Flashback....
Rumah yang baru saja selesai renovasi itu sudah terlihat sangat nyaman untuk di tinggali. Baskara, Raina, ibu dan bapak rupanya sudah membereskan barang barang di rumah mereka. Yap dulu rumah mereka hanya dari beberapa potong kayu yang sudah rapuh dan tidak layak di gunakan, namun setelah bergabungnya Baskara ke militer membuat dia bisa sedikit demi sedikit menabung untuk perenovasian rumah orang tuanya. Apa lagi Raina juga sudah bekerja di salah satu perusahaan besar yang juga bisa membantu biaya perenovasian rumah mereka.
Baskara juga sering di beri penghargaan berupa puluhan juta karena masuk kategori tentara angkatan baru yang terbaik. Sehingga membuat biaya perenovasian rumah pun ringan karena di bantu oleh ke dua anak dari pak Bagas sendiri.
Raina sedang menata beberapa album foto yang di taruhnya di meja meja kecil yang terdapat di ruang tamu. Sementara itu Baskara nampak dengan rajin nya memasangkan gorden gorden besar untuk rumah yang berukuran semegah ini.
"Ya tuhan.. terima kasih kami sudah bisa tinggal di rumah yang jauh lebih layak dari rumah kami yang sebelumnya. Setidak nya bapak sama ibu tidak harus sibuk cari ember saat hujan dan airnya bocor. Di rumah ini mereka akan jauh lebih nyaman dan aman" gerutu Baskara dalam hatinya setelah selesai memasangkan gorden gorden itu
Baskara pun turun dari tangga dan menatapi ke sekeliling rumahnya yang sudah nampak sempurna. Semuanya nampaknya sudah rapi, jelas pemandangan nya sekarang jauh berbeda saat dulu sekali. tepatnya dulu mereka meninggali rumah kayu dengan ukuran kecil.
"Udah Raina?" ujar Baskara lalu tersenyum pada adiknya yang terlihat sedang menepuk nepuk ke dua tangannya setelah dia selesai membereskan album album foto
Raina lalu menatap ke arah Baskara dan mengangguk pada nya "Udah bang, abang?" tanya nya sembari menatapi gorden gorden yang sudah di pasang
"Kamu lihat sendiri dong" gerutu Baskara sembari tersenyum lebar padanya
Raina lalu mengangguk dan tersenyum "Kerjaan abang gak pernah gagal deh, selalu memuaskan. Abang tentara aku yang paling hebat hehe, jadi kapan nih abang cari gandengan?" godanya tersenyum pada abang nya itu
"Idih kamu kok jadi bahas pasangan pasangan sih? abang masih suka seperti ini, lagian masih banyak yang harus abang kejar juga dek Raina yang terhormat" jelas Baskara lalu berjalan ke arahnya dan merangkulnya
Mereka berdua pun berjalan ke arah dapur karena memang ke dua orang tuanya sudah ada di sana dan sedang sibuk memasak.
"Tapi bang usia abang itu udah seharusnya cari pasangan lhoo, ya meskipun engga serius dulu deh pacaran dulu deh biar abang punya penyemangat selain dari bapak, ibu dan adek" jelas Raina sembari tersenyum pasa abangnya itu
Baskara menggelengkan kepalanya pelan dia lalu menatapi adeknya serius "Masalahnya itu gini ya dek, kamu kan udah punya pacar si Evan itu kan? nah kalian pacaran itu karena saling nyaman saling sepemahaman kan? nah beda lagi nih kalau abang, abang belum nemuin orang yang sepemahaman gitu lhoo" jelasnya
Raina mengerutkan keningnya lalu nampak sedikit berpikir "Hah? sepemahaman apa bang? anjir lah abang ini ngaco banget, mana aku sama Evan sering berantem tapi meski pun gitu kita tetep saliny sayang ya kata orang orang sih berantem itu justru bisa mempererat hubungan. contohnya nih aku sama abang kan tetep aja ada berantem berantemnya" jelas Raina lagi dengan mengangguk angguk
"Wih seriusan?" tanya Baskara dengan sedikit berpikir lalu dia tersenyum dan mengangguk angguk
Raina pun tertawa kecil "Haha curiga nih aku, jangan jangan bulan depan abang dah bawa cewek aja nih ke rumah" jelas Raina kembali menggoda nya
"Hmm kamu itu, engga tau lah gimana nanti aja lagian di mana abang nemu cewek? toh tiap hari latihan di markas terus tugas dan kesibukan kesibukan lain nya" gerutu Baskara lagi
"Ihh abang yang namanya jodoh itu dari mana aja datangnya lhoo" senyum Raina
Baskara tersenyum lalu mengangguk "Hmm iya deh iya Raina, betewe kenapa Evan masih belum keliatan? katanya mau ke sini? bukannya rumah dia cuma terhalang 4 rumah tetangga tapi kenapa lama banget datang nya?" tanya Baskara lalu menatapi ke pintu rumah utama mereka
"Hmm Evan masih di kantor bang, dia engga ada di rumah. Katanya sih sore dia pulang dan bakalan mampir dulu ke sini" jelas Raina segera dengan sedikit tersenyum malu pada abang nya itu
Baskara lalu mengangguk angguk sembari tersenyum dan mengelus kepala Raina lembut "Iya iya kamu kelihatan banget seneng nya setelah abang tanyain Evan" goda Baskara
"Hehe iya dong bang" jawab Raina bersemangat segera
Saat itu pun pak Bagas yang sudah sangat paruh baya itu keluar dari dapur dan berdiri di hadapan ke dua anaknya itu. "Ehh kalian di sini toh, ayo ke dapur bapak sama ibu udah nungguin dari tadi" jelas pak Bagas lalu memegangi tangan ke dua anaknya, ke dua anaknya yang selama ini sudah membuat hidupnya jauh lebih baik.
Baskara dan Raina segera mengangguk "Baik bapak tersayang" senyum Raina sangat tulus padanya
"Ayo pak kita makan bareng bareng" semangat Baskara
"Ayo, tuh ibu udah nungguin" semangat pak Bagas
Mereka pun memasuki area dapur dan segera duduk di kursi yang mengelilingi meja makan. Baskara tersenyum ketika melihat semua masakan enak dan lezat sudah di sediakan di meja.
"Wihh enak banget sih ini mah, apa lagi semuanya buatan ibu" senyum Baskara puas lalu menatapi ibunya
Ibu Baskara tepatnya bernama Nasya, ia lalu tersenyum tersipu "Pasti enak nak, apa lagi ibu di bantuin adek kamu Raina tuh. Sekali pun kerjaan nya dia sehari hari di kantor dan hanya mengotak atik laptop tapi masakan nya juga tidak bisa di ragukan lho" senyum Bu Nasya menatapi Raina
"Ihh ibu bisa aja" gerutu Raina segera
Bapak mereka tersenyum bahagia "Udah udah, ayo kita berdoa sebelum makannya ya. Bapak udah lapar banget nih gak sabar pengen makan hehe" jelas nya
"Hehe iya iya pak, ayo pimpin doanya pak" ujar Baskara segera
Mereka pun mulai berdoa dan makan dengan penuh rasa bersyukur atas semuanya. Senyuman dari raut semua wajah terlihat sangat tulus dan hangat. setelah selesai makan pak Bagas dan Baskara duduk di kursi yang di simpan di depan teras rumahnya dan ternyata hal ini menjadi kebiasaan pak Bagas setelah makan.
Pak Bagas dan Baskara duduk dan melihat pemandangan ke depan halaman rumahnya, tepat di halamannya yang tidak begitu luas mereka sengaja menanam beberapa tanaman bunga dan juga ada kolam ikan di sana.
"Nak? besok kamu nugas lagi?" tanya pak Bagas sesudah menyeruput kopinya
Baskara langsung mengangguk "Iya pak, cuti Baskara kan sudah habis" jawab nya segera
"Kamu nugasnya jangan terlalu kecapean ya nak, sekuat apa pun kamu kamu tetap harus istirahat ya jangan lupakan itu. Makan yang teratur juga" jelas bapak dengan suara khasnya
Baskara mengangguk sembari tersenyum manis "Baik pak, Baskara selalu mendengarkan apa yang bapak perintahkan. Bapak tenang aja ya" jawab Baskara segera
"Hmm bagus nak, eh itu kamu beli ikan nya di mana? bagus bagus banget warnanya" gerutu pak Bagas sembari melihat kolam ikan di depan teras
Baskara juga lalu menatapi kolam ikan itu "Ikan ikan itu? dari kota pak, Baskara beli dari ayahnya temen Baskara" jawabnya segera
"Oh begitu" angguk pak Bagas
Baskara segera mengangguk "Iya pak"
Tak lama Raina datang membawa brownis buatannya, dia lalu menyimpannya di meja yang terletak di tengah tengah mereka. "Pak, bang ini di makan brownis nya masih anget" jelas Raina lembut
"Wihh tumben kamu buat beginian?" ujar Baskara yang terpukau mentapi brownis itu
Raina segera mengangguk dan tersenyum manis "Abang mah engga tau sih" jawab nya segera
"Nak Baskara, Raina itu rajin bikin beginian dan apa pun makanan yang unik unik lhoo. Kalau nak Evan mau main ke sini" jelas pak Bagas tersenyum pada Raina menggodanya
Raina tersenyum malu "Hehe bapak gak udah di jelasin gitu deh" gerutunya
"Ahh pantesan aja! haus pujian ya" tawa Baskara lalu menggelegar
Raina terlihat kesal lalu memukul Baskara menggunakan nampan yang tadi dia gunakan. "Abang apa apaan sih! nyebelin kalau ngomong" kesalnya
"Ya ampun sakit Raina" ujar Baskata sembari masih tertawa
Raina menatapi Baskara sinis "Apaan kok gitu aja sakit sih? toh abang kan tentara! masa gitu aja lemah" gerutu Raina sembari memanyun manyunkan bibirnya
Baskara nampak tidak terima dia lalu bangun dari duduknya dan menatapi Raina marah "Wih mau ngajak perang lagi nih anak" gerutu Baskara lalu merangkul leher Raina cukup keras dan menggelitikinya
"Ya ampun tingkah laku kalian ini masih aja ya kayak anak anak" senyum pak Bagas saat menatapi ke dua anaknya itu
Raina tertawa cukup nyaring dan menatapi bapaknya "Pak bantuin Rain pak! bang Baskara kelewatan nih" teriak Raina cukup keras
"Apa sih main nya curang! kok laporan gitu haha" teriak Baskara mengolok olok adiknya
Raina mencoba melawan Baskara namun nampaknya dia sangat kesulitan. "Ihh abang nyebelin ihh" teriak Raina cukup keras
Tiba tiba terdengar suara mobil di depan rumah Baskara yang menepi di dekat gerbang rumah mereka. "Evan itu Evan! bang lepasin bang malu ih" bisik Raina pada abangnya itu
"Engga mau engga mau, biarin aja Evan lihat" gerutu Baskara sembari tersenyum
Pak Bagas menggelengkan kepalanya sembari tersenyum "Baskara udah, nanti bisa bisa Raina ngamuk lho sama kamu" bisik Pak bagas pada anak lelakinya itu
"Hmm ya udah deh" gerutu Baskara lalu melepaskan tangannya dari rangkulan nya pada Raina
Raina pun menatapi Baskara sinis "Nah gitu dong" ujarnya memanyunkan bibirnya lalu merapihkan rambut dan bajunya
"So soan kalem depan pacar" bisik Baskara menyindirnya
Pria bernama Evan pun membuka gerbang rumah mereka, dia berpakaian rapi menggunakan setelan jas berwarna hitam ya karena memang dia adalah rekan kerja kantor Raina.
Evan pun tersenyum dari kejauhan pada semuanya, dia lalu berjalan mendekat dan memberi salam pada pak Bagas mau pun pada Baskara.
"Selamat sore pak, abang" senyum nya sangat ramah dan hangat
Pak Bagas dan Baskara pun segera tersenyum dan mengangguk "Iya selamat sore" jawab Baskara segera
"Kamu sama Raina ke dalam aja dulu ya, ibu ada kok" senyum pak Bagas pada calon menantunya itu
Evan pun mengangguk dan sedikit tersenyum pada Raina "Baik pak, terima kasih" jawab Evan sangat ramah
"Ayoo" ajak Raina pada Evan dengan senyuman yang merekah
Evan pun mengangguk "Baik, kalau gitu saya ke dalam dulu ya pak bang" ujarnya
"Oke oke" jawab Baskara segera
Pak Bagas pun mengangguk, Evan dan Raina lalu masuk ke dalam rumah baru mereka yang baru di renovasi itu.
"Pak aura Raina jadi beda banget ya saat Evan datang" ujar Baskara pada bapaknya sembari dia kembali duduk di samping bapak nya
Pak Bagas mengangguk setuju "Iya nak cinta itu merubah segalanya, kadang saat kamu lemah pun kalau ada dia yang kamu cintai kamu akan seketika kembali menjadi kuat layaknya seperti minum obat yang kuat" ujar pak Bagas sangat serius
"Benarkah pak?" ujar Baskara hanya tersenyum dan nampak tidak percaya karena memang Baskara belum tahu menahu tentang hubungan asmara
Pak Bagas segera mengangguk "Iya, makanya segera cari calon pacar ya. Biar hidup kamu jauh lebih berwarna" ujar pak Bagas sembari tersenyum pada nya
"Calon pacar? hmm Cinta? Baskara belum terlalu tahu menahu tentang apa arti dan makna dari semua itu" gerutu Baskara sembari merenung
Bapak nya langsung tersenyum "Untuk sekarang kamu belum tahu, tapi nanti kamu akan merasakan sendiri lah bagaimana itu yang namanya cinta" jelas nya
Baskara hanya mengangguk angguk dan tersenyum "Hmm iya bapak" jawabnya segera
Flashback selesai