Toxic

1281 Words
Kehadiranku membuat Lani yang begitu heboh tadi seketika langsung diam. Mulutnya manyun kesal. Berbeda dengan pria itu, dia justru terlihat lega dengan kehadiranku. "Saya dari perusahan ABCD ingin memastikan ibu Nuri ada di kantor atau tidak karena pak Arma tidak bisa menghubungi beliau sejak kemarin sore," jelas pria itu. "Sesuai jadwal, saya siap bertemu dengan pak Arma di jam makan siang di restauran xxx yang ada di roof top gedung ini," aku mengkonfirmasi dengan jelas jadwal pertemuanku dengan pak Arma. "Oh Anda sendiri ibu Nuri?" tanyanya lebih lega dari sebelumnya. Aku mengangguk. "Ah, syukurlah," terlihat dia bahagaia karena telah menyelesaikan misi. "Hp saya rusak kemarin sore jadi semua pesan chat dan riwayat panggilannya belum ter-back up ke hp baru. Saya tidak tahu kalau pak Arma menghubungi. Tolong sampaikan maaf saya." "Baik akan saya sampaikan," "Kalau begitu saya pamit masuk dulu," ucapku sembari masuk ruangan kaca di belakang meja kerja Lani. Dari ruang kaca pria tadi terlihat menatap Lani dari atas sampai bawah dengan raut wajah kesal. Aku kemudian duduk menyandarkan punggung ke kursi. Kulihat keperigan pria itu tanpa berkedip. "Waktu itu pria itu juga ada tapi aku tidak mendengar percakapan Lani dan pria itu karena aku sudah berada di ruangan. Sementara sekarang aku telat datang dan bisa mendengar percakapan tak berguna tadi," gumamku. Setelah tenang aku mengingat-ingat kejadian yang terjadi hari ini. Dulu, ketika melakukan pertemuan dengan perusahaan ABCD apa yang terjadi, ya? Ah insiden Lani yang mempermalukanku karena berusaha melayani pak Arma saat sedang makan siang. Anaknya yang diajak pertemuan itu tidak terima dan marah.Kemarahan sang anak membuat kontrak kami gagal. Berarti aku gak boleh mengajak Lani pergi ke pertemuan. Bisa-bisa kacau lagi tanda tangan kontrak ini. "Bu, barang apa saja yang mau di bawa?" Tiba-tiba Lani sudah berada di ruanganku. "Kamu sejak kapan di sini? " aku membentaknya refleks. "Eh, maaf, Bu," ucap Lani salah tingkah lantaran belum pernah kubentak. "Mulai sekarang kalau masuk ruangan saya harus ketuk pintu! Saya perhatikan kamu itu dari dulu gak pernah ya mengetuk pintu! Main nyelonong masuk," nadaku penuh dengan keseriusan. Mendapat omelan dariku raut wajah Lani berubah menjadi marah yang akan meledak tapi sedetik kemudian berubah menjadi tersenyum. "Baiklah saya tidak akan mengulanginya lagi," ucapnya manja. "Untuk pertemuan kali ini kamu tidak perlu ikut," aku kembali menggunakan nada lembut setelah mulai tenang. "Loh kenapa, Bu?" Lani tekejut. "Tidak ada apa-apa, sepertinya pertemuan ini agak sensitif, katanya anak pak Arma datang dan dia sangat sensitif," terangku. "Apa saya bisa menjadi hal sensitif untuk anaknya pak Arma?" tanya Lani penasaran. "Saya juga tidak tahu tapi lebih baik cari aman," terangku sebisanya karena tidak mungkin aku bilang jika dia mengacaukan kontrak kerjasama karena kecentilan. "Ya sudah, Bu. Padahal saya berharap banget bisa ketemu pak Arma katanya beliau duda tampan," Lani kecentilan. "Mungkin itu yang bikin anaknya sensitif sama kamu," sindirku. "Keluarlah," usirku secara tegas. Lani terkejut karena tak pernah sekalipun aku mengusirnya. "Tunggu apalagi, keluarlah," peirntahku santai. Lani keluar dengan wajah kesal. "Siapa yang aman kuajak pergi agar kejadian yang sama tidak terulang lagi?" pikirku kembali. "Lebih baik aku ngajak pria saja biar aman," Aku kemudian keluar ruangan untuk mencari pegawai yang bisa diajak pergi. Saat keluar kulihat meja Lani kosoang. Aku pergi ke ruangan kerja karyawan. Ruangan berukuran 6x10 meter ini tiba-tiba hening saat aku muncul. "Pagi, Bu," sapa mereka sedikit terkejut melihatku. Aku melihat kesekeliling mencari orang yang bisa kuajak meeting. Aku melihat meja Danu, staff keuangan NM Corp. "Danu mana?" tanyaku. "Pergi ke pantry, Bu," jawab Tisa, staf HRD. Aku sebenarnya bisa saja menitipkan pesan agar Danu ke ruanganku tapi agar lebih cepat aku memilih menyusul ke pantry. Aku jarang mengunjungi ruangan-ruang di sini kecuali kantorku dan ruang meeting. Bahkan aku juga jarang bersosialisasi dengan bawahanku kecuali dengan orang yang ada kepentingan denganku seperti sekretaris, staff keuangan, administrasi dan ketua divisi Pantry berada di ujung lorong, berhadapan dengan kamar mandi wanita dan pria. Saat sampai di depan pintu ruang pantry terdengar sayup suara percakapan dari pantry. Aku mengenali suara-suara itu. "Kamu perawatan di mana sih, Lani?" tanya Ikeu staff administrasi. "Kamu ke dokter, ya?" tebak Melisa staff keuangan. "Iya, aku ke dokter." jawab Lani semangat. "Pantesan glowing begitu. Habis berapa?" tanya Ikeu lagi. "Hampir satu juta per pertemuan, " jawab Lani santai. Angka yang fantastis mengingat gajinya dariku hanya 3,5 juta tapi aku gak boleh suudzon. Aku juga sering ngasih dia bonus dan bisa jadi dia punya bisnis lain. "Memang sebulan berapa kali ketemu?" tanya Melissa. "Sekali, sih," jawab Lani sedikit tersinggung karena gagal untuk pamer. "Aduh mantap gajiku belum bisa nih di alokasikan ke sana. Baju-baju kamu juga branded deh," tanya Ikeu "Ah, begitulah," Lani berusaha menjawab sesantai mungkin dia tak ingin terlihatnya senang dipuji. "Duit kamu banyak juga ya, enak jadi sekretaris bu Nuri." tebak Ikeu. Lani menertawakan kalimat Ike. "Sebenarnta aku bisa beli ini itu bukan karena jadi sekretaris bu Nuri tapi karena dibeliin pacarku. Bu Nuri mah gak ada kontribusi apapun," jelas Lani. Deg! Tiba-tiba perasaanku tidak enak. Sejak dulu Lani memang sering menyinggung pacarnya tetapi belum pernah sekalipun ia mengajak atau memperlihatkan foto orang itu. Apa benar seperti di mimpi? "Apa aneh ya kalau aku terlalu wah pakai baju, perawatan dan make up begini ke kantor?" Aku menangkap lagi pembicaraan mereka yang sempat terabaikan. "Ehm, enggak sih itu terserah kamu itu...," Perkataan Ikeu tiba-tiba dipotong Lani. "Soalnya aku pernah beberapa kali disangka pemilik NM Corp pas mau meeting bareng Ibu. Terbaru tadi pagi, aku dikira pemilik NM Corp sama orang suruhan PT ABCD," terang Lani. Aku memicingkan mata mendengar ucapan Lani itu, bukannya orang itu menganggap kamu pemilik NM gara-gara kamu pancing-pancing sendiri, Lani? "Kok bisa?" Tanya Ikeu. "Gak tahu. Apa mungkin karena barang dan make up ku yang terlalu mewah sedangkan ibu terlihat sederhana, " Lani menyanjung dirinya sendiri. "Ibu juga kan pake barang branded." sanggah Melissa. "Iya, tapi udah lama jadi kelihatan kusam dan ibu juga jarang make up apalagi perawatan kaya aku, jarang meduliin diri gitu deh," ucap Lani tanpa beban. Meskipun omongan Lani menyebalkan tapi beberapa ada benarnya juga. Kapan terakhir kali aku belanja? Kenapa sejak dulu aku gak pernah perawatan? Aku banyak berpikir kembali tentang diriku setelah mendengar perkataan Lani. "Mungkin sibuk di kantor dan di rumah," ucap Melissa lagi terdengar di telingaku "Mau sesibuk apapun harusnya jadi wanita itu pintar merawat diri. Biar suaminya gak diambil orang," sindir Lani. Deg! Kenapa kata-kata Lani seolah mengonfirmasi keraguanku tentang apa yang terjadi padaku sejak kemarin. Apa aku benar-benar kembali ke masa lalu? Jika benar berarti benar mas Diki dan Lani berselingkuh. "Kamu ini, kalau orang denger bisa ngira kamu nyukurin ibu karena suaminya diambil orang tahu," sergah Ikeu. Secara otomatis kakiku melangkah gontai ke pintu kamar mandi perempuan yang berada di depan pintu pantry. Kamar mandi perempuan terdiri dari dua toilet, dua cermin dan dua wastafel. Aku berdiri di salah satunya sambil menatap rupaku. Wajah yang sudah tak muda lagi terlihat jelas di cermin. Usiaku baru 33 tahun tetapi sudah seperti usia 40 tahun. Ditambah kacamata minus yang tak pernah lepas, rambut di cepol sembarangan, badan kurus kering, tinggiku juga hanya 153 cm. Tiba-tiba aku merasa tidak percaya diri. Padahal selama ini aku menjalani hidup tanpa memikirkan penampilan. Pencapaianku hanya materi agar aku bisa membahagiakan keluargaku. Saking fokusnya pada pencapaianku aku jadi lupa untuk membahagiakan diri sendiri. Untuk pertama kalinya aku merasa kecewa pada diriku. Kubasuh wajahku dengan air. Kukucek-kucek wajahku cukup keras, berharap tiba-tiba setelah selesai mencucinya wajah buruk ini menjadi cantik. Saat kupandang lagi tidak ada yang terjadi. "Sial! Padahal kau bisa mengembalikan waktuku kenapa kamu tidak bisa menubah hal seperti ini!" ucapku kesal kemudian kembali mencuci muka. Krek-krek. Terdengar kunci dibuka dari salah satu pintu toilet. Tak lama kemudian pintu itu terbuka. Sial apa dia mendengar ucapanku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD