Lelaki Dewasa

1146 Words
Diki menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah tipe 36A yang berada di sebuah perumahan sederhana. Suara alunan lagu romantis diiringi nyanyian seorang wanita terdengar dari rumah itu. Diki membuka pintu, di sana terlihat seorang perempuan yang mengenakan gaun biru langit semata kaki sedang menyiapkan cemilan seperti bolen, lapis legit, gorengan dan buah-buahan. Sebuah tea pot mengepul beserta dua buah cangkir cantik juga sudah tertata rapi di meja makan. "Selamat datang," ucap wanita itu dengan senyuman terbaiknya ketika menyadari Diki berada di rumahnya. "Lani!" suara Diki terdengar sedikit membentak. "Gimana sih kok bisa sampai kebobolan lagi? Kan aku udah bilang, pakai KB!" mencengkram lengan Lani. "Sakit, Mas. Kamu kenapa sih datang-datang langsung marah?" tanya Lani manja. "Aku lagi ngomongin yang kamu chat tadi," ucap Diki sambil melepaskan tangannya. "Yang mana sih, Mas? Yang mengatakan aku merindukanmu?" Lani tertawa kecil. "Tentu saja benar." ucap Lani sambil bergelayut di lengan Diki. Diki mencium bau alkohol dari mulut Lani. "Kamu minum, Lani?" Diki menggoyangkan tubuh Lani dengan kedua tangan. Lani menepis dan berjalan ke kursi untuk duduk. "Ayo kita minum teh sore, Mas!" ajak Lani. Diki melihat botol anggur yang tersimpan di meja dekat kompor. "Hari masih siang, cuaca panas, kenapa kamu mabuk?" Diki mulai menguasai emosinya. Lani tertawa sebelum menjawab pertanyaan Diki. "Habis aku bosan! Aku sengaja izin gak masuk biar bisa berduaan sama kamu, tapi boro-boro berduaan, di chat aja kamu gak bales!" ucap Lani setengah berteriak. "Aku gak bisa ngehubungin kamu gara-gara Alika ngelarang aku nyalain hp selama pergi bareng dia." Diki berusaha menjelaskan. "Alika lagi-Alika lagi, aku bosan dengan Alika, " ucap Lani meremehkan Alika. "Alika itu kan anakku." Diki tak terima. "Kamu cuma sayang sama Alika sedangkan anakmu yang lain kamu bunuh!" Lani menyeringai. Diki merasa tak nyaman dengan pandangan Lani. Ia juga merasa bersalah memaksa Lani menggugurkan kandungan sebanyak dua kali iu karena Diki tidak punya pilihan. Jika Lani hamil, rumah tangganya akan hancur padahal ia masih membutuhkan Nuri untuk menghidupinya. "N-nah, sekarang aku mau tanya yang kamu foto di chat tadi beneran? Kamu beneran hamil lagi?" tanya Diki mencoba tenang. "No-no,"Lani yang sudah mabuk malah tertawa girang. "Kamu memang bodoh, Diki!" ucap Lani sekarang kasar. "Aku tanya sekali lagi itu benar atau enggak?" Nada suara Diki meningkat lagi. Diki yang kesabarannya tipis mencengkram Lani lebih kuat lantaran ia sudah tidak tahan ingin mengetahui yang sebenanya. "Sakit!" Lani tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Tangis yang tidak pernah Diki temui di Nuri. Diki selalu lunak dengan air mata Lani. Diki mengelus kepala Lani. "Sekarang aku tanya sekali lagi, apa kamu beneran hamil?" tanya Diki penuh kesabaran. Kesabaran yang tidak pernah ia tunjukan pada Nuri. Lani menggeleng ragu. "Aku tidak hamil. Aku melakukannya hanya agar kamu cepat ke sini. Aku bosan dan aku kangen." memeluk Diki. Sikap manja ini juga yang tidak pernah Diki dapat dari Nuri. Diki menghembuskan napas panjang. Ia lega tidak perlu mengaborsi lagi. *** Rumah Nuri. "Masuk dah ke kamar! Jangan ngelamun di sini," ucap Bi Nah. "Gak apa-apa, Bi, aku gak kenapa-napa." ucapku lirih. "Ya udah terserah Neng Nuri aja, Bi Nah lanjut nyetrika lagi, ya." pamit bi Nah. Aku mengangguk tanda setuju. Tring! suara notifikasi chat terdengar beberapa kali. Mungkin meskipun pecah mesin handphone ini masih menyala. Kutekan beberapa kali tombol kunci untuk memastikan kondisinya namun layarnya tetap gelap. LED-nya sudah sepenuhnya rusak. Sebuah panggilan telepon masuk tetapi aku tidak bisa melihat siapa yang menelepon karena layarnya gelap. Aku kecewa dan sedih. Tiba-tiba aku teringat perkataanku tadi pagi 'Jika benar aku kembali ke masa lalu, harusnya gawai ini akan rusak hari ini.' dan hari ini, gawai ini benar rusak. Jika aku memang kembali ke masa lalu berarti kecelakaan itu, rencana pembunuhan itu, perselingkuhan dan pembunuhanku memang benar terjadi. "Sialan!" Aku memaki dengan suara bergetar. Apa kalian benar-benar berselingkuh, Mas Diki, Lani? Jika benar, aku tidak akan membiarkan kalian kali ini. Detik itu juga, aku berjanji pada diri sendiri bahwa aku tidak boleh seperti gawai ini, kembali rusak untuk ke dua kalinya. Aku tidak boleh masuk jebakan mereka untuk ke dua kalinya. Aku melihat pantulan wajahku di layar gawai yang retak. *** Selepas pulang dari mall untuk membeli gawai aku mendatangi rumah Ibrahim, sahabatku sejak kecil. Aku ingin menceritakan kejadian di luar nalar yang aku alami ini, maksudku kejadian yang sebenarnya masih membuatku bingung. Aku yakin Ibrahim adalah orang yang tidak akan menganggapku gila jika kuceritakan hal ini. "Ibrahim!" teriakku setelah beberapa kali kupencet bell rumahnya tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya aku mencoba membuka pintu untuk memastikan Ibrahim ada di rumah atau tidak. Jika melihat mobilnya yang terparkir di depan rumah seharusnya dia tidak kemana-mana. Klik, suara pintu yang kudorong. Benar saja ternyata pintunya tidak di kunci, sudah pasti dia ada di rumah. "Baim... Baim... Baim...," panggilan Ibrahim kecil yang kadang kusebut jika kami hanya berdua saja atau tidak di kantor. Rumah minimalis dua lantai ini terkesan rapi dan maskulin. Hampir semua perabotannya berwarna hitam, abu-abu dan putih, pengharum ruangan yang berbau bunga menyeruak, telvisi menyala tanpa ada orang yang menonton. "Kemana bocah ini? Apa lagi tidur?" tanyaku pada diri sendiri. Terdengar suara air jebar jebur dari kamar mandi yang berada di kamar Ibrahim. "Oh, dia lagi mandi," ucapku. "Baim aku duduk, ya?" aku berteriak tapi tidak ada jawaban. Kuputuskan untuk menunggu Ibrahim sambil menonton televisi. Tiba-tiba mataku menangkap beberapa foto yang ada di atas lemari kayu tepat dibawah televisi yang terpasang di dinding menggunakan besi. Aku mendekati foto-foto itu. Ah, sejak kapan dia memasang foto-foto ini? Foto-foto masa kecil kami dan foto kami saat kelulusan Ibrahim dari SMA. "Aku bahkan tak punya foto ini," ucapku kesal. Mataku mencoba menyusuri foto di dinding dan ditempat lainnya, berharap menemukan foto kekasih Ibrahim. Tapi, tidak ada. Apa anak ini tidak normal, ya? Masa sejak dulu hingga sekarang gak ada pacar? Mukanya ok, badannya tinggi kekar, pekerjaannya luar biasa, pastilah banyak cewek ngantri atau bahkan ngejar. Seleranya kaya apa sih sampai-sampai gak ada yang masuk kriterianya? Semoga seleranya bukan laki-laki. Aku bergidik memikirkan Ibrahim pacaran dengan laki-laki. Lima menit telah berlalu tapi pria yang usianya lebih muda dariku tiga tahun ini tak muncul juga. Kuputuskan untuk mengetuk kamarnya memberitahu aku ada sini. Sebelum tanganku mengetuk daun pintu, suara handel pintu yang akan dibuka terdengar dari dalam. Kejailanku bangkit lagi, aku bersembunyi di samping pintu hendak mengejutkannya. "Daaar!!!" teriakku ketika Ibrahim keluar kamar. "Aaah!!!" Alih-alih Ibrahim yang teriak justru aku yang berteriak kencang sedangkan Ibrahim sendiri hanya sedikit mundur karena terkejut. Buru-buru kupalingkan wajahku lantaran Ibrahim hanya menggunakan celana boxer dan handuk yang tersampir dipundak. Rambutnya basah ada beberapa tetesan air yang menetes di badan Ibrahim yang kekar dan berotot. "Nuri, ngapain kamu di sini?" tanyanya terkejut. "Aduh-aduh-aduh," belum sanggup menjawab pertanyaan karena kaget. "Ada sesuatu yang mau kuceritakan," jawabku beberapa saat kemudian. "Apa?" tanya dia. "I-itu " jawabku terbata-bata. "Kamu kenapa menghadap ke sana?" tanya Ibrahim polos. Bukannya peka kalau aku malu melihat dia bertelanjang d**a, Ibrahim justru mendekat, ia memegang kedua lenganku berusaha membalikan badanku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD