekerja keras sehingga bosnya sangat menyukai pekerjaanya. "Veline, tolong antar minumannya ke meja no 23," perintah bosnya. "Baik bos!" Eveline atau akrab disapa Velin memiliki paras cantik dengan rambut panjangnya, beberapa tamu pun sedikit terpikat dengannya, hanya saja Velin tak terlalu mempedulikannya. Lagipula ia masih kecil dan tak terlalu mempedulikan ketertarikan dengan seseorang. Ia kini duduk bangku SMP kelas 3 dan sebentar lagi lulus. "Jangan terlalu kecapean, besok kamu ada ujian buat kelulusan kan?" Kata bosnya yang begitu peduli padanya. "Saya baik-baik saja, jangan khawatir!" "Oh ya Velin, tadi ada temen kamu datang ke sini, dia ngasih kamu sesuatu." Bos mengeluarkan sesuatu. Veline mengernyit melihat peluit yang diberikan bos untuknya. "Ini dari teman kamu, katanya ini punya kamu?" "I-iya itu punya saya, tapi..." Velin langsung tahu siapa orangnya. .... "Gavin!" Teriak Velin pada seorang laki-laki yang kini tertidur di pohon dengan santainya. Gavin yang merasa terganggu, langsung bangun tanpa turun dari pohon, ia melihat Velin teman sekelasnya menghampirinya. "Ada apa?" Ketusnya. "Kemarin tadi ke tempat kerjaku?" Gavin seperti masa bodo." Iya mungkin." Velin tak mengerti dengan sikap Gavin yang selalu sinis padanya, bahkan sikapnya yang dingin membuat Velin sering dibuat kesal olehnya. "Bagaimana kamu bisa menemukan peluitku?" "Oh itu." Gavin hanya bereaksi datar. "Aku serius Gavin. Bisa nggak sih turun dulu kalau diajak ngomong!" Terpaksa, karena kesal mendengar celoteh Velin, laki-laki itu turun ke bawah. Kini ia menedekati Velin. "Apa?" "Aku tanya, gimana kamu bisa dapatin peluit aku?" "Mudah." "Gavin, aku tanya serius!" Velin kesal. "Kamu lupa kalau dua hari yang lalu ada tawuran antar sekolah?" Velin mengingat, "ah iya, tawuran waktu itu. Aku gunain peluit ini buat ngelerai mereka. Iya aku ingat." "Iya udah, udah tahukan alasannya?" Gavin seakan tak peduli. "Tung-tunggu. Aku belum selesai ngomong. Ih rese deh lo!" "Apa lagi?" "Iya waktu tawuran itu, aku bawa peluitnya, tapi peluit itu ilang waktu aku kedorong... tunggu!" Velin mengingat sesuatu. "Jangan-jangan kamu ikut tawu—" Sebelum Velin berteriak lebih kencang yang akan memancing guru datang, langsung ia membungkam mulutnya. "Diam!" "Mmtt...mmmt..." "Kalau lo sampai ngaduin ke guru, habis lo!" Velin yang kesal langsung menggigit tanga  Gavin hingga kesakitan."aah sakit!" Velin kesal, "jadi kamu juga ikutan tawuran kemarin?" "Iya, kenapa?" Velin bisa menduga, Gavin adalah sosok berandal yang ia kenal, tak jarang Gavin bolos pelajaran dan memilih pergi saat jam kosong. Kemana lagi kalau bukan untuk tidur siang ataupun pergi entah kenapa. Dan hari itu, saat Velin pulang dari sekolah, ia tak sengaja melihat tawuran antar sekolah. Velin awalnya tak menghiraukan dan memilih menghindar, tapi ketika ia tahu ada murid dengan  lambang dari sekolahnya. Velin langsung kaget.   Dan saat itu senjata yang ia punya adalah peluit, terpaksa ia menggunakannya untuk menghentikan tawuran itu—tapi percuma, justru Velin terdorong ke belakang dan peluit yang ia pegang hilang entah ke mana. Rupanya Gavin yang menemukannya, ia langsung tahu siapa pemilih peluit itù, karena ketika melihat dari kejauhan, sosok Velin muncul. Bagaimana bisa gadis itu ada di sini? Pikir Gavin Walau hubungan Velin dan Gavin bisa dibilang tak akur, mereka berdua cukup akrab karena berada di kelas yang sama, terlebih siapa yang bisa mendekati Gavin kalau bukan Velin. Tak banyak yang bisa mendekati laki-laki itu walau ia memiliki paras tampan. Bahkan sebelum berbicara dengannya, mereka harus menyiapkan kalimat untuk sekedar berbicara dengan Gavin karena setiap perkataan yang ia ucapkan bisa saja kasar dan seenaknya. Pernah suatu ketika seorang gadis dari kelas  sebelah menyukai Gavin dan berniat memberikan kue untuknya. Namun apa yang dilakukan Gavin. "Apa itu?" Tanya Gavin "Kue buat kakak!" "Oh, basi nggak?" Jleb, kalimat itu justru membuat si gadis ciut apalagi dengan tatapan sinisnya. "A-aku baru bikin kok kak. Ini masih baru." "Udah kamu cicipin?" "Udah, enak kok!" Gavin mencolek kue itu dan mencicipinya, "Apa ini? Bawa kembali. Gue nggak mau." Setelah mengucapkan itu, Gavin seenaknya pergi. Hal itu pun dilihat juga oleh Velin, begitu kesalnya gadis itu melihat sikap Gavin yang seenaknya. Ckkk... Dan hari itu juga, Velin langsung menghampiri Gavin yang tengah tiduran di tanah lapang. "Hei!" Gavin membuka matanya. "Apa?" "Kamu punya sopan santun nggak sih?" "Soal apa?" "Bisa menghargai seseorang?" "Maksud kamu?" "Kamu pikir aku tadi nggak lihat, sikap kamu yang menyebalkan itu. Kamu menolak pemberian kue darinya kan?" "Apa urusanmu?" "Urusanku? Jelas itu membuatku kesal." "Apa dia temanmu?" "Bukan." "Terus untuk apa kamu peduli?" Pertanyaan yang menjengkelkan. "Apa ketika kalau kita peduli sama seseorang,  dia harus menjadi teman kita dulu?" Velin membalikkan kata. Gavin menatap intens gadis berkuncir kuda itu. "Apa kamu nggak pernah diajari sopan santun?" "Apa kamu nggak pernah diajari menerima pemberian orang lain. Apa orang tua kamu nggak pernah—" Satu tarikan diberikan Gavin saat ia mencengkram kerah baju Velin saat gadis itu membahas orang tua. "Jangan pernah bahas orang tua di depan gue!" "Ga-gavin...sakit!" Velin merasa kesakitan. Laki-laki tersadar telah melakukan kekerasan pada Velin. Langsung ia melepaskan cengkraman Velin. "Kamu gila!" Gavin langsung pergi dengan kesalnya meninggalkan Velin. Walau keduanya sering terlibat adu mulut, tak hayal sebenarnya mereka saling peduli satu sama lain. Bahkan saat Gavin terlibat perkelahian dan mengalami luka, Velin yang melihatnya langsung membawa ke UKS untuk mengobati lukanya.   Saat mereka sudah akrab satu sama lain dalam sebuah pertemanan, Gavin harus pindah ke luar kota dan tak akan meneruskan SMA di kota itu. Velin merasa kehilangan, namun gadis itu tetap menerima dengan senyumannya. Dan puncaknya ketika kelulusan SMP adalah momen terakhir untuk mereka. Gavin akan pindah sementara Velin akan meneruskan sekolah di kota itu. Perpisahan yang singkat untuk sebuah pertemuan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook