Bab 2

1102 Words
Perdebatan Tak Berujung Suasana di ruang kreatif semakin memanas. Raka menatap Alea dengan tatapan datar, tetapi ada sorot tajam di balik matanya. Alea, dengan tangan terlipat di depan d**a, tidak mau kalah. "Kau selalu menolak idenya tanpa alasan yang jelas," ucap Nadine, mencoba meredakan ketegangan. "Aku hanya ingin konsepnya sempurna," balas Alea, suaranya tajam. Raka menghela napas. "Kalau kau ingin kesempurnaan, setidaknya dengarkan pendapat orang lain dulu. Seni bukan hanya tentang kemewahan, Alea. Ada makna di balik setiap goresan." Alea terdiam. Kata-kata Raka seakan menusuk ego-nya. Namun, ia tak mau mengakuinya. Sementara itu, Nathan, yang sejak tadi memperhatikan, mulai merasa tidak nyaman melihat bagaimana Raka berani menentang Alea. Perdebatan terus berlanjut, semakin memperumit hubungan mereka. Nathan Mulai Curiga Nathan memperhatikan Alea yang akhir-akhir ini sering terlihat kesal setiap kali keluar dari ruang kreatif. Hubungannya dengan Raka seolah menjadi pusat perhatiannya, dan itu membuat Nathan tidak nyaman. "Apa ada yang terjadi antara kau dan si seniman aneh itu?" tanya Nathan, suaranya terdengar santai tapi penuh dengan ketegangan tersembunyi. Alea mendengus. "Tentu saja tidak. Dia hanya menyebalkan." "Tapi kau terus membicarakannya," ujar Nathan tajam. Alea terdiam. Ia tidak suka arah pembicaraan ini. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa Nathan mulai meragukan hubungan mereka. Dan itu menjadi masalah baru yang harus dihadapinya. Sentuhan Warna yang Berbeda Raka duduk di depan kanvasnya, tangannya bergerak dengan gesit. Ia mencoba menuangkan perasaannya ke dalam warna dan bentuk. Namun, pikirannya selalu kembali ke satu orang—Alea. Sementara itu, Alea berdiri di seberang ruangan, memperhatikan hasil karya Raka tanpa sadar. Warna-warna yang digunakan terasa berbeda dari sebelumnya. Ada emosi yang lebih kuat, lebih dalam. "Lukisanmu kali ini... lebih terasa hidup," gumam Alea tanpa sadar. Raka menoleh dan menatapnya. "Mungkin karena aku menuangkan apa yang sebenarnya kurasakan." Alea tersentak. Ia tidak tahu bagaimana harus menanggapi itu, dan memilih untuk pergi begitu saja, meninggalkan Raka dengan senyuman samar di wajahnya. Tatapan yang Tak Sengaja Hari itu, latihan drama berlangsung di aula sekolah. Alea, sebagai pemeran utama, tengah berlatih adegannya. Namun, tatapannya beberapa kali tanpa sengaja bertemu dengan Raka yang tengah mempersiapkan latar di belakang panggung. Raka tidak menatapnya dengan kebencian, tetapi juga bukan dengan kehangatan. Itu adalah tatapan penuh misteri, seakan ia sedang membaca sesuatu yang Alea sendiri tidak sadari. Nathan, yang menyadari hal ini, semakin tidak tenang. Ia mengepalkan tangannya, menyadari bahwa ada sesuatu yang perlahan berubah di antara Alea dan Raka. Nadine dan Pengakuannya Nadine tidak tahan lagi melihat bagaimana situasi ini berkembang. Ia tahu bahwa Alea dan Raka memiliki sejarah, tetapi yang ia lihat sekarang bukan hanya kebencian, melainkan sesuatu yang lebih rumit. "Alea, kau sadar, kan?" tanya Nadine tiba-tiba saat mereka sedang di ruang ganti. "Sadar apa?" Alea mengangkat alisnya. "Bahwa kau dan Raka... bukan hanya sekadar lawan dalam proyek ini. Ada sesuatu di antara kalian yang bahkan kau sendiri belum sadari." Alea mengerutkan kening. "Omong kosong. Aku hanya ingin proyek ini berjalan sempurna." "Kalau begitu, kenapa kau selalu bereaksi begitu kuat terhadapnya?" Nadine menantangnya. Alea terdiam. Ia tidak punya jawaban. Namun, satu hal yang pasti—kata-kata Nadine terus terngiang di kepalanya, menimbulkan kebingungan yang semakin besar dalam hatinya. Raka yang Mulai Terlihat Raka tidak bisa lagi bersembunyi dari sorotan yang mulai mengarah padanya. Alea semakin menyadari keberadaannya di dalam proyek ini, bukan hanya sebagai seniman, tetapi juga seseorang yang bisa memengaruhi perasaannya. Saat latihan drama semakin intens, mereka terpaksa berinteraksi lebih dekat. Ketika Alea mencoba mendominasi sesi latihan dengan ide-idenya, Raka akhirnya kehilangan kesabarannya. "Kau bukan satu-satunya yang tahu tentang seni," ucapnya tajam, membuat semua orang terdiam. Alea yang biasanya tak tergoyahkan, kali ini merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya—seolah-olah untuk pertama kalinya, seseorang benar-benar menentangnya tanpa takut. Sementara itu, Nadine yang selalu memperhatikan Raka, mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah. Ia mencoba mencari tahu apa yang terjadi di antara Alea dan Raka, tetapi jawabannya tidak pernah jelas. Nathan pun semakin menunjukkan ketidaknyamanannya dengan kehadiran Raka di sekitar Alea. Alea Merasa Terancam Setelah latihan, Alea duduk sendirian di bangku taman sekolah, mencoba memahami perasaan yang berkecamuk dalam dirinya. Ia selalu menjadi pusat perhatian, selalu dikagumi, selalu dianggap sempurna. Namun, kali ini, ada seseorang yang tidak terintimidasi olehnya. Di sisi lain, Raka pun merasa terganggu. Alea terus mengusik pikirannya, meskipun ia ingin tetap menjaga jarak. Namun, semakin ia mencoba menjauh, semakin situasi memaksanya untuk mendekat. Saat Nathan melihat Alea termenung, ia menghampiri dan meraih tangannya. "Jangan pikirkan orang seperti dia," katanya. Alea hanya tersenyum tipis, tetapi pikirannya tetap tertuju pada seseorang yang lain. Ketika Lukisan Berbicara Di ruang seni, Raka mulai mengerjakan latar panggung untuk drama sekolah. Ia melukis sesuatu yang secara tak sadar mencerminkan pikirannya—lukisan seorang gadis yang berdiri di atas panggung dengan sorotan lampu mengarah kepadanya, tetapi ekspresinya kosong. Ketika Alea melihat lukisan itu, ia terkejut. "Ini... aku?" tanyanya tanpa sadar. Raka menatapnya sebentar sebelum kembali fokus pada pekerjaannya. "Mungkin," jawabnya singkat. Alea merasa tersinggung, tetapi di saat yang sama, ia penasaran. Bagaimana mungkin seseorang bisa menangkap sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tidak sadari? Di tempat lain, Nadine semakin yakin bahwa perasaan yang ia pendam untuk Raka tak bisa lagi ia abaikan. Ia berencana melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat. Nathan Tak Ingin Kalah Nathan merasa semakin gelisah dengan kedekatan Alea dan Raka, meskipun Alea sendiri belum menyadari perasaannya. Sebagai pacarnya, Nathan tidak bisa membiarkan hal ini terus terjadi. Ia mulai mencari cara untuk memastikan Alea tetap dalam genggamannya. Suatu hari, saat istirahat, Nathan sengaja menarik Alea ke tempat yang lebih sepi. "Aku tidak suka melihatmu dekat dengan Raka," katanya langsung. Alea mengernyit. "Apa maksudmu? Aku hanya bekerja dengannya." Nathan menghela napas panjang. "Aku tahu dia bukan sekadar teman kerja untukmu. Aku bisa melihatnya dari cara dia memandangmu, dan aku takkan membiarkan itu terjadi." Alea terdiam. Untuk pertama kalinya, ia merasa terkekang dalam hubungan yang selama ini hanya menjadi bagian dari citranya. Festival yang Semakin Dekat Latihan semakin intens. Semua orang sibuk dengan peran mereka, sementara Raka masih terus bekerja menyempurnakan latar panggung. Ketegangan antara dirinya dan Alea semakin terasa, seperti ada sesuatu yang belum terselesaikan di antara mereka. Di sisi lain, Nadine akhirnya memberanikan diri untuk mendekati Raka lebih dari biasanya. "Aku ingin menunjukkan sesuatu," katanya sambil memberikan sketsa yang ia buat. Itu adalah sketsa Raka yang sedang melukis—wajahnya serius, tetapi ada kedalaman dalam matanya yang hanya Nadine bisa tangkap. Raka tersenyum kecil. "Kau menggambarku lebih baik daripada diriku sendiri." Nadine merasa hatinya berdebar, tetapi sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Alea datang. Seolah-olah keberadaannya selalu menghalangi sesuatu yang bisa berkembang. Festival seni tinggal beberapa minggu lagi, dan semakin dekat harinya, semakin rumit hubungan di antara mereka. Kejutan besar mungkin sedang menunggu di balik tirai panggung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD