Tiga Belas

1118 Words
Setelahnya, tidak ada obrolan yang keduanya angkat ke permukaan. Hari-hari berjalan dengan normal. Meski belum ada kesiapan dari jawaban Leora perkara perpisahan, Raja tetap berpikir bahwa semuanya baik-baik saja. Satu bulan berlalu dan Leora tidak menyinggung apapun lagi. Waktu yang melaju amatlah cepat. Detik ke menit. Menit ke jam. Jam ke hari. Hari ke minggu. Minggu ke bulan. Bulan ke tahun. Selama itu, hubungan Raja dan Leora baik-baik saja. Perihal perpisahan tidak di angkat ke permukaan. Seakan menyerah pada usia, keduanya memilih berdamai. Meski belum ada perubahan signifikan, setidaknya, Raja berani mengutarakan niatnya. Serius dengan perbuatannya. Membuktikan dengan tingkah konyolnya yang menghibur hati Leora. Perlahan, kesepian yang sempat menyambangi relungnya dulu pudar. Tawa yang Raja tawarkan lebih dari obat. Sekedar menjadi candu yang Leora simpan rapat-rapat dalam hatinya. Masa lalu yang buruk, terukir hingga jejak kaki yang melangkah akan terus mengikuti. Tapi Raja coba melepaskan. Pelan dan pasti. Dendam menggunung yang menumpuk di hatinya perlahan melebur. Kasih sayang dan perhatian yang Leora taburkan memberinya pengaruh. Membuat hatinya menghangat. Memenuhi kinerja otaknya. Blingsatan layaknya setan jika Leora jauh dari jangkauannya. Bukan hanya Raja yang menunjukkan perubahan. Leora melakukan hal yang sama. Ada rasa hangat menelusup hatinya. Ada rasa bahagia mana kala kulitnya bersentuhan dengan milik Raja. Ada senang ketika ciuman pipi Raja sematkan. Ingatannya—mungkin—belum sepenuhnya kembali. Karena apa juga Leora tidak ingin mengoreknya. Ia terlalu takut untuk mengetahui. Jadi, biarlah semua berjalan sesuai rencana. Seperti malam ini. “Kamu yakin?” Pertanyaan Raja sudah ke tujuh puluh lima kalinya jika Leora hitung. Dan kepalanya mengangguk dengan jumlah yang sama. Bibirnya turun ke bawah karena kesal. “Nggak nyesal, kan?” Ingin sekali Leora umpati Raja dengan kata ‘sialan’. Mengingat surge istri ada di suami, Leora urung. “Aku penasaran … gaya b******a kamu itu, eh, kenapa nggak pernah buka baju? Padahal tubuh kamu cakep.” “Kamu bar-bar.” “Aku mencoba jujur.” “Tapi nggak blak-blakan banget juga. Bisa-bisa kamu di makan—” “Ayo makan aku. Aku mau punya bayi sekarang. Secepatnya juga!” “Tukang perintah.” “Aku nyonya di rumah ini!” “Baik Ndoro.” Sendiko dawuh saja. Raja enggan berdebat. Perutnya lapar. Dan sebentar lagi hendak menggempur Leora. Sedang Leora, sembari menunggu suaminya yang makan dengan lahapnya, tungkainya melesat masuk ke dalam kamar. Membuka lemari dan mengambil asal lingerienya. Lalu kembali ke ruang makan memamerkannya kepada Raja. “Kamu bakal kegoda yang mana di antara dua ini?” Makanan Raja berhamburan. “Jangan buang-buang makanan ih! Aku cuma tanya bukan mau minta.” Ya. Dan pertanyaan kamu sinting sayang. Kamu pikir— Tidak jadi Raja lanjutkan. Langkahnya begitu pasti. Peduli setan soal teriakan Leora yang tubuhnya berpindah tepat di bahunya. Pukulan-pukulan yang Leora tempatkan untuk punggung kekarnya justru terasa seperti godaan. Dan telapak tangan kekar milik Raja, menepuk b****g Leora s*****l. Meremasnya sekejap, melenguhkan suara desahan yang baru Raja sadari; seksi. “Kamu nggak harus gendong aku! Kaki aku masih sehat dan normal.” Tidak Raja pedulikan. Setelah membanting Leora di atas ranjangnya, kedua tangannya sibuk melepas ikat pinggang dan melempar celananya. “Kamu ngomong sekali, bibir kamu habis.” “Apa?” Serius! Raja tidak pernah main-main dengan ucapannya. Begitu Leora menjawab, mulut Raja beraksi. “Masih berani?” “Kamu nggak jelas.” Kembali terulang. Dan selama itu terjadi, selang napas Leora terhempas. Rasanya nikmat. Ini pengalaman pertamanya. Tapi Raja tidak berbuat manis. “Kamu harus selalu nurut sama aku.” Yang Raja ikat kedua tangan Leora ke atas kepala. Keringat dingin mulai mengucur lewat celah pori-pori kulit Leora. Mata Raja menggelap tanpa ada kehangatan di dalamnya. Sosok suaminya seolah menjelma menjadi orang lain. Yang asing dan dingin. “Aku nggak suka di perintah apa lagi di bantah. Tapi sayang …” Tubuh Leora bergetar di bawah naungan Raja. Decihan mengejek kentara dari seringai bibirnya yang tersungging. “Takut? Kamu yang meminta kamu juga takut?” Di bukanya satu per satu pakaian Leora—lembut dan pelan. Tepat ketika semuanya menghilang dari tubuh Leora, Raja tatapi tubuh istrinya. Memori otaknya merekam kejadian sepuluh tahun silam dan membandingkan yang saat ini ada di hadapannya. Semuanya masih sama. Kulit putih Leora sebening s**u yang Raja kagumi. Nipplenya kemerahan yang Raja jadikan candu. Bahu kecil Leora yang suka Raja kecupi ketika empunya terlelap, menjadi berkilauan di bawah temaram lampu. Semuanya terekam erat di otak Raja. Semuanya masih sama. Dan semua yang ada di sana masih candunya. “Cuma kamu yang selalu ngasih aku perintah dan cuma kamu yang berani ngelawan aku. Tapi Leo …” Entah kenapa, kepala Leora sakit. Panggilan yang Raja ucapkan terasa begitu dekat dengan miliknya tapi dadanya menyempit sakit. Di hantam palu tak kasat mata. “Aku cinta kamu.” Tidak ada yang tahu betapa gilanya Raja malam itu. Rinai hujan, guntur yang menyambar, tangis kesakitan, desahan kenikmatan dan keringat yang beradu. Tidak ada yang menyangka seberapa sakitnya Raja untuk memulai semua ini. Kembali memasuki Leora meski ia tahu sesakit apa istrinya. Menunggangi dengan beringas tanpa peduli jerit tangis Leora. Tidak ada yang tahu. Di balik bajunya ada darah mengucur bertabur cuka, mengoyak tiap daging yang belum merekat. “Kamu milik aku, Numa. Selamanya kamu milik aku.” *** Tentu Leora kesulitan dalam berjalan. Bergerak saja, pangkal pahanya nyeri. “Jangan banyak gerak.” Suara di belakang tubuhnya menyadarkannya. Pelukan yang membelit perutnya juga baru Leora rasakan. Seperti fungsi tubuhnya mati sesaat, Leora pejamkan kedua matanya. Hening yang membelenggu. Suara embusan napas di balik punggungnya benar-benar nyenyak. Yang Leora angkat perlahan tangannya. “Jangan bandel!” “Siapa Numa?” Seharusnya Leora tidak bertanya. Hatinya tidak boleh tersentuh atau perasaan sakit kian menggerogoti. “Tidur Leo!” “Siapa Numa?” Kali ini teriakan yang Leora keluarkan. Sebagai bentuk pemberontakannya. “Aku nggak segan-segan buat—” “Silakan! Kamu mau perkosa aku lagi, kan?!” Raja terkekeh. “Kamu selalu pintar. Papi nggak pernah salah ngasih aku pilihan buat nikah sama kamu.” “Siapa Numa?” “Jangan memulai Leo. Ini masih…” Kepala Raja melirik jam di dinding. “Pukul empat subuh. Kamu mau nggak bisa jalan?” “Lakukan!” Leora frustasi. “Aku lebih baik mati.” Leora bukan dewi, bukan juga malaikat yang bisa bertahan atas rasa sakit. Leora manusia biasa yang mengandalkan hati dan perasaan untuk memikirkan segala keruwetan. Raja memang di sini. Di sampingnya, di atas tubuhnya, miliknya secara sah yang baru Leora nikmati usai satu tahun pernikahan. “Patutnya kita berpisah.” Emosi Raja meluap. Tubuhnya terbangun berada tepat di atas Leora. Wajahnya menggelap yang Leora balas penuh tantangan. “Ayo pisah.” Tamparan keras yang Raja berikan sebagai jawaban. Pun dengan kasar membalik tubuh Leora, menjambak rambut panjangnya, tanpa aba-aba menerobos masuk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD