Baskara yang rupanya dari tadi tertidur dia terbangun karena ponsel di dalam tasnya berdering cukup kencang. Baskara pun terbangun dan langsung mengecek ponselnya rupanya alarm untuk latihan malam di markas tentaranya. Latihan malam 22.31 begitulah jelasnya isi alarm itu.
Dia langsung mematikan alarm dan kembali memasukkannya ke dalam tas karena memang di sana hujan dan tasnya sudah sebagian basah akibat hujan gerimis. lalu menatapi ke depan rupanya dia sudah sampai di depan dermaga yang letaknya tak jauh dari keberadaan rumah nya.
Perlahan perahu itu pun sampai di dermaga, Baskara turun dari perahu dan menatapi ke sekeliling di mana keadaan dermaga itu yang sepi tanpa seorang pun di sana tentunya hal itu sangat tidak seperti biasanya. Baskara perlahan melangkahkan kakinya, menatapi ke sekeliling di mana semuanya jauh berbeda dengan yang dia tahu dulu.
"Dermaga ini.. tempat ini.. semuanya" gerutu Baskara menatapi ke sekeliling dengan seksama
Di mana langit di penuhi debu dan asap akibat dari kebakaran yang merambat ke beberapa rumah dan hampir ke arah dermaga namun untungnya dermaga masih bisa di selamatkan. "Bapak, Ibu.. kenapa semuanya menjadi sehancur ini?" gerutu Baskara perlahan air matanya bercucuran, sesak di dadanya kian menekannya.
Baskara berjalan semakin cepat perasaannya pun kian memburuk saat melihat pemandangan kian hancur di depan matanya. Dia semakin menambah laju nya dengan berlarian cepat tanpa rasa lelah sedikitpun. Membawa tas ransel besar di punggungnya dia kentar kentir ke sana kemari.
"Jarak rumah ku masih cukup jauh dari sini, apa mungkin aku harus berlarian? apa aku sekuat itu? padahal jelas jelas dari tadi sore aku belum makan. Tapi.. ini sudah larut, sangat sulit untuk ku mencari bantuan. Apa lagi di sini sangat sepi" gerutu nya lagi melewati beberapa perumahan warga yang sangat sepi itu
Dia pun menemukan jalanan, di mana kendaraan masih banyak berlalu lalang di sana. Kendaraan kendaraan itu pun melaju ke arah kampung halamannya Baskara mungkin sebagian dari mereka membawa beberapa bantuan atau menjenguk sanak keluarga yang ada di sana.
"Pak! minta tumpangannya dong" teriak Baskara cukup lantang melihat sebuah mobil yang melewatinya begitu saja
Baskara membuang nafasnya berat dengan rasa kesal "Sialan! kenapa mereka tidak mau menolong orang yang kesusahan di saat seperti ini?" gerutu Baskara yang lalu memilih untuk kembali berlarian dan menuju ke kampungnya
Langkah demi langkah dia lewati, nafasnya terdengar sangat memburu. Kecapean dan tubuh yang sudah di penuhi oleh keringat. "Aku bahkan lupa tidak membawa minum, hahhh aku lelah sekali. Aku kehilangan semua tenaga ku" ujarnya setelah sudah cukup lama dia berlari
Baskara pun terjatuh di aspal dan mencoba untuk mengontrol nafasnya "Apa yang harus aku lakukan ya tuhan??? kenapa begitu berat cobaan ini! bagaimana aku? bagaimana aku bisa selemah dan sebodoh ini" teriaknya lantang sontak membuat beberapa pengendara yang melewat menatapinya sinis, sebagian besar dari mereka menganggap bahwa Baskara itu gila.
"Sialan malam malam begini harus ketemu sama orang gila berpakaian tentara"
"Yang bener aja orang gila senderan di aspal sambil teriak teriak, ganggu banget"
"Tau, mana keadaan lagi genting begini malah ada orang gila" gerutu orang orang yang melewat itu
Baskara tak mendengarkan setiap apa yang mereka katakan, perasaannya sangat hancur dan begitu kebingungan harus berbuat apa lagi. Dia kembali bangun dari duduknya dan mulai berteriak teriak lagi.
"Siapa pun tolong!!!"
Teriaknya pada orang orang yang berlalu lalang itu dengan tatapan hancur di sorot matanya, semuanya seakan cuek dan malah menambahkan laju kecepatan kendaraannya.
"Kenapa kalian ini? apa kalian tidak memiliki rasa manusiawi hah?" teriak Baskara lagi sudah terlanjut frustrasi dengan hidupnya
"Keluargku jadi korban kebakaran! rumah ku semuanya hangus!! tapi adik ku selamat, sekarang dia sedang menunggu ku di rumah sakit. Dia sedang koma! tolong bantu aku! bawa aku ke sana! ku mohon berikan tumpangan untuk ku" teriak Baskara lagi semakin lantang dengan air mata yang terus bercucuran
Seorang bapak bapak tua dengan motor tuanya lalu berhenti di hadapan Baskara, dia nampak khawatir menatapinya.
"Hey apa yang terjadi nak? kenapa kamu nangis dan teriak riak begitu? ada masalah apa?" tanya nya yang menyipitkan matanya saat menatapi Baskara
Baskara langsung saja mendekat ke bapak tua itu dengan senyuman lega dari wajahnya, seakan kehadiran bapak itu membuat dirinya yakin kalau kesempatan masih ada dan harapan masih ada. Baskara lalu memegangi tangan bapak tua itu yang dialah satu satunya orang yang melihat Baskara dengan manusiawi.
"Pak, tolong! kampung saya kebakaran. bapak tahu kan? kampung di distrik sebelah? di sana ada rumah saya, orang tua saya tidak bisa di selamatkan tapi saya mau bertemu adik saya pak dia selamat meski pun saat ini dia koma. Apa bapak bisa menolong saya? tolong antarkan saya ke sana pak, biar saya yang mengendarai motor bapak, biar saya kasih uang buat biaya bensin nya juga pak.. saya mohon" jelas Baskara menatapi bapak tua itu dengan penuh permohonan dan air mata
Bapak tua itu nampak iba saat menatapi Baskara, dia lalu mengangguk dan tersenyum padanya. "Ya tuhan jadi kamu dari sana nak? pasti ini sangat berat banget buat kamu mengalami hal seperti ini, kamu pulang tugas dan harus menerima kenyataan seperti ini. Ayoo naik nak biar bapak antarkan ke sana. ayoo" ajak Bapak tua itu menatapi Baskara dan menepuk nepuk jok motor belakangnya
Baskara menggelengkan kepalanya "Engga pak, biar saya aja yang kendarai" jelasnya lagi
"Kamu serius nak? ya sudah ayo nak" jawab bapak tua itu lalu menyetandarkan motornya dan turun dari motor tuanya itu
Baskara tersenyum lalu mengangguk bahagia akhirnya ada juga yang menolongnya, seorang bapak tua yang entah dari mana asalnya mau menolongnya. Padahal dia pun tidak mengenal tau siapa Baskara.
Baskara pun naik ke motor tua itu dan menatapi bapak si pemilik motor dengan senyuman merekah "Ayo pak" ajak Baskara padanya
"Baik nak ayo" ajak bapak tua itu lalu naik di belakangnya
Mereka melewati jalanan malam dan masih cukup ramai itu, waktu menunjukkan pukul 23.20 sebenarnya Baskara semakin khawatir dengan waktu yang kian berjalan semakin cepat, dia juga memikirkan bagaimana jadinya jika si bapak ini pulang terlalu larut malam.
"Pak rumah bapak di mana emangnya?" tanya Baskara cukup lantang
"Rumah bapak? rumah bapak deket rumah sakit Bunda 2 di belakang kampung yang kebakaran itu, makanya bapak ajak kamu sekalian karena memang tujuan bapak bakal melewati kampung yang kebakaran itu" jelas si bapak
Refleks saja penjelasan si bapak membuat Baskara sangat lega dan merasa tenang "Ahh syukurlah jika memang setujuan pak, oh ya pak nama saya Baskara Bisma Prakasa saya sangat berterima kasih sekali karena bapak mau membantu saya dan sekaligus saya mau minta maaf juga karena malah merepotkan bapak" jelas Baskara dengaj segenap hatinya
"Iya nak tidak papa, justru kamu juga udah sekaligus temenin bapak pulang jadi bapak engga kesepian banget di jalan" senyum si bapak tua itu sangat tulus
Baskara mengangguk dan tersenyum tulus "Baik lah pak, kita sama sama membantu ya hehe" senyumnya
Mereka kian dekat ke arah lokasi kampung yang kebakaran itu, perlahan pemandangan langit malam terlihat berasap dan di penuhi debu debu yang berterbangan. Seketika hati Baskara tersentuh dengan tusukan luka yang membuatnya semakin hancur. "Bapak, ibu... maafin Baskara" lirihnya dalam hati nya penuh dengan kesakitan
"Hmm udaranya masih seburuk ini, padahal udah dari kemarin malam gini cuacanya tapi tetep aja langit masih seburuk ini" gerutu si bapak itu sembari perlahan menatapi langit malam yang masih di penuhi asap dan debu di sekitar kampung
Baskara mulai melewati gerbang bertuliskan kampung halaman nya sendiri, rasanya semakin menyakitkan dan benar benar memilukan. "Ya tuhan.. rasanya aku ingin berteriak sekeras mungkin" lirih Baskara lagi dalam hatinya dengan air mata yang kembali mulai memerah
"Tunggu nak Baskara? tadi kamu bilang nama lengkap kamu siapa?" tanya bapak tua itu menatapinya serius
Baskara membuang nafasnya pelan dan mulai mengendalikan nafasnya "Baskara Bisma Prakasa pak, memangnya kenapa?" tanya Baskara mencoba menahan sedih di dadanya
"Prakasa? kamu anaknya Bagas Prakasa?" ujar si bapak itu terdengar sangat mengejutkan Baskara
Baskara langsung saja mengangguk "Ya pak, kok bapak bisa tahu?" tanya nya bingung
"Ya ampun nak, Bagas itu temen bapak dulu sekali! dia suka bantuin bapak kalau memang dia bisa, dia juga pernah nyeritain kalau punya anak tentara dan anak gadisnya yang masih kuliah katanya. Jadi anak nya itu kamu nak" gerutu si bapak tua itu tidak percaya
Baskara seperti tertampar begitu keras saat dia mendengar tentang cerita bapaknya "Iya pak, saya anaknya" lirihnya masih fokus mengendarai ke depan
"Kamu yang sabar ya nak, bapak sama ibu kamu engga bisa di selamatkan. tadi siang bapak juga bantu pemakamannya mereka berdua. Kalau adik kamu sih katanya udah di bawa tim medis langsung kemarin malam" jelasnya lagi dengan suara lirih yang sangat khawatir pada keadaan Baskara
Baskara semakin terisak dengan sesak di dadanya "Pak saya ngerasa engga berguna banget jadi anak, saya saat kecil dulu sering mengatakan bahwa saya kuat dan akan melindungi semua keluarga saya tapi kenyataan nya malah seperti ini.. semuanya meninggalkan saya, bapak ibu.. bahkan saya engga bisa melihat saat proses pemakamannya, anak macam apa saya pak" lirih Baskara dengan semakin terisak
"Nak nak tenangin diri kamu dulu, semuanya jelas bukan salah kamu. Semua ini sudah menjadi takdir dari tuhan, kita sebagai manusia tidak bisa merubah apa pun" jelas si bapak itu sembari memegangi bahu Baskara
Baskara mengangguk dan menarik nafasnya pelan, dia lalu melihat rumahnya yang terletak di sumber kebakaran terparah. jalanan dan area memang sudah aman, semua rumah sudah di pastikan tidak lagi terbakar dan sudah aman meski semuanya terlihat hitam pekat dan gosong. "Ini kan rumah kalian nak?" gerutu si bapak itu
"Ya pak, pak apa boleh saya berhenti sebentar di sini?" tanya Baskara
Si bapak langsung saja mengangguk "Tentu saja nak, ayo" ajak nya
Baskara pun menepikan motornya dan berhenti di depan rumahnya. Rumah yang tepatnya saat itu geger karena ada seorang gadis yang berteriak akibat merasa ada sebuah tangan yang memegangi kakinya saat kebakaran sudah mulai di redakan. Yap Dara Gabriela Anatasya seorang perawat muda yang di tugaskan untuk mengevakuasi korban dan tanpa sengaja menemukan salah satu korban bernama Raina Ananda Baskara dengan sekujur tubuh yang di penuhi luka hingga membuatnya harus terbaring di rumah sakit dan koma.
Baskara lalu perlahan melangkahkan kakinya dan berjalan ke dalam rumahnya, di ikuti oleh bapak tua tadi yang memang merupakan teman bapak Baskara yang telah di nyatakan meninggal dunia. "Pak saya ingat betul di sini bapak selalu duduk dengan tenang dan membaca koran pagi sembari menikmati kopi hangat" jelasnya sembari menunjuk kursi yang tepat berada di depan halaman rumahnya yang gosong dan sudah roboh
"Nak. yang sabar nak" lirih bapak tua itu sembari meneteskan air matanya
Begitu pun dengan Baskara yang kian terisak "Pak rasanya saya engga tahan pak, baru saja bapak memenuhi impiannya dia sudah merenovasi rumah kami menjadi selayak ini tapi kenapa semuanya hangus terbakar, kenangan, kehangatan, keluarga semuanya hilang sekejap mata" lirih Baskara yang lalu terjatuh ke lantai dengan tatapan kosong menatapi ke dalam rumahnya yang sudah sangat hitam
"Semuanya adalah milik tuhan nak Baskara, semuanya akan kembali pada tuhan. Bapak dan ibu kamu akan tenang di sana, jangan tersiksa seperti ini nak. Sekarang tugas kamu adalah, kamu harus bertahan hidup untuk Raina dia pasti jauh lebih tertekan apa lagi dengan kejadian pahit yang sudah menimpanya" jelas si bapak mencoba menguatkan kembali Baskara
Baskara hanya mengangguk angguk dengan tatapan kosong yang pikirannya terbang jauh kembali ke masa lalu. masa di mana saat saat mereka tinggal di rumah baru mereka yang baru saja di renovasi.