Kisah tentang Tante Rosa terjadi di hari libur yang sangat panas. Kirana sudah tiga kali meminta mama agar diizinkan berenang di kolam renang umum tak jauh dari rumah. Tapi mama melarang dan malah menyuruhnya belajar karena sebulan lagi akan ujian akhir kelulusan SD.
Dengan muka cemberut, Kirana masuk ke kamarnya. Ia tak semangat belajar. Apapun yang dibacanya seakan enggan melekat dari otaknya.
”Ki!”
Kania masuk menghampiri Kirana dengan segelas air jeruk dingin di tangan. Embun di permukaan gelas membuat Kirana mendadak dahaga luar biasa. Tanpa basa-basi disambarnya minuman itu dari tangan Kania.
”Enak?”
Kirana menarik nafas, ”hmm... segar!”
Sekali teguk lagi, dan tandaslah isi gelasnya.
”Mau lagi?”
”Mau, Ka!”
”Tapi, belajar ya?!” Kania bernegosiasi.
”Iyaaa!... Tapi sekalian bawain kue!”
”Beres!” Kania segera beranjak. Ia senang karena Kirana membutuhkannya.
Panas di hati Kirana reda. Ia bahkan sudah bisa tertawa. Ternyata punya kakak yang perhatian enak juga.
Kania yang sudah duduk di tahun pertama SMP mengajari Kirana belajar. Mama yang melintas di depan kamar tersenyum bahagia melihat keakraban yang semakin melekat kedua anaknya. Siang yang panas itu pun jadi terasa sejuk di hati.
Namun, kesejukan tersebut ternyata tidak bisa berlangsung lama. Tante Rosa yang tinggal dua blok dari rumah mereka tiba-tiba datang melabrak mama dengan tuduhan yang sangat menyakitkan.
”Jangan sok cantik ya kamu!”
”Sabar, Bu! Jangan berteriak seperti itu!” Mama berusaha menenangkan perempuan setengah baya yang suaranya memang terkenal nyaring itu.
”Kalau kamu ingin cari suami lagi, cari laki-laki yang belum kawin atau duda, jangan ngerebut suami orang! Jangan bikin hancur rumah tangga orang lain!”
Mama kewalahan menghadapi cercaan bertubi dari Tante Rosa. Mbak Dian dan Mbak Rumi yang mencoba melerai malah dibentak oleh Tante Rosa. Sementara Kirana merinding ketakutan memeluk Mbak Asih di ruang tengah, dan Kania entah di mana. Udara siang itu yang memang sudah panas semakin meningkat suhunya. Seperti air mendidih saja rasanya.
”Tuduhan Ibu Rosa tidak beralasan. Siapa yang bilang saya merebut suami Ibu?” Mama membela diri.
”Semua orang di komplek ini juga tahu kalau kamu suka menggoda suami saya! Suami saya tuh lelaki baik-baik ya, jangan kamu jerumuskan jadi ngga bener! Dasar janda gatal!”
Kehadiran Tante Rosa dengan kemurkaannya sore itu saja sudah teramat menampar harga diri mama. Apalagi ditambah dengan kalimat terakhir Tante Rosa. Batinnya sangat tertusuk hingga tak mampu lagi berkata-kata. Ia hanya diam di tengah caci maki Tante Rosa. Mbak Rumi yanag meminta Tante Rosa menghentikan caciannya kembali kena bentak kasar.
“Diam kamu! Jangan Ikut campur!”
Mbak Asih mempererat pelukannya dan mendekap mulut Kirana yang berontak dan ingin berteriak membalas hinaan Tante Rosa. Ia tahu, Om Herman, suami Tante Rosa itulah yang sering menggoda mama. Tiap pagi saat mama menjaga toko kuenya sementara Mbak Asih membersihkan rumah, om yang suka berolahraga jalan kaki itu pasti akan mampir membeli sesuatu hanya demi bisa menyapa mama.
Di saat itulah Kania tiba-tiba muncul dengan segelas air jeruk dingin. Melihat itu marah Kirana beralih pada Kania. Buat apa ibu-ibu kurang ajar itu diberi minum segala?!
”Silahkan diminum, Tante!”
Kania berkata sangat santun di antara emosi tinggi Tante Rosa dan kemarahan mama yang terpendam. Ia jadi satu-satunya makhluk yang tenang dan masih dapat tersenyum manis. Dengan ketenangannya itu ia duduk di samping mama yang menyambutnya dengan rangkulan. Mama tidak menyuruhnya menyingkir seperti jika biasanya ada tamu. Kania menggenggam jemari mama erat. Dan ajaibnya, mama kemudian seolah menemukan kekuatannya kembali menghadapi Tante Rosa.
”Maaf, Bu! Sekali lagi saya katakan bahwa saya tidak pernah dan tidak akan menggangu suami Bu Rosa. Saya juga perempuan, Bu. Biarpun sekarang tidak ada suami, saya juga pernah menjadi istri. Saya mengerti perasaan ibu. Tidak ada niat sedikitpun di dalam hati saya untuk menyakiti hati sesama perempuan.”
Tante Rosa mengatur nafasnya. Mungkin karena luapan kemarahan telah menyedot banyak enerjinya, tante yang gusar itu meminum tandas minuman buatan Kania dalam sekali teguk.
”Saya akan tuntut kamu!” seru Tante Rosa.
”Silahkan, Bu. Silahkan ibu cari bukti-bukti semua yang ibu tuduhkan kepada saya. Jika terbukti, apapun konsekuensinya akan saya jalani.”
Tak berapa lama, Tante Rosa pergi setelah sekali lagi mengancam mama.
Mama tampak lelah. Perempuan itu tidak bisa lagi mempertahankan ketegarannya. Di dalam kamarnya ia menangis ditemani Mbak Rumi.
”Aku tidak pernah mengganggu laki-laki manapun apalagi suami orang, Rum!” ujar ibu di sela isaknya.
”Iya, Bu! Saya tahu.”
”Kamu tahu kan, aku selalu berusaha menjaga diri dari pergaulan dengan lelaki di komplek ini, juga di manapun. Karena aku nggak mau terkena fitnah. Tapi kenapa aku dituduh seperti itu...” Mama tersedu sedan di dalam dekapan Mbak Rumi.
Kirana dan Kania terpaku berdiri di pintu menatap ungkapan kepedihan mama.
”Sudah, Bu! Ibu harus tegar. Ingat anak-anak,” bisik Mbak Rumi.
Mama melepaskan pelukannya pada Mbak Rumi dan merentangkan tangannya kepada dua gadisnya. Kirana dan Kania menghambur ke pelukan mama mereka.
”Maafkan mama ya, kalian harus menghadapi kejadian seperti tadi.”
”Mama nggak salah! Yang salah Om Herman! Aku suka lihat dia godain mama pagi-pagi.” Kirana membenamkan wajahnya di bahu ibu.
”Mama jangan sedih ya, kita akan selalu belain mama.” Kania mencium pipi kiri mama.
Mama tersenyum. Tangisnya mereda.
”Tapi, kalau mama memang mau punya suami lagi, jangan yang seperti Om Herman itu ya,” pinta Kirana.
”Kenapa?”
”Udah tua!” cela Kirana.
”Gendut lagi!” Kania menyambung.
”Pelit!”
”Botak!”
”Jarang mandi!”
”Jorok!”
”Sst!!!” Mama memotong sahut-sahutan mencela yang dilakukan kedua anaknya.
”Kalau Mama mau cari suami lagi, yang kayak Dokter Indra itu aja, ya.” Kania mengusulkan dokter yang praktek di klinik depan komplek. Ia pernah sengaja hujan-hujanan agar terkena flu sehingga mama terpaksa membawanya ke dokter itu. Padahal, begitu melihat senyumnya saja, demam Kania langsung reda.
”Oh, iya! Aku juga setuju! Keren kan punya papa baru dokter ganteng!” Kirana terkikik.
”Hei! Masih kecil sudah tahu-tahuan laki-laki ganteng! Siapa yang ngajarin?” Mama pura-pura marah. Tangisnya sudah terhenti.
”Mbak Asih!” Kirana dan Kania kompak menuding Mbak Asih yang sejak tadi memperhatikan di pintu. Yang dituding hanya bisa tersenyum malu.
”Ya sudahlah... Dokter Indra memang ganteng kok!” Mama mengakui. ”Tapi, untuk saat ini, mama tidak ingin mencari suami lagi.”
Kirana dan Kania diam.
”Kania, terima kasih ya tadi kamu sudah jadi anak yang baik sekali memberikan minum pada Tante Rosa tanpa disuruh.”
Kania tersenyum.
”Orang jahat kok kamu baikin?!” protes Kirana lagi setelah mereka keluar dari kamar mama.
”Siapa yang baikin orang jahat?” tanya balik Kania.
”Kenapa tadi tante jelek itu dikasih minum segala?”
”Lihat aja nanti!” jawab Kania santai.
Kirana jadi penasaran dengan maksud Kania.
***