Dulu itu … begini ceritanya.
Raja, 15 tahun sudah menduduki bangku SMA kelas satu. Lewat prestasinya yang cemerlang, ia dengan mudah menembus sekolah mana pun—baik negeri mau pun swasta. Di samping itu, sandingan nama belakangnya ‘Anggoro’ benar-benar berpengaruh untuk sebagian sekolah yang mendapat kucuran dana dari papinya. Maka berbangga sedikit dengan kondisi keluarganya patut Raja acungi jempol. Namun lama-kelamaan Raja sadar bahwa bersikap seperti itu bertolak belakang dengan nasihat maminya.
Yang katanya: “Mami nggak suka kalau anak-anak mami pamer atau sesumbar.”
Sejak itu, Raja membaur dengan siapa pun. Tanpa memilih lingkungan. Yang ia tahu, dirinya harus mengenal dunia luar yang luas ini. Mengenyampingkan berbagai tantangan buruk yang menunggu.
Menjadi siswa baru di sekolahnya yang cukup tenar, Raja bisa cepat akrab dengan kakak tingkat. Tidak hanya lelaki, perempuan juga tidak jarang menyapanya. Sekadar berbasa-basi yang berujung: “Raja, ke kantin bareng yuk.”
Jawaban Raja tidak pernah berakhir penolakan. Karena tahu rasanya malu, Raja lebih sering menjaga.
Semuanya berjalan aman. Tidak ada keanehan yang mencurigakan. Semua teman-temannya baik dan ramah. Tidak ada yang memanfaatkan keberadaan Raja meski tahu identitasnya. Ini murni pertemanan anak-anak SMA yang di gadang-gadang memiliki masa terindah sepanjang masa. Yang takkan pernah terulang dua kali.
“Kamu Raja?”
Suatu pagi di kondisi yang nampak lengang. Koridor masih sepi lantaran hujan menyapa Kota Bandung.
“Iya.”
Seulas Senyum Raja pancarkan. Perempuan di depannya cantik. Tapi Raja belum pernah bertegur sapa dengannya kecuali hari ini. Mata Raja berpindah ke arah name tag; Rea.
“Aku cuma mau kasih ini.”
Itu juga rutinitas yang biasa Raja alami. Menerima sekotak sarapan dari perempuan mana pun. Yang meringankan beban maminya untuk tidak bangun pagi-pagi memasakkannya bekal.
“Di makan, ya,” lanjutnya.
“Makasih dan kebetulan banget.” Langsung Raja buka tutupnya dan mencomot sepotong roti isi. “Buatan kamu? Ini enak banget sumpah.”
“Nggak seenak buatan mami kamu pastinya.”
“Kamu tahu?”
“Eh? M-maksud aku … cuma nebak saja.”
“Tapi memang benar.” Raja terkekeh. Tangannya mulai mengambil potongan kedua. “Tapi ya … tetap aku suka masakan mami.”
Entah mengapa Rea tidak suka mendengarnya. Tatapan matanya yang awalnya lembut meredup berganti nyalang tajam. Satu tangannya terkepal dengan gigi yang bergemeletuk.
“Besok aku bawain yang beda lagi.”
Rea hengkang, Raja mengangguk. Tidak menyadari seberapa kelam tatapan Rea untuknya.
***
Yang selalu Rea perhatikan di antara kerumunan adalah Raja.
Yang menjadikan otak liarnya terus bekerja adalah Raja.
Yang Rea jadikan objek obsesi adalah Raja.
Yang tidak di ketahui orang lain adalah sisi gelap Rea.
Yang tidak pernah mau melihat seberapa diamnya Rea—menyimpan sejuta rencana di dalamnya.
Yang di ketahui orang lain hanyalah Rea yang kalem dan pintar.
Mata orang lain tidak benar-benar memerhatikan dengan saksama seberapa dalam Rea mengagumi seorang Raja.
“Aku bawain lagi. Beda dari yang kemarin.”
“Masakan kamu nggak ada tandingannya.”
Tidak ada yang menghitung interaksi keduanya sudah terjalin berapa lama. Dalam keseharian, Rea selalu menemui raja di lokernya setiap pagi. Di saat Lorong sekolah masih sepi—hanya beberapa yang telah hadir. Pun acuh dengan kedekatan keduanya. Yang terkadang melempar candaan absurd entah siapa yang memulai.
“Kamu kok tahu aku ke sini?”
Minggu siang, Raja datang ke sekolahnya. Ada beberapa tugas yang ingin dirinya selesaikan di perpustakaan. Berhubung dirinya anak donator sekolahan, tidak sulit menggunakan suara papinya untuk bisa ke sini.
“Aku juga ada tugas.”
Kebetulan yang tak terduga. Raja tidak curiga dan terus makan dengan lahap. Langkah kaki keduanya juga beriringan menapaki anak tangga satu per satu. Rea memerhatikan Raja. Dalam hatinya berdoa dan menunggu hasilnya dengan sabar.
Begitu tiba di bangku perpustakaan—pilihan Raja sangat tepat. Pojokan paling belakang yang tidak terjangkau kamera. Memudahkan Rea memandangi wajah Raja lamat-lamat.
“Tugas kamu apa?” Raja keluarkan buku-buku beserta laptopnya. “Aku rangkuman sejarah.”
“Bahasa.” Rea melakukan hal serupa. Sampai kepala Raja tergeletak di depannya dan senyum Rea terbit. “Got you.”
Masih Rea biarkan. Tangannya terulur meremas rambut halus Raja. “Kamu sesempurna ini. Nggak pantas di miliki perempuan lain. Selain aku, nggak ada yang boleh sentuh kamu. Selain aku, nggak ada yang boleh merasai kamu. Selain aku … karena kamu punya aku.”
***
Samar-samar Raja mendengar suara desahan. Kedua matanya sulit mengerjap lantaran tertutup kain. Suaranya menghilang karena sumpalan di mulutnya. Kedua tangannya terikat. Kedua kakinya tidak kalah nahas. Tapi dapat ia rasai jika tubuhnya terbaring dengan seseorang di atasnya.
Perempuan.
Mendesah hebat.
Tangannya bergerilya.
“Kamu nikmat.”
Hentakan yang Raja rasakan menyakitkan sisi inti tubuhnya.
“Kamu milik aku.”
Suara itu masih Raja rekam dalam otaknya. Sangat tidak asing tapi …
“R-Rea?”
“Ya Sayang … sebut namaku.”
Desahan Rea melolong bagai anjing di tengah malam.
“Lepas!”
Berontakan yang Raja lakukan percuma. Yang ada justru tawa Rea yang menggema.
“Nggak akan! Kamu harus jadi b***k aku. Kamu harus kasih aku kepuasan. Semuanya impas sama kotak makan yang aku kasih secara cuma-cuma.”
Sinting!
Perempuan di atasnya tidak waras. Mana ada perempuan yang rela kehilangan harga dirinya untuk di tukar dengan sekotak bekal roti isi?
“Lepasin aku!”
“Ayo gerak! Semakin kamu bergerak, semakin nikmat rasa kamu.”
Rea bungkam mulut Raja dengan dadanya sebelum kembali menyumpal dengan celana dalamnya.
Entah sudah berapa lama waktu yang terasa menyiksa Raja. Tubuhnya lunglai. Napasnya memburu. Tenggorokannya sakit. Berteriak dengan hasil nihil.
“See you Raja.”
***
“Jangan! Berhenti!”
Leora kesal maksimal. Teriakan Raja di sofa ruang tengah berisik sekali. Tidurnya terganggu.
“Diam, ish!” Leora lemparkan guling tepat mengenai wajah Raja.
“Jangan! Lepas!”
Tapi tidak ada perubahan. Leora kian mendekati. Melihat tidur Raja yang tidak nyenyak. Wajahnya pucat. Keringat membanjiri dahinya. Kepalanya bergerak gelisah.
“Kamu mimpi apa, sih?”
Mata Leora melotot begitu tangannya yang hendak menghapus keringat justru di genggam dengan erat.
“Pergi! Pergi!”
Dengkusan Leora terdengar. “Nyuruh aku pergi tapi tangan aku di pegangi. Kamu waras?”
Sekuat tenaga Leora berusaha melepas genggaman tangan Raja.
“Jangan pergi. Aku mohon jangan pergi.”
Cerita awalnya tidak ada yang tahu. Leora sudah berada dalam pelukan Raja. Napas lelaki itu tersengal-sengal.
“Aku nggak bisa napas.”
“Sebentar … sebentar saja.” Pelukan Raja mengendur. “Aku harap semua ini bukan sekedar harapan. Dan juga harapan ini bukan sekedar khayalan.”
Kening Leora mengerut tidak paham.
“Leora … Aku nggak bisa. Aku nggak mau pisah dari kamu. Please?”
Pertama kalinya dalam hidup, Leora melihat Raja memohon. Suaranya begitu kecil dan serak. Detakan jantungnya yang menempel di d**a Leora keras bertalu. Pelukan yang mengendur memberi tanda Raja yang tidak baik-baik saja. Begitu saja Leora tersentuh.