Berkali-kali Senjana menghapus air mata yang keluar dari matanya. Dia berusaha menenangkan dirinya sendiri agar air mata itu tidak keluar, namun hasilnya justru tangisannya tidak berhenti. Dia berjalan di pinggiran jalan yang lumayan sepi. Bagaimana tidak sepi? Ini sudah pukul 11 malam lewat hampir tengah malam. Dia melihat halte yang sepi lalu duduk disana. Pandangannya menunduk melihat kedua kakinya yang diluruskannya. Punggung tangannya masih terus bergerak untuk menghapus air mata itu. Satu pertanyaan yang berulang-ulang ada dipikirannya sejak tadi. Kenapa lelaki itu melakukan ini padanya? Hanya kenapa? Itu saja. Dengan pertanyaan itu membuat dia menjadi berspekulasi kalau semua yang Antariksa lakukan padanya hanyalah sebatas pembalasan dendam lelaki itu akan dirinya. Dia menjadi te

