Pesan Siapa, Mas?

1266 Words
"Ma," panggil Alika pelan saat kami telah menikmati kenyamanan satu sama lain dalam pelukan yang sudah lama tak pernah kuberikan atau tak pernah diminta Alika karena telah tumbuh menjadi remaja tanggung. "Iya," jawabku. "Aku beneran boleh gak sekolah?" Alika mencoba mengkonfirmasi kembali. "He'eh," jawabku sambil merem. "Kenapa? Bukannya kamu tadi yang minta gak sekolah?" "Maksud Alika kok Mama ngasih izin? Biasanya kan gak boleh bolos," Aku membuka mata mencoba mencari jawaban yang bisa diterima oleh Alika. "Kenapa, ya? Mungkin karena Mama juga pengen bolos kerja, "Hah?!" Alika malah terkejut mendengar jawabanku. Ia duduk dan menatapku. "Mama baik-baik ajakan?" Giliran Alika yang memegang kepalaku seperti mengecek suhu. "Ish," kutepis tangan Alika. "Aneh banget Mama ngizinin aku gak sekolah apalagi sampai Mama sendiri gak kerja," "Sesekali bolos boleh dong," ucapku sambil tersenyum. "Yes, ini baru keren," ucapnya heboh. "Hahaha, yaudah kita sarapan, yuk," ajakku. Alika mengangguk sambil tersenyum. Aku bangun dan hendak turun dari kasur. Tiba-tiba tanganku digenggam Alika untuk menghentikanku melangkah. "Ma, aku punya masalah sebenernya," jawab Alika ragu-ragu. Aku terdiam menatapnya, apa Alika punya masalah dengan teman-temannya? Makanya dia gak mau sekolah? Apa dia di bully di sekolah? Segala macam pikiran buruk terlintas dipikiranku. "Apa, Nak?" Aku duduk kembali di tepi kasur dengan wajah serius. "Emm, emm," Alika terlihat ragu mengutarakan masalahnya. "Aku datang bulan, Ma," ucap Alika malu. Aku terdiam sejenak. Mataku terbelalak karena teringat bahwa waktu itu Alika juga pertama kali menstruasi. Tapi bisa jadi ini cuma kebetulan. Aku menghembuskan napas lega. "Mama kira apa. Alika, datang bulan itu bukan masalah, itu normal. Nanti Mama bawain pembalut," ujarku. Wajah Alika yang murung berubah menjadi cerah. *** Aku kembali ke kamar setelah sarapan pagi. Kulihat gawai berwarna pink rose itu masih tergeletak di nakas. Meskipun dalam keadaan tak yakin benda ini milikku tapi aku tetap mengeceknya, takut ada pesan penting. Benar saja ada beberapa pesan penting dari klien. Kucek beberapa pesan itu, lagi-lagi aku mengingat telah melalui ini. Begitu juga pesan yang dikirimkan oleh Lani pagi ini. Isi pesan itu menyebutkan 'Bu, saya izin tidak masuk hari ini. Sejak semalam saya mual muntah.'. Jika benar aku kembali ke masa lalu, harusnya handphone ini akan rusak hari ini. Aku kemudian keluar dari kamar dan hanya malas-malasan sambil membalas chat. Matahari sudah tepat berada di atas kepala, tetapi mas Diki belum juga bangun. Alika mengajak makan siang di luar dan main di mall karena bolos sekolah. Aku sudah mengajak pergi berdua, tapi dia mau mas Diki ikut. "Lama banget sih Papa bangunnya, Ma," ucap Alika yang sudah bosan mencari-cari channel televisi. "Kalau udah gak sabar kamu bangunin aja," jawabku sembari mengecek beberapa laporan yang di kirimkan Danu tim keuanganku. Alika yang sudah berpenampilan rapi langsung berdiri setelah mendapat izinku. Beberapa saat kemudian suara teriakan terdengar dari kamar. "Kan udah gue bilang jangan bangunin!" Mas Diki berteriak kecang sampai-sampai suaranya terdengar ke ruang televisi. Aku langsung berlari ke kamar setelah mendengar teriakan itu. Kulihat Alika menangis di lantai. Mas Diki duduk di kasur dengan ekspresi wajah terkejut. "Ada apa ini?" tanyaku yang bingung. "Alika benci Papa!" Alika berlari ke luar kamar sambil menangis. "Ada apa, Mas?" tanyaku sekali lagi. "Aku kaget karena Alika tiba-tiba melompat ke badanku. Kudorong dia sambil melempar bantal dan mengumpat, kupikir itu kamu!" tuturnya. Aku menatap dia kesal, jadi kalau aku boleh dimaki? "Mau Alika atau aku harusnya kamu gak melakukan itu, Mas!" gerutuku. "Ah, udahlah! Lagian ngapain sih pagi-pagi Alika bangunin aku?" tanya mas Diki kasar. "Ini udah mau jam 12 siang. Alika mau ngajak makan di luar makanya dia bangunin kamu karena dari tadi gak bangun-bangun," Mas Diki menatap jam dinding setelah mendengar penjelasanku. "Sekarang kamu mandi dan siap-siap deh, biar aku yang nenangin Alika dulu," usulku. "Hah!" mas Diki mendengkus kesal. Setelah memberikan sejuta alasan pada Alika tentang sikap papanya, akhirnya dia mau memaafkannya. Kamipun pergi makan siang ke sebuah mall yang tidak jauh dari kantorku. Namun sebelum pergi Alika memberikan syarat agak kami mematikan handphone selama pergi ke mall. Tidak ada hal yang spesial selama makan itu. Kami hanya makan, berkeliling, menemani Alika membeli beberapa aksesoris dan pulang selepas Ashar. Sesampainya di rumah aku dan mas Diki menyalakan handphone bersamaan. Beberapa pemberitahuan muncul di handphone-ku. Begitu juga dengan handphone mas Diki tapi bedanya bunyi pemberitahuan itu terdengar tak wajar. Terus berbunyi seperti sedang ditagih penagih utang. "Pesan dari siapa, Mas?" tanyaku. Dia tidak menjawab dan malah pergi kebelakang rumah. Aku mengikutinya hingga ke teras belakang rumah. Kulihat dia sedang menelepon tetapi suaranya tidak terdengar olehku. Aku hanya melihat raut mukanya yang panik. Karena tidak mendapatkan hasil apa pun aku menunggunya masuk dengan berpura-pura memakan jeruk di meja makan. Ketika dia kembali raut wajahnya terlihat panik. Dia pergi melewatiku begitu saja tapi beberapa saat kemudian dia kembali dan masuk ke kamar mandi. Sebelum masuk ke kamar mandi dia meletakan handphone di atas kitchen set. Aku berjalan tanpa suara mendekati handphone milik mas Diki dan buru-buru melihatnya. Sayangnya handphone itu terkunci. Namun aku masih bisa melihat pemberitahuan chat yang masuk. Kulihat ada pesan masuk dari Pak Miro, dia juga mengirimkan foto. Sayang sekali aku tidak bisa membuka pesan itu. Kudengar pintu kamar mandi sudah terbuka. Aku buru-buru meletakan handphone itu ke tempat semula tapi aku tidak bisa segera kembali ke tempat duduk lantaran mas Diki sudah berada di belakangku. Untuk menghilangkan ke curigaan mas Diki aku pura-pura membuka kulkas sambil sibuk memainkan handphone milikku sendiri. "Sejak kapan kamu boleh mengutak-atik barang pribadiku!" bentak mas Diki sambil menarik tangan kiriku dengan keras. Tangan yang juga sedang kugunakan untuk memegang handphone itu pasrah mengikuti tarikan tangan mas Diki yang bertenaga. Prang!!! Handphone terjatuh dengan keras ke lantai. "Mas!" teriakku. "Ngapain kamu buka-buka handphone-ku?" teriaknya tak kalah keras. "Itu handphone kamu," kutunjuk handphone miliknya yang masih tersimpan seperti semula di kitchen set. "Memang ada apa di handphone-mu sampai kamu semarah itu?" tegasku. "Ada apa, Ma, Pa?" tanya Alika sambil memungut handphone-ku yang layarnya sudah pecah. "Ah, sudahlah!" mas Diki pergi begitu saja tanpa menjelaskan, tanpa rasa bersalah ataupun tanpa permintaan maaf yang sebenarnya bisa ia ucapkan walaupun hanya pura-pura. Aku dan Alika hanya berdiri mematung di tempat kami masing-masing. Bi Nah yang dari ruang setrika juga sudah berada di dapur menatapku dengan iba. Dia kemudian menarik tanganku untuk mengajakku duduk di kursi meja makan. Tanpa tanya, tanpa suara dan dengan penuh perhatian bi Nah memberikanku segelas air. "Minum dulu dah," lirih bi Nah. Aku menurut. Perlahan Alika menyimpan handphone itu di meja kemudian dia pergi tanpa sepatah kata pun. Pikiranku masih bertanya-tanya siapa yang mengirimi mas Diki pesan, kenapa dia semarah itu dan ke mana dia sekarang pergi? Aku menarik napas panjang. Kulirik handphone yang sudah pecah. "Ternyata pecah juga," rasa sedih lebih mendominasi dari rasa terkejutku karena prediksi handphone pecah benar-benae terjadi. Diwaktu yang kuingat pernah kualami ponsel ini juga pecah karena dilempar mas Diki, tapi bedanya waktu itu aku memang ketahuan sedang mengutak-atik handphonenya. Mas Diki kesal dan langsung membantingkan handphone-ku. Nyata ataupun tidak kejadian waktu itu hasil akhirnya sama-sama membuatku batinku terguncang. *** Sementara itu, di tempat lain tanpa sepengetahuan Nuri. Diki duduk dalam mobil yang terparkir di halaman rumah dengan wajah penuh amarah. Penyebabnya karena pesan masuk tadi dan karena kekesalannya belum terlampiaskan pada Nuri. Andai Alika tidak ke dapur pasti habislah Nuri dimakinya. Salah atau pun tidak Diki tak peduli, yang ia pedulikan adalah melampiaskan kemarahannya. Tring. Bunyi notifikasi pesan chat masuk, tertulis nama pak Miro di layar. Aku udah beli sendiri. Tulis pak Miro yang disertai foto test pack dengan hasil positif. Udah dijalan? Balas dong, Hai. Pesan dengan nama pak Miro terus masuk bak teror. "Sial, positif lagi!" Diki kemudian memacu kendaraan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD