"Kamu serius?" tanya Baskara dengan senyuman di wajahnya, dia merasa Dara adalah orang pertama yang menghargai ucapan nya setelah keluarganya sendiri
Dara tersenyum lalu dia duduk di hadapan Baskara tepat di kursi lusuh satunya lagi. ke duanya saling beradu tatap dengan senyuman di wajahnya. "Iya Baskara" jawab Dara ramah
Yang satunya memakai seragam perawat yang satunya memakai seragam tentara, bukan kah mereka terlihat sangat cocok? Baskara lalu teringat dengan perkataan yang pernah dia katakan di masa lalu.
"Aku sendiri bahkan pernah mengatakan, bahwa cinta itu harus sepemahaman. Kenapa baru pertama kalinya saja aku bertemu Dara aku langsung beranggapan bahwa Dara seperti itu ya? tapi, dia adalah gadis yang sangat baik. Dia menyelamatkan Raina dan pergi mencari cari nomor telponku. Jika bapak masih ada di dunia ini pasti dia sangat menyukainya" gerutu Baskara dalam hatinya
"Gadis berambut pendek dan berkaca mata, dia sangat cantik yang periang" tambah Baskara lalu tersenyum
Dara lalu terlihat berpikir dan ia pun menatapi Baskara dengan tatapan canggung "Apa kita coba laporin hal ini ke polisi?" tanya Dara serius
"Seperti nya memang harus di coba sih" angguk Baskara segera
Dara tersenyum dengan jarak di antara ke duanya yang cukup jauh. "Hmm aku rasa juga begitu" jelas Dara
"Aku akan coba di hari besok, kamu masih nugas dan kerja di sini kan? aku titipin Raina ke kamu ya" ujar Baskara menatapi nya serius dengan senyuman manis padanya
Dara lalu mengangguk dan tersenyum "Oke" jawabnya segera
*******
Flashback....
Langit sudah malam dan berwarna hitam pekat. Beberapa rumah yang berada tepat di pesisir pantai sebagian sudah mematikan lampu lampu kamarnya. Cuaca sangat sejuk seperti malam malam biasanya. Berbeda dengan orang lain yang sudah beristirahat dan tertidur pulas, Raina justru tengah sibuk menyelesaikan beberapa pekerjaan nya yang harus dia selesaikan malam ini juga.
Kamarnya tepat berada di lantai 2 dengan jendela yang dia buka supaya udara sejuk masuk ke dalam kamarnya. Raina terlihat sangat serius saat mengisi beberapa lembar kerjanya. Perlahan dia menarik nafasnya berat lalu membuangnya.
"Sialan sih ini banyak banget kerjaan nya, ya tuhan.. apa mungkin Evan udah selesai ya?" gerutu dia pelan
Dia lalu membuang semua opini di dalam kepala nya yang sekejap membuatnya hilang konsentrasi dalam bekerja. "Husshh aku jangan dulu mikirin Evan, dia pasti udah tidur nyenyak sekarang. Mana belum ngehubungin aku juga" gerutunya lalu menatapi ponsel yang dia simpan tergeletak di samping buku buku tebalnya
"Hmhh bagus lah Evan! lihat saja besok aku nau ngamuk sama kamu, seenaknya kamu tidur duluan tanpa ngucapin selamat malam dulu ke aku" gerutu Raina lagi nampak memanyunkan bibir nya kesal
Raina lalu kembali fokus dan mengerjakan pekerjaan pekerjaan nya yang sangat numpuk itu. "Oke aku kerja aja lagi, soal besok aku baru bisa marah ke Evan" gerutu nya lagi
Suasana kamar Raina terlihat begitu nyaman dan menyejukan, kamar bertema warna hijau itu mampu membuat suasana hati seseorang merasa membaik. Di dinding dinding kamarnya dia juga menggantungkan beberapa foto palaroid yang berisi foto foto dirinya dengan Bapak, Ibu dan abang nya sekaligus kekasihnya juga.
Suara beberapa langkah kaki dari luar tiba tiba mengganggu konsentrasi dan pokus nya Raina. Dia lalu menatap ke luar jendela dan menatapi ke bawah tepatnya ke jalanan di mana orang orang berpakaian hitam nampak mencurigakan.
"Tunggu tunggu siapa mereka?" gerutu Raina pelan dan diam diam menatapnya
"Tengah malam begini, berjalan di sekitar kampung kami? dan berpakaian mencurigakan. Apa yang mereka ingin lakukan" gerutu Raina lagi sangat pelan
Orang orang itu pun hanya berlalu dan pergi dari area halaman rumah Raina dan keluarga. Raina mengerutkan keningnya dan nampak sangat curiga. "Apa yang mereka mau? apa yang mereka rencakan? dan apa yang mereka bicarakan tadi?" gerutunya pelan
"Ahh bodo amat, mungkin mereka remaja dari kampung ini kali dan mungkin lagi ngeronda aja" ujar Raina lagi mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri
"Tapi kok pada pake pakaian hitam? aahh sialan, aku malah keganggu gini sih! mana kerjaan aku banyak banget" gerutu Raina lagi lalu segera menutup jendela kamarnya tanpa berkata apa apa lagi
Setelah dia cukup lama mengerjakan pekerjaan nya dia malah tertidur di meja kerjanya dengan kelelahan. Tanpa siapa pun sadari rumah yang mereka tinggali itu tiba tiba basah oleh sesuatu yang orang orang berbaju hitam tadi dengan menyemprotkannya ke area halaman rumah dan ke dinding dinding yang sampai.
"Area ini sudah cukup ku rasa" gerutu salah satu dari mereka dengan suara yang pelan itu
Mereka pun mengangguk dan pergi dari area sana untuk menjauh, masing masing dari mereka menatapi masing masing rumah dan memegangi gasoline di tangan nya. Perlahan mereka pun melemparkan gasoline nya ke arah halaman rumah yang sudah di basahi oleh bensin. "Ayo semuanya" ujar mereka lalu pergi dari arah sana dengan berlarian cukup keras
Api pun mulai merambat dan membakar rumah rumah di sana, seakan tak ada jalan keluar yang bisa membuat siapa pun kabur dari sana. Saat api merambat keadaan langit malam yang hitam pun seakan berubah dengan begitu cepat menjadi malam malam yang sangat mengerikan dan belum pernah terjadi sebelumnya.
Raina masih tertidur pulas di meja kerjanya, hingga terdengar ledakan besar yang membuat dia terbangun seketika. Ledakan itu terdengar di area dalam rumahnya membuat dia segera terperanjat dan bangun dari tidurnya. Raina melihat ke sekeliling betapa terkejut nya dia saat semua api sudah menguasai seisi rumahnya, tempat tidur dan barang barang lainnya di kanar sudah nyaris terbakar.
"Ya tuhan! apa yang terjadi??? kenapa menjadi seperti ini" teriak Raina dengan tatapan yang tidak percaya
Raina lalu mencoba menghalau api yang mulai menyambar ke arahnya dan dia segera mencoba untuk keluar dari kamar dan memeriksa bagaimana keadaan orang tua nya. Saat Raina hendak keluar kamar dia kembali mendengar ledakan yang kian besar dari dalam rumah Raina, ledakan ledakan lain juga terdengar di luar rumahnya. Artinya beberapa rumah sudah terbakar bukan hanya rumahnya saja. Di susul suara suara teriakan dari arah kamar bapak dan Ibu Raina, membuat Raina lalu mencoba berlari sekeras mungkin dan berjalan melewati sambaran sambaran api hanya untuk mencoba menyelamatkan orang tuanya yang nampak nya masih berada di dalam kamar.
Raina sampai di depan kamar ke dua orang tuanya dia sangat panik saat tahu pintu kamar mereka masih tertutup. "Ibu? bapak!" teriak Raina sangat nyaring
Lagi dan lagi ledakan di kamar orang tuanya kian membesar, membuat Raina menganga dan sedikit tidak percaya.
"Ibu!!! bapak!!!" teriak Raina lagi semakin nyaring dengan air mata yang mulai bercucuran
Dia mencoba untuk membuka pintu kamarnya, saat dia membukanya ternyata gagang pintunya panas dan membuat tangannya terluka. "aahh! engga! aku harus tetep kuat" gerutu Raina mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri
Dengan sekuat tenaga akhirnya Raina pun berhasil membuka pintu kamar orang tuanya, dia sangat terkejut saat tahu ke dua orang tuanya sudah tergeletak di lantai dengan tertimbun lemari yang sudah terbakar.
"Bapak ibu!" teriak Raina lantang lalu berjalan ke arahnya
Dia melakukan hal gila yang jelas tentu saja tidak akan bisa mengubah apa pun, asap dan api sudah memenuhi seisi kamar namun Raina enggan untuk berhenti berusaha. Dia mencoba menjauhkan lemari itu dengan menendang nya sangat keras namun hal itu justru membuat dia terjatuh sangat keras dan terbentur ke lantai. Dia segera bangun namun ledakan kembali terjadi tepat dari arah ac yang mulai korslet. Raina nampak ketakutan dia menatapi ke dua orang tuanya yang nampak sudah tidak bisa di selamatkan. Akhirnya dia pun mencoba bangun dan keluar dari sana.
"Maafin aku bapak ibu, aku harus mencari pertolongan" gerutu Raina sembari berlari dengan kaki yang sedikit kesakitan akibat tadi
*******
"Lhoo ini kok jadi terang banget sih malamnya?" gerutu Evan yang tinggal tah jauh dari rumah Raina itu dia sedang berada di kamarnya dan baru selesai mengerjakan pekerjaan nya, dia melihat ke arah jendela.
Dia lalu melangkahkan kakinya dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di depan sana. Dia keluar dari rumah yang cukup megahnya itu. Saat dia tahu ternyata beberapa rumah sudah terbakar termasuk rumah kekasihnya yang sudah sangat parah. Evan langsung saja terkejut dan berlari ke arah rumah Raina dengan sekuat tenaga, nampaknya tidak ada satu pun orang lain yang tahu kebakaran ini kian merambat dan berbahaya. Evan berlari cukup kencang tanpa memedulikan ledakan ledakan di sekitarnya, dia sembari mencoba menelpon pemadam kebakaran dengan rasa panik yang kian menjadi. saat pemadam kebakaran mengangkat Evan langsung berbicara dengan tergesa gesa.
"Hallo pak? ini dengan pemadam kebakaran?" tanya Evan dengan berlarian cukup kencang
"Ya hallo? ada yang bisa kami bantu?" tanya dia langsung menjawab nya
Evan pun mengangguk refleks "Ya pak! di sini terjadi kebakaran besar yang sudah merambat ke beberapa rumah! tolong bapak segera datang ke sini" jelas Evan lalu sampai beberapa langkah lagi di depan rumah Raina
Namun saat itu pun tiang kayu dari rumah lain terjatuh bersama dengan barang barang lain yang meledak tepat terjatuh ke tubuh Evan dan membuat dia tidak terselamatkan. Tanpa bisa menyelematkan Raina kekasih nya dia justru terkapar lesu di tanah dengan darah dan luka bakar di tubuhnya.
Malam itu kampung Baskara layaknya neraka yang dengan sekejap membunuh puluhan orang dan membuat kepanikan. Sementara itu Raina masih dengan sekuat tenaga untuk melangkah kan kakinya dan keluar dari rumahnya, sekujur tubuh dan wajahnya sudah di penuhi dengan luka bakar. "Aku yakin orang orang tadi adalah pelaku dari kebakaran ini, mereka pasti adalah biang kerok dari semua ini" gerutu Raina pelan dengan suara lirih yang sudah tidak tahan menahan rasa sakitnya
Dia berhasil keluar dari rumahnya namun dia malah terjatuh dan tergeletak di halaman rumahnya. dengan rasa sakit yang kian menusuknya.
"Bapak ibu, maafin Raina. Raina engga bisa menyelamatkan ibu sama bapak"- lirih Raina dengan air mata yang perlahan bercucuran
Dia lalu saja teringat pada sosok seseorang yang selama ini selalu menemaninya "Bang Baskara, cepat ke sini bang tolong kami bang" lirih Raina dengan tangisan yang terisak tanpa dia tahu Evan kekasihnya sudah meninggal dunia tepat di depan rumah nya sendiri
Flasback off
Raina seakan telah bermimpi cukup panjang, dia perlahan membuka matanya saat kenangan itu kembali mengusiknya. Dia terbangun dengan air mata yang sudah memenuhi matanya. Saat dia membuka matanya dia sangat terkejut saat Baskara dan Dara ada di sampingnya.
"Raina?? kamu sudah sadar? ya ampun Raina" gerutu Baskara tersenyum manis pada nya dengan air mata yang kian berjatuhan
Dara juga tersenyum manis menatapi Raina "Mba Raina? syukurlah jika sudah sadar, jangan memaksakan untuk berbicara yaa" ujar Dara segera menatapinya khawatir
Mata Raina lalu tertuju ke arah jendela yang sudah di buka, rupanya waktu sudah pagi sekarang.