Kisah 13- Pertemuan

1008 Words
Ricon selama ini sangat tahu batasan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukannya pada lawan jenis. Pada Gina saja--ia menjadi sosok yang melindungi gadis itu. Tapi dengan Belinda yang agresif, membuat Ricon menjadi serba salah tingkah. "Hei ... kamu udah sehat kayaknya, ya. Sorry aku kemarin-kemarin lagi sibuk bolak-balik Jakarta-Bandung jadi enggak bisa ke sini nemenin. Kamu enggak marah, kan?" tanya Belinda dengan tatapan pada Ricon yang sangat dalam. Mata mereka saling bertemu, perlahan Belinda mendekatkan wajahnya pada wajah yang dikiranya adalah Rian. Sedangkan Ricon sendiri ingin mengelak tapi seakan tubuhnya terkunci oleh tatapan Belinda. Binar mata bulat cantik dengan iris mata berwarna cokelat itu seakan sihir yang membuat Ricon tak bisa memalingkan wajah. Hampir saja mereka berciuman, bila saja tak ada suara yang menganggu. Suara yang dikenal baik oleh Ricon. Membuat Ricon membelalakkan tak percaya bahwa dia berada disini. *** "Permisi." Suara cempreng yang khas. Gadis yang sudah Ricon kenal sejak gadis itu masih bocah. Tingkah lakunya membuat Ricon selalu merasa terhibur. Gina. Entah bagaimana gadis itu bisa ada di ruangan ini. Dan yang paling mencengangkan adalah bagaimana bisa dirinya lepas kendali dengan hampir berciuman dengan Belinda. Ricon berdeham lirih dan terus menggumamkan kalimat istighfar dalam hatinya. "Hai, kamu sudah datang. Terima kasih, ya, Pak Pandu sudah mengantarkan .... " Belinda menjeda kemudian menatap Gina, ia lupa dengan nama dari gadis yang kini masih berdiri, "mari masuk dulu. " Belinda mempersilakan Gina untuk duduk di sofa ruang perawatan Ricon yang tampak seperti hotel bagi Gina. "Maaf, nama kamu siapa, saya lupa?" tanya Belinda dengan ramah sembari duduk dengan menyilangkan kakinya. Beruntung hari ini ia sedang memakai celana bahan panjang dengan warna biru tua serta blazzer berwarna sepadan dengan celananya. Gina sangat takjub setiap melihat gaya berpakaian dari seorang Belinda. Gina seperti melihat langsung artis barat dengan gaya pakaian ala sekretaris Kim di drama Korea Park Min Young yang pernah ia tonton itu. Gina yang masih terus mengamati kecantikan Belinda tampak tak memperhatikan ucapan Belinda, membuat Belinda kembali bersuara. "Sorry, " ucap Belinda yang tampak agak risih dengan tatapan mata Gina yang begitu menelisiknya. "Eh, maaf, gue, eh, saya Gina, maaf Teh enggak sopan. Tapi Teteh cantik, " ujar Gina dengan gugup tapi terdengar tulus. Belinda tersenyum menanggapi kata-kata Gina. Dari tempat tidurnya Ricon masih mengamati interaksi antara Belinda dan Gina. Ada rasa rindu yang menyergap ketika dirinya melihat gadis yang merupakan tetangganya dan juga teman dekatnya. "Gimana keadaan kakak kamu?" tanya Belinda. "Alhamdulillah, baik. Sudah sadar sejak beberapa hari yang lalu. Kini juga sudah dipindahkan ke ruang perawatan," jawab Gina. "Ehm ... Teh eh saya harus manggil apa, ya? Saya mahasiswi masih skripsi sekarang." "Boleh panggil senyaman kamu saja." "Terima kasih atas kebaikan Teteh, yang mau untuk membantu perawatan Kakak saya." "Saya hanya menjalankan amanah dari Opa, untuk membantu dan menangani semua korban kecelakaan. Tapi mungkin kami akan meminta bantuan." Ucapan Belinda membuat Gina tertegun. Jadi bantuan ini tidak gratis toh, batin Gina. Belinda lagi-lagi hanya memberikan senyuman tipis melihat respons Gina yang tampak terkejut. "Saat ini polisi masih menyelidiki proses kecelakaan. Pastinya nanti akan membutuhkan bantuan dari keterangan para saksi termasuk Kakak kamu. Nanti bila waktunya tiba, Pak Pandu yang akan menyampaikan langsung," ucap Belinda seraya menunjuk dan memperkenalkan Pak Pandu. "Bagaimana?" Gina diam sejenak. Kemudian ia berkata, "saya tidak tahu lebih jelasnya mengenai kronologi kecelakaan. Sampai saat ini Uda ... Uda Ricon seperti agak berbeda. Hm... maksud saya, Uda Ricon sepertinya masih butuh waktu untuk dimintai keterangan. Karena sepertinya masih sulit untuk berbicara." Ricon yang sedari tadi hanya menyimak, tiba-tiba ia tercengang mendengar ucapan Gina. Terbesit sesuatu dalam pikirannya. "Tentu saja tidak akan sekarang. Nanti Pak Pandu yang akan menghubungi." "Baik, Teh." "Thank you. Mau aku kenalkan dengan Rian?" Gina sesaat menoleh ke arah yang dimaksud Belinda adalah Rian. Belinda yang beranjak dari sofa dan menghampiri tubuh yang dikira adalah Rian--diikuti oleh Gina di belakangnya. Ricon yang terjebak dalam tubuh Rian mendadak menjadi beku. Ia tampak gugup. Sudah dibilang bukan ia sangat rindu pada Gina. Hampir setiap hari mereka tak pernah lepas berkomunikasi. Rindu ... itulah yang Ricon sekarang. Entah definisi rindu yang bagaimana, Ricon pun tak tahu. Yang jelas, bebeberapa hari selama ia tidak bertemu dengan Gina membuatnya teringat akan gadis bersuara cempreng itu. Menatap wajah Gina sedekat ini membuat Ricon tak kuasa menahan rasa harunya. Kala tangannya menyentuh tangan Gina begitu terasa hangat. Ada getar yang berbeda yan Ricon rasakan. Mungkin saja karena mereka lama tidak bertemu, atau mungkin karena dirinya gugup terjebak di dalam tubuh ini. Raut ekspresi Gina yang begitu menelisik wajahnya, mungkin itu yang membuat Ricon gugup. Gina menatap wajah tampan di hadapannya ini. Wajah yang mirip bak idol Korea. Tapi ada sesuatu yang membuat Gina tercenung. Sorot mata sendu laki-laki di hadapannya ini mengingatkannya pada seseorang yang dikenalnya. Mengapa tatapan matanya mirip dengan Uda? "Ekhem." Dehaman Belinda membuat Gina dan Ricon saling melepaskan tangan yang sejak tadi berjabat erat. "Rian ia back. You look like a playboy," bisik Belinda di telinga Ricon. Ricon hanya menoleh mendengar kata-kata bahasa Inggris Belinda. Ricon tak bisa bahasa Inggris. Sehingga ketika ia mengernyitkan dahi, bukan merasa aneh dengan kata-kata Belinda, tapi karena dia tak mengerti apa arti kata tersebut. Gina yang merasa asing dan sungkan, segera pamit undur diri. Saat ia hendak berbalik, Ricon yang terus menatapnya membuat Gina salah tingkah. Tapi di sisi lain membuat Belinda merasa heran dengan ekspresi Ricon yang tampak mengenal Gina. Hingga saat Gina berbalik dan melangkah ke arah pintu, suara Ricon membuat tubuhnya menegang. "Jaga diri, ya." Gina membeliakkan mata. Ucapan itu, caranya berkata entah mengapa terasa sama. Gina hanya mengangguk dengan pelan, masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dengan langkah pelan, Gina meninggalkan ruang perawatan VIP tersebut. Dadanya bergemuruh. Tiba-tiba saja air matanya lirih entah atas dasar apa yang Gina pun tak tahu. *** Haalooo Gimana nih Belinda, Gina ketemu sama Ricon. Hmm... Pada kangen Rian enggak? Tenang yaaa Rian besok kalian akan ketemu dengan Rian. Mulai Kisah 15 mereka ini bakalan pulang yaa jadi mereka akan mulai beradaptasi dengan keadaan mereka yang baru? Gimana nih serunya. Yuk pantengin terus yaa. hatur Tengkyu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD