Apa Kamu Percaya Padaku?

1276 Words
"Stop, Ibrahim!" refleks aku berteriak. "Kamu gak malu apa telanjang d**a begitu?" tanyaku dengan posisi masih membelakangi Ibrahim. Ibrahim melepaskan kedua tangannya. "Kenapa malu? badanku bagus," Bocah ini tidak peka juga. Justru karena badannya bagus dia bisa bikin semua orang khilaf. "Dan aku berada dirumahku sendiri," lanjut Ibrahim. "Harusnya kamu yang malu, masuk rumah orang tanpa permisi," ucapnya kejam. "Pokoknya pakai baju sana! Aku yang lihatnya malu," ucapku kesal. "Kenapa kamu yang malu? Bukankah kamu selalu bilang pada teman-teman sekolahku jika kamu yang memandikanku saat kecil dulu? Terus kenapa sekarang kamu gak mau lihat aku gak pake baju?" tantang Ibrahim. Apa sih yang dipikirkan lelaki ini, jelas lain dulu, lain sekarang. Dulu dia masih anak kecil, sekarang dia sudah bisa bikin anak kecil. Apa kelakuannya begini karena kuliah di luar negeri, ya? "Udah, pakai baju dulu sana!" perintahku tegas. Dia menurut dan masuk kamar tanpa mendebatku lagi. Sedangkan aku kembali ke sofa depan televisi. "Gila! Bisa juga berdebar karena anak itu, anak kecil yang selalu ngintilin kemana aku pergi dulu," gumamku. Ibrahim keluar kamar setelah berpakaian, ia mengenakan kaos obolong dan celana training. "Memangnya kamu selalu sewangi ini walaupun di rumah?" tanyaku merasa terganggu dengan aromanya. "Apa kamu datang ke sini untuk mengomentari kebiasaanku di rumah?" sekarang giliran Ibrahim yang kesal. "Iya, maaf," ucapku singkat. "Ada apa?" tanya Ibrahim dengan setelan biasa, datar. "E-em," aku sedikit ragu dengan apa yang akan kuceritakan. "Apa kamu percaya kalau lorong waktu itu ada?" tanyaku mencoba membuka obrolan. Ibrahim diam tak menjawab dan tak berekspresi. "Jawab dong!" perintahku geram. "Kenapa bertanya hal yang tak biasa?" tanyanya masih tanpa ekspresi. "Aku butuh jawaban bukan pertanyaan lagi," dengkusku kesal "Aku gak percaya," ucapnya singkat. "Kalau orang kembali ke masa lalu?" tanyaku tak kapok. "Aku juga gak percaya," "Kalau orang dejavu?" "Sepertinya itu ada penjelasan medisnya jadi aku percaya, walaupun tidak pernah mengalami sendiri." "Kalau orang mengalami dejavu berturut-turut, gimana?" "Langsung intinya saja," Ibrahim mulai kesal dengan pertanyaanku yang aneh-aneh. "Aku gak tahu harus mulai cerita dari mana, yang pasti pagi ini aku merasa jetleg," aku menarik napas panjang sebelum melanjutkan cerita. "Tapi jetlegnya kaya melintasi dimensi gitu," Aku diam menunggu respon Ibrahim tapi dia sama sekali tak menunjukan ekspresi apapun. Hening cukup lama diantara kami. "Aku tidak mengerti," akhirnya dia memecah kekikukan ini. Aku bingung harus menceritakan apa dan bagaimana kepada Ibrahim karena aku sendiri pun masih bingung dengan keadaan ini. Ah, aku teringat dengan komik daring yang bi Nah perlihatkan tadi pagi. Aku yang masih ingat dengan link komik daring beserta judulnya itu langsung mengakses. Ibrahim diam sabar memperhatikanku tanpa bertanya apa pun. "Ini, coba baca!" Kuberikan gawaiku pada Ibrahim. "Handphone baru?" komentar Ibrahim. "Iya," jawabku singkat. "Bukannya handphonemu baru beli dua bulan lalu, ya?" "Rusak, kebanting," jawabku cepat-cepat karena tak ingin membahas hal ini. "Dibanting Diki maksudmu?" tebakan Ibrahim tepat tapi aku tak mau mengiyakan. "Jelas banget, iya!" ucap Ibrahim. "Itu bukan diskusi yang sedang kita bahas sekarang, itu lain cerita," aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Ibrahim yang bersifat tidak pernah ikut campur ketika tidak diminta akhirnya mengalihkan pandangan ke gawai. Lalu dia mulai membaca komik daring yang kuberikan. "Lalu?" tanya Ibrahim setelah selesai membaca komik daring itu. . "Pagi ini aku merasa seperti tokoh utama di komik itu," lirihku. "Diselingkuhi, dipukuli, atau mau dibunuh?" tanya Ibrahim. "Itu bisa jadi, tapi yang paling aneh aku merasa memutar kembali waktu setelah mati dibunuh. Aku kembali sekitar enam bulan ke belakang. Gimana, sih? Jadi pagi tadi aku merasa telah melalui hidup enam bulan ke depan, lalu kembali lagi ke enam bulan ke belakang. Kamu ngerti gak, sih?" Aku kesal karena tidak bisa menjelaskan dengan mudah dan tidak bisa membaca ekspresi Ibrahim. "Iya, aku paham apa maksudmu," ucapannya menenangkanku. "Lalu, gaimana menurutmu? Apa aku dejavu? Tapi kalau aku dejavu kenapa sebanyak ini, lalu kalau aku gila kayaknya gak mungkin karena gak ada orang gila yang sadar bahwa dirinya gila, kan? Atau aku memang kembali memutar waktu? Tapi hal yang seperti itu gak mungkin ada di dunia ini." Aku terus berbicara agar Ibrahim mengerti perkataanku. "Lalu apa yang terjadi denganmu enam bulan ke depan?" tanya Ibrahim tiba-tiba. "Aku kecelakaan dan mati," celetukku. "Tepat seperti yang ada dicerita komik ini juga? Bahwa kamu dibunuh suamimu yang sedang berselingkuh?" selidik Ibrahim. Aku mengangguk. "Mau itu mimpi, dejavu atau kamu gila, lebih baik kamu ceraikan Diki, kalian sejak menikah tidak ada kecocokan dan tidak ada cinta. Kenapa harus capek-capek menjadi pasangan." ucap Ibrahim sambil menyimpan gawaiku. Aku terkejut mendengar saran Ibrahim yang tak masuk akal. "Memang cerai tidak menimbulkan masalah? Akan lebih banyak masalah setelah bercerai apalagi buat Alika, " terangku. "Memang sekarang pernikahanmu tanpa masalah?" tanya Ibrahim jleb ke perasaanku. "Tahu apa kamu tentang pernikahanku?" tanpa sadar aku menjadi sinis. "Aku memang gak tahu bagaimana pernikahanmu, tapi aku terlalu lelah melihatmu menangis sendirian." Perkataan Ibrahim lagi-lagi jleb menusuk hati. Aku diam tak bisa melawan ucapannya. Hening cukup lama diantara kami sampai akhirnya Ibrahim bicara. "Ubah kepemilikan semua aset dan propertimu atas nama Alika." Ibrahim menatapku seolah memberikan syarat untuk menuruti perintahnya. "Kenapa harus diganti kan ribet?" Ucapku sedikit jengkel. "Jika benar ada yang hal jahat dilakukan suamimu maka hartamu tidak akan ada yang jatuh ke tangan suamimu bahkan jika kalian bercerai pun dia tidak memiliki alasan untuk meminta hartamu," terang Ibrahim. Ibrahim memang ahli hukum sekaligus pengacaraku untuk perusahaan. Jadi saran yang dia berikan pasti akan mengarah ke sana. "Tapi...," "Tapi apalagi?" potong Ibrahim kesal. Kenapa aku ragu padahal akulah yang datang sendiri ke sini. Jika orang lain pasti mereka menganggapku gila sedangkan Ibrahim tidak melihatku seperti itu bahkan dia memberikan saran yang bergitu serius. "Baik, aku setuju." Akhirnya aku menyetujui rencana Ibrahim. Mengikuti usulannya pasti adalah hal yang terbaik untuk saat ini. "Besok malam berkas akan selesai, datanglah ke kantorku," "Secepat itu? Atau kamu udah mempersiapkannya dari dulu?" aku iseng bertanya. "Iya, aku yakin kalian akan bercerai pada akhirnya," ucapnya datar seolah itu bukan hal yang mengerikan untuk diucapkan. "Mulutnya," aku tak akan mendebatkan ini lagi karena pada akhirnya dia akan terus menjelek-jelekan mas Diki. "Ada satu hal lagi, aku mau kamu mencarikan bukti perselingkuhan Mas Diki dan Lani," pintaku serius. "Lani?" Ibrahim terkejut. "Lani bukannya nama sekretarismu?" Aku mengangguk lesu. "Berjanjilah padahku, jika lelaki itu memang berselingkuh kamu harus menceraikannya," Ibrahim menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Iya," aku kemudian menjabat tangannya. *** Pagi ini aku datang siang ke kantor lantaran tak bisa tidur. Misteri aku mengulang waktu, dejavu atau gila terus bergerumut di kepala sejak semalam hingga menjelang pagi. Lobby dan lift yang biasanya ramai sekarang menjadi hampa, para pegawai sudah duduk di meja kerja masing-masing. Sebelum sampai ke depan ruanganku aku mendengar pecapakan Lani dengan orang asing, lalu kuputuskan untuk mencuri dengar pembicaraan mereka dari balik tembok. "Saya mencari pemilik NM Corp," tanya seorang pria dengan sopan pada Lani yang sedang sibuk mengecat kuku. "Ah, Anda bertanya pada orang yang tepat," jawab Lani ceria. "Apakah Anda ibu Nuri?" tanyanya lagi. "Kalau menurut pendapat Anda bagaimana?" Lani berdiri sibuk merapikan pakaiannya. "Apa dandanan saya terlihat seperti seorang pemilik NM Corp ini?" Orang itu melihat Lani dari atas ke bawah sesuai perintahnya. Pria itu terlihat bingung harus menjawab apa bahkan dari raut wajahnya ia keheranan karena menemui orang yang senarsis ini. "Bisa jadi Anda ibu Nuri?" Orang asing itu berusaha memilih perkataan yang paling netral. "Apa terlihat mewah pakaian yang saya pakai? Atau sepatu yang saya kenakan terlihat mahal? Atau dari wajah saya yang cantik?" tanya Lani penuh semangat. Aku menyerngitkan dahi mendengar Lani yang semakin sinting dan kurang ajar. Kenapa anak ini? Aku harus menghentikan kegilaan yang dia lakukan. "Selamat, pagi," aku menyapa mereka sambil berjalan mendekat. "Ada apa ini?" tanyaku. "Ah," Lani terlihat terkejut melihatku, ia seperti kehilangan kata-kata yang pernah ia ketahui sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD