Kisah 12 - Mimpi Ricon

1096 Words
Sudah beberapa hari sejak Ricon sadar, ia tak banyak melakukan apapun. Keadaannya mungkin sudah membaik--tapi tidak dengan hatinya dan pikirannya yang kian gelisah. Karena koma yang dialaminya, Ricon masih harus melakukan beberapa fisioterapi untuk kembali melatih otot-otot tubuhnya. Pikirannya yang selalu sibuk bertanya, mengapa dan mengapa membuatnya masih enggan banyak bicara dengan siapa pun. Dirinya tak mengenal semua orang yang sering datang ke ruang perawatannya. Dan Ricon pun tak tahu harus bertanya pada siapa. Kini ia mendesah lesu. Hari sudah malam, dokter telah mengatakan dia bisa pulang dalam satu minggu lagi ketika keadaannya benar-benar pulih. Berbagai alat medis yang kemarin tertancap di tubuhnya pun sudah terlepas. Kini Ricon sudah mulai bisa bergerak dengan bebas kendati masih sering merasa pusing di bagian kepala bila langsung berdiri. Sambil berbaring Ricon meletakkan tangan kanannya di atas kepala untuk menutupi wajahnya yang masih terus gelisah. Dalam hati ia terus menggumakan doa, agar Tuhan mau memberinya jawaban atas kejadian yang sangat tidak masuk akal ini. Perlahan-lahan Ricon mulai diserang rasa kantuknya hingga terlelap. "Capricorn." Suara berat dan serak yang begitu dikenal oleh Ricon menyerukan nama lengkapnya dengan sangat khas seperti saat ia kecil dulu. Ayahnya akan selalu memanggil nama lengkapnya. Ricon menemukan sang ayah yang kini tengah memotong kayu. Ricon teringat kala ia kecil--ayahnya akan sering membawanya ke hutan belakang rumah kakeknya di kampung. Ayahnya akan mencari kayu bakar untuk memasak. Pekerjaan ini sudah dilakukan ayahnya sejak kecil. Sebelum akhirnya saat ayahnya berusia dua belas tahun dan kehilangan keluarganya karena bencana hingga akhirnya sang ayah diangkat sebagai anak angkat oleh pengusaha kaya dari Kalimantan. Ricon berjalan menghampiri sang ayah kemudian bisa berlutut, "Ayah?" Ayahnya menoleh kemudian tersenyum, "Sini duduk sebelah Ayahanda." Mata Ricon semakin sendu. Ia sangat merindukan ayah dan ibunya. Ingin rasanya Ricon memeluk tubuh tegap sang ayah. "Capricorn tahu mengapa orang-orang desa hidup dengan alam?" Ricon menggeleng dengan tatapan sendu dan rindu pada sang ayah. "Orang desa sekalipun tidak memiliki banyak uang selama mau merawat alam dan menjaganya, mereka akan mendapatkan sebuah berkah dari alam tersebut untuk mereka hidup." Ayahnya menjeda perkataan dan menatap wajah Ricon penuh sayang. "Sama dengan hidup manusia, ia akan mampu bertahan hidup bila mau menyesuaikan diri dimana pun ia akan hidup. Apa yang sedang kamu alami sekarang akan menjadi berkah untukmu kelak suatu hari nanti, Nak." "Capricorn masih ingat dengan cerita Ayah mengenai liontin pemberian dari kakek angkat Ayah?" Tiba-tiba mata Ricon terbuka. Mimpi. Ternyata hanya mimpi, gumam Ricon lirih. Tak terasa air mata keluar di sudut kanan matanya. Setiap Ricon bermimpi mengenai ayah atau ibunya selalu begini efeknya. Ia akan menjadi lebih melakonlis. Liontin? Ricon ingat ayahnya berpesan mengenai sebuah liontin yang dulu pernah diberikan oleh kakek angkat ayahnya, liontin itu diberikan pada ayah dan saudari angkatnya yang tak pernah Ricon kenal wajah dan namanya. Seakan-akan hal tersebut akan melukai hati terutama ibunya. Sayup-sayup terdengar suara azan, Ricon pun melirik pada jam dinding yang terletak di ruang perawatannya. Sudah pukul setengah lima subuh. Ricon berjalan pelan, menuju kamar mandi dengan tertatih. Ia sudah sering melakukan tayamum sebelumnya bila dalam keadaaan darurat. Ricon pun beristighfar karena selama sadar ia tidak melaksanakan salat. Entah tubuh siapa ini, kini bagi Ricon adalah mau siapapun ini Ricon harusnya tetap menjadi Ricon begitu pikir sederhananya. Pergerakan Ricon disadari oleh Pandu yang tengah tertidur di sofa. Segera Pandu bangkit dan mengeluarkan suara khas bangun tidur. "Rian, kamu mau apa?" Ricon menghentikan langkahnya. Ia sempat tertegun tapi kemudian ia sadar, ia berada dalam tubuh seseorang yang bernama Rian. "Saya mau ke kamar mandi untuk mandi, O-om," jawab Ricon sedikit gugup. Ia perlahan mencoba untuk beradaptasi sembari terus mencari tahu apa yang tengah terjadi. "Ini masih subuh Rian. Dan kamu masih belum sepenuhnya pulih. Jangan memaksakan diri," ucap Pandu tampak khawatir. "Saya mau sholat subuh, Om." Pandu terkesiap. Salat subuh? Rian Putra Kresna yang Pandu kenal jarang beribadah, ia menganggap semua hal itu bodoh. Melakukan kewajiban sebagai seorang muslim hanya saat bulan puasa, dan itu pun hanya di awal dan akhir. Kemudian ia hanya berbagi bingkisan dan uang santunan untuk anak-anak yatim piatu. Mendengar Rian hendak melakukan salat, maka tidak salah bila Pandu bertanya-tanya. Ada angin apa yang menyerang pemuda itu hingga mau untuk salat? "Biae Om bantu." "Enggak usah, Om, terima kasih. Saya bisa sendiri." Lalu kemudian ia berjalan ke kamar mandi. Sesampainya Ricon di kamar mandi. Terdapat kaca yang berada di atas wastafel. Ricon mengamati dengan seksama wajah tempat ia berada. Sudah beberapa kali Ricon pun bergumam bahwa tubuh yang ia tempati sekarang ini adalah pemuda yang tampan. Dalam sekali lihat, Ricon bisa menilai bahwa pemuda ini berasal dari keluarga kaya. Ruang perawatannya juga dengan orang-orang yang sering datang melihat kondisinya. Ricon mengingat kembali, sejauh ini yang datang adalah pasangan lanjut usia, yang Ricon kenali sering dipanggil dengan Pak Arga dan istrinya oleh Pandu yang tampaknya adalah orang kepercayaan. Tapi Ricon seperti tak menemukan pasangan yang dipanggil oleh pemuda ini ayah dan ibu. Apakah kamu juga sama sepertiku yang seorang yatim piatu? Ricon kembali coba mengingat-ingat siapa saja yang perlu ia kenal. Ada teman-temannya yang ketika mereka menjenguk sangat berisik dengan candaan dan bicara mereka yang cenderung vulgar. Sesuatu yang sebenarnya sangat Ricon tak suka. Tapi tampaknya pemuda pemilik tubuh ini adalah orang yang mudah bergaul dengan siapa saja. Kemudian Ricon kembali terperanjat. Ia ingat dengan gadis berwajah blesteran dengan pakaian yang cukup seksi bagi Ricon. Belaian. Ricon kembali mengingat kata-kata terakhir Belinda sebelum ia pergi dan hingga hari ini masih belum tampak batang hidungnya. Ricon kembali menegang setiap sentuhan kecil Belinda. Siapa gadis itu bagi pemuda ini? Apakah kekasih? Apakah mereka sangat intim. Tak mau lama lagi banyak berpikir, Ricon pun segera bergegas mandi. *** Setelah petugas membawakan sarapannya Ricon memakannya dengan tenang hingga suara lembut dan manja menyapa telinganya. Aroma parfum mawar yang lembut seakan memberikan efek memabukkan bagi Ricon yang langsung menegang kala Belinda yang menyapa dan langsung mencium pipinya. Sungguh Ricon tak tahu harus seperti apa pada gadis cantik yang kini rambutnya tengah diikat ke belakang. Ricon masih belum terbiasa dengan keberadaan Belinda yang sejak dirinya sadar selalu tak malu mengumbar belaian atau ciuman pipi. Lagi-lagi meski ini bukan tubuhnya, tapi efek yang dihasilkan dari bibir lembut Belinda yang hari ini memakai lipstik berwarna merah bata itu menghadirkan sensasi aneh dalam dirinya. Terutama dengan posisi yang sangat dekat sekarang ini. *** Kemarin aku nulis author's note tapi aku cek nggak ada. Oke tulis di sini aja ya. Jadi dari part 12 ini Ricon dan Rian sudah sadar ya. Dan mereka sudah akan mulai untuk beradaptasi dan mengenal lingkungan tubuh mereka yang baru. Yuk yang mau tanya bisa tulis aja di kolom komentar. Hatur Tengkyu ya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD