Ricon masih tampak bingung memandang wajah-wajah asing yang tak dikenalinya sama sekali. Dan yang membuat dirinya semakin aneh adalah mereka memanggil namanya Rian bukan Ricon. Saat kecelakaan terjadi dirinya sadar sepenuhnya bahwa dari belakang ada kendaraan yang menghantam dengan keras pada mobil kijang tuanya. Dan saat menemukan dirinya kini telah terbangun dari tidurnya—masih bisa Ricon mengenali dirinya sebagai Capricon Wicaksana. Dirinya sadar bahwa dia tak kehilangan satu ingatan pun. Tapi mengapa orang-orang tersebut memanggil namanya dengan nama lain?
Tak mau banyak menduga-duga maka yang ia lakukan adalah diam tak membuka pembicaraan sama sekali. Dokter pun menyarankan ia masih harus memulihkan tenaga dan menjalani fisioterapi serta pengecekan kembali pada kondisi tubuhnya untuk mengantisipasi dampak pasca kecelakaan tersebut.
Ricon hanya mengamati setiap tingkah laku orang-orang yang berada di sekitarnya. Ada satu pasangan yang sudah berusia senja tapi masih tampak bugar itu yang bisa Ricon nilai mereka adalah pasangan suami istri. Kemudian Ricon juga menemukan seseorang dengan tampilan casual berpadu dengan jaket kulit warna hitamnya yang Ricon yakini seperti orang terdekat dari pasangan tua itu. Lalu pandangan Ricon beralih pada seorang gadis cantik rambut panjang bergelombang yang tergerai dengan indah. Wajah blesterannya tampak memesona. Ricon mengernyitkan dahi—ia seperti mengenal gadis itu, tapi dimana? Begitu pikirnya.
Mata Ricon tak pernah lepas menatap gadis cantik yang tak lain adalah Belinda. Namun ketika Belinda yang akhirnya memalingkan wajah dan berbalas menatap Ricon dengan senyuman—segera Ricon memalingkan wajahnya sembari berucap istghfar dalam hati.
“Hei … kenapa? Kamu terlihat bingung?” suara Belinda membuat Ricon terperanjat dan menatap Belinda. Ricon pun hanya menjawab dengan gelengan.
Melihat temannya yang masih tak mau bersuara—membuat Belinda agak gemas. Sungguh ia sangat rindu dengan kelakuan konyol sahabatnya. Belinda pun tak mau memaksanya untuk berbicara maka Belinda segera kembali pada tim dokter yang sedang berbincang dengan Pak Arga—kakek Rian.
Saat tim dokter sudah pamit undur diri, pintu ruangan Rian dibuka. Perlahan sosok berusia empat puluh tahunan masuk dan melangkah langsung menghampiri Rian yang kini telah duduk bersandar di atas tempat tidur.
“Alhamdulillah, ya, ponakan Paman sudah sadar. Selamat datang kembali Rian,” ucap pria tersebut sambil menepuk lengan kanan Rian dengan pelan. Sedangkan Ricon yang masih tak mengerti mengapa orang-orang disekitarnya memanggil namanya dengan nama Rian hanya bisa membalas ucapan dari orang yang mengaku pamannya itu dengan senyum ramah.
Hal ini membuat Belinda menaikkan alis kanannya. Belinda sangat tahu bahwa temannya ini tak terlalu menyukai sang paman. Tapi mengapa tampak malah tersenyum ramah sekarang. Sedangkan biasanya ketika bertemu tak pernah satu kali pun Rian akan memberikan senyuman ramah seperti sekarang ini pada pamannya sendiri yang bernama Wira Satya itu.
“Pa, gimana keadaan Ricon kata Dokter?” tanya Wira Satya pada Papanya yang tak lain adalah Pak Arga.
“Masih harus banyak dilakukan pengecekan ulang untuk memastikan bahwa keadaan Rian akan baik-baik saja. Untuk saat ini mungkin kita belum bisa mengajak Rian banyak bicara dan tak boleh memaksanya. Itu pesan Dokter.”
Wira Satya mengangguk pelan, “Lalu mengenai kecelakaan Rian, sudah ada hasil penyelidikan dari pihak kepolisian?”
“Belum. Sampai sekarang polisi masih mendalami kronologi kecelakaan tersebut. Polisi hanya masih menduga kalau sopir pick up yang menabrak mobil di belakang mobil Rian itu dalam keadaan mabuk. Karena saat menjalani pemeriksaan hasil lab ditemukan kandungan alkohol dalam tubuhnya.”
“Sopir gila berarti! Nyetir mobil dalam keadaan mabuk!” hardik Wira Satya.
“Tidak apa toh polisi masih akan terus menyelidiki. Papa juga sudah meminta Pandu untuk terus menjaga dan memantau keadaan Rian. Lebih baik kita sekarang harus kembali dan biarkan Rian istirahat terlebih dulu.”
“Tapi Wira baru saja datang , Pa, masa harus pulang sekarang.”
“Kamu itu, kan, orang sibuk di DPR. Sudah kita cepat pulang.” Kemudian Pak Arga menoleh pada Belinda dan memberikan tatapan hangat pada Belinda. “Belinda masih ingin di sini atau sudah mau pulang? Lebih baik Belinda juga istirahat, ya, cantik.”
“Iya, Opa. Belinda akan segera pulang.”
Satu persatu mereka pamit pada Ricon. Ricon agak canggung memberikan senyumannya karena tak paham dan tak mengenali mereka semua. Sedangkan saat ini Belinda menghampiri Ricon masih dengan senyuman yang tulus dan memikat itu. Ketika perlahan tubuh Belinda semakin dekat padanya, Belinda sedikit membungkukkan badan kemudian mengecup pipi kanan yang dianggap temannya itu.
Perbuatan Belinda membuat Ricon menegang. Seumur-umur, terlebih ketika dirinya dewasa tak pernah sekalipun dia dekat dengan seseorang lawan jenis kecuali Gina yang ia anggap sebagai adik spesialnya itu.
“Aku pulang sekarang, ya. Aku kesepian dan kangen sama belaian kamu,” bisik Belinda tepat di telinga kanan Ricon semakin membuat Ricon berdebar tak karuan.
Belinda hanya tersenyum manis. Kemudian segera berbalik dan melangkah dengan anggun menuju pintu. Saat ia hendak membuka kenop pintu—belinda lebih dulu membalikkan badan menatap temannya kembali masih dengan senyumnya lalu tubuhnya menghilang seiring dengan pintu yang kembali tertutup.
“Belaian,” gumam Ricon lirih. Kemudian Ricon dengan penuh pertanyaan yang masih terus terbayangi dengan perlakuan Belinda terus menggumamkan dalam benaknya serangakain kata maaf pada Sang Khalik.
Ya Allah sungguh saya sangat ingat. Saya tidak pernah menjamah perempuan yang bukan mahram. Mengapa dia bilang belaian, ampuni hamba ya Allah bila hamba pernah khilaf.
Konyol memang! Ricon tahu itu. Tapi saat ini dia hanya bisa diam. Tidak berbuat sesuatu yang bisa menimbulkan sebuah kecurigaan. Bagaimanapun juga Ricon butuh memahami keadaannya ini.
Gadis cantik berwajah blasteran itu sudah menghilang dari balik pintu beberapa saat lalu. Ricon masih mencerna keadannya saat ini dan apa yang harus ia lakukan di kemudian hari.
Ricon hanya teringat akan pesan ayahnya, bahwa hidup selalu penuh kejutan, dan setiap kejutan akan membawa pesannya sendiri tergantung bagaimana manusia itu menafsirkannya.
Bisa jadi. apa yang menimpa ini menjadi kejutan lain untuk dirinya. Ricon menekankan hal tersebut, agar ia bis menjalani semua ini dengan ringan dan ikhlas.
Ricon merubah posisi, dan bersiap untuk memejamkan matanya. Di beberapa bagian tubuhnya masih terasa begitu nyeri dan sakit. Ia berusaha agar tetap menunaikan salatnya, meski dalam keadaan yang masih seperti ini.
Meski terperangkap dalam tubuh lain, tak berarti membuatnya harus lupa akan dirinya sendiri terutama kebiasaannya dan di mana ia berasal.