Baskara menyudahi kenangan yang dia ingat di masa lalu itu "Benar pak, semuanya memang sudah menjadi takdir dari tuhan. Kita tidak bisa mewujudkan semua yang kita mau tanpa tuhan kehendaki hanya saja Baskara merasa sangat rindu sama ibu dan bapak, Baskara rasanya sangat tidak siap tanpa mereka" ujarnya lagi lalu kembali menangis tersendu sendu
"Bapak tahu apa rasanya di posisi kamu saat ini, sangat menyakitkan dan sulit untuk di terima. Menangislah sepuasnya, luapkan semua yang kamu ingin buang. Biar kamu jauh lebih lega saat nanti bertemu dengan Raina adik kamu" jelas si bapak tua itu sembari memeluk Baskara erat
Baskara hanya terdiam menahan semua rasa sakitnya dan mencoba untuk mengikhlaskan semuanya, karena marah atau bersedih pun tidak bisa dia lakukan terus menerus.
"Sekarang lebih baik kita langsung ke rumah sakit aja nak, soalnya ini udah malam banget dan bapak juga harus pulang ke rumah" jelas si bapak tua itu
Baskara lalu mengangguk paham dan melepaskan pelukannya dari si bapak "Baik pak, ucapan bapak benar. Maaf saya malah membuang buang waktu bapak ya" lirihnya dengan tatapan kosong
"Tidak nak, kamu tidak ganggu kok. bapak cuman mengingatkan aja dari pada kamu terus berada di sini dan terpukul lebih baik kan kamu segera temui adik kamu" jelas si bapak
Baskara mengangguk, mereka berdua pun keluar dari rumah yang sudah hangus itu dan kembali menaiki motor untuk menuju ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Baskara hanya terdiam dengan pikiran kacau setelah melihat rumahnya, sepintas mulai terpikir olehnya kenapa kebakaran ini bisa terjadi. Lebih detailnya 22 rumah warga di kampung nya yang terbakar, termasuk di area perumahannya yang paling parah.
"Kenapa kebakaran ini bisa terjadi? setau ku sebelumnya tidak pernah terjadi hal seperti ini sebelumnya, apa lagi kebakaran ini terjadi saat malam hari? apa mungkin karena hanya korsleting listrik? tapi kenapa aku seperti yang tidak yakin akan alasan itu?" gerutu Baskara dalam hatinya
******
Dara nampak kocar kacir membantu beberapa dokter yang mendapat beberapa korban tambahan yang baru terevakuasi. keadaan di rumah sakit semakin sibuk dengan bertambahnya jumlah korban hingga berakhir di jam 20.00 malam.
Beberapa orang sudah di nyatakan meninggal dunia dan sebagian besar mengalami luka yang cukup berat. Setelah Dara begitu sangat lelah dengan semuanya, dia teringat dengan pasien bernama Raina. Perempuan dengan luka bakar yang sangat parah dan masih belum sadarkan diri sampai sekarang. Dara terenyuh untuk menjenguknya ke ruangannya, meski pun dia tidak tahu tentangnya tapi perasaan nya sangat mengkhawatirkannya.
"Selamat malam mba Raina" gerutunya saat membuka tirai lalu dia berjalan pelan dan duduk di samping ranjang Raina
Raina masih terbaring di sana dengan balutan perban yang hampir memenuhi sekujur tubuh dan wajahnya. Dara menelan salivanya kuat, sebenarnya dia tidak tahan melihat pemandangan menyakitkan seperti ini yang terus di lihat sejak malam kemarin.
"Kenapa bencana ini bisa sedasyat ini? orang orang yang sedang beristirahat tiba tiba mendapat cobaan ini, mereka kehilangan keluarga, kesehatan dan kesadaran nya. Apa benar kebakaran ini hanya terjadi karena korsleting listrik sesuai dengan yang polisi katakan?" gerutu Dara dengan tatapan sendu masih menatapi Raina
Dara menarik nafasnya dalam lalu membuangnya pelan "Aku engga tahu seberat apa yang mba Raina rasakan, tapi aku mohon bersabarlah sebentar. Abang mba sebentar lagi pasti akan datang, dia akan menjaga mba" senyum nya dengan sangat tulus
"Kenapa aku merasa simpati sekali pada mba Raina? saat pertama kali tangan nya mengagetkan ku dengan memegangi kaki, saat itu pun aku merasa bersalah karena mengiranya hantu" gerutu Dara dalam hatinya
Dara lalu menatapi jam di dinding yang menunjukkan sudah pukul 23.43 malam dan sebentar lagi akan pukul 1 tapi Baskara masih belum datang, tiba tiba saja perut Dara terdengar meminta jatah untuk makan.
Dara terlihat kesal "Ya tuhan, aku bekerja sesibuk ini sampai melupakan diri ku sendiri. Kapan ya terakhir aku makan? apa tadi pagi? serius? aahh" gerutunya lalu bangun dari duduknya dan melangkahkan kaki untuk keluar mencari makan
Saat dia sudah keluar dari area rumah sakit, Linda dan salah satu dokter nampak berjalan berdua. Mereka lalu menyapa Dara "Dara? mau kemana? kok kamu kayak lemes gitu, jangan bilang kamu belom makan ya" gerutu Linda kesal
Dara menatapi nya datar lalu dia mengangguk "Hemm aku lupa sampai engga makan" jawab Dara segera
"Ya ampun Dara, kamu jangan seperti itu! bahaya lo buat kesehatan kamu. Nih ambil aja ini" ujar Si dokter di samping Linda lalu memberikan sebingkis nasi goreng hangat
Dara membelalak dan menatapinya terkejut "Hmm kok jadi buat aku sih mba Ana? gak papa aku mau beli kok engga repot repot" gerutu Dara segera menggelengkan kepalanya
Linda nampaknya juga memberikan satu bingkisan berisi minuman dan cemilan untuk Dara "Ini dari aku ya Dara, ambil ya kita emang sengaja kok beliin ini buat kamu" jelasnya tersenyum manis
"Ehh seriusan?" gerutu Dara sedikit tersenyum kaku pada ke duanya, Dara adalah tipikal orang yang tidak begitu dekat dengan siapa pun. Sikap Dara itu sangat sensitif atas semua kejadian di sekitarnya mau pun pada teman teman di lingkungannya, dia kadang sangat ketus mau pun sangat baik pada teman temannya. Dara adalah perawat yang terkenal paling manja di antara yang lain, namun tak dapat di pungkiri Dara lah yang paling pintar dan cerdas di antara yang lainnya. Linda dan Dara kadang terlibat pertikaian kecil namun hanya berlangsung sebentar, mereka selalu langsung kembali baikan seakan tidak terjadi apa apa.
Dokter Anna dan Linda pun mengangguk "Iya Dara" jawab Linda dengan senyuman merekah
"Linda udah ceritain ke saya, katanya kamu di tkp gesit banget! kamu hebat dan berhasil menyelamatkan orang orang cukup banyak" jelas dokter Anna lalu menatapi Linda
Dara tersenyum semakin lebar lalu dia menatapi Linda dengan senyuman yang manis "Hmm Lindaaa..." gerutunya
"Selamat Dara, kamu adalah perawat yang terbaik di rumah sakit ini" jelas Linda lalu memeluknya
Dara pun membalas pelukannya dan tersenyum semakin merekah "Makasih Linda, kamu juga hebat" jawabnya segera
"Ya udah di makan ya Dara, kita ada agenda lain nih" jelas Dokter Anna lalu menatapi ke duanya yang masih berpelukan
Dara dan Linda pun melepaskan pelukannya satu sama lain, mereka lalu mengangguk. Dara tersenyum pada keduanya "Eh iya dokter Anna, pokonya aku terima kasih banget ya sama kalian" jelasnya lagi
"Iya iya Dara, nanti nanti hilangin ketus sama judesnya ya kamu itu orang baik dan cerdas hehe" goda Linda
Dara tersenyum dan membuang wajahnya dia seakan menerima pernyataan yang Linda katakan "Iya Dara, kadang temen temen kamu itu katanya sebel tapi engga bisa mereka pungkiri sih kamu adalah perawat tercerdas di sini" tambah si dokter
"Terima kasih dokter, saya akan memperbaiki sikap saya sebaik mungkin" angguk Dara menunduk padanya
Ke duanya tersenyum dan menatapi Dara tulus "Oke Linda ayo kita pergi, Dara kita duluan ya. Kamu makan dan habisin semuanya oke?" ujar si dokter lalu melangkahkan kakinya
Dara mengangguk dan tersenyum "Oke dokter terima kasih" jawab nya segera
"Byee Dara" ujar Linda lantang sembari pergi menjauh darinya dan melambaikan tangannya
Dara pun melambaikan tangan nya segera "Byee"
Dara membuang nafasnya pelan lalu tersenyum sangat manis "Hmm ini kali ya yang sering orang orang bilang, rezeki anak sholeh baru aja aku mau cari makan hehe" gerutu nya lalu kembali ke rumah sakit dan memutuskan untuk makan di ruangannya pasien bernama Raina
Karena tidak ada tempat lain untuk makan dan santai, Dara memilih makan di sana. karena di ruang pasien lain di isi oleh keluarga korban yang sedang menjenguk. Dara membuka nasi goreng itu dan mulai melahapnya setelah mengucapkan doa.
"Pasti enak nih" gerutu nya lalu menyuapkannya ke mulutnya
Dia mengunyahnya dan benar sekali dugaan nya nasi gorengnya sangat lezat, dia sangat bersemangat saat memakannya hingga tak terasa nasi gorengnya sudah habis. Dia pun meminum minuman yang sudah Linda berikan padanya tadi.
"Hmm kenyang banget" gerutunya lalu membuang nafasnya lega
Dara lalu menatapi Raina lagi dengan sendu "Mba maaf ya Dara ikut makan di sini, karena di sana udah engga ada tempat untuk beristirahat dan makan. Semoga mba Raina tidak keberatan ya" gerutu Dara
Dia lalu segera membereskan semuanya untuk membuangnya ke luar. Dara pun melangkahkan kakinya dan membawa sampah itu bersamanya. Saat dia sudah membuang ke tempat sampah. Tatapan nya tertuju pada seseorang yang baru saja sampai di depan rumah sakit. Dia bersama seorang pria tua dengan motor tua bersamanya. Sorot mata Dara tidak berpaling darinya, pada seorang pria berpakaian tentara dan tas ransel yang di gendongnya.
Dara membuka kaca matanya lalu menatapi pria itu semakin seksama. "Ya tuhan, ciptaan mu.. kenapa dia sangat sempurna" gerutunya sangat pelan masih menatapi pria itu
Pria yang dia lihat itu lalu memeluk si bapak tua yang tadi bersamanya, pria itu juga memberikan lembaran uang kertas berwarna merah padanya. Si bapak tua itu hendak menolak namun pada akhirnya dia menerima karena mendapat paksaan dari pria itu.
Bapak tua itu pun pergi dari area rumah sakit bersama dengan motor tuanya, sementara si pria berpakaian tentara berjalan ke arah rumah sakit. "Aku rasa ini adalah rumah sakit yang memang perawat itu merawat Raina? karena memang ini rumah sakit terdekat dari lokasi kampung kami" gerutu Baskara sembari menatapi gedung rumah sakit dengan seksama
"Ya ampun dia berjalan ke sini?" gerutu nya lagi pelan lalu segera mengenakan kaca matanya kembali
Dara masih menatapinya dengan tatapan terpukau seakan tak bisa lagi berpaling darinya. Baskara menatapi ke arahnya dan membuat Dara terkejut dan sedikit memelotot. Dia lalu mengalihkan pandangannya dan menatap ke lain arah supaya Baskara tidak menyadari bahwa sejak tadi dia menatapinya.
"Gadis itu, kenapa memerhatikan ku seperti itu?" gerutu Baskara menatapinya sangat dalam
Dara masih menatapi ke arah lain "ihhh kok bisa bisanya ketahuan sih, kebiasaan ih" gerutu Dara kesal
"Seorang perawat berkaca mata, dengan rambut pendek yang cukup menarik" gerutu Baskara sembari melangkahkan kaki nya semakin mendekat ke arahnya
"Husshh! Baskara kenapa kamu malah memikirkan dia sih? Raina di dalam pasti sudah menunggu, lagi pula tidak ada waktu untuk ku memikirkan soal masalah asmara seperti ini" gerutu Baskara lagi dalam hatinya
Dara lalu kembali menatapi ke arah Baskara lagi dengan perlahan "Eh dia kok berhenti di depan aku?" gerutunya kaget saat Baskara ternyata berhenti di hadapannya
"Permisi" ujar Baskara dengan sedikit terbata bata saat menatapi Dara
Dara lalu menatapinya dalam, hingga mata ke duanya bertemu dengan sorot mata yang hangat. "Eh i- iya? ada yang bisa saya bantu?" tanya Dara gelagap dan tersenyum kaku padanya
"Saya ingin bertanya, boleh?" tanya Baskara perlahan
Dara lalu mengangguk masih dengan senyuman kaku di wajahnya "Kenapa gak langsung tanya aja sih? kenapa harus ijin dulu? ya ampun sopan banget ini cowo" gerutu Dara dalam hatinya
"Boleh" jawab Dara segera
Sorot mata Baskara tiba tiba saja berubah menjadi sangat sendu "Saya mau nanyain, apa di sini ada pasien bernama Raina Ananda Baskara?" tanya nya segera
Dara sontak saja terasa tersambar petir, satu hal yang dia tidak pikirkan sejal tadi. Seorang tentara yang datang ke rumah sakit malam ini, dan seorang tentara yang dia telpon tadi siang ternyata adalah orang yang sama. Dara langsung saja menatapi nama yang tertera di d**a bajunya, jelas tertulis di sana nama Baskara Prakasa terpampang jelas, hal itu membuat Dara sontak saja membelalak kaget saat tahu ternyata dia adalah orang yang sama.
"Pak Baskara? abangnya Raina?" ujar Dara membelalak menatapi Baskara
Baskara mengangguk "Jadi kamu, perawat yang tadi siang nelpon saya?" tanya Baskara segera
"Iya pak, saya Dara perawat di rumah sakit ini yang tadi siang nelpon bapak. Semalam saat pengevakuasian di mulai saya menemukan mba Raina, mari saya antar ke ruangan mba Raina" jelas Dara lalu segera melangkahkan kakinya