Bab 1
Pertemuan Kembali yang Tak Diinginkan
Alea melangkah memasuki ruang seni dengan percaya diri, seperti seorang ratu yang memasuki singgasananya. Ruangan itu dipenuhi aroma cat dan terpaan cahaya dari jendela besar yang menghadap halaman sekolah. Murid-murid lain menoleh saat ia masuk, beberapa tersenyum ramah, beberapa hanya berbisik di antara mereka sendiri. Namun, hanya ada satu orang yang benar-benar menarik perhatiannya—seseorang yang tidak ingin ia temui lagi.
Raka.
Pria itu duduk di sudut, tangannya sibuk mencoret-coret sesuatu di sketsa besar yang terbuka di hadapannya. Tidak seperti yang lain, Raka tidak terpengaruh dengan kehadiran Alea. Tidak ada tatapan kagum atau sapaan ramah. Hanya kesunyian yang dingin.
Alea mendengus, merasa sedikit terganggu dengan ketidakpedulian itu. Dulu, Raka pernah menatapnya dengan kekaguman—dulu, sebelum semuanya berubah.
"Baiklah, anak-anak," suara guru seni, Pak Edwin, menggema di ruangan, "seperti yang kalian tahu, kita akan mengadakan Festival Seni tahunan. Kalian semua akan bekerja sama dalam proyek besar untuk membuat pementasan dengan elemen seni yang kuat."
Alea tersenyum tipis. Pementasan? Itu berarti ia akan menjadi pusat perhatian, seperti seharusnya.
"Dan untuk proyek utama kita," lanjut Pak Edwin, "Alea akan menjadi pemeran utama dalam drama ini, dan Raka akan bertanggung jawab atas desain latar dan kostum. Kalian berdua akan bekerja sama dalam proyek ini."
Alea membeku. Tatapan dinginnya bertemu dengan mata gelap Raka. Ini pasti lelucon, kan?
Namun, melihat ekspresi Raka yang tidak terkejut sama sekali, ia tahu ini adalah kenyataan. Kenyataan yang sangat tidak ia inginkan.
_________
Proyek Seni yang Memaksa
Alea mengangkat alisnya dengan tidak percaya. "Tunggu, Pak. Saya bekerja dengan dia?"
Raka tidak mengatakan apa pun, hanya menghela napas pelan sebelum kembali fokus pada sketsanya. Seolah-olah ini hanya tugas biasa yang harus ia selesaikan.
Pak Edwin tersenyum, seakan tidak menyadari ketegangan di antara mereka. "Kalian berdua adalah yang terbaik di bidang masing-masing. Alea, kau adalah aktris berbakat, dan Raka, kau adalah seniman paling berbakat di sekolah ini. Tidak ada kombinasi yang lebih cocok dari kalian."
Alea ingin membantah, tetapi ia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Pak Edwin. Ia mengalihkan pandangannya ke Raka, yang masih terlihat sama tak acuh seperti sebelumnya.
"Dengar, aku tidak ingin ini lebih lama dari yang seharusnya," kata Alea, menyilangkan tangan di dadanya. "Kita hanya perlu bekerja sama secukupnya, lalu selesai. Aku tidak butuh drama."
Raka mendongak, matanya menatapnya dengan tajam. "Aku juga tidak butuh drama. Aku hanya peduli pada pekerjaanku. Jadi, jangan mengganggu."
Alea merasakan kemarahan membakar di dadanya. Apa dia pikir bisa mengabaikannya begitu saja? Alea adalah pusat perhatian, bukan seseorang yang bisa diabaikan.
Tapi Raka berbeda dari yang lain. Ia sudah bukan lagi pemuda yang pernah menatapnya penuh kekaguman.
_______
Alea yang Angkuh, Raka yang Acuh
Selama beberapa hari, Alea dan Raka terus bekerja dalam proyek mereka dengan hubungan yang dingin. Raka tetap fokus pada sketsa desainnya, sementara Alea sibuk dengan latihan drama. Tidak ada yang berbicara lebih dari yang diperlukan.
Namun, di balik kesunyian itu, ada ketegangan yang tak terlihat. Alea merasa Raka terlalu santai, seolah ia tidak peduli dengan besarnya proyek ini. Di sisi lain, Raka merasa Alea terlalu perfeksionis dan egois, tidak mau mempertimbangkan perspektif orang lain.
"Kita perlu membuat latar panggung yang lebih dramatis," kata Alea suatu hari saat mereka berdiskusi. "Aku ingin sesuatu yang bisa membuat penonton terpesona."
Raka menatapnya sebentar sebelum menggeleng. "Drama ini bukan hanya tentangmu, Alea. Latar harus melengkapi cerita, bukan mencuri perhatian dari aktingmu."
Alea terbelalak. "Aku pemeran utama di sini. Semua mata akan tertuju padaku, dan aku butuh latar yang mendukung penampilanku!"
Raka menyilangkan tangan. "Itu masalahnya. Kau selalu berpikir ini tentang dirimu sendiri. Tapi seni bukan hanya tentang satu orang, Alea."
Kata-kata itu membuat Alea terdiam. Untuk pertama kalinya, seseorang menantangnya dengan begitu langsung. Namun, ia tidak akan mundur begitu saja.
________
Garis yang Berbenturan
Hari-hari berlalu dengan lebih banyak pertengkaran kecil di antara mereka. Alea ingin desain yang mewah dan megah, sementara Raka menginginkan sesuatu yang lebih sederhana dan elegan. Mereka saling menolak ide satu sama lain, hingga akhirnya Pak Edwin harus turun tangan.
"Kalian harus menemukan jalan tengah," katanya. "Jika kalian terus seperti ini, proyek ini tidak akan pernah selesai."
Alea mendengus. Jalan tengah? Itu berarti mengorbankan visinya.
Namun, tanpa disadarinya, perdebatan-perdebatan kecil itu mulai mengubah sesuatu dalam dirinya. Ia mulai memperhatikan detail-detail yang Raka buat, cara ia menciptakan sketsa dengan begitu hati-hati, dan bagaimana ia menghidupkan panggung dengan goresan pensilnya. Ada sesuatu yang jenius dalam cara Raka bekerja.
Dan Raka, meskipun masih dingin, mulai melihat sisi lain dari Alea. Meskipun egois dan angkuh, ia memiliki semangat yang tak terbantahkan.
Tapi apakah itu cukup untuk membuat mereka bekerja sama?
__________
Kehadiran Nathan, Kepalsuan yang Nyata
Hari itu, suasana di kantin sekolah terasa lebih ramai dari biasanya. Alea duduk bersama teman-temannya, dikelilingi tatapan penuh kekaguman dari para siswa lain. Di sebelahnya, Nathan—sang pacar sempurna—tersenyum santai sambil menggenggam tangannya. Mereka tampak seperti pasangan ideal, tetapi hanya Alea yang tahu kebenaran di balik semua ini.
Nathan bukanlah cinta sejatinya. Hubungan mereka hanyalah bagian dari citra Alea sebagai idola sekolah. Nathan juga tahu itu, namun ia tetap menjalankan perannya dengan baik. Bagi Alea, ini semua adalah permainan citra, sementara bagi Nathan, ini adalah kesempatan untuk tetap berada di puncak popularitas.
Namun, segalanya berubah saat Raka memasuki kantin. Tatapannya sama sekali tak tertarik pada Alea, berbeda dengan yang lain. Alea merasakan sesuatu yang aneh—sedikit ketidaknyamanan yang jarang ia alami. Nathan memperhatikan reaksi Alea dan menggenggam tangannya lebih erat, seolah menegaskan posisinya.
Raka, yang duduk sendirian di sudut, hanya berfokus pada sketsa yang ia buat. Alea merasa terganggu. Sejak kapan seseorang bisa mengabaikannya seperti ini?
_________
Nadine, Gadis yang Selalu Ada
Di sisi lain, Nadine mengamati semuanya dari jauh. Ia tahu Alea bukanlah gadis yang mudah didekati, tetapi ia tak bisa mengabaikan perasaan yang mulai tumbuh untuk Raka. Berbeda dengan Alea, Nadine lebih pendiam dan tulus. Ia selalu mendukung Raka, bahkan sebelum proyek seni ini dimulai.
Hari itu, ia memberanikan diri untuk mendekati Raka yang sedang sibuk menggambar. "Kau terlihat sibuk," katanya dengan suara lembut.
Raka hanya meliriknya sekilas sebelum kembali fokus pada kertasnya. "Banyak hal yang harus aku selesaikan."
Nadine tersenyum kecil. "Aku yakin kau akan membuat sesuatu yang luar biasa untuk festival nanti."
Raka menghela napas. "Aku hanya ingin melakukan bagianku. Tidak lebih."
Nadine tahu, ada sesuatu yang mengganggu Raka—dan itu pasti berhubungan dengan Alea. Namun, ia memilih untuk tidak bertanya. Ia hanya ingin berada di sisi Raka, meski tanpa kata-kata.
______
Ketegangan di Ruang Kreatif
Di ruang seni, Raka dan Alea harus kembali bekerja sama. Mereka duduk berhadapan, tetapi atmosfer di antara mereka terasa dingin. Alea, yang biasanya mendominasi setiap situasi, merasa frustrasi karena Raka terus mengabaikannya.
"Kau bisa tidak berhenti bersikap seperti aku ini tidak ada?" Alea akhirnya membuka suara dengan nada tajam.
Raka meletakkan pensilnya dan menatapnya tanpa ekspresi. "Aku hanya fokus pada pekerjaanku."
"Jangan pura-pura. Aku tahu kau masih menyimpan perasaan soal dulu," Alea mendesak.
Raka terkekeh pelan, tetapi matanya tetap dingin. "Aku sudah lama melupakan itu. Justru kau yang masih merasa semuanya tentang dirimu."
Alea terdiam. Ia tak menyangka Raka akan menjawab seperti itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa ada seseorang yang benar-benar tidak terpengaruh olehnya—dan itu mengusik hatinya lebih dari yang ia kira.
_______
Alea Menantang Raka
Hari berikutnya, Alea datang ke ruang seni lebih awal. Ia berdiri di depan salah satu kanvas yang digunakan Raka untuk proyeknya dan menatapnya dengan penuh ketertarikan. Lukisan itu masih setengah jadi, tetapi ia bisa melihat sentuhan khas Raka di sana.
Saat Raka masuk, ia mendapati Alea tengah mengamati karyanya. "Kau suka?" tanyanya dengan nada datar.
Alea menoleh dan tersenyum penuh tantangan. "Cukup bagus. Tapi aku bisa melakukan yang lebih baik."
Raka mengangkat alisnya. "Begitu?"
"Bagaimana kalau kita bertanding?" Alea melipat tangan di dadanya. "Siapa yang bisa membuat karya terbaik untuk festival?"
Raka tertawa kecil. "Aku tidak tertarik pada permainan kekanakan."
"Atau kau takut kalah?" Alea memprovokasi.
Raka menatapnya tajam, lalu menghela napas. "Baiklah. Kita lihat nanti siapa yang menang."
________
Sebuah Lukisan yang Mengganggu Masa Lalu
Malam itu, Raka duduk di kamarnya, menatap sketsa yang baru saja ia buat. Tanpa sadar, gambarnya menampilkan sosok Alea—dengan tatapan tajam dan penuh percaya diri. Ia mendesah dan meremas kertas itu sebelum melemparkannya ke sudut ruangan.
Masa lalu mereka masih membayanginya. Dulu, ia benar-benar menyukai Alea. Ia pernah mengungkapkan perasaannya, tetapi ditolak dengan cara yang menyakitkan. Alea bahkan menertawakannya di depan teman-temannya. Itu adalah momen yang mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Raka berjanji untuk tidak lagi membiarkan Alea mengendalikan perasaannya. Namun, seiring dengan interaksi mereka yang semakin sering, ia mulai menyadari bahwa perasaan itu belum sepenuhnya hilang.
Dan itu membuatnya marah pada dirinya sendiri.
______
Di Balik Cahaya Panggung
Hari festival semakin dekat. Sekolah mulai sibuk dengan persiapan, dan semua mata tertuju pada Alea sebagai pemeran utama dalam drama yang akan dipentaskan.
Di belakang layar, Raka sedang menata properti panggung. Nadine datang dan memperhatikannya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya.
Raka tersenyum tipis. "Aku hanya ingin menyelesaikan semuanya dengan baik."
Namun, di kejauhan, ia bisa melihat Alea yang sedang berbicara dengan Nathan. Mereka tampak mesra di depan umum, tetapi Raka bisa melihat sesuatu yang kosong di mata Alea. Sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.
Dan entah kenapa, itu membuat hatinya semakin berat.