Empat Belas

1132 Words
Untuk Leora dari Raja dan dari Raja untuk Leora. Kata-kata romantis yang tersusun menjadi sebuah kalimat saja tidaklah cukup. Sikap Leora masih seperti biasa. Menyiapkan sarapan lebih untuk dirinya dan tidak peduli apakah Raja akan memakannya. Setelah kejadian itu, Raja kembali menggila. Membawa perempuan lain ke rumahnya. b******a di mana pun tanpa peduli etika. Di ruang tamu, ruang tengah, sesekali di dapur. Leora jijik. Tapi tak banyak yang bisa dirinya lakukan. Sampai dua garis merah di benda berwarna biru membuatnya tergugu; tertawa sekaligus menangis. Bak menguak kisah yang tak ingin diungkapkan oleh tabir. Leora bukan apa-apa di mata Raja maka diam menjadi jalan pilihannya. “Kamu hadir di saat yang tidak tepat.” Inginnya Leora sesali. Tapi ibarat kata: nasi sudah menjadi bubur. Semuanya tidak bisa kembali utuh. Piring yang sudah pecah mustahil bisa merekat. “Kenapa?” Yang langsung Leora tinggalkan. Menjinjing tas tangannya lantas memasuki garasi menuju mobilnya. Sejatinya, Leora tidak memiliki banyak teman untuk dirinya berkeluh kesah. Leora perpaduan antara papi maminya; satu terbuka, satunya lagi tertutup. Jadi wajar jika ada perkara-perkara sulit untuk Leora ungkapkan. Ingin membagi perasaannya kepada sang mami juga mustahil. Kabar bahagia kehamilannya mungkin yang paling di tunggu oleh kedua belah pihak. Tapi entah dengan Raja. Lelaki itu sudah seperti mematikan nuraninya. “Tapi aku juga nunggu kamu makhluk kecil.” Leora terkekeh. Mobilnya masih stay di tempat semula. Belum ada niatan untuknya memegang kendali setir. “Kalau semisal kamu hadir dengan penuh cinta, setidaknya kelahiran kamu mendapat sambutan normal selayaknya anak-anak yang lain.” Pikiran Leora jadi berkelana. Membuat perbandingan antara satu anak ke anak yang lain. Atau hal buruknya lagi melihat dirinya sendiri sebagai contoh ketidaksempurnaan. Mata manusia sering kali salah tangkap. Mereka hanya menilai apa yang mereka lihat. Menyimpulkan dari apa yang mereka dengar. Padahal jelas, adanya dua mata adalah untuk melihat tidak hanya dari satu sisi. Di ciptakannya dua telinga tidak untuk mendengar dari satu pihak. Hanya helaan napas yang Leora embuskan. Dadanya sesak tiba-tiba. Ke mana dirinya harus berlari? Ke mana dirinya mesti bersembunyi untuk kehamilannya. Jujur, Leora tidak ingin Raja tahu menyoal kehamilannya. Leora tidak mau anaknya hadir dengan kondisi cacat mental. Leora lebih tidak mau anaknya tahu fakta bahwa papanya seorang penyakitan. Dari sini Leora mulai memahami sesuatu. Filosofi tentang orang tua yang memegang kendali anak-anaknya—melahirkan, merawat, mengajari segalanya sampai bisa—tetap akan kalah. Pada dasarnya mereka akan memegang kendali dan menjadi pembangkang. Jadi bisa Leora garis bawahi jika orang tua tak berhak memiliki kendali untuk tiap kehidupan anak-anaknya. Seorang Raja dari sebuah kerajaan pun akan bisa di kalahkan lewat peran anak-anaknya. Seolah-olah setiap perilaku yang orang tuanya tunjukan, perawatan dalam menjamin kehidupan menjadi bumerang tersendiri untuk kehidupan di kemudian hari. “Makhluk kecil … Kamu sepatutnya nggak perlu lahir.” *** Yang Raja pandangi dengan dalam. Gurat sesal menaungi aura wajahnya. Satu bulan ini hanya kegilaan yang dirinya lakukan. Setelah puas menikmati tubuh Leora yang terasa masih sama seperti sepuluh tahun lalu. Raja mulai gila. Kendali dalam dirinya terus memberontak. Tidak bisa jika tidak menyentuh satu tubuh pun dalam satu malam. Kegilaanya terus berlanjut hingga menambah ranjang rumah sakit. “Nggak ada akhlak.” Rambu mengomel. Meski begitu tangannya bekerja dengan cekatan. Memasang selang infus setelah menyuntik tangan pasien, membenarkan letak peralatan yang lain dan menatap tajam Raja. Karibnya ini memang selalu suka membuatnya jantungan. “Mau sampai kapan?” Sebenarnya, ada fakta lain yang Rambu terima. Ia kaget juga marah di saat bersamaan. Tapi menyalahkan orang sakit jiwa seperti Raja takkan berdampak apapun. “Lo tuh nggak pantas banget jadi manusia.” Yang Raja abaikan. Matanya berputar malas. Kepalanya menggeleng. “Sialan!” Saat itu napas Raja tercekat. Tubuh mungil berbalut blazer kerja navy—Raja hapal milik siapa itu. Pertanyaan bercokol dalam kepalanya: untuk apa ke sini? “Lihat juga, kan?” Mata Raja menyipit. Bertaut lama pada milik Rambu seolah sesi tanya sedang di layangkan. “Kan gue sudah bilang, lo nggak pantas jadi manusia.” Tungkai Raja berlari cepat. Mencari sosok istrinya yang terlihat berjalan menuju lobi. Dan secepat itu menghilang. Raja mengumpat. Berteriak kesal mengagetkan pengunjung yang berlalu lalang. “Maunya perempuan itu apa, sih?” Andai tanya itu bisa di rubah. Sayangnya, bagi Raja, perempuan memang ribet. Napas yang terengah membuat sesuatu yang lain terasa kosong. Ingin di pungkiri jika ini perasaan sesaat. Sayangnya, kian terbayang kian menghimpit. Teriakan, jeritan, permohonan ampun dan permintaan berhenti berputar di kepala Raja. Yang dengan kejam tak ada pengabulan selain bertindak lebih ganas. Ini sakit dan sesak. Sejauh ini, Raja merasakan kesepian. Raja bahagia. Tentu. Tak ada yang dirinya pungkiri soal itu. Tapi cambuk kejam yang merajam punggungnya tembus hingga relung hatinya. Sehingga ia rasakan sepi yang tak bertuan. Dan melihat siluet tubuh Leora keluar dari ruang dokter kandungan, himpitan di dadanya kian bertambah. Pasokan udaranya menipis. Bukan bermaksud hendak menepis. Jika pun ada—akibat ulahnya waktu itu—Raja terima. Surat-surat yang telah dirinya siapkan dan di pinta Leora takkan berlaku. Ingin ngotot sampai urat putus, semua kehendak ada dalam naungan Raja. Dan jika benar benihnya tumbuh dalam rahim Leora. Ingin—satu kali saja—Raja di beri kesempatan untuk memperbaiki. Setidaknya, ijinkan Raja memantaskan diri untuk bersanding dengan Leora. Meski b****k dan borok yang menggerogoti jiwanya jelas sudah mengakar. Tapi demi anaknya—jika itu benar—Raja sungguh berharap. “Leo,” bisiknya begitu netra berembunnya melihat Leora di kejauhan. “Leora!” teriaknya histeris. Kedua kakinya berlari tanpa peduli pada pasang mata yang menatap heran. “Leora.” Engahnya mengambil napas. “Apa yang kamu lakukan?” Pertanyaan Raja menautkan kedua alis Leora. Wajahnya bingung pun dengan tindakan Raja yang meneriakinya sedemikian kencangnya. “Kamu ngapain?” Leora balik bertanya. “Jawab saja Leo.” Kali ini gigi Raja bergemeletuk. Keringat bercucuran turun ke dahinya. “Kenapa, sih?” “Kapan kamu mau belajar nurut?!” Raja cengkeram kedua bahu Leora. Tatapannya menggelap. Aura kelam yang beberapa waktu lalu Leora lihat, kini kembali menguasai. Di ikuti napas yang putus-putus, Leora menggigil takut. Kepalanya pening. Tapi Raja berlaku kejam dengan terus meremas bahunya. “Apa yang kamu lakuin dengan bayi itu?” ‘Bayi?’ Leora mengernyit. Kepalanya sakit maksimal namun kesadaran masih menguasainya. “Jawab!” Raja memaksa. Mengguncang tubuh Leora tanpa ampun. “Itu milikku! Kamu juga milikku! Jangan sampai kamu bertindak di luar dugaan atau—” “Atau apa?” Tantang Leora. Rasa pusingnya terus mendera. Tanpa cengkeraman Raja di bahunya, di pastikan tubuhnya tersungkur ke tanah. “Aku nggak ngerti sama omongan kamu.” Leora menjeda, “bayi siapa yang kamu maksud?” “Pembohong!” Selayaknya putaran waktu, telinga Leora berdengung. Kalimat Raja terasa tidak asing. Seperti pernah dirinya dengar. Tapi di mana? “Jangan bohong Leo!” Satu kali kedipan, Leora luruh. Dalam dekapan Raja yang membuat lelaki otoriter itu khawatir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD