Kisah 9 - Kesadaran

1026 Words
Entah sudah berapa hari Rian merasa terperanja dalam gelap, dingin dan hampa. Takut dan sepi. Ia seolah merasakan hal yang sama saat pertama kali melihat tubuh kedua orang tuanya terbujur kaku. Seolah saat itu segala rasa dicabut dalam dirinya. Namun kali ini yang Rian rasakan justru melebihi rasa ketakutan itu. Rian tahu dia tak pernah berdoa. Baginya untuk apa berdoa—bila Tuhan tak pernah memberikan apa yang saat itu ia minta. Menyelamatkan pernikahan orang tuanya. Tuhan justru mengambil kedua orang tuanya secara bersamaan dengan cara yang tragis. Sedangkan untuk meminta hal-hal kesenangan duniawi Rian bisa membelinya dengan uang yang ia miliki. Rian yang kini berada di persimpangan merasakan kegamangan. Seakan sekarang ini Rian diberikan pilihan oleh Tuhan memilih pergi dari dunia ini atau bertahan. Seolah di sebelah kanan dan kirinya ada sebuah pintu keluar atas pilihan Rian. Rian bantu Mama. Kelak kamu akan bahagia, Nak. Kata-kata sang mama terus berdengung di telinga Rian. Kini Rian menangis terisak. Apa yang harus Rian lakukan untuk membantu sang mama sedangkan Rian sendiri tak tahu bantuan apa yang harus dilakukannya. Tangan Rian terkepal, suaranya tercekat, dadanya bergemuruh. Ia tak ingin melakukan itu. Tapi saat ini Rian berada dalam keadaan hanya pada-Nya lah—Rian meminta pertolongan. Mau tak mau Rian harus mengakui. Kesombongannya seakan rontok bersamaan dengan doa yang kini tengah ia panjatkan. Tuhan, kau tahu aku tak pernah ragu dalam mengambil keputusan. Jika keputusanku saat ini adalah suatu kesalahan, maka aku mohon ambil nyawaku. Tapi jika ini adalah keputusan yang tepat, maka berikan aku kesempatan untuk memperbaiki hidup. Setelah memanjatkan doa tersebut—Rian menuju ke arah salah satu pintu di kanan Rian. Langkahnya tegas—tak terlihat adanya keraguan. Saat Rian masuk ke pintu tersebut—semuanya berubah menjadi putih—hingga Rian tak tahu apa yang dilihatnya. *** Gina membelai lembut rambut hitam Ricon yang kini tampaknya sudah agak sedikit gondrong. Bahkan rahang dan dagu Ricon tumbuh tipis. Ingin Gina mencukurnya—namun ia malu. Gina hanya seorang tetangga sebelah bukan keluarga kandung apalagi kekasih. Maka cukup dengan memberikan sentuhan-sentuhan seperti ini saja sudah membuat Gina sangat bahagia. Sejarah hidup Ricon meski Gina tak pernah mengetahuinya secara lebih jelas. Akan tetapi Gina sedikit banyak mengetahuinya. Dia masih berusia sebelas tahun saat itu. Saat Gina dibawa ayahnya untuk melayat di rumah duka yang tak tahu siapa. Gina kecil saat itu menatap Ricon yang tak menangis. Tangannya hanya terus memegang buku yasin. Bibirnya terus menggumamkan doa-doa. Sesekali saja kepala Ricon melihat ke arah jenazah kedua orang tuanya yang sedang dibaringkan sambil menghela napas dan mengembuskannya dengan berat. Pemandangan ini masih sangat membekas bagi gadis itu. Ricon yang tak pernah mengeluh. Ricon yang selalu giat bekerja dan berjuang sendirian. Ricon yang bahkan tak pernah absen untuk datang ke masjid. Entah apa yang benar-benar dirasakan dan dpikirkan oleh Ricon—Gina tak pernah tahu. Gina hanya berusaha memahaminya. Dan berdoa agar Ricon benar-benar bisa bahagia. Tanpa ragu Gina masih mengusap perlahan punggung tangan Ricon kemudian ia menggenggamnya. Matanya menatap pada tangannya dan tangan Ricon yang bertaut. “Uda, kenapa masih betah tidur? Uda, enggak kasihan Gina kesepian.” Tiba-tiba saja air matanya luruh tak dapat Gina bendung. Ini sudah empat belas hari sejak Ricon melakukan operasi pasca kecelakaan. Hingga saat ini belum ada tanda-tanda Ricon akan sadar. Jawaban dokter saat melakukan pemeriksaan terhadap Ricon membuatnya takut. Gina yang bertanya sampai kapan Ricon akan terus koma, dan bagaimana dampaknya. Dokter pun tak dapat memastikan kapan Ricon bisa kembali sadar. Tapi dokter menjelaskan semakin lama pasien dalam keadaan koma, maka kesempatan hidupnya akan semakin kecil. Mengingat kembali jawaban sang dokter semakin membuat tangis Gina deras. Dengan berusaha keras ia tak membuat suara meski rasanya sungguh menyesakkan d**a. Dengan terpatah-patah disela isak tangisnya, Gina mengungkapkan untaian kata untuk Ricon. “Uda, kalau Gina bilang Gina sayang Uda, apakah Uda akan bangun?” Gina menengadahkan kepalanya ke atas. Membiarkan bulir bening itu keluar dari sudut matanya. Tapi tangannya masih erat menggenggam tangan Ricon. Setelah Gina merasa lega, ia pun ingin menghapus air matanya dengan tangan kirinya. Namun belum sempat Gina lakukan, Gina dibuat terkejut dengan sebuh gerakan tangan Ricon yang masih dalam genggamannya. Meski gerakan itu sangat pelan. Tapi Gina dapat merasakan. Secercah harapan kini dapat Gina rasakan. Gina yakin Ricon akan bangun dari komanya. Dan Gina mau untuk percaya hal itu. *** “Gimana Dokter, keadaannya masih baik-baik saja?” tanya Arga cemas. Ia merasa lega dan bahagia. Ucapan syukur tak henti-hentinya dilontarkan dari bibir Arga dan istrinya ketika menerima kabar dari penjaga yang ditugaskan untuk menjaga Rian—cucunya—memberikan kabar bahwa Rian telah sadar. Penjaga tersebut juga mengatakan bahwa saat Rian sadar sudah ada Belinda yang berada di kamar Rian. “Pelan-pelan, ya, Pak Arga. Pasien yang bangun dari komanya akan memiliki respons yang berbeda-berbeda. Mungkin akan sedikit ada syok dan trauma. Kami akan memantau terus keadaan cucu Pak Arga dengan baik." "Baik saya mengerti. Apakah cucu saya sudah bisa diajak berkomunikasi?" "Tentu bisa Pak. Tapi sebisa mungkin jangan terlalu dipaksakan. Bersyukur Rian tak terlalu lama mengalami koma." "Terima kasih Dokter." Setelah Pak Arga dan Dokter tersebut bersalaman, sang dokter pun pamit undur diri. Wajah penuh syukur, lega dan haru tercetak jelas di wajah senja Pak Arga, istrinya, Belinda dan juga Pandu kala melihat Rian yang sudah membuka mata. Pak Arga pun sudah mengingatkan untuk tak terlalu banyak memaksa Rian berbicara. Terlebih mengenai kecelakaan yang menimpanya. Namun dibalik semua itu Belinda tampak merasakan sesuatu yang berbeda ketika ia mengamati wajah Rian. Sorot matanya meski mata Rian tapi tampak berbeda bagi Belinda. Entah hanya firasatnya saja atau memang ada yang berbeda menimpa Rian akibat kecelakaan. Belinda masih tak tahu pasti. Terlebih lagi bagi Belinda--Rian kini terlihat mengamati dalam diamnya orang-orang yang sedang berada di ruangan ini. Ekspresi wajahnya seperti bertanya-tanya. lagi-lagi Belinda tak tahu apa itu. Dan pertanyaan Belinda itu semakin besar kala sosok pria berusia empat puluh tahun-an masuk ke ruang perawatan Rian. Pria itu tersenyum menatap Rian yang masih bertahan dengan ekspresinya tadi. Perlahan pria tersebut mendekati Rian dan menyapanya. "Alhamdulillah, ya, Ponakan, paman sudah sadar. Selamat datang kembali Rian." *** Siapa nih yang datang ke perawatan Rian? yukk yuk terus pantau kisah Rian & Ricon ini yaa. Hatur Tengkyu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD