Baskara pun mengikutinya dari belakang dengan tatapan masih terkunci pada Dara, perawat yang membuat nya enggan untuk berkedip ternyata adalah orang yang telah menyelamatkan Raina adiknya dan menelpon nya tadi siang. "Bapak.. ini takdir atau? kebetulan?" gerutu Baskara pelan dalam hatinya masih menatapi Dara terpukau
"Kenapa perasaan ku sangat berbeda saat menatapnya" tambah Baskara lagi di pikirannya
Mereka berjalanan melewati beberapa ruangan yang di penuhi oleh korban korban, sekejap Baskara merasa pilu karena beberapa orang yang merupakan korban ternyata para tetangga dekatnya. Baskara tak mampu untuk melihat mereka lebih dekat, dia hanya melaluinya dengan tatapan pilu dan seakan tidak percaya. Degup jantungnya kian berpacu saat Dara dan dirinya berhenti di sebuah tirai yang di tutup rapat. Tatapan Baskara seakan terkunci pada ruangan di dalam sana, Dara lalu menatap ke belakang tepatnya pada Baskara sebelum dia benar benar membuka tirainya.
"Ini ruangan nya mba Raina pak, saya harap bapak menerima semuanya dengan lapang d**a" jelas Dara pada nya
Baskara menatapinya cukup dalam lalu membuang nafasnya berat dan mengangguk "Baik lah, pastinya saya harus menerima semua kenyataan ini" jelas Baskara lagi
Dara pun mengangguk dan membukakan tirau putih itu, Baskara terpukul saat tirai sudah di buka di mana dia melihat adiknya Raina yang mengenakan perban di sekujur tubuhnya kecuali bagian mata dan hidung. Baskara langsung melangkahkan kakinya dengan perlahan dan mendekat ke arah Raina. Dia lalu duduk di samping pasien dan menatapinya sangat sendu, Dara masih berdiri di sana dengan tatapan yang sama sendunya seperti Baskara. Dara lalu menutup tirai dan memilih menunggu di luar hingga Baskara mampu meluapkan segalanya dulu sendirian bersama dengan adiknya.
"Raina? adik abang yang cantik, kamu harus kuat yaa! abang ada di sini sekarang. Abang mau jagain kamu sampai kamu sembuh, kamu jangan takut! apa pun yang terjadi abang tetap akan di sini" lirih Baskara perlahan air matanya menetes ke tangan Raina
Sudah tidak tahan dengan melihat ke adaan adiknya, Baskara lalu menunduk dan terisak tangis yang begitu dalam. "Maafin abang, abang engga bisa menyelamatkan kalian semua. Bapak, ibu... abang gak bisa menyelamatkan mereka" lirih Baskara di tengah isak tangisnya
"Kamu jangan berputus asa karena itu Raina! di sini masih ada abang! kamu harus sembuh ya" tambah nya lagi lalu kembali menatapi Raina sendu dan memegangi tangan Raina lembut
Tiba tiba saja tangan Raina sedikit bergerak membuat Baskara terkejut dan tersenyum tidak percaya "Raina? kamu denger abang kan? kamu tau abang ada di sini dan akan jagain kamu kan?" ujar Baskara sembari tersenyum sedikit
Raina masih tertidur dengan wajah berbalut perban tiba tiba saja mulutnya bergerak lantas membuat Baskara semakin panik "Raina? apa yang ingin kamu katakan? jangan memaksakan diri ya Raina abang mohon" lirih Baskara menatapi adiknya khawatir
"B-bang" lirih Raina sangat pelan dengan suara yang serak
Baskara merasa semakin terluka dan terus menjatuhkan air matanya "Raina, hentikan! abang di sini iya abang di sini. Kamu jangan menyapa abang jika itu bisa menyakiti kamu" jelas Baskara lagi
"Ada apa pak?" tanya Dara yang lalu masuk ke dalam tirai dan menatapi Baskara kebingungan
Baskara langsung saja menatapi Dara panik "Perawat Dara! aku lihat Raina menggerakan bibir nya dan menyapa ku dengan menyebut aku abang. Apa dia akan baik baik saja?" tanya nya khawatir
Dara tersenyum menatapi Baskara lalu dia menatapi Raina "Sejak aku selamatkan dia, dia memang terus menyebut nama abang nya mungkin yang dia sangat sayangi sekarang adalah anda" jelasnya membuat Baskara lega
"Benarkah? ya ampun Raina" lirih Baskara sendu lalu mengeratkan pegangan tangannya pada Raina dengan lembut
Dara mengangguk "Iya, anda tidak perlu khawatir. karena saya dan tim sudah memberikan pelayanan yang paling terbaik di sini untuk mba Raina" jelasnya lagi
"Baik lah terima kasih ya. meski pun kamu engga kenal kami tapi hati kamu baik banget" jelas Baskara tersenyum padanya
Dara kembali mengangguk "Iya, itu memang sudah menjadi tugas saya pak" jelas Dara
"Padahal entah kenapa aku ingin sekali menolong mba Raina, berbeda saat aku menolong korban lain. Aku merasa Mba Raina ini spesial ternyata oh ternyata dia ingin mempertemukan ku dengannya" gerutu Dara dalam hati terdalam nya
Baskara tersenyum menatapi Dara "Jangan panggil saya bapak, saya masih muda. Panggil Baskara saja" tambah Baskara masih dengan senyuman tulus di wajah nya
"Eh eh iya maaf ya, Baskara" senyum Dara canggung
"Hmm iya" angguk Baskara
Tiba tiba tangan Raina yang Baskara pegang kembali bergerak dan membuat mereka berdua langsung menatap ke arah Raina. "Raina? ada apa?" gerutu Baskara dengan kebingungan
"Mba Raina kenapa ya? apa mungkin dia ingin memberitahu sesuatu ke kamu Baskara?" ujarnya dengan penuh pertanyaan
Baskara menggelengkan kepalanya "Entah lah Dara, aku juga bingung kenapa Raina seperti ini" jelasnya
"Bb- bang" lirih Raina lagi dengan suara kian jelas
Baskara semakin mendekati adiknya itu dan menatapinya khawatir "Iya Raina adik abang, ada apa? kenapa?" jawab Baskara dengan pelan padanya
"Ya tuhan, hubungan adik kakak mereka sangat lain dari yang lain. Berbeda sekali dengan aku dan kakak ku yang selalu berbeda pemahaman dan lebih banyak bertengkar dari pada berbicara baik baik" gerutu Dara dalam hatinya merasa tersentuh dengan apa yang Baskara lakukan pada adiknya
Dara kembali menatapi Raina yang rupanya kembali membuka mulutnya dengan bersusah payah, dia sangat merasa iba melihat Raina yang seperti itu. Apa lagi Baskara yang semakin deras menjatuh kan air matanya.
"I- ini gak ke- be- tulan. Ada yy- ang ja- hat" jelas Raina lagi membuat Baskara dan Dara lantas bertatapan terkejut
Baskara nampak berpikir dan mulai teringat bahwa sejak awal Baskara sudah mencurigai hal ini "Raina sudah ya jangan pikirkan apa pun lagi, jangan bersedih! abang akan selalu ada di sini dan jagain kamu. Abang juga janji akan mengungkap kasus ini, abang janji. Sekarang kamu istirahat dan jangan mengucapkan apa pun lagi karena abang tahu itu sangat menyakiti kamu" jelas Baskara
"Iya mba Raina, beristirahat lah yaa biar kondisi mba jauh lebih sembuh" jelas Dara menatapinya sendu
Raina pun menutup mulutnya dan kembali terdiam, namun hal ini menyisakan tanya antara Baskara mau pun Dara. Baskara bangun dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan, Dara lalu mengikutinya karena juga rasanya dia memiliki kecurigaan atas kebakaran ini.
Baskara dan Raina berjalan melewati setiap lantai dan berakhir di atap, Baskara sejak tadi sadar bahwa Dara mengikutinya namun dia hanya memilih diam. Baskara lalu terduduk di kursi lusuh yang ada di sana. "Apa maksud dari perkataan Raina ya? apa mungkin dia melihat seseorang yang mencurigakan saat kebakaran itu?" gerutu Baskara dengan penuh kebingungan
"Untuk kasus kebakaran ini, aku juga ikut curiga sebenarnya. Soalnya jika kebakaran terjadi akibat korsleting listrik engga mungkin proses kebakaran secepat itu dan membakar puluhan rumah. Seakan akan semua sudah terjadi adalah rencana seseorang" gerutu Dara lalu mengerutkan keningnya
Baskara menatapi Dara dalam, Dara baru sadar kenapa dia malah mengikuti Baskara. "Eh maaf ya, a- aku malah ikutin kamu ke sini" gerutu nya lalu hendak pergi dari hadapan Baskara
Baskara tiba tiba menghentikan langkah Dara dengan memegangi tangannya erat "Kamu juga memiliki kecurigaan yang sama dengan ku, apa mungkin kita selidiki hal ini? apa kamu bisa?" tanya Baskara dengan serius
Dara lalu menatapi tangannya yang di pegang oleh Baskara itu dengan tatapan sendu "Tangannya terasa hangat sekali" gerutu Dara dalam hatinya
"Kenapa aku malah melakukan hal ini? sial, Baskara Baskara" gerutu Baskara dalam hatinya kini menatapi tangan nya
Baskara lalu melepaskan tangannya dan kembali menatapi Dara, Dara membalikkan badannya dan menatapi Baskara serius. "Aku rasa ya! kita harus menyelidiki hal ini" jelasnya dengan jawaban yang tegas